
Bian segera bangkit karena Amara tidak berhenti mencubitnya. Berdiri agak jauh sampai Amara tidak bisa menggapai tubuhnya lagi. Menatap istrinya dengan sendu. "Ya Allah.. badan aku sakit, Sayang. Ampun... tega kamu siksa aku sampai kayak gini."
Amara melengos. "Jangan kayak gini makanya. Tadi katanya nggak mau menyebalkan lagi. Ada tamu bukannya di minta masuk malah bilang kayak gitu. Awas saja kamu, Mas. Aku akan laporkan perbuatan kamu ke Ibu."
Bian langsung melotot. "Jangan lapor ke Ibu. Kamu kan tau, kalau Ibu yang marah separuh duniaku akan hancur. Aku akan menemui Kak Daniel sekarang. Yang penting kamu tidak bilang apa-apa ke Ibu." Berjalan lebih mendekat pada Amara. Mencium dahinya sekilas sebelum akhirnya berlalu sambil mengusap-usap lengannya yang terasa ngilu karena cubitan istrinya.
Amara tersenyum kecil setelah suaminya pergi. Sekarang dia bisa duduk dengan tenang sambil menonton tv tanpa ada gangguan dari Pak Suami. Ia mulai memindah-mindah chanel sesuai dengan keinginannya, karena ia tidak tertarik menonton kartun. Merebahkan tubuhnya di sofa dengan santai.
Sementara itu...
Bian melihat Bi Sumi yang sudah membuka pintu dengan lebar. "Bik, Kak Daniel mana?"
"Eh," wanita paruh baya itu terlonjak kaget. Mengusap-usap dadanya lalu berbalik menatap Bian.
Bian cengengesan karena melihat ekspresi terkejut asisten rumahnya itu. "Maaf, Bik."
"Eheheh ... tidak apa-apa, Tuan. Pak Daniel menunggu Tuan di luar. Beliau bilang mau menunggu Tuan sampai Tuan bersedia menemuinya."
"Oh," Bian sedikit terkejut mendengar penjelasan Bi Sumi. Kalau seperti ini, pasti ada hal penting yang harus segera di ketahui olehnya. "Mm.. Bibi masuk dan buatkan minum untuk Kak Daniel. Saya akan menemuinya sekarang."
"Baik, Tuan." Bi Sumi mengangguk patuh. Meninggalkan Bian menuju dapur. Dia memang sudah berniat untuk membuatkan Daniel minuman karena akan menunggu.
Setelah yakin Bi Sumi masuk ke dalam dapur, Bian keluar dan menutup pintu rumahnya. Matanya langsung fokus menatap Daniel yang terlihat duduk cemas. Mata pria itu fokus menatap layar tab di tangannya.
"Ada apa, Kak?" Mendekati Daniel lalu duduk di samping pria itu.
"Tuan," Daniel menggeser duduknya.
"Ada apa, kenapa mencari ku sampai ke rumah?"
"Mm.. Tuan Besar meminta Tuan untuk datang rumahnya."
Bian menautkan alisnya. "Apa yang terjadi?" Menatap Daniel dengan serius.
"Masalah perdebatan Tuan dengan Direktur Konveksi Z kemarin."
"Mm..." menunggu kelanjutan ucapan Daniel.
__ADS_1
Direktur itu melaporkan kejadian itu pada Komisarisnya dan berita itu sampai ke Tuan Besar.
Bian tersenyum getir. "Hebat sekali dia. Kenapa kakek tidak menghubungiku langsung?"
"Saya rasa, Tuan sudah mengetahui hal itu. Tuan Besar tidak akan menghubungi Tuan jika sedang kecewa atau marah sama Tuan."
"Lalu untuk apa dia memintaku untuk menemuinya? Aku tidak akan datang menemuinya kalau Kakek tidak menghubungiku langsung."
"Tapi, Tuan.."
"Tunggu sebentar.." Bian bangkit dan masuk ke dalam rumah. Mengambil handphonenya yang ia letakkan di atas meja ruang keluarga tadi. Amara masih di sana menonton televisi. "Handphoneku mana, Sayang?"
"Ini, Mas." Amara menyerahkan handphone suaminya. Menatap Bian yang menunjukkan ekspresi wajah serius. "Ada apa, Mas?"
Bian tersenyum kecil. "Ada sedikit masalah gara-gara pertemuan dengan Khanza kemarin. Wanita itu melapor ke papanya dan berita itu sampai ke Kakek. Nanti aku jelaskan lagi. Kak Daniel masih di luar." Bian langsung berlalu tanpa menunggu jawaban istrinya.
Bian kembali menemui Daniel. Membuka handphonenya di samping pria itu. "Aku akan mencoba menghubungi kakek sekarang. Kalau kakek mengabaikan panggilanku, itu berarti dia benar-benar marah sama aku."
"Tuan Besar sudah mencabut semua anak buahnya yang mengawasi Tuan. Itulah mengapa beliau tau dari orang lain tentang hal ini." Daniel menatap Bian yang terlihat sedang merenung karena masalah ini.
"Apa Kak Daniel tidak menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Bian setelah cukup lama terdiam.
"Sejak kapan kakek lebih mempercayai orang lain dari pada orang dekatnya?" Bian menghela nafas berat. Menatap layar handphonenya karena kakeknya benar-benar mengabaikan panggilannya. "Kakek benar-benar mengabaikan panggilanku, Kak."
"Apa Tuan akan pergi menemui Tuan Besar?" Menatap Bian lama. Dia harus benar-benar memastikan karena tidak mau kena amukan Pak Akmal.
"Aku nggak tau, Kak. Kalau aku pergi, aku akan meninggalkan istriku yang sedang hamil muda. Sedangkan setiap pagi Rara selalu muntah hebat. Kak Daniel pun sepertinya tidak akan tega meninggalkan istri Kak Daniel jika keadaannya seperti ini."
"Saya akan berusaha menjelaskan hal itu pada Tuan Besar." Timpal Daniel. Ia juga kasihan pada Bian. Menurutnya Bian tidak bersalah karena Bian hanya melindungi istrinya yang terzalimi. Sindiran Khanza saat itu memang terdengar cukup menyakitkan.
"Terimakasih, Kak. Nanti Kak Daniel hubungi aku apapun yang dikatakan kakek."
"Saya akan menghubungi Tuan nanti. Tapi, Tuan jangan mengabaikan panggilan saya seperti tadi." Daniel menatap Bian dengan kesal. "Andaikan Tuan menjawab panggilan tadi, saya tidak akan tancap gas sampai ngos-ngosan ke rumah Tuan."
"Hehehe... tadinya aku kira Kak Daniel mau memintaku untuk mengurus suatu pekerjaan. Rencananya aku mau istirahat dari memikirkan itu semua. Hah," membuang nafas dengan kasar. "Taunya yang datang malah berita kemarahan kakek. Sudahlah, aku nggak mau memusingkan hal itu. Jika kakek bertanya tentang wanita itu, aku akan menjawab apa adanya."
"Rencana itu terdengar sangat bagus, Tuan." Beranjak bangkit. "Kalau begitu saya langsung pamit, Tuan. Nanti saya hubungi Tuan untuk informasi lebih lanjut."
__ADS_1
Bian hanya menjawab dengan senyuman. Menatap kepergian yang terlihat terbebani dengan masalah kemarahan kakeknya. Ia memilih untuk masuk kembali ke dalam rumah setelah motor Daniel hilang dari pandangan. Meminta Bi Sumi membawa masuk sisa jamuan Daniel tadi. Dia sendiri menghampiri istrinya yang masih menonton televisi.
"Bagaimana, Mas?" Amara mendongak menatap suaminya yang hanya berdiri di sampingnya.
"Belum ada kepastian, Sayang. Kata Kak Daniel, kakek marah karena masalah itu. Tapi..." Bian menghela nafas berat. "Sudahlah, tidak usah pikirkan hal itu. Aku bisa menyelesaikannya." Menarik tangan istrinya agar bangkit. "Temani aku istirahat, Ra. Aku butuh istirahat agar hati ini bisa rileks."
Amara tidak melakukan protes. Ia langsung bangkit. Menyambut uluran tangan suaminya. Membiarkan suaminya merangkul pinggangnya sampai mereka menaiki anak tangga.
"Sebenarnya masalahnya apa sih, Mas?" Kembali melontarkan pertanyaan karena penasaran dengan apa yang terjadi. Duduk di samping suaminya yang sudah tidur terlentang di atas ranjang.
"Nggak ada apa-apa, Sayang." Mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku sudah bilang ke kamu tadi, Khanza melaporkan kejadian itu pada papanya. Sepertinya ada yang dilebihkan dan fakta tidak disampaikan sebagai fakta. Aku dan Kak Daniel akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Kakek sampai memintaku untuk mendatangi tempatnya." Kembali membuang nafas dengan kasar untuk yang kesekian kalinya.
"Kapan Kak Bian akan pergi?" Tatapan Amara berubah sendu. Terlihat jelas kalau wanita itu tidak mau berpisah jauh dengan suaminya.
"Aku..." Bian beranjak bangkit. Mengusap wajah istrinya seraya memberikan senyuman lembut untuknya. "Aku masih mempertimbangkan hal itu, Ra. Kalau aku pergi, aku akan memikirkan kamu yang selalu muntah-muntah setiap pagi."
"Mm.. kalau kamu hanya pergi dua atau tiga hari, nggak apa-apa kok, Mas. Yang penting masalah ini cepat selesai."
Bian kembali tersenyum. "Aku sedang berusaha, Ra. Mudah-mudahan masalah ini bisa diselesaikan dari sini tanpa harus terbang ke sana." Kembali merebahkan tubuhnya. Menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya. "Aku nggak ngerti wanita itu maunya apa-apa. Entah apa yang membuatnya selalu merendahkan kamu, Ra. Padahal, dilihat dari segi manapun, kamu terlihat memiliki kelebihan yang sangat jauh berbeda darinya. Mau dilihat dari agama, kamu lebih baik. Dilihat dari fisik, kamu juga lebih oke. Dilihat dari kecantikan, istriku sudah pasti lebih cantik. Dilihat dari akhlak, kamu juga unggul. Jangan tanyakan lagi dengan masalah rumah tangga. Kamu sudah pasti unggul dalam hal itu. Kamu yang berhasil mendapatkan cintaku."
Amara hanya diam sambil menahan senyum mendengar ocehan suaminya.
"Hanya kamu yang bisa menjadi ratu di hati Bian. Terserah orang seperti dia bilang apa untuk menggoyahkan hatiku. Aku hanya berharap, semoga Allah selalu menjaga hubungan kita. Selalu menjaga hati kita, agar kita senantiasa selalu bisa saling menjaga perasaan satu sama lain."
"Aamiin.."
"Makanya tidur sini, Sayang." Menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Aku menemani kamu seperti ini saja, Mas."
"Eh, nggak boleh, Sayang. Aku kan memintamu untuk menemaniku. Menemani versi Bian itu sangat sensitif. Hanya kamu orang yang boleh melakukan itu."
"Maksudnya.."
"Hadeh..." Bian mendengus. "Tidur di sampingku, Amara Andini. Berikan bekal batin untuk suamimu ini agar kuat menghadapi cobaan. Aku butuh bekal batin untuk menghadapi kakek, agar aku bisa tenang nantinya." Menarik tangan istrinya sampai tubuhnya jatuh di sebelahnya.
Amara hanya bisa menelan ludahnya beberapa kali.
__ADS_1
*********