Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Patah Hati kedua


__ADS_3

Jatuh cinta adalah masalah yang menyedihkan dan menyakitkan. Kanaya tidak bermaksud membiarkan ini terjadi padanya. Hanya saja itu sudah terlambat sekali. Ia telah jatuh cinta kepada Raka, betul-betul dari suara hatinya.


Laki-laki ini telah mengetuk emosi-emosi dalam lubuk hatinya yang tak seorangpun pernah melakukannya. Namun, ia merasakan sakit dan kekecewaan. Semestinya ia sudah lebih tahu sebelum terjerat. Ia telah tahu apa yang bakal terjadi. Ia tidak dapat menolak dan membantah bilamana laki-laki itu memiliki wanita lain. Ia mengetahuinya langsung tanpa perlu diberitahu dengan baik. Lantas, hati ini hanya menerima kenyataan walau itu pahit.


Cinta sepihak.


Kanaya tidak berselera memakan makanannya. Padahal ia sudah memesan lima menit yang lalu. Dari tadi ia hanya meneguk minumanya dengan kesal dan ogah-ogahan seperti anak kecil tidak dibelikan mainan.


Abel bersama Doni yang baru saja datang melihat Kanaya langsung menghampiri. Mereka melihat Kanaya yang pasang wajah cemberut. Kedua-duanya terheran-heran. Karena ini bukan Kanaya yang biasa mereka kenal.


“Kau ada masalah apa?” tanya Doni dengan begitu penasaran. “Bukankah hari ini begitu cerah?” lanjutnya mengejek Kanaya saat melihat ekspresinya yang terlihat jelek.


“Aku baik-baik saja,” jawab Kanaya dengan cuek menatap Doni sinis.


Doni sepertinya bisa menebak apa yang membuat Kanaya jadi seperti ini. Ia tau Kanaya dalam keadaan tidak seperti biasanya. Iapun semakin penasaran dengan sikap Kanaya saat ini. Alih demi alih, ia kembali bersuara.


“Kenapa kau cemberut seperti itu? Aku tidak sampai hati melihatnya,” katanya memberi perhatian dan sikap menggoda. Menurutnya ia memang paling bisa menaklukkan hati setiap wanita yang didekatinya, kecuali Kanaya dan Abel yang justru sangat membencinya. Karena mereka sudah terbiasa dan jurus itu tidak mempan lagi bagi mereka berdua. Ditambah lagi kalau Adam bukanlah tipe mereka.


Kanaya langsung kesal.


“Bisakah kau berhenti untuk tidak tertarik padaku?” seru Kanaya membentak dan memberikan pandangan tajamnya seolah-olah meminta Doni untuk diam dan tidak ikut campur.


Abel hanya tersenyum melihat ulah Doni yang membuatnya menahan tawa. Ia hanya menjadi pendengar yang baik, dan sudah ketiga kalinya ia menyempatkan mencuri snack milik Kanaya yang dari tadi hanya di pegang dan dibiarkannya begitu saja.


“Kenapa galak sekali? Lihat wajahmu, cantikmu jadi berkurang kalau sedang marah,” kata Doni yang masih menyempatkan diri bercanda walau hanya amukan Kanaya yang ia terima.


Kanaya mendelik.


“Aku tidak peduli!” bantah Kanaya, cuek. Ia beralih pandang.


“Sudah, hentikan!” seru Abel ambil alih. Dilihatnya makanan di atas meja belum sedikitpun di lahap Kanaya. “Kau tidak makan? Tadi kau bilang kau sangat lapar. Sekarang justru kau membiarkan makanan itu jadi dingin. Apa yang terjadi padamu?”


Kanaya langsung pasang wajah cemberut.


“Saat kejadian hari ini yang menimpaku, aku merasa sudah kenyang menelannya. Kau saja yang makan,” jelas Kanaya berterus terang.


Abel dan Doni jelas terkejut mendengar pengakuan Kanaya. Tanpa berpikir panjang, Doni langsung melahapnya.

__ADS_1


“Apa ini ada hubungannya dengan seorang gadis yang datang menemui Raka tadi? Mereka juga terlihat pergi bersama,” tebak Doni segera. Abel menoleh kearah Doni. Ia tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Doni barusan.


“Apa? Seorang gadis menemui Raka? Siapa? Apa dia gadis itu?” tanya Abel menyerbu.


Doni memberikan anggukan sebagai jawabannya. Ia sibuk mengunyah.


“Karena itu kau jadi seperti ini. Benarkah? Kau meratapi pria itu? Bukankah kau sudah move on darinya,” kata Abel.


“Benar. Aku begitu terkejut melihat gadis itu. Ternyata gadis itu sangat cantik, tentu saja kakak menyukainya. Dia benar-benar tipe gadis yang sempurna,” keluh Kanaya berceloteh panjang.


“Jangan terlalu dipikirkan,” sahut Doni. “Aku mau yang itu,” Doni mengambil makanan Kanaya dan melahapnya untuk kesekian kalinya.


“Sebaiknya kau pergi!” bentak Kanaya.


Doni membantah.


“Kenapa? Kau mengusirku? Aku sangat lapar. Biarkan aku menghabiskan makanan ini dengan tenang,” katanya kemudian.


Setelah melihat Doni melahap mienya, Abel benar-benarmulai terasa lapar dan ingin makan juga.


“Hei! Jangan dihabiskan, ini untukku,” seru Abel langsung mengambil makanan Doni.


“Tidak mau,” kata Doni dan Abel serentak.


Sementara Kanaya sangat kesal karena Doni dan Abel tak menyemangatinya. Keduanya mengabaikan Kanaya yang merengek-rengek tak menentu.


“Hei! Kenapa kalian malah mengabaikanku?” serunya.


Tetap saja tidak ada tanggapan dari mereka yang berebut makanan dan sibuk mengunyah.


“Wah, enak sekali,” seru Doni ditujukan untuk Abel.


“Haruskah kita memesannya lagi?” balas Abel.


“Tentu. Karena Kanaya yang akan membayarnya,” kata Doni dengan antusiasnya.


“Kalau begitu akan aku pesan lagi.”

__ADS_1


“Aku tidak akan membayarnya untuk kalian jika kalian mengabaikanku seperti ini,” bentak Kanaya segera. Kedua temannya kembali membuat ulah.


“Kami akan terus mengabaikanmu jika kau berhenti memikirkan pria jahat itu!” jelas Abel.


Doni mengangguk membenarkan.


“Apa? Kenapa begitu?” tanya Kanaya penasaran.


“Apa perlu aku menjelaskan lagi alasannya padamu! Kau benar-benar ingin tahu! Haruskah aku menceritakan semuanya!” nada bicara Abel mulai terdengar tinggi dan matanya membelalak besar.


Melihat tatapan tajam Abel barusan, Kanaya langsung menyangkalnya.


“Tidak. Tidak perlu. Baiklah. Aku mengerti,” balasnya.


“Jadi? Apa kau akan membayar makanan ini untuk kami? Tanya Doni yang suka memotong pembicaraan orang lain.


“Tentu,” jawab Abel segera dengan ekspresi ceria.


Kanaya mengumpat. Lagi-lagi Abel mempermainkannya.


“Hei! Kalian mempermainkanku lagi. Aku tidak mau. Aku tidak mau membayarnya,” bentak Kanaya. “Lebih baik aku pergi saja,”


Abel dan Doni kikuk dibuatnya. Ketika Kanaya benar-benar hendak beranjak dari situ, dengan cepat kilat Abel mencegahnya.


“Apa kau marah? Maafkan aku. Sudahlah, kau tidak perlu membayarnya. Biar aku saja,” katanya.


Kepala Doni mencongak menoleh kearah Abel.


“Wah, apa kau yang akan membayarnya? Benarkah?”


Abel mengangguk dengan mantap.


“Hari ini aku baru saja menang lotre. Anggap saja seperti itu. Nah, ayo lanjutkan makannya” jelas Abel.


Kanaya mendesah panjang dan membiarkan kedua temannya menghabiskan makanannya.


“Aku ingin pesan lagi.” seru Doni.

__ADS_1


“Ya silahkan saja.”


__ADS_2