Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Memiliki Cara Tersendiri


__ADS_3

"Aku, Mas?" Amara menunjuk dirinya sendiri. "Aku di ajak ikut ke Kantor kamu saat kamu masih harus menemani tamu. Iiih, kok aku agak ngeri ya. Nggak ah, Mas." Amara bergidik ngeri. Menarik tangannya dari genggaman suaminya. Membayangkan dirinya duduk di antara orang yang sedang membahas pekerjaan, pasti rasanya sangat tidak nyaman.


"Ayolah, Ra. Aku benar-benar membutuhkan kamu saat ini, Sayang."


"Tapi, Mas..." Amara menatap suaminya sambil menautkan alisnya. "Aku masih trauma dengan kejadian di malam pesta itu, Mas. Kamu yang sibuk membicarakan bisnis dan mengabaikan aku yang sangat membutuhkan kamu malam itu."


Bian melototkan matanya. Namun, segera manarik tubuh Amara ke dalam pelukannya. "Jangan ingat itu lagi, Sayang. Kalau mengingat hal itu, aku seperti mendapatkan tamparan keras untuk segera mengingat kelemahanku yang itu. Aku masih belajar untuk terus memperbaiki diri, Sayang."


Amara menarik nafas dalam. "Itu makanya, aku nggak mau lagi ikut terlibat dalam urusan bisnis kamu, Mas. Aku takut kecewa untuk yang kedua kalinya."


"Tapi..." Bian mengurungkan niatnya untuk bicara. Akhirnya tangannya yang terangkat dan mengusap-usap kepala istrinya.


"Apa kamu marah karena aku menolak permintaan kamu?" Mendongak menatap suaminya.


"Aku nggak bisa marah sama kamu. Kamu terlalu berharga, Sayang."


"Apaan sih.." Amara menunduk malu. Mendengar ucapan suaminya membuat dadanya berdebar. Pipinya sampai merona merah.


"Rara..." mengangkat dagu istrinya dengan hati-hati.


Perlahan Amara menatap mata suaminya. "Ada apa, Mas?"


"Kamu ikut ya, Sayang. Please.." menatap istrinya dengan tatapan memohon.


Amara menatap suaminya dalam. Ada apakah gerangan, kenapa suaminya itu sampai berulang kali memintanya untuk ikut bekerja?


"Mm.. kalau aku ikut, apa Mas Bian tidak akan marah jika tiba-tiba aku menyela dan merepotkan kamu saat kamu masih sibuk bekerja nanti."


"Insya Allah, tidak akan. Kalau kamu ikut, setidaknya aku punya bahan untuk menggertak dia nantinya."


"Maksudnya?"


"Sudah, sekarang kamu ganti pakaian. Dandan yang cantik. Aku tunggu kamu di sini." Bian beralih menatap handphonenya karena ada panggilan masuk dari Daniel. Menjawab panggilan itu dengan malas. "Mm.. ada apa?"

__ADS_1


"Bu Khanza sudah menunggu Tuan. Kami sudah berada di Kafe Xx di samping kiri gedung Perusahaan. Bu Khanza yang request tempat ini biar kita bisa ngobrol lebih santai katanya."


"Oh, begitu." Bian menatap ke arah istrinya yang sudah masuk ke dalam rumah. "Aku sedang menunggu Rara selesai bersiap. Kak Daniel tunggu saja."


Mendengar Bian menyebut Amara yang sedang bersiap membuat Daniel sedikit penasaran. "Apa Bu Amara akan ikut bersama Tuan dalam pertemuan ini?"


"Hadeh," Bian langsung mendengus mendengar panggilan Daniel pada istrinya. Kemarin bilang Nona. Sekarang panggilannya sudah berubah menjadi Ibu. "Iya, dia akan ikut serta. Ini bukan kemauannya dia. Aku sendiri yang memintanya karena aku ada acara bersamanya setelah pertemuan ini selesai. Acaranya mendadak, sehingga aku akan langsung berangkat bersamanya dari Kantor."


"Mm... baiklah kalau begitu, Tuan. Saya akan manyampaikan pada Bu Khanza, kalau Tuan dalam perjalanan menuju lokasi."


"Mm..." Bian memasukkan kembali handphonenya setelah panggilannya terputus. Menyusul istrinya ke dalam kamar untuk melihat persiapannya.


Bian menarik sudut bibirnya saat melihat Amara sedang merias wajahnya di depan cermin. Melihat kedatangan suaminya membuat Amara langsung berbalik. "Eh, Mas. Kok kamu kemari. Aku lama ya..."


"Nggak, kok. Aku cuman mau melihat istriku saja." Timpal Bian seraya berjalan mendekat.


"Bagaimana riasannya, Mas?"


"Look so good. Kamu sekarang jadi pandai merias diri. Aku suka riasan kamu. Terlihat natural dan tidak terlalu mencolok. Pastinya tidak mengundang nafsu jahat orang yang memandang." Mengusap-usap wajah istrinya sambil menelan ludahnya.


"Kalau aku yang memandang mu dengan syahwat, aku mendapatkan pahala karena kamu adalah istriku."


Amara mendengus. "Kamu selalu ada dalil untuk menimpali ucapanku." Berjalan menjauhi suaminya untuk mengambil pakaian di ruang ganti.


Bian tersenyum kecil. Mengikuti istrinya masuk ke ruang ganti. "Mau pakai kostum yang mana, Sayang?"


"Mas Bian yang pilih. Aku nggak tau mau pakai yang mana karena tidak ngerti dengan fashion wanita karir. Aku kan wanita rumah tangga, karena karirku tersangkut di pohon kelengkeng depan rumah Ibu."


"Hahaha..." Bian tidak tahan untuk tidak tertawa. Mencubit pelan pipi istrinya yang sedang melengos membuang pandangannya. "Aku kan sudah memberikan lampu hijau kalau kamu mau menjadi wanita karir. Tapi, kamunya nggak pernah membahas masalah itu lagi kan, padaku?"


Amara kembali melengos. "Bagaimana mau membahas itu, Mas? Baru ada rencana aja, Ibu dan Kak Ayra sudah memberikan ceramah duluan. Ibu bahkan sampai memberiku sebuah kartu ATM-nya."


"Tuh, kan.." kembali mencubit pelan pipi istrinya. "Aku juga kan memenuhi kebutuhan pribadi kamu. Aku bahkan memberi kamu lima kali lipat lebih banyak dari gaji yang akan kamu terima sebagai Perawat." Bian beralih menatap ke dalam lemari pakaian istrinya. Dia harus segera memilihkan pakaian untuk Amara agar Bu Khanza tidak terlalu capek menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


"Tapi, aku jadinya tidak ada usaha untuk mencari uang itu, Mas." Menatap ke arah suaminya yang masih sibuk mencarikan pakaian untuknya.


"Usaha kamu untuk menjadi istri yang baik itu sudah mendapatkan upah dari Allah, Sayang. Agama juga tidak meminta wanita yang mencari nafkah." Menyerahkan pakaian yang dipilihnya pada Amara. "Kamu pakai yang itu. Perut kamu juga masih datar kan. Kamu akan terlihat semakin cantik dengan pakaian ini."


Amara menghela nafas berat. It's no problem. Yang penting kamunya ridho, Mas." Langsung mengambil pakaian yang disodorkan suaminya.


"Look so amazing.." Bian memberikan tepuk tangan kecil pada istrinya setelah Amara selesai mengganti pakaiannya. "Kamu kok nggak pernah pakai pakaian ini, Sayang." Menatap istrinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kamu bahkan terlihat lebih stylist dari Nyonya Direktur tadi. Hahaha.." tertawa kecil membandingkan istrinya dengan Khanza. Amara sudah pasti menang. Karena dilihat dari wajahnya pun, kecantikan Amara termasuk di atas rata-rata.


Bian menggandeng istrinya dengan bangga memasuki Kafe tempat pertemuannya. "Kak Daniel di mana? Aku dan Rara baru memasuki Kafe." Memperbaiki posisi headset di telinganya.


"Saya akan menjemput Tuan sekarang." Panggilan terputus. Tidak sampai dua menit, Daniel sudah berdiri di hadapan pasangan suami istri itu.


"Belok ke sini, Tuan. Saya memesan ruang VIP atas permintaan Bu Khanza." Daniel langsung mengkonfirmasi karena tau kalau Tuannya itu lebih suka duduk di ruangan terbuka.


"Mm.. tidak apa-apa." Bian mengikuti langkah Daniel menuju ruangan VIP. Amara mencengkram lengan suaminya dengan kuat. Mendengar nama Khanza di sebut, tentu saja membuatnya sangat terkejut. Bian paham dengan hal itu. Amara pasti butuh penjelasan. Namun, ia hanya menanggapi dengan senyuman kecil.


"Bu Khanza, Tuan Muda sudah datang." Daniel menunduk sopan pada Khanza. Mempersilahkan Bian dan Amara duduk di sofa yang lebih panjang dari sofa yang diduduki Khanza.


"Kamu pesan makanan dulu, Sayang. Kami akan melanjutkan pembahasan kami yang tertunda saat zuhur tadi."


"Iya, Mas. Tapi aku udah kenyang. Yang ada aku malah mual kalau makan lagi." Timpal Amara sambil mengeluarkan handphonenya. "Aku main handphone aja sementara kamu bekerja. Nggak apa-apa kok."


"Bagaimana kalau saya pesankan Ibu Amara jus. Biasanya wanita hamil kan suka ngemil. Dulu istri saya suka minum jus buah saat ngidam." Daniel mencoba menawarkan. Setaunya, wanita hamil biasanya memiliki kebiasaan ngemil yang biasanya tidak disukainya.


"Masalahnya istri saya ada penyakit asam lambung, Kak. Kalau di kasih jus buah, yang ada penyakitnya kambuh nanti. Aku nggak mau dia muntah-muntah lagi nanti." Menatap istrinya dalam.


"Pak Daniel nggak usah repot-repot. Saya masih ngidam. Jadinya, untuk makan atau minum sesuatu itu masih suka eneg." Amara tersenyum kaku pada Daniel.


"Kayaknya lho kurang kerjaan banget ya, sampai harus ikut suami yang sedang rapat. Apa lho nggak takut mengganggu suami lho?" Khanza yang dari tadi diam tiba-tiba angkat bicara. Hati wanita itu memanas saat melihat interaksi Amara dan Bian. Ia benar-benar terpojok dan merasa tersaingi karena kehadiran Amara.


"Ibu Khanza tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Bu Amara sudah biasa ikut menghadiri acara rapat seperti ini. Tuan Muda sering meminta pertimbangan pada Nyonya CEO sebelum mengambil keputusan. Itulah mengapa Bu Amara datang. Bukan begitu, Tuan Muda?" Daniel mengerjapkan matanya dua kali sambil menatap Bian. Bian yang awalnya terkejut mendengar ucapan Daniel yang menanggapi sikap Khanza, akhirnya mengangguk dengan pasti. Hal itu membuat Khanza kehilangan kata-kata. Wanita itu langsung membuang pandangan.


"Kamu lanjutkan saja, Mas. Aku akan menjadi pendengar yang baik." Timpal Amara. Ia langsung menyibukkan diri dengan benda gepeng miliknya. Ia juga mengambil handphone suaminya. "Mas Bian nggak boleh lirik-lirik handphone. Mau membahas kontrak kerjasama, kan? Kamu harus fokus untuk mendapatkan hasil yang memuaskan." Tersenyum sambil melotot pada suaminya.

__ADS_1


*********


__ADS_2