
Amara terduduk lemas setelah melihat garis dua muncul di tes pack yang baru saja dicobanya. Adreena baru berumur lima bulan dan dia sudah positif hamil anak kedua.
"Ya Allah, maunya bilang alhamdulillah, tapi kok aku merasa nggak siap gini." Membuang nafas kasar untuk mengusir perasaan tak karuan di pikirannya. "Aku harus memberitahu Mas Bian secepatnya." Beranjak bangkit dan mulai bersiap. Sedikit memoles wajahnya karena Bian selalu memintanya sedikit bersolek kalau akan menemuinya ke Perusahaan.
Amara langsung bergegas meninggalkan rumah setelah menitipkan putrinya pada Bu Santi. Wanita itu hanya bilang ada sedikit urusan saat mertuanya bertanya.
Sampai di Kantor suaminya, Amara langsung membuka pintu ruangan suaminya tanpa ketuk pintu, apalagi mengucap salam.
"Mas,"
"Eh, Sayang. Kok datang ke kantor nggak bilang bilang dulu?" Bian terkejut saat melihat kedatangan istrinya. Belum lagi dia sedang mendiskusikan berkas yang baru saja di serahkan manager keuangan.
"Ah, kamu menyebalkan, Mas." Amara langsung duduk di pangkuan suaminya tanpa memperdulikan keberadaan Daniel yang duduk di sofa hadapan suaminya.
"Hei, kamu terlihat aneh hari ini." Mencubit pelan pipi istrinya. "Datang juga nggak pakai salam, langsung nyelonong masuk. Untung aja nggak ada tamu penting."
"Kamu menyebalkan, Mas." Amara beranjak bangkit sambil mendengus.
"Saya permisi, Tuan. Sepertinya Nyonya mau ngomong sesuatu."
"Aku cuman kesel sama Mas Bian, Pak. Aku nggak .. aaahh.." Amara hampir saja menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Namun, ia sadar kalau ada janin dalam perutnya.
Bian dan Daniel saling pandang karena tidak mengerti dengan Amara hari ini.
"Aku salah apa bilang, Ra. Kalau kamu cuman bilang kesel sama aku tanpa menyebutkan salah aku apa, aku nggak akan mengerti."
"Kamu ... ah," membuang pandangannya. Ingin menangis, tapi ia juga ingin tertawa. "Hiks.. hiks.. hiks.."
Bian menghela nafas berat melihat tingkah istrinya. Meraih sebotol air mineral di depannya.
"Aku hamil, Mas.."
Bur...!
Bian langsung menyemburkan air yang belum sempat di telannya. Daniel dan Amara langsung pandang. Namun, Daniel segera memindahkan berkas yang basah karena air yang disemburkan Bian.
"Tuan, berkasnya basah."
__ADS_1
"Kamu bilang apa tadi, Ra?" Bian bertanya kembali karena ia merasa salah dengar.
Daniel ikut menoleh pada Amara. "Iya, apa kami tidak salah dengar tadi, Nyonya?"
"Tidak," jawab Amara dengan tegas. "Aku hamil, Mas." Amara menguyel-uyel paha suaminya karena tidak tau mau melampiaskan perasaannya kemana lagi. "Ini salah kamu, Mas. Kenapa kamu nggak ingetin aku untuk pakai kontrasepsi sebelum kita bersama."
"Eh, aku mana tau yang begituan, Sayang. Aku kira kamu sudah mempersiapkan semuanya sebelum mengizinkan aku buka puasa waktu itu."
"Aku nggak ingat apapun waktu itu, Mas." Menatap suaminya dengan sendu.
Daniel yang mendengar percakapan Bian dan Amara segera pamit undur diri karena merasa pembicaraan tuannya sudah masuk ke ranah pribadi.
"Aku merasa belum siap, Mas." Kembali terduduk lemah di samping suaminya.
"Kenapa harus khawatir, Ra. Orang yang tidak punya suami aja bisa hamil, apalagi kamu yang punya suami."
"Ish," Amara mendesah. "Itu beda ceritanya, Mas."
"Udah sini," menarik pelan tangan Amara. Menyandarkan tubuh wanitanya itu di dadanya. "Terimakasih sudah mau mengandung anakku, Sayang. Hamil itu rizki. Seharusnya kamu bilang alhamdulillah, Sayang. Dulu pas belum hamil Adreena, kamu selalu berdoa dan menangis setiap hari karena beberapa bulan bersama belum juga bisa hamil. Sekarang Allah berikan kemudahan kamu malah ngeluh kayak gini. Allah tau yang terbaik untuk kita, Sayang." Memberi nasehat sambil mengelus-elus kepala Amara.
Amara terdiam mendengar nasehat suaminya. Yang dikatakan Bian memang benar. Tapi, dirinya hanya merasa belum siap karena umur Adreena yang masih sangat kecil untuk mempunyai adik. "Aku... aku hanya merasa nggak siap, Mas." Timpal Amara. Hanya itu yang bisa diucapkannya sebagai alasan.
"Iya.. mau bagaimana lagi, Mas. Terlalu banyak ngeluh juga nggak baik. Nanti Allah malah murka dan mencabut semua nikmat yang sudah diberikan pada kita."
"Itu sudah tau. Kenapa malah masih menampakkan raut wajah seperti ini?" Menarik pelan pipi istrinya seraya menatap wajahnya dalam.
"Ah, semua butuh proses, Mas. Mana bisa raut wajahku langsung berubah sedangkan hatiku belum baik-baik saja."
"Jangan terlalu dipikirkan. Nikmati setiap prosesnya. Ayo, aku anatar kamu pulang sekarang." Melirik jam tangannya. Kamu meninggalkan rumah sudah lebih dari satu jam. Jangan sampai Adreena nangis karena terlalu lama ditinggal." Menggandeng tangan Amara dan mengajaknya keluar.
Bian membawa mobil dengan santai agar istrinya nyaman. Menikahi wanita itu membuatnya harus memahami watak dan kepribadiannya.
***********
Malam itu...
Pukul satu dini hari, Amara terbangun karena perutnya berbunyi. Padahal dia makan dengan porsi yang tidak biasa saat makan malam tadi. Tapi sekarang dia sudah lapar lagi. Mungkin karena yang menyerap gizinya tiga orang, itu yang membuatnya cepat lapar.
__ADS_1
"Ada apa, Ra.. kenapa bangun?"
"Mm..." Amara tidak menjawab. Dia ingin turun untuk mencari sesuatu yang bisa di makan tanpa sepengetahuan suaminya. Tapi, Bian malah ikut bangun karena terganggu dengan pergerakannya.
Bian menyentuh lengan istrinya. "Ada apa, Sayang? Apa kamu mual atau apa?"
"Ng.. nggak, Mas." Menatap suaminya untuk meyakinkan. Di kehamilannya yang kedua ini, ia memang tidak pernah mual atau eneg mencium sesuatu. Dia hanya ingin makan dan makan. Mungkin anak dalam kandungannya tau kalau ibunya harus merawat kakaknya yang masih kecil.
"Terus kamu kenapa bangun?"
"Ehehehe..." Amara tersenyum meringis. "Aku.. aku lapar, Mas." Menggaruk-garuk kepalanya karena malu.
Sepersekian detik Bian tertegun. Bukannya dia terkejut karena istrinya yang lapar di tengah malam. Namun, ia merasa kasihan karena istrinya harus memiliki tenaga ekstra karena makanan yang masuk harus dibagi-bagi. "Sayang, dengarkan aku." Menarik tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Aku kan sudah bilang sama kamu. Lebih baik Adreena di kasih susu formula saja. Kalau kamu tetap memaksakan memberikan ASI, kamu yang kasihan, Sayang. Tubuh kamu akan lelah karena harus memberikan nutrisi pada Adreena dan adiknya."
"Tapi Adreena masih terlalu kecil, Mas. Aku berencana akan berhenti memberinya ASI sampai usianya enam bulan."
Bian menghela nafas berat. "Apa kamu yakin bisa kuat?" Menatap istrinya dengan ragu.
"Insya Allah kuat, Mas."
"Lain kali aku akan bawakan kamu makanan ke kamar biar kamu nggak usah turun kalau lapar seperti ini." Mengusap-usap kepala istrinya. "Sudah, kamu tunggu di sini. Biar aku yang turun ambilkan makanan."
"Ah, suamiku memang pengertian." Amara menghambur memeluk tubuh Bian.
"Kamu sudah berjuang untuk menjaga anak kita. Aku juga harus berjuang untuk menjaga kamu."
"Terimakasih, Mas."
"Sudah seharusnya aku melakukan itu." Melepaskan pelukannya perlahan. "Kamu mau makan apa, katakan. Aku akan masakkan untukmu."
"Aku nggak mau request apapun, Mas. Aku akan makan apapun yang kamu bawakan."
"Ok, wait me for a moment." Menarik kepala Amara dan mendaratkan satu ciuman di dahinya. "Apa sih yang nggak untuk istriku yang sudah menjadi bagian dari hidupku ini." Bergegas turun dari ranjang untuk mencarikan makanan untuk istrinya.
Amara hanya tersenyum kecil menanggapi. Pipinya menyemburkan rona merah menandakan dirinya sedang menahan rasa malu karena ucapan suaminya. Dia benar-benar merasa bahagia karena merasa sangat diistimewakan oleh suaminya. Menatap bayangan Bian yang sudah hilang dari pandangan. Laki-laki itu benar-benar membuktikan kalau dirinya bisa menjadi suami yang baik untuk Amara.
Amara Andini, kamu adalah orang yang sangat beruntung. Jarang sekali ada laki-laki yang mau mengalah demi kenyamanan pasangan semata. Roda kehidupan itu selalu berputar. Tidak selamanya di bawah, dan tidak selamanya pula di atas.
__ADS_1
*********