
Daniel memeriksa semua berkas yang akan dibawanya ke Tiongkok. Setelah selesai memeriksa semua berkas, Daniel bergegas ke mobilnya, karena dia akan segera menjemput Bian di Apartemennya.
Sampai di Apartemen, Bian sudah menunggunya. Daniel mengurungkan niatnya untuk turun karena Bian mengisyaratkan untuk diam dan dia yang berjalan mendekat.
"Maaf membuat Tuan menunggu." Daniel menunduk sopan pada Bian saat pria itu masuk ke dalam mobil.
"Tidak, Kak. Aku baru saja turun. Kebetulan saat aku turun, mobil Kak Daniel langsung masuk."
"Mobilnya nanti saya titip di tempat penitipan mobil saja, Tuan. Asisten yang di kirim Tuan Besar masih sibuk mengurus sesuatu yang ditugaskan Tuan Besar."
Bian menatap lurus ke depan. "Terserah Kak Daniel saja. Mm.." Bian beralih menatap Daniel yang sedang menghidupkan mesin mobil. "Bagaimana dengan nomor asing kemarin, Kak?"
"Eh," Daniel mematikan kembali mobilnya. "Saya belum menyelidiki dengan detail, Tuan. Pertemuan di Tiongkok ini lebih saya utamakan. Nanti kalau ada waktu senggang, saya akan mencari tau lagi."
Bian akhirnya mengangguk. Dia tidak mungkin memaksa Daniel untuk mencari tau dengan cepat, karena pria itu benar-benar sibuk. "Iya, nanti minta tolong diselidiki lagi. Kok aku kepikiran jadinya. Hah," Bian membuang nafas dengan kasar. Dari kemarin, Bian terus memperhatikan foto profil wanita itu. Apalagi saat melihat status yang di tulis wanita itu di story whatsApp.
"Be strong women.." Bian tersenyum sendiri mengingat status di story itu. Mengingat itu membuatnya menjadi ingat pada Amara yang senang sekali menggunakan bahasa inggris.
"Tuan bilang apa?" Daniel melirik Bian sekilas karena tidak mendengar dengan jelas ucapan Bian.
"Mm.." Bian melirik Daniel. "Nggak bilang apa-apa, Kak. Aku cuman mengingat status yang ditulis nomor asing itu tadi pagi." Bian kembali tersenyum sambil menatap lurus ke depan.
"Oh," Daniel kembali menatap ke jalan. "Apa Tuan selalu memantau aktivitas orang itu?"
"Terkadang sih. Aku hanya merasa nggak asing aja dengan orang itu. Jika itu teman kuliahku dulu ... tapi aku merasa aneh kalau itu dia. Soalnya, orangnya sangat pendiam dan jarang sekali berinteraksi denganku. Satu tahun kuliah bersama, dia hanya beberapa kali menyapaku. Itupun karena ada tugas yang harus diselesaikan bersama." Bian menjelaskan dengan ekspresi datar.
Mendengar cerita itu, Daniel menautkan alisnya. Pria itu kembali melirik Bian. "Apa orang itu tidak pernah bicara selama menghubungi Tuan?"
Bian menatap Daniel dengan heran. Tak lama kemudian pria itu menggeleng pelan. "Ng.. nggak pernah, Kak."
Daniel tersenyum kecil. "Apa Tuan tidak merasa itu aneh?"
"Aneh?" Bian semakin tidak mengerti dengan ucapan Daniel.
"Iya, Tuan. Apa Tuan tidak merasa orang itu sengaja menghubungi Tuan?"
__ADS_1
"Hah," Bian menyandarkan tubuhnya kembali. "Kak Daniel malah membuatku semakin bingung." Ucapnya kemudian. Melipat tangannya di belakang kepalanya. Pikirannya jauh menerawang, mengingat kejadian beberapa malam yang lalu saat nomot asing itu menghubunginya beberapa kali.
"Mungkin kita harus ke Singapura setelah kembali dari Tiongkok, Tuan."
"Hah..?" Bian menegakkan duduknya kembali. "Ke Singapura untuk apa, Kak? Apa kita juga ada kunjungan kerja ke sana? Masa sih?" Bian kembali menyandarkan tubuhnya. "Huh, aku malah ingin pulang ke Ibu setelah kembali dari Tiongkok. Aku rindu sama Ibu dan keluarga besar ku di sana."
Daniel tersenyum kecil. "Apa Tuan tidak merindukan Nona Amara?"
Deg...!
Bian langsung menatap Daniel dengan tajam. "Jangan menanyakan hal bodoh itu, Kak. Siapa yang tidak merindukan wanita yang dicintainya. Kak Daniel saja merindukan istri Kak Daniel saat pergi bersamaku. Setiap ada waktu, Kak Daniel pasti melakukan panggilan video dengan istri dan anak Kakak."
Daniel mengangguk-angguk sambil menahan senyum. Untungnya Bian adalah tipe Bos yang nyaman dengan segala situasi. Tidak kaku dan ramah kepada siapa pun. Bisa mengkondisikan keadaan dimana dia harus bersikap profesional dan bersikap santai.
"Kenapa malah berekspresi seperti itu, Kak?!" Bian masih menatap Daniel dengan tajam.
"Tidak ada apa-apa, Tuan. Nanti kita bahas lagi kalau ada waktu luang. Sekarang kita harus segera check-in."
Bian mengalihkan pandangannya ke depan. Ternyata mereka sudah sampai di Bandar Udara.
"Tuan akan mengerti pada waktunya. Tuan ini sepertinya kurang pengalaman dalam urusan percintaan."
Bian mengernyit mendengar ucapan Daniel. "Bagaimana aku ada pengalaman, Kak. Aku tidak punya mantan kekasih. Selama ini, aku hanya dekat dengan Rara. Itu pun, butuh proses yang sangat lama sebelum kami bisa dekat seperti sekarang. Aku adalah tipe orang yang tidak suka gonta ganti pasangan. Aku sudah bertekad, untuk mencintai satu wanita dalam hidupku."
Daniel memberikan tepuk tangan sebagai tanda apresiasi. "Wah, itu adalah sebuah keputusan yang terdengar sangat keren."
Bian tersenyum hambar. "Hah, memangnya Kak Daniel suka gonta-ganti pasangan ya, sebelum menikah?"
"Kita masuk dulu, Tuan. Hal itu adalah masalah pribadi masing-masing dan juga bagian dari masa lalu."
"Hahaha ... dasar..!" Bian tertawa kecil, menikmati ekspresi Daniel yang terlihat salah tingkah.
Daniel tersenyum meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
**********
__ADS_1
Bian dan Daniel masuk ke dalam kamar hotel setelah pertemuan hari ini selesai. Masih ada tiga kali pertemuan lagi, besok dan lusa.
"Tuan, saya mau permisi sebentar. Saya mau menghubungi istri saya."
"Iya ..." Bian mengangguk seraya duduk di sisi ranjang. Sementara Daniel berjalan ke Balkon untuk menghubungi istri dan anaknya. Seharian mereka rapat di luar ruangan dan baru kembali setelah lewat waktu ashar. Bian hanya bisa tersenyum menatap ke arah Balkon, ke arah Daniel yang sedang bicara dengan istrinya. Setelah puas menatap Daniel, ia beralih menatap benda gepeng yang baru saja dikeluarkannya dari dalam saku jasnya. Tidak ada apa-apa yang bisa menambah semangatnya. Dulu saat Amara masih ada, gadis itu pasti mengirimkan kata-kata penyemangat yang membuatnya semakin semangat bekerja.
Bian meletakkan handphonenya. Membuka jas yang membalut tubuhnya. Tubuhnya terasa lengket karena seharian berpakaian formal. "Kak Daniel, aku mau mandi sebentar. Nanti kita lanjutkan pembicaraan setelah selesai mengurus yang lebih penting."
"Iya, Tuan. Saya akan segera masuk setelah selesai dengan urusan pribadi ini." Jawab Daniel sambil menahan senyum. Entah mengapa sejak kemarin Daniel sangat suka menggoda Bian. Mengetahui Bian yang tidak ada pengalaman dalam urusan wanita membuatnya merasa menang jauh dari bosnya itu.
Usai mendirikan shalat, Bian rebahan di atas ranjang sambil menatap handphonenya. Ingin menghubungi ibunya, tapi wanita itu pasti masih sibuk di toko. Akhirnya dia hanya bisa melihat-lihat benda gepeng itu.
Ia kembali membuka aplikasi whatsApp. Tiba-tiba saja dia ingin melihat apa yang di posting nomor asing yang mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir ini. Pria itu hanya bisa memanyunkan bibirnya karena tidak ada yang menarik. Nomor asing itu tidak memposting apapun. Bian akhirnya memilih memperhatikan foto profil itu. Entah mengapa foto wanita itu membuatnya semakin penasaran.
Pria itu di kejutkan dengan kedatangan Daniel yang menepuk pundaknya dari belakang. Entah kapan pria itu masuk. Saat Bian menatapnya, Daniel sedang tersenyum menatap layar handphonenya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Mentang-mentang udah terobati rasa rindu pada pujaan hati. Aku yang masih merana malah ditertawakan terus."
Daniel menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Apa Tuan masih penasaran dengan nomor itu?" Berkata sambil melirik ke arah handphone Bian.
"Hmm... aku malah semakin penasaran, Kak."
"Kalau Tuan penasaran, kita harus ke Singapura saat kembali nanti. Kalau perlu, kita tidak perlu ke Indonesia. Kita langsung mendarat di Singapura."
Bian menatap Daniel dengan alis tertaut. "Apa kita perlu sampai seperti itu? Ini kan cuma nomor asing, Kak. Aku hanya ingin tau, karena selama ini aku tidak punya teman wanita yang tinggal di luar negeri. Aku meminta Kak Daniel melacak nomor itu, hanya untuk memastikan saja."
"Tapi, alangkah baiknya kalau Tuan mengikuti saran dariku. Aku hanya tidak mau Tuan menyesal belakangan karena mengabaikan saran dari orang yang lebih berpengalaman dalam masalah wanita."
"Hmm ... mentang-mentang punya pengalaman lebih. Mau pamer nih, sama aku.."
"Saya tidak berniat seperti Itu, Tuan. Saya hanya menyarankan saja."
"Hah, Saran Kak Daniel adalah sebuah teka-teki yang membuatku semakin bingung." Bian menatap Daniel. "Tapi, ya sudahlah. Aku akan mencoba mengikuti saran itu. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu keberuntungan untukku."
Daniel tersenyum kecil. "Itu hanya sebuah saran, Tuan."
__ADS_1
******