Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Ajakan Bian


__ADS_3

Bian mengernyit saat memasuki kawasan Apartemen tempat tinggal Amara. Hanya bisa menghela nafas berat melihat tempat tinggal tinggal gadis itu. Dia hanya tidak menyangka, kalau Neneknya itu menyewa Apartemen yang sederhana untuk calon istrinya. "Kamu tinggal di tempat ini, Ra?" Menatap Amara dengan prihatin.


Amara mendongak menatap Bian, menatap pria itu dengan heran. "Iya, Kak. Memangnya kenapa? Tempat ini nyaman kok."


Bian menghela nafas berat. "Tempat ini bukan standar aku, Ra. Seharusnya kamu menghubungiku sejak awal. Kalau pun kamu tidak mau pulang, aku akan menyewakan tempat ternyaman untukmu."


"Huh," Amara melengos. Melirik Bian lalu menatap lurus ke depan. Kalau aku mengkonfirmasi keberadaan ku terlalu cepat, sepertinya aku tidak akan berada di tempat ini sekarang. Yang ada Kak Bian akan langsung menjemput ku dan membawaku pulang."


Bian tertawa kecil. "Aku juga mana mau membiarkan kamu diam di negara orang. Begitu aku tau kamu dimana, aku akan langsung menjemput kamu pulang. Kirain enak apa, di tinggal orang yang kita sayang."


Amara tersenyum kecil menanggapi seraya membuka pintu Apartemen. "Tuh kan, aku bilang juga apa."


"Wait, Kak Daniel mana, Ra?" Bian berbalik, baru menyadari kalau Daniel sudah tidak ada di belakangnya. Padahal, Daniel mengekor di belakang mereka sebelum naik lift tadi. "Kok orangnya nggak ada. " Apa kamu tidak melihat dia kemana tadi?"


Amara mengangkat bahu. "Kak Bian kok tanya aku. Dia kan Asisten Kak Bian." Menjawab dengan acuh tak acuh. Amara langsung menuju dapur yang bersatu dengan ruang tamu itu.


Bian tidak menanggapi. Pria itu memilih duduk di sofa single di tempat itu. Matanya masih saja memperhatikan tempat itu. Apartemen yang benar-benar sederhana. Pantas saja Daniel melakukan berbagai hal untuk menunda kunjungannya ke tempat itu. Ternyata inilah alasannya.


"Sepertinya perbannya perlu diganti, Kak." Amara duduk di samping Bian sambil memperhatikan tangan pria itu.


"Kamu yang ganti, Sayang." Bian membiarkan Amara memperhatikan telapak tangannya. "Semalam kamu sendiri yang bilang, aku adalah pasien dan kamu adalah perawatnya." Ucapnya, ikut memperhatikan tangannya.


Amara melengos. "Itu hanya berlaku di Rumah Sakit. Sekarang kita sudah berpindah tempat. Saat ini, aku sudah berganti posisi menjadi kekasihnya Kak Bian."


"Good. Tapi aku tidak tau cara menggantinya sendiri, Sayang. Aku kan bukan lulusan perawat seperti kamu."


"Alasan..." Amara membuang pandangannya seraya menahan senyum.


"Aku akan melakukan apapun yang penting bisa bersama dengan kamu." Kali ini pandangan Bian berubah dalam. Menarik dagu Amara agar menatap matanya. "Ra..."


"Mm..." jantung Amara berdetak kencang saat menyadari tatapan Bian yang terlihat berbeda. "K.. kenapa Kak Bian menatapku seperti itu?"


Bian menarik nafas dalam. Menurunkan tangannya dari dagu Amara. "Aku merindukan kamu, Ra. Setahun belakangan ini, hidupku tidak tenang karena kamu tidak ada di sisiku." Bian meraih tangan Amara, menggenggam tangan itu dengan erat. "Kamu mau kan, pulang ke Indonesia bersamaku?" Menatap gadis itu penuh harap.


Amara menghela nafas berat. Gadis itu masih ragu untuk menjawabnya. "Aku harus mempertimbangkannya dulu, Kak. Keluar tanpa sebab dari tempat kerja itu tidak boleh. Aku harus mengajukan surat pengunduran diri, setidaknya satu bulan sebelumnya jika aku berhenti sekarang. Itu pin harus dilengkapi dengan alasan yang jelas."


"Apa itu berlaku?"

__ADS_1


Amara tersenyum kecil seraya menatap Bian. "Kak Bian itu seorang pemimpi Perusahaan. Seharusnya hal sepele seperti itu tidak perlu ditanyakan lagi."


"Apa kamu bahagia tinggal di tempat ini?" Bian kembali mengedarkan pandangannya.


"Nggak!"


Bian langsung menatap Amara. "Lalu kenapa kamu tidak kembali, Sayang?" Mengusap-usapnya kepala Amara yang tertutup hijab.


Amara tersenyum hambar. "Nyonya Fatimah membayar orang untuk mengawasi ku, Kak."


Giliran Bian yang tersenyum hambar. "Kenapa kamu tidak bilang Nenek? Dia itu calon Nenek kamu loh."


"Aku tidak mau memaksa orang yang tidak sudi di panggil Nenek olehku." Jawab Amara dengan ekspresi datar.


"Hah, terserah kamu, Sayang." Bian menyandarkan tubuhnya sambil menatap dua pintu kamar yang tertutup. Apa kamu tinggal berdua dengan wanita itu?"


Amara mengernyit. "Wanita mana maksud Kak Bian?"


"Wanita yang di bayar Nenek untuk mengawasi mu." Bian menatap lurus ke depan.


Amara terdiam sejenak. "Kami tidak berdua, Kak. Dia itu single parent. Dia punya dua orang anak. Tapi, aku tidak akrab dengan anak itu. Mbak Myta tidak mengizinkan anaknya terlalu sering berinteraksi dengan ku."


"Aku nggak tau. Dia tidak pernah ada di rumah di pagi hari. Setiap jam delapan pagi, dia akan keluar membawa kedua anaknya."


"Apa dia tidak bekerja?"


"Tidak," Amara menghela nafas berat. Melirik Bian yang terlihat santai menanyakan apapun yang ingin dia tanyakan.


"Lalu darimana dia mendapatkan uang untuk membiayai hidup kedua anaknya?"


"Dia sudah mendapatkan uang banyak dari Nyonya Besar. Uang yang diberikan Nyonya Besatbisa membiayai hidupnya selama dua tahun di negara ini."


Bian langsung memperbaiki posisi duduknya. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal?"


Amara membuang nafas dengan kasar. "Kita baru beberapa jam bertemu, Kak. Rasa rindu karena tidak pernah bertemu dengan Kak Bian saja belum terobati sampai sekarang."


Mata Bian berbinar. "Oh, ternyata kamu merindukan ku juga. Aku kira..."

__ADS_1


"Apa?" Amara memotong ucapan Bian sambil melototkan matanya. "Mungkin aku ada gebetan baru di tempat ini, makanya mampu bertahan sampai satu tahun."


"Ck...! Jangan ngomong yang tidak-tidak, Rara. Ucapan itu adalah doa." Bian menepis lengan baju Amara.


"Jangan mancing makanya."


"Huh," Bian melengos seraya menyandarkan kembali tubuhnya. "Aku jadi teringat dengan perawat pria yang semalam mau membersihkan tangan ku. Dia beberapa kali melengos saat melihatku menggenggam tangan kamu."


Amara menatap Bian sambil menahan senyum. "Dia itu teman kerja yang paling pengertian, Kak. Selama ini dia selalu membantu aku mengatasi masalah yang aku hadapi. Hanya saja, aku selalu menolak berjabat tangan dengannya."


"Baguslah kalau begitu. Jadinya, tangan Amara Andini hanya milikku. Aku percaya sama kamu. Kamu adalah wanita yang pandai menjaga diri." Tatapan Bian kembali berubah. Hal itu membuat dada Amara kembali bergemuruh. Tiba-tiba ia meraih tangan Amara, menggenggam tangan itu dengan penuh keyakinan.


Spontan Amara menarik tangannya. Gadis itu mengalihkan pandangannya. Bayangan Bu Fatimah tiba-tiba muncul. Perlakuan wanita itu sebelum menculiknya. Bagaimana wanita itu selalu mengucilkan dan menghinanya. Perlahan, ia menatap Bian kembali. "Kak Bian pikirkan baik-baik semuanya. Aku tidak yakin bisa bahagia selama Nyonya Besar masih menggangguku."


Bian melepaskan tangannya dengan wajah kecewa. "Sudah beberapa kali aku bilang, kamu akan menikah denganku, bukan dengan Nenek ku. Lagian, sekarang Nenek sedang sakit. Kakinya lumpuh karena kecelakaan setahun yang lalu."


Amara tersentak. "L.. lumpuh?"


"Iya, itulah mengapa dia tidak bisa bebas sekarang. Aku juga sudah memblokir lima kartu yang dipegangnya. Kalau dia butuh uang, aku akan transfer lewat satu orang Asisten yang aku percayakan untuk merawatnya."


Amara tidak bisa berkata-kata. Gadis itu seperti kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Bian.


"Aku ingin kamu kembali, Ra. Hidupku terasa hambar tanpa ada kamu." Tiba-tiba Bian merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil tipis berkilau dan menunjukkannya pada Amara."Ini, Ra."


"A.. apa ini, Kak?" Amara menatap kotak kecil itu dengan ragu.


"Ini adalah cincin yang aku belikan untukmu. Rencananya, cincin ini akan disematkan Ibu di jari manis Amara Andini saat aku mengkhitbah kamu."


Amara mengerjap-ngerjapkan matanya. Tidak menyangka kalau Bian sudah mempersiapkan acara sampai sejauh itu.


"Sejak Papa Arif bilang kamu di luar negeri, aku selalu membawa cincin ini saat aku ada kunjungan kerja ke luar negeri. Iya.. walaupun Papa tidak mau memberitahuku secara detail. Setidaknya aku ada harapan untuk bisa menemukanmu."


"A.. apa selama ini Kak Bian selalu mencari ku?"


"Jangan tanyakan itu, karena itu adalah hal yang pasti. Apa kamu berpikir aku hanya diam menopang dagu menunggumu kembali?"


Amara tidak kuasa menahan air matanya untuk tidak keluar. Sepertinya, rencana untuk tinggal beberapa tahun di negara itu, harus dia pikirkan ulang.

__ADS_1


******


"


__ADS_2