
Daniel hanya bisa memijit pelipisnya. Tidak ada yang bisa dilakukan pria itu untuk mencegah pertemuan ini. Untuk menghampiri Amara pun, tidak bisa ia lakukan. Hal itu bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Wanita itu juga sedang sibuk mempersiapkan alat untuk menjahit luka Bian.
"Nona Amara!" Daniel berusaha menghentikan langkah Amara saat gadis itu sedang membawa alat untuk Dokter.
Prang ...!
Seketika itu, alat di tangan Amara terjatuh karena wanita itu benar-benar terkejut. Walaupun hanya bertemu beberapa kali dengan Daniel, tapi Amara masih ingat betul siapa pria itu.
"Amara, what are you doing?!" Perawat pria yang bicara dengan Daniel sebelumnya berjalan mendekat dan membantu Amara memungut alat-alat yang jatuh.
"I'm sorry, Sir. I'm nervous." Amara menarik nafas dalam untuk menguasai pikirannya. Berbagai ucapan ia lontarkan dalam hatinya untuk menenangkan pikirannya. Ia merasa seperti bermimpi melihat Daniel ada di tempat itu. Dia hanya bisa berdoa, semoga orang yang menjadi Bos pria itu tidak ada di tempat itu jaga.
Melihat Amara lebih tenang, Daniel mendekati wanita itu. "Apa Nona bisa ikut denganku sebentar?" Menatap Amara dengan penuh keyakinan.
"Maaf, Pak. Kami sedang bekerja. Jam kerja kami tidak boleh diganggu gugat, kecuali tidak ada pasien yang sedang membutuhkan pertolongan." Perawat pria itu beranjak bangkit. "Ayo, Mara. Jangan sampai Dokter marah sama kita karena kita tidak bekerja dengan baik."
"Iya, Pak." Amara akhirnya mengikuti langkah perawat pria itu.
Daniel tertegun, tidak tau apa lagi yang bisa dia lakukan. Dia juga tidak menyangka kalau pria itu pasih berbahasa Indonesia. Apa mungkin pria itu berasal dari Indonesia juga. Berbagai macam pertanyaan menari di kepalanya. Dia hanya bisa pasrah menunggu apa yang akan terjadi. Perlahan, Daniel mendekat ke bed tempat Bian. Pria itu hanya bisa berdiri mematung saat menyaksikan pemandangan di depannya.
Dokter dan perawat pria yang bersama Amara tadi sedang menjahit luka di tangan Bian. Namun, Amara malah tertegun. Gadis itu kaku seperti robot. Hanya tangannya yang di genggam Bian. Pria itu seolah-olah takut kalau Amara tiba-tiba pergi dan meninggalkannya lagi.
"Tuan.." Daniel berjalan semakin mendekat.
Bian hanya tersenyum kecil menanggapi. Pria itu menatap lurus ke depan. Rasa sakit yang di rasakannya dikalahkan oleh rasa bahagia. "Kak Daniel hubungi ibuku sekarang. Bilang ke Ibu kalau aku kecelakaan. Jangan katakan apapun tentang Rara. Biar Ibu tau pas dia sampai di tempat ini."
Perawat pria yang berdiri di samping Amara hanya melirik sambil menelan ludahnya. Tidak bisa berkata apa-apa untuk mencegah Bian.
"Sudah selesai." Dokter itu meninggalkan Bian setelah selesai melakukan tugasnya. Sementara itu, perawat pria itu membersihkan sisa-sisa darah yang sudah mengering di tangan Bian.
"Jangan bersihkan lagi. Biar Rara yang melakukannya nanti." Ucap Bian dengan ekspresi datar. Menyingkirkan tangan perawat pria itu.
Sepersekian detik perawat itu bengong karena sikap Bian yang seolah-olah tidak suka dilayani oleh dirinya. "Baik.. saya pergi kalau begitu." Perawat itu mengangguk sopan seraya meninggalkan Bian dan Amara. Daniel pun ikut pamit karena ingin memberikan waktu untuk tuannya.
Bian menarik nafas dalam setelah Daniel keluar. Pria itu menatap Amara. Sekian menit dia menggenggam tangan Amara, baru kali ini dia berani menatap Amara. Semua terasa seperti mimpi. "Ra... aku.. aku tidak sedang bermimpi kan?" Bibirnya mengulas senyum tipis menatap gadis itu.
__ADS_1
Amara tidak bisa berkata apa-apa. Gadis itu mendongakkan kepalanya untuk menahan air mata yang terasa mau tumpah. Dia pun merasa sedang bermimpi tangannya di genggam Bian. Setelah berhasil menguasai diri, Amara memberanikan diri menatap Bian. "Aku.. aku bersihkan kotoran di tangan Kak Bian dulu. Kalau dibiarkan terlalu lama, nanti darah itu sulit hilang."
Bian tidak memperdulikan ucapan Amara karens pria itu terlampau bahagia. "Kita perlu bicara, Ra."
Amara menarik nafas dalam. "Aku tau, Kak. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Aku sedang bekerja. Aku harus bisa profesional menjalankan tugasku. Aku berjuang cukup keras untuk bisa bekerja di Rumah Sakit ini. Kak Bian tau sendiri kalau Rumah Sakit ini adalah Rumah Sakit besar dengan fasilitas yang memadai." Amara berkata sambil menunduk. Ekspresinya sudah berubah kecut. Bian hanya tersenyum getir mendengar jawaban Amara.
"Aku akan membersihkan luka Kak Bian. Saat ini, Kak Bian adalah pasien dan aku adalah perawat yang akan merawat Kak Bian."
"Ok, aku akan menerima dengan lapang dada. Jam berapa kamu pulang kerja?"
"Aku sift malam, Kak. Besok pagi baru aku kembali ke Apartemen. Kalau Kak Bian mau bicara, Kak Bian bisa datang ke Apartemenku."
Bian mengangguk-angguk mengerti. Bibirnya tidak berhenti mengembangkan senyum. Matanya pun tidak henti-hentinya menatap Amara yang sedang sibuk membersihkan bekas darah yang sudah mengering.
"Kenapa Kak Bian bisa sampai seperti ini." Amara bertanya sambil terus membersihkan tangan Bian.
"Mm.. aku terlalu fokus memikirkan kamu, Ra."
"Eh," Amara menghentikan aktivitasnya. Berslih menatap Bian dengan kesal. "Jawabannya tidak masuk akal, Mas."
"Kak Bian menyebalkan sih. Coba memberikan jawaban yang masuk akal." Amara membuang pandangannya sambil menahan senyum. Perasaannya mulai berbunga-bunga. Candaan Bian yang seperti ini sangat dirindukannya.
"Mm..." terus menatap Amara karena menikmati ekspresi wanita itu. "Tadi aku menolong seorang anak yang hampir tertabrak mobil. Tanganku terkena pecahan botol kaca yang dibawa anak itu. Aku hanya bersyukur, anak kecil itu tidak apa-apa."
Amara kembali menatap Bian karena pria itu terdengar serius menjelaskan. "Tapi kan Kak Bian yang terluka."
Bian kembali tersenyum. "Ini adalah rencana Alah untuk mempertemukan kita kembali, Ra."
Amara menelan ludahnya. Menatap Bian dengan ragu. "Tapi.. aku.."
Bian menarik tangan Amara lalu menggenggam erat tangan itu. "Jangan pernah mencoba untuk pergi dariku lagi, Ra."
"Eh, hati-hati. Tangan Kak Bian sedang sakit." Amara menatap khawatir ke arah tangan kanan Bian.
"Yang sakit tangan kanan. Tangan kiriku masih berfungsi dengan normal."
__ADS_1
Amara hanya bisa menghela nafas berat. Kekakuan diantara mereka hanya berlangsung beberapa menit. Sekarang mereka sudah berinteraksi normal, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
"Tuan.." Daniel masuk ke tempat Bian, membuat Amara langsung menarik tangannya dari genggaman pria itu.
"Kak Daniel kenapa kemari?"
"Nona Amara harus bekerja lagi, Tuan. Dokter dan tiga teman perawatnya sedang mengurus satu pasien yang baru datang. Untuk meminta Nona Amara ikut serta, mereka tidak enak pada Tuan."
"Aku harus kerja, Kak."
"Kalau sudah selesai, kamu temani aku lagi."
Amara mengangguk. "Nanti aku usahakan." Bergegas keluar dari tempat Bian.
Selepas kepergian Amara, Bian langsung menatap Daniel dengan tajam. Pria itu curiga dengan sikap Daniel tadi. "Sepertinya Kak Daniel menyembunyikan sesuatu dariku."
"Maksud Tuan?"
"Aku curiga, Kak Daniel sudah mengetahui keberadaan Rara sejak dulu." Masih memberikan tatapan tajam pada Daniel. Yang di tatap terlihat gelagapan. "T.. tidak seperti itu, Tuan. Aku baru tau beberapa hari yang lalu, ketika kita masih di Tiongkok."
"Lalu kenapa Kak Daniel harus bertele-tele dan tidak memberitahukan semuanya padaku?!"
"Maaf, Tuan." Daniel menundukkan sedikit tubuhnya. "Nyonya Besar sedang drop. Tuan Besar melarang saya untuk memberitahukan hal itu pada Tuan. Tuan Besar khawatir kalau keadaan Nyonya Besar akan semakin memburuk kalau Nona Amara dibawa kembali oleh Tuan."
"Huh," Bian mendengus. Hal seperti ini sangat tidak disukainya. "Sayangnya, kalian tidak bisa merubah rencana Allah untukku dan Rara." Kembali menatap Daniel yang masih menunduk. "Aku tidak percaya Kak Daniel tega melakukan itu padaku."
"Maafkan saya, Tuan." Daniel semakin menunduk dalam.
"Sekarang Kak Daniel awasi terus Rara. Aku tidak mau terpisah untuk yang kedua kalinya dengan dia. Besok, aku mau Kak Daniel mengantarku ke Apartemennya." Bian berkata tegas. Ucapannya seperti perintah yang tidak boleh dibantah Daniel.
"Tapi, tangan Tuan masih sakit. Bagaimana kalau kita pergi setelah Tuan sembuh."
"Tidak, Kak. Malam ini aku akan menginap di tempat ini. Besok, kita akan ke Apartemen Rara saat dia pulang kerja."
Daniel hanya bisa menghela nafas berat. Kalau tuannya itu sudah bertitah, maka keputusannya tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Termasuk oleh Pak Akmal sekalipun.
__ADS_1
*********