Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pembicaraan Serius


__ADS_3

"Ayo kita berangkat sekarang." Bian berjalan meninggalkan ruangan itu.


"Aunty.. ayo kita pergi. Apa mulut Aunty terasa sakit karena mencium Uncle tadi?" Adzra menggandeng tangan Amara. Tapi, mata anak itu terus menatap bibir Amara. Bibir Aunty masih cantik. Tapi, itu merah karena kejedot pipi Uncle tadi."


Amara menatap Bu Santi sebelum menjawab pertanyaan Adzra. "Bibir Aunty nggak sakit kok, Sayang. Bibir Aunty merah karena Aunty pakai lipstik."


Bian menautkan alisnya mendengar penjelasan Amara. "Apa itu lipstik Aunty?"


Amara terdiam. Lupa kalau Adzra adalah anak yang memiliki tingkat penasaran yang tinggi. Mendengar kata lipstik tentu saja menimbulkan rasa penasaran karena anak itu pasti tidak pernah mendengar kata itu. Dia langsung memutar otak untuk memberikan jawaban untuk anak itu.


"Mm.. kalau Aunty tidak bisa menjawabnya sekarang, itu jadi home work untuk Aunty. Adzra tunggu nanti malam. Aunty nginap lagi kan nanti malam?" Adzra masih mendongak menatap Amara. Tapi, tatapan matanya berubah menjadi tatapan penuh harap.


"Mm.. nanti Aunty lihat. Kalau Aunty Ameena mengizinkan Aunty, Aunty akan nginap lagi."


"Aunty nginap ya.. please.." Adzra menangkupkan tangannya di dada. "Aunty kan belum menjelaskan arti lipstik."


"Hmmm..." Amara menyebikkan bibirnya. "Jadi Adzra sengaja minta Aunty untuk menjelaskan nanti malam, biar Aunty nginap lagi.."


"Hehehe.. kalau nggak gitu, nanti Aunty kabur. Aunty kan jarang kemari sekarang."


Bu Santi hanya bisa menghela nafas berat. Cucunya ini benar-benar takut melihat Amara pergi. Sepertinya dia harus meminta Bian untuk mempercepat rencana pernikahannya, agar Adzra juga tidak takut ditinggal Amara lagi.


"Ayo, kita ke mobil dulu, Sayang. Uncle dan Papanya Adzra sudah menunggu. Memangnya Adzra mau di tinggal dan todak jadi pergi beli mainan."


"Big no, Nenek. Ayo Aunty, kita harus cepat. Nanti Uncle meninggalkan kita."


"Mm.." Amara pasrah saja ditarik Adzra keluar dari rumah.


Sampai di mobil, Ardian dan Bian terlihat sedang mendiakusikan sesuatu. Namun, begitu yang lain datang, mereka diam. Hanya Ardian yang terlihat menahan tawa.


"Bu, sepertinya rencana pernikahan harus disegerakan." Ucap Ardian tiba-tiba.

__ADS_1


"Kak, apa-apaan sih? Ada anak kakak loh, disini." Bian langsung melayangkan protes. Jangan sampai Ardian membuka hal yang mereka bicarakan secara rahasia tadi.


"Nanti kita bicarakan lagi. Adzra belum boleh masuk ke ranah pembicaraan ini." Bu Santi menanggapi dengan bijak. Wanita itu bahkan berkata sambil menatap cucunya. Hal itu membuat Adzra mengangguk karena paham dengan tatapan neneknya.


********


Amara hanya bisa duduk dengan menundukkan kepalanya. Dia sedang dikelilingi oleh Bian, Bu Santi, Ardian dan Chayra. Mereka sudah masuk ke ranah pembicaraan serius. Baru satu orang yang melontarkan pertanyaan, tetapi ia sudah tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menunduk sejak Bu Santi bertanya tadi.


"Bagaimana, Nak?" Kembali Bu Santi bertanya. Barusan wanita itu mempertanyakan kesiapan Amara untuk menikah dengan putranya. Namun, Amara masih diam karena tidak berani mengiyakan, tetapi juga tidak berani menolak. Gadis itu hanya mengangkat wajahnya, lalu kembali menunduk.


"Apa kamu mencintai putra Ibu?" Bu Santi kembali bertanya. "Jika kamu takut karena kamu belum bisa memberikan hasil keringatmu pada orang tuamu, Ibu akan membebaskan kamu untuk bekerja, Nak. Nanti, gajimu itu boleh kamu berikan ke papamu semuanya."


Amara mengangkat wajahnya sekilas lalu kembali menunduk. "A.. apa aku boleh meminta waktu satu bulan setelah aku mendapatkan gelarku nanti?"


Anggota keluarga yang lain saling pandangan. Chayra terlihat menghela nafas berat. "Acara pernikahan juga butuh persiapan, Dek. Jika kamu bilang iya sekarang. Acaranya akan mulai kita rencanakan. Waktunya kapan dan tempatnya dimana. Bian juga belum mengkhitbah kamu. Jadi, sebelum menikah, akan diadakan acara khitbah. Setelah acara khitbah itu selesai, barulah kita menentukan tanggal pernikahan. Apakah acara akad dan resepsinya dipisah atau digabung dalam hari yang sama." Chayra menjelaskan dengan panjang lebar. Hal itu membuat Amara mengangguk-ngangguk mengerti.


"Bisa saja acara pernikahan akan berlangsung dua atau tiga bulan setelah kamu mengiyakan permintaan kami sekarang." Sambung Chayra lagi.


Spontan Amara langsung menatap Bu Santi. Bibirnya terkatup rapat. Hanya ludahnya yang dia telan dengan susah payah.


"Ibu memaklumi hal tadi, Nak. Tapi, Ibu ingin menyaksikan itu lagi jika status kalian yang sudah halal nanti."


"Sekarang kalian berdua bisa berdiskusi untuk mendapatkan keputusan akhir. Kami akan pergi menjemput Adzra dan Farel dulu. Mereka sudah terlalu lama main dengan pengasuh." Ardian beranjak bangkit. "Chay, ayo sayang. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri."


"Iya, Mas." Chayra ikut bangkit, diikuti oleh Bu Santi juga. "Ibu tunggu kabar baiknya. Kita bicarakan ini nanti malam." Tiga orang itu beranjak pergi meninggalkan Amara dan Bian.


Amara menghela nafas berat. "Kak, ini.. bagaimana?"


"Aku sedang menunggu keputusan kamu, Sayang. Semakin cepat semakin baik. Aku juga butuh pendamping, agar bisa bekerja dengan baik." Bian membuang nafasnya dengan kasar. "Benar kata Ibu tadi, Ra. Bagaimana kalau kecelakaan seperti tadi terulang lagi. Apa kamu lupa?"


"Lupa apaan?!" Amara menatap Bian dengan heran.

__ADS_1


"Hah, padahal baru beberapa jam berlalu, kamu sudah main lupa aja." Bian mengalihkan pandangannya sambil menahan senyum. Hal itu membuat Amara semakin bingung. "Aku benar-benar nggak ingat apa-apa, Kak."


Bian menatap Amara dengan ekspresi datar. Namun, pria itu sedang berusaha menahan senyum yang memaksa untuk keluar. Perlahan, ia mengetuk-ngetuk pipi kanannya yang tidak sengaja dicium Amara saat di rumah tadi.


"Ih, Kak Bian nyebelin deh. Aku.. aku kan nggak sengaja melakukan itu. Aku saja malu banget tadi. Apalagi ada Ibu. Jika aku sengaja, mungkin Ibu akan marah besar padaku."


Bian menarik sebelah bibirnya. "Makanya, kita cepetan nikahnya biar nggak ada yang marah kalau kamu mencium aku lagi."


Amara terdiam. Sebenarnya gadis itu sudah mempertimbangkan hal ini dari jauh-jauh hari. Namun, ada sesuatu yang masih menjadi pertimbangannya. Bukan masalah pendidikannya. Tapi, wanita itu masih ragu untuk memutuskan karena Bu Fatimah. Neneknya Bian itu menjadi masalah besar yang menjadi beban pikirannya sampai saat ini.


"Ra, aku nggak mau kecelakaan itu terulang lagi. Aku maunya itu terjadi saat kita sudah saling menginginkannya dan agama memperbolehkan kita untuk itu." Bian lebih mendekatkan wajahnya pada Amara. "Aku mencintaimu, Ra. Aku takut tidak bisa menjaga batasanku jika kita terus menunda niat baik ini."


"Tapi..."


"Tapi apa lagi, Rara? Kita akan melangsungkan pernikahan setelah kamu mendapatkan gelar kamu nanti. Tapi, jika kamu sudah bilang iya sekarang, keluarga besarku akan mengatur waktu untuk acara Khitbah. Intinya, acara khitbah akan diadakan setelah aku kembali dari Tiongkok."


Amara masih diam. Gadis itu benar-benar sulit untuk bilang iya. Bayangan Bu Fatimah yang merendahkannya di acara makan malam keluarga besar Bian malam itu, semakin sering menari-nari di kepalanya.


"Ra..." Bian menyentuh lengan baju Amara. "Aku tidak suka kita seperti ini terus. Aku ingin kita jalan-jalan sambil berpegangan tangan. Memeluk dan merangkul tubuhmu dalam ikatan yang halal. Berlama-lama seperti ini hanya menyiksa batin kita, Ra."


Amara mengangkat wajahnya. Menatap Bian yang juga sedang menatapnya dengan sendu.


"Apa yang membuatmu sangat sulit mengatakan iya?"


"Nenek.." kata itu langsung lolos dari bibir Amara. Bian berdecak. Sebenarnya dia juga sangat menyayangkan kejadian malam itu. "Kamu akan tinggal bersamaku, Rara. Nenek tidak akan sering muncul di hadapan kamu, walaupun nantinya kamu sudah menjadi istriku."


"Tapi Nenek sudah pasti muncul di acara pernikahan, Kak. Kemarin dia menghinaku di acara makan malam keluarga besar Kak Bian. Bagaimana kalau Nenek mengulangi hal itu di acara pernikahan nantinya?"


"Astagfirullah... kamu berandai-andai terlalu jauh, Sayang. Nenek tidak akan pernah mengulangi kebodohan itu."


"Dengan apa Kak Bian berani menjamin itu?" Amara membuang pandangannya. Tidak kuasa rasanya menatap Bian saat pambicaraan ini belum mendapatkan keputusan akhir. "Aku hanya tidak mau terlihat bodoh di acara pernikahanku sendiri. Jika Kak Bian berani menjamin kalau Nenek tidak akan membuat ulah, aku siap menikah dengan Kak Bian kapanpun itu." Memberanilan diri menatap pria di depannya. Dia harus bisa menjamin harga dirinya tidak dihancur-luluhkan oleh Ibu Fatimah untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Aku akan cari cara untuk itu." Timpal Bian dengan tegas.


__ADS_2