
"Suamiku sudah tampan sekarang." Amara mengibas-ibas tangannya di pakaian yang melekat di tubuh suaminya.
Bian langsung mengangkat wajahnya untuk melihat tatanan rambut hasil renovasi istrinya. Matanya langsung melotot sempurna. "Ya Allah, Ra.." menempelkan tangannya di atas kepala.
"Eits, nggak boleh diganggu gugat. Ini hasil perjuanganku dari lima menit yang lalu." Menurunkan dengan paksa tangan Bian.
"Tapi..."
"Nggak ada kata tapi.." menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan wajah Bian.
"Aku terlihat nggak ada tegas-tegasnya kalau kayak gini, Sayang." Melayangkan protes karena gaya rambut yang benar-benar seperti ABG. Menatap dengan teliti bayangannya di cermin.
"Apa hubungannya coba, gaya rambut dan ketegasan. Yang ada karyawannya nggak ada yang berani membantah ucapan Mas Bian karena terlihat semakin tampan. Huh," Amara melengos karena suaminya banyak protes.
"Hah," Bian menghela nafas berat untuk yang kesekian kalinya. Perasaan, tingkah istrinya agak aneh dari kemarin. Banyak hal-hal yang tidak pernah dilakukannya yang mulai senang dilakukannya. Sebut saja kemarin, Amara tiba-tiba minta izin untuk ke salon. Itu adalah suatu hal yang aneh menurut Bian. Biasanya dia yang memaksa istrinya untuk melakukan perawatan. Belum lagi saat pulang kerja, ia mendapati istrinya berdandan lengkap. Itu adalah hal yang paling aneh menurut Bian.
"Nanti siang kamu antarkan makan siang. Aku butuh teman yang bisa di ajak bicara normal. Kak Daniel sering nggak nyambung akhir-akhir ini. Mungkin karena kebanyakan beban pikiran dari Kakek."
Amara langsung mengangguk. "Hmm... syukur-syukur hanya banyak beban pikiran. Orang saja banyak beban hutangnya." Ucapnya asal.
Bian langsung mengernyit. Tingkah istrinya benar-benar semakin aneh. Biasanya dia yang paling simpati jika dirinya menceritakan Daniel yang kecapekan karena bekerja. "Ra, kok kamu aneh gini sih sekarang? Hmm... tapi ya sudahlah."
"Maksudnya apa, Mas?"
"Nggak ada. Aku mau berangkat sekarang. Kamu mau antar aku ke depan apa tidak?"
"Eh, yang tadi belum di jawab loh, Mas.." memegang lengan suaminya yang sudah bersiap keluar.
"Mau antar aku apa nggak?" Bian berusaha mengalihkan pembicaraan agar istrinya tidak bertanya terus.
"Iya.. mau sih.."
"Ayo makanya. Ini sudah jam sembilan. Aku nggak enak sama Kak Daniel kalau datang terlalu siang. Dia sedang sibuk mencari rumah dinas yang cocok untuk karyawan yang ikut pindah."
"Oh," Amara meraih tangan suaminya. Hal itu membuat Bian menyunggingkan senyum tipis. Dia kira istrinya akan tetap bersikeras mempermasalahkan ucapannya tadi. Ternyata Amara mau mengalah hanya karena dia bilang Daniel sedang sibuk di kantor. Padahal semua urusan sudah kelar. Daniel hanya sedang membantu panitia mempersiapkan acara perpisahan dengan karyawan yang akan tetap tinggal di kantor itu.
__ADS_1
Langkah mereka terhenti ketika berpapasan dengan Bu Fatimah di ruang tengah. Bian langsung meraih tangan neneknya.
"Kamu mau berangkat, Sayang?" Mengusap kepala Bian yang sedang mencium tangannya.
"Iya, Nek." Bian tersenyum kaku.
"Istri kamu kenapa nempel terus? Memangnya dia mau ikut ke kantor. Mau ikut suami kok tidak dandan sama sekali." Ucap Bu Fatimah dengan ketus. Menatap Amara dengan tatapan meremehkan.
"Rara nggak mau ikut kok, Nek. Aku cuman memintanya untuk mengantarku ke depan."
"Oh," Bu Fatimah berlalu karena tidak ada yang perlu di kritiknya lagi.
Amara hanya mengangkat bahu setelah Bu Fatimah berlalu, karena Bian langsung menatapnya. Memastikan apakah istrinya baik-baik saja atau bagaimana.
"Nggak ada kalimatnya yang menyakitimu, kan?" Menatap istrinya dengan khawatir.
"Ucapannya yang tadi masih termasuk kategori normal."
Bian tersenyum seraya menggenggam kembali tangan istrinya. Mereka melanjutkan langkahnya. Amara mengantar Bian sampai dekat garasi. Wanita itu masuk kembali setelah mobil suaminya hilang dari pandangan.
********
"Wah... Tuan terlihat sangat berbeda dengan gaya rambut yang berbeda." Daniel langsung bertepuk tangan kagum saat Bian akan masuk ke ruangannya.
"Hah, Kak Daniel ikut-ikutan berkomentar. Dari tadi aku melihat para karyawan di bawah berbisik-bisik saat aku masuk." Bian melengos. Dia paling tidak suka dijadikan pusat perhatian karena style.
"Siapa yang tidak akan bisik-bisik. Tuan terlihat lebih muda dengan gaya rambut seperti ini. Apalagi para wanita, mereka pasti berdecak kagum karena Tuan terlihat semakin tampan."
"Hah, sudahlah.. kalau tidak Rara yang memaksaku kayak gini, aku pasti sudah mengembalikannya ke bentuk semula."
"Wanita itu akan menjadi Ratu setelah kita menikah, Tuan. Sang Raja akan menuruti semua keinginan sang Ratu, agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Kondisi rumah juga tergantung dari ratunya. Jika suasana hati sangat Ratu sedang tidak baik-baik saja, maka seluruh isi rumah juga ikut tidak baik-baik saja."
Bian mengangguk-angguk. "Aku sudah membayangkan hal itu dari jauh-jauh hari. Ibu juga selalu menasehati itu sebelum aku menikah. Perasaan istri harus selalu djaga agar isi rumah ikut terjaga." Bian mengakhiri ucapannya. Pria itu masuk ke dalam ruangannya untuk bertempur dengan pekerjaan hari ini.
Sementara itu...
__ADS_1
Amara di panggil Bu Santi saat ia akan masuk ke dalam kamarnya setelah kembali dari mengantar Bian tadi.
Ia langsung tersenyum ramah dan mencium tangan mertuanya itu. "Tumben Ibu keluar kamar. Biasanya Ibu nggak pernah melintas di sekitar tempat ini."
Bu Santi membelai lembut kepala Amara. "Ibu hanya tidak ada aktivitas di rumah ini. Tapi, tadi Ibu melihat kamu mengantar Bian ke depan. Ibu rasa ada teman, makanya menunggu kamu kembali." Bu Santi menggandeng tangan Amara menjauh dari kamarnya. Wanita itu mengajak Amara ke taman depan rumah, dimana ada sebuah kolam ikan kecil di sana.
"Kemarin Bian bertanya pada Ibu. Dia bilang, kamu tidak mau tinggal di Apartemen. Kamu maunya tinggal di rumah yang mempunyai halaman yang luas."
Amara mengangguk ragu. Sebenarnya dia malu pada mertuanya itu.
"Gambaran rumah yang bagaimana yang kamu inginkan, Nak?" Bu Santi kembali bertanya. Menatap Amara dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aku.." Amara menunduk. Tangannya sibuk mencabut rumput liar yang tumbuh di antara bebatuan. "Masalah rumahnya, aku serahkan pada Mas Bian, Bu. Aku hanya ingin punya halaman, itu saja."
"Tidak boleh kayak gitu dong, Nak. Yang menjadi ratunya itu kamu, Mara. Bian adalah Raja dalam rumah tangga kalian. Masalah rumah itu diserahkan pada Ratu. Tugas Raja hanya memenuhi nafkah untuk sang Ratu. Yang akan kebanyakan menempati rumah itu nantinya adalah kamu, Nak."
"Tapi..."
"Itu yang membuat Bian bingung dari kemarin. Selama ini, Ibu memang tidak pernah mengajarkan dia untuk terlibat dalam urusan rumah. Dulu, Ibu juga tidak pernah berniat untuk membangunkan Bian rumah. Karena Ibu menyangka putra Ibu akan tetap tinggal bersama Ibu walaupun dia sudah menikah sekalipun."
Amara tersentak, langsung menatap Bu Santi yang terdengar sedih. "I.. Ibu.."
"Ternyata Ibu salah, Nak. Sejak lulus SMA pun, kakeknya langsung menghadiahinya sebuah Apartemen yang ditempatinya dulu. Abi selalu bilang pada Ibu, kalau Ibu harus ikhlas akan hal itu. Karena bagaimana pun juga. Kalau Bian sudah menikah, dia bukan lagi milik Ibu. Dia adalah milik istrinya."
"I.. Ibu.." Amara menelan ludahnya. Tidak menyangka kalau itu yang akan diucapkan mertuanya. "Kak Bian tetap milik Ibu. Kak Bian itu laki-laki, Bu. Dia tetap wajib berbakti kepada orang tuanya walaupun sudah menikah. Kita akan memilikinya bersama-sama." Amara meraih tangan mertuanya, menepuk-nepuknya dengan lembut. "Jika Ibu bilang, aku adalah ratunya. Maka aku akan menyebut Ibu sebagai Ibu Ratu. Ibu Ratu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari ratu. Aku yakin, Kak Bian tidak akan pernah menomor duakan Ibu. Ibu akan selalu menjadi yang pertama di hatinya. Rasa cinta untuk orang tua dan untuk pasangan itu berbeda, Bu."
Bu Santi tersenyum. "Terimakasih, Nak. Mudah-mudahan Allah selalu memberkahi rumah tangga kalian. Ibu kira, kamu akan egois dan tidak mengizinkan Ibu memiliki Bian lagi." Mencubit pelan pipi menantunya.
"Mm... seharusnya aku yang berpikir kayak gitu, Bu. Kan Ibu yang melahirkan Kak Bian."
Bu Santi kembali tersenyum. "Kalau Ibu boleh memberi usul, Ibu ingin kalian membangun rumah di lahan kosong di samping rumah Ibu. Jadinya, kita bisa saling mengunjungi walaupun beda rumah."
"Mm... apa boleh seperti itu, Bu?"
"Ibu kan sudah bilang, kamu itu adalah ratunya. Kamu boleh menentukan tempat yang kamu inginkan."
__ADS_1
"Aku akan membahasnya nanti dengan Kak Bian."
**********