Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Membahas Perjodohan


__ADS_3

Di kantor, Alex tak begitu konsetrasi dengan pekerjaanya. Ia lebih banyak melamun daripada bekerja. Karna masih memikirkan masalah perjodohan dirinya. Dalam waktu dekat berita itu akan tersebar. Ia sendiri terlihat sangat kesal dan frustasi dengan hal itu.


Tiba-tiba seseorang dari luar mengetok pintu dan masuk ke ruangan Alex. Saat ia tahu yang datang adalah manager Hans, sontak Alex mengalihkan pandanganya ke jendela luar bermaksud membuang muka. Ia tak mempedulikan kedatangan manager Hans. Mungkin saja ada kaitannya dengan perjodohan itu.


“Ada apa manager Hans? Apa yang membuatmu datang keruanganku?” Alex melemparkan pertanyaan duluan dan raut wajah tidak senang.


Sebelum bersuara, pertama-tama manager Hans mengambil tempat duduk di sofa depan Alex, lalu duduk disitu.


“Tuan muda. Aku dengar proyekmu sukses besar. Selamat atas itu,” kata manager Hans senang. Seperti biasanya ia selalu memuji Alex saat mendapat kabar baik mengenai perusahaan. Alih-alih tidal langsung to the point membicarakan tentang perjodohan. Karna ia tahu, Alex pasti akan menolaknya mentah-mentah.


“Itu berkat kerja tim ku. Kau juga ikut andil dalam hal itu. Terima kasih atas kerjanya,” balas Alex dingin.


“Aku sudah memberitahu ketua. Ia sangat senang mendengar hal itu,” kata manager Hans dengan santai.


Alex tak berkomentar. Ia tahu maksud dan tujuan manager Hans datang menemuinya bukan hanya sekedar mengucapkan kata selamat kepadanya. Ini tentu ada hal lain yang ingin ia bicarakan. Alex sudah bisa menebaknya sendiri.


“Kau kesini bukan hanya untuk mengatakan hal itu kan? Katakan saja padaku apa maksudmu, manager Hans,” Alex melempar pertanyaan yang cukup mengejutkan.


Manager Hans tersudut. Ia menelan ludah, lalu berdehem sebentar mengontrol dirinya untuk tetap tenang. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah tersenyum simpul.


“Kau ternyata bisa menebaknya. Aku ketahuan rupanya,” katanya dengan nada bercanda.


“Benar. Aku sudah tahu itu. Jadi, jangan coba membohongiku dengan caramu seperti itu.”


“Jadi, apa kau sudah memilih?” kata manager Hans berterus terang dengan kedatangannya. Ia ingin tahu apa pendapat Alex sekarang.


Alex menghempa udara. Kelihatan sekali ia sangat tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Ia hanya sibuk dengan pekerjaanya.

__ADS_1


“Memilih apa?” Alex justru berbalik bertanya dengan nada dingin.


“Tentu saja memilih seorang istri,” jawab manager Hans dengan tenang. Ia tahu dengan keadaan Alex yang tak suka dengan perbincangan ini.


Alex tertegun. Matanya bulat besar menatap manager Hans. Wajahnya mulai kelihatan tidak senang.


“Kenapa harus memilih kalau hal itu sudah dipilihkan untukku. Aku sangat membenci itu,” ketus Alex.


Manager Hans terdiam sejenak. Ia hanya bisa menghela nafas pelan-pelan. Kemudian menatap Alex dengan penuh perhatian.


“Itu adalah keinginan mendiang kakekmu. Kau juga tahu itu. Jangan membenci keluargamu jika mereka memperlakukanmu seperti ini.”


“Hubungan mereka itu seperti apa sampai punya perjanjian seperti ini?” Alex bertanya dengan nada kesal.


“Ini adalah perjanjian mendiang kakekmu dengan satu-satunya sahabat terbaiknya. Ini merupakan amanah yang harus di tepati. Jika saja mendiang kakekmu masih hidup, dia akan sangat kecewa mendengar keputusanmu. Karna kaulah satu-satunya harapannya.”


“Ini benar-benar lucu. Perjodohan antara cucu Shin dan cucu Herman dari teman yang setia. Yang dimaksud itu aku kan?”


“Yang paling penting adalah perasaanmu. Keluargamu tak ingin memaksamu kalau kau tak menginginkanya. Wasiat itu bisa saja diberikan pada putra Ali, sepupumu. Jika wasiat itu jatuh ketangan sepupumu, kau harus menanggung resikonya.”


“Bukankah kau sekarang berada di pihakku? Kenapa kau menyetujui pernikahan ini?” Alex membentak.


“Ini demi kebaikanmu dan juga keluargamu. Kau bisa memikirkannya baik-baik. Berpikirlah layaknya pria dewasa,” jawab manager Hans singkat.


Alex mendesah panjang, tak berkomentar. Sebagai jawaban, dia menundukkan pandangannya ke lantai yang berkarpet tebal, tanpa sepatah kata pun. Pikirannya kalut. Entah siapa yang mau ia dengar. Kata hatinya atau kata manager Hans.


Ketika dia mengangkat kepalanya setelah diam beberapa menit, dia melihat manager Hans itu masih menatapnya.

__ADS_1


“Apa kau menganggap semua ini akhir dari hidupmu? Kau lebih beruntung dari mereka. Jika saja wasiat itu bukan ditujukan kepadamu, kau akan menyesal. Keluarga Surya sudah menantikan wasiat itu,” manager Hans menjelaskan dengan bijak.


“Tapi aku merasa dirugikan. Kenapa kakek membuat perjanjian tanpa mempertimbangkanya dulu. Aku sama sekali tidak tertarik. Kakek kan bisa saja memberitahuku ketika dia masih hidup,” bantah Alex tak terima.


“Ia akan tahu akan terjadi seperti ini. Dan kau akan tetap menolaknya. Karena itu dia menjadikan ini sebagai permintaan terakhirnya. Ketua tidak sanggup lagi menanggung beban ini.”


Alex ingin lari. Andai ia dapat berteriak, menjerit dan memekik. Tetapi dia tidak mendapatkan kekuatan untuk bergerak. Dia merasa di penjarakan. Nasibnya tengah bermain dengannya, menjadikanyya merasa seperti seorang yang amat sangat bodoh dan dia sadar bahwa dia tidak dapat melawan segala sesuatu tetapi bukan dengan nasibnya. Dia tidak mempunyai pilihan. Untuk pertama kalinya dia melihat dirinya tak sekuat yang ia pikirkan.


Manager Hans menghela napas panjang.


“Ketua telah memberimu waktu untuk memikirkanya. Jadi pergunakanlah sebaik-baiknya. Ku harap kau jangan menyerah dengan wasiat itu,” kata manager Hans lalu beranjak dari situ.


Tak ada sahutan dari Alex. Ia hanya diam seakan-akan tak peduli dengan itu. Ia mendesah panjang.


“Pilihan orang tua tidak pernah salah. Mereka ingin yang terbaik untukmu agar tidak salah memilih pasangan. Bukankah kau sudah melihat gadis itu?”


“Ya, tentu. Nenek juga membawanya untuk tinggal di rumah. Sebenarnya aku sedikit keberatan tentang itu, membiarkan orang asing tinggal di rumah itu. Tapi, nenek tidak akan mendengarkanku.”


“Alex. Ketahuilah, wanita yang dijodohkan denganmu sangat berbeda dengan wanita lainnya. Biarkan gadis itu menjadi bagian dari keluarga ini. Dia gadis yang baik dan juga cantik.”


“Aku tidak menyukai gadis desa seperti dia,” bantah Alex segera.


Manager Hans hanya diam.


“Baiklah. Aku belum mendengar keputusanmu. Berbicara denganmu membuatku pusing saja. Dan aku harus kembali sekarang. Permisi.”


“Ya, silahkan.”

__ADS_1


__ADS_2