Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Sakitnya Berlaku untuk yang Pertama Kali Saja


__ADS_3

Bian menatap lama wajah Amara yang masih terlelap di sampingnya. Sudah adzan subuh, tetapi wanitanya itu tidak ada tanda-tanda akan membuka mata. Sepertinya Amara benar-benar lelah setelah melakukan olahraga bersamanya semalam.


Lama menatap istrinya membuat rasa iseng timbul dalam hatinya. Tiba-tiba tangan Bian menarik pelan bulu mata Amara yang terlihat sangat menarik karena lentik. Tangannya sedikit gatal melihat hal itu.


Amara memijit matanya karena merasa terganggu. Mengucek matanya dan menepis tangan suaminya. "Na... please deh, gue masih ngantuk. Jangan ganggu ok. Lima menit lagi gue akan bangun tanpa lho bangunin."


Bian tersenyum sendiri mendengar ucapan istrinya. Baru beberapa jam terlelap, istrinya itu sudah lupa sedang tidur dengan siapa. "Sayang... bangun. Memangnya kamu tidak mau shalat subuh." Mengusap-usap pipi Amara dengan lembut. Ia tersenyum saat melihat Amara merespon ucapannya dengan gerakan tubuhnya.


Amara memaksakan untuk membuka matanya. Mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memulihkan kesadarannya. Ia menatap ke arah sampingnya dimana suaminya sedang menatapnya sambil tersenyum manis. "Udah azan, Ra. Kita mandi dulu yuk. Nanti kita shalat jamaah." Ucap Bian dengan hati-hati. Istrinya yang belum sadar sempurna membuatnya berkata dengan sangat pelan. Jangan sampai Amara terkejut karena melihat keberadaan dirinya di sana.


Amara kembali mengerjap-ngerjap. "Eh," menunjuk suaminya dengan bingung. "Astagfirullah.." menarik selimut untuk menutup wajahnya karena malu.


"Eits.. jangan tidur lagi." Bian beranjak bangkit lalu menarik paksa selimut yang menutupi wajah istrinya. "Kita belum shalat subuh, Ra."


"Aku malu..." Amara kembali menarik selimut itu.


"Malu kenapa..." Bian kembali membuka selimut sambil tersenyum. Dia ingat betapa Amara tidak bisa tidur semalam. Wanita itu menangis karena merasakan sakit di area gawangnya yang sudah berhasil di bobol Bian. Bian sampai mencari tau apa yang dirasakan wanita saat berhubungan pertama kali. Tidak puas dengan hasil pencariannya, pria itu menghubungi Daniel untuk menanyakan, apakah istrinya menangis dan kesakitan di malam pertama mereka. Bukannya mendapatkan jawaban yang memuaskan, Bian malah kesal karena Daniel tidak bisa berhenti tertawa.


"Kak Bian ke kamar mandi duluan. Nanti aku menyusul setelah Kak Bian selesai mandi." Amara menutup wajahnya dengan telapak tangan karena selimutnya sudah ditarik oleh Bian.


"Kamu kesakitan semalam. Aku khawatir kamu tidak bisa jalan sendiri ke kamar mandi."


"Aku bisa." Amara terdiam sesaat. "Insya Allah.." sambungnya dengan ragu.


"Ayo buruan.. jangan banyak membantah. Kamu itu sudah menjadi istriku. Ucapan suami adalah perintah bagi istri."


"Kak..." Amara memanyunkan bibirnya.


"Bangun makanya, Sayang." Bian menarik paksa selimut yang menutupi tubuh bagian bawah istrinya. "Ayo, aku bantu kamu ke kamar mandi. Jangan membantah dan jangan menolak. Kamu pasti kesakitan kalau berjalan sendiri." Bian langsung mengangkat tubuh Amara tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu.


"Kak.. ish, aku nggak pakai apa-apa."


"Sssttt... jangan banyak protes." Bian mendudukkan tubuh Amara di samping bak mandi yang sudah diisinya dengan air. Aku sudah menyediakan air hangat. Suhunya sudah pas. Kamu mandi di sini, aku mandi pakai shower, untuk menghemat waktu." Bian mengecup bibir Amara sekilas sebelum berpindah tempat.


Amara mengernyit, tetapi ekspresinya berubah tidak lama setelah itu. Iya mengulas senyum seraya meraba bibirnya. Melirik ke arah Bian yang juga sedang tersenyum menatapnya. Ia sedikit terkejut saat melihat luka bekas cakaran di punggung suaminya.


*********


Daniel menahan senyum saat melihat kedatangan tuannya. Selain karena tuannya datang terlambat, ia juga masih ingin tertawa saat mengingat pertanyaan Bian semalam.

__ADS_1


"Selamat pagi menjelang siang, Tuan." Daniel menunduk sopan sambil menahan senyum saat Bian melintas di depannya.


Bian mengernyit. Melirik jam tangannya lalu melirik Daniel dengan kesal. "Ck, ini baru jam sepuluh, Kak. Beberapa hari ke depan aku akan sering terlambat." Bian melanjutkan langkahnya. Tapi, ia berbalik lagi setelah beberapa langkah. "Oh, iya. Kak Daniel berhutang penjelasan padaku."


"Penjelasan apa, Tuan?" Daniel bertanya heran.


"Masalah semalam. Kak Daniel tidak menjelaskan apapun. Yang ada malah membuat aku kesal karena Kak Daniel tertawa terus."


"Oh," Daniel berdiri tegak. "Nanti saya jelaskan, Tuan."


"Aku tidak mau nanti. Kak Daniel harus menjelaskannya sekarang." Duduk di depan meja kerjanya. Menatap tumpukan kertas yang tiba-tiba saja merusak moodnya pagi ini.


"Pekerjaan sudah menunggu Tuan. Jika kita membicarakan yang lain, pekerjaan Tuan tidak akan selesai."


"Aku bisa melanjutkan pekerjaan nanti di rumah. Kalau Kak Daniel sudah di rumah, Kak Daniel tidak bisa menanggapi pertanyaanku dengan serius." Timpal Bian dengan ekspresi datar.


Daniel menghela nafas berat. "Pertanyaan Tuan semalam terdengar lucu, itulah mengapa saya tidak bisa menahan tawa. Maaf karena kelancangan saya semalam." Daniel kembali menunduk.


"Apakah rasa sakit itu akan selalu dirasakan wanita?"


Daniel kembali menatap Bian. Melihat tampang serius Bian membuatnya menegakkan tubuhnya.


Daniel menelan ludahnya. Apa yang diinginkan Bian sehingga pria itu menatapnya begitu tajam. Ia akhirnya mengangguk.


"Kak Daniel jawab pertanyaanku yang tadi."


Daniel langsung menatap Bian. Melihat tampang serius Bian membuatnya lupa pertanyaan yang dilontarkan Bian tadi. "Aku lupa apa yang Tuan tanyakan tadi."


"Hah," Bian menghela nafas berat. "Apakah rasa sakit akan selalu di rasakan wanita ketika melayani pria?"


Sepersekian detik Daniel diam. Bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Dia hanya sedang memikirkan jawaban yang tepat.


"Sepertinya tidak, Tuan. Rasa sakit itu hanya dirasakan oleh wanita yang melakukannya pertama kali. Soalnya, istri saya tidak pernah mengeluh setelah malam itu."


"Huh," Bian mendengus. "Rara sampai nangis semalam gara-gara kesakitan. Dia sampai bilang tidak mau melayaniku jika rasa sakit itu terus menerus di rasakannya."


Daniel melotot mendengar cerita Bian. Tawanya akhirnya meledak karena tidak tahan.


"Kenapa Kak Daniel tertawa? Aku sudah khawatir sejak Rara mengatakan itu semalam." Bian melengos seraya membuang pandangannya.

__ADS_1


Daniel menarik nafas panjang. "Sepertinya Tuan harus belajar merayu, agar Nona Amara mau melayani Tuan lagi."


Bian kembali menatap Daniel seraya memperbaiki posisi duduknya. "Bagaimana aku akan merayunya. Semalam saja aku mengenyampingkan egoku karena dia nangis terus. Aku..." Bian menghentikan ucapannya saat merasakan handphonenya bergetar di saku jasnya. Ia mengernyit saat melihat nomor telepon kakaknya yang terpampang di layar handphonenya. "Nanti kita bicara lagi. Kak Daniel keluar dulu."


"Baik, Tuan." Daniel dengan bahagia berjalan cepat keluar dari ruangan. Ia hanya bisa menggeleng-geleng pelan mendapati kelakuan Bian yang terlihat kekanak-kanakan. Tapi, sepertinya Bian hanya menceritakan hal ini pada dirinya saja.


Bian menjawab telepon dari kakaknya setelah melihat Daniel keluar dari ruangannya.


"Assalamu'alaikum, Kak." Sedikit memelankan suaranya.


"Wa'alaikum salam, Dek. Istri kamu tidak mau sarapan. Katanya dia sudah sarapan bersama kamu. Memangnya kamu berangkat kerja jam berapa? Aku tidak pernah melihatnya keluar dari kamar sejak pagi tadi."


"Mm... tubuhnya kurang fit, Kak. Coba Kak Ayra masuk dan periksa sebentar."


"Pintunya terkunci, Dek."


"Aku tidak menguncinya saat meninggalkannya tadi."


"Biar Ibu yang periksa kalau begitu." Terdengar suara Bu Santi yang menimpali.


"Iya, Bu. Ibu juga berikan pencerahan padanya, agar dia tidak berpikir buruk untuk malam selanjutnya. Assalamu'alaikum.." Bian mematikan sambungan telepon. Pria itu meringis saat menggerakkan lengannya. Bekas cakaran Amara semalam terasa perih. Wanita itu mencakar punggungnya sampai membentuk garis-garis kemerahan.


Bian menyandarkan tubuhnya seraya mendengus. "Huh, apakah semua pria akan diperlakukan seperti ini saat malam pertama. Rara.. Rara.. bekas kukumu kayak bekas di cakar harimau. Perih.." tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan. Kejadian semalam terngiang-ngiang di ingatannya. Ia mulai membuka berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Pekerjaannya tidak akan selesai kalau terus memikirkan kejadian semalam.


Ting...!


Bian menatap benda gepeng yang ia letakkan di samping berkas yang sedang di tanda tanganinya. Ia tersenyum saat melihat pesan masuk dari istrinya. Baru setengah jam yang lalu ia bicara dengan ibunya. Kini sudah datang laporan terkini hasil bujukan sang ibu dari istrinya.


Assalamu'alaikum, Kak. Tadi Ibu masuk ke kamar. Aku malu untuk bangun. Tapi, Ibu bicara sangat lembut padaku. Ia seakan-akan mengerti dengan keadaanku saat ini.


Aku hanya bisa tersipu malu saat Ibu bertanya apa yang sakit. Tapi, Ibu bilang ini sakit karena ini adalah pengalaman pertamaku. Mudah-mudahan ucapan Ibu itu benar. Aku akan trauma kalau merasakan itu lagi.


Bian tersenyum sambil menulis pesan balasan.


Kalau begitu, nanti malam kita harus try again, untuk membuktikan ucapan Ibu itu.


Meletakkan handphonenya setelah pesan terkirim. Menatap kembali berkas yang belum habis di bacanya. Bibirnya beberapa kali menyungginkan senyum tipis karena memikirkan tampang istrinya yang menangis karena ulahnya. Bian kembali menatap handphonenya saat melihat pesan balasan datang dari Amara.


Nanti kita bahas lagi. Aku nggak mau mengganggu suamiku bekerja. Selamat bekerja.. Semangat..

__ADS_1


**********


__ADS_2