Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Status Aman Selama Suami Masih Cinta


__ADS_3

"Jangan coba-coba menyakiti Amara!" Ameena melotot pada Bu Fatimah. "Aku tidak akan segan-segan melaporkan perbuatan Nenek pada Kak Bian."


Bu Fatimah tersentak. Jika wanita itu melaporkan semuanya pada Bian, maka semua akan sia-sia. "Kamu Ini siapa berani mengancam Fatimah?"


"Anda siapa berani mengganggu kami?" Ameena balik bertanya dengan ekspresi yang benar-benar membuat Bu Fatimah semakin jengkel.


Bu Fatimah menghempaskan tangan Ameena yang menggenggam tangannya. "Apa.. apa.. yang kamu inginkan?"


Ameena tersenyum sinis melihat tampang Bu Fatimah. "Aku hanya ingin anda pergi dari sini. Jangan pernah berniat untuk mengusik hubungan Amara dan Kak Bian." Berbalik membelakangi Bu Fatimah. "Silahkan anda keluar dan jangan pernah datang lagi. Jangan anda pikir, karena kami orang miskin anda bisa berbuat semau anda." Ameena duduk di samping Amara yang masih berdiri. Kembali memberikan tatapan tajam pada Bu Fatimah.


Bu Fatimah tersenyum getir. "Urusan kita belum selesai. Kamu.." menunjuk Amara dengan tatapan penuh kebencian. "Aku pastikan kamu tidak akan menikah dengan cucuku." Langsung balik badan untuk keluar dari Kost.


"Tunggu!"


Bu Fatimah menghentikan langkahnya. Wanita itu tidak berbalik, tapi sepertinya dia sudah bersikap mendengarkan apa yang akan diucapkan Amara.


Amara menelan ludahnya sebelum mulai bicara. "Jika anda sangat keberatan karena Kak Bian memilih aku, anda bisa memintanya untuk berhenti mencintaiku. Jika dia tidak mencintaiku lagi, aku akan berlapang dada pergi dari sisinya."


"Heh," Bu Fatimah tersenyum sinis. "Kita lihat saja, apa yang aku lakukan untuk hal ini. Menantuku berasal dari keluarga yang tidak jelas. Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama dengan membiarkan cucuku menikah dengan wanita yang tidak berkelas." Bu Fatimah melanjutkan langkah setelah menyelesaikan kalimatnya.


Ameena hanya menatap Amara selepas kepergian Bu Fatimah. Kekhawatirannya akan kedatangan wanita itu kini jadi kenyataannya.


"M.. Mara, lho baik-baik saja kan?" menepuk pundak Amara yang masih berdiri tertegun.


Amara melirik Ameena lalu menunduk. "Apa yang sudah kita lakukan, Na?"


Ameena menghela nafas berat. "Apa lho merasa bersalah karena menetang wanita tadi?" Bertanya sambil menunjuk keluar.


"Dia.. dia.. itu.."


"Apa?" Ameena membuang nafas dengan kasar. "Yang lho lakuin itu sudah benar, Mara. Kalau lho terus-terusan mendiaminya saat dia bicara semaunya. Lho potong telinga gue, kalau dia tidak akan semakin ngelunjak." Mengisyaratkan memotong daun telinganya dengan tangannya sendiri.


"B.. bukan itu maksud gue, Na. Tapi ... kita.."


"Udah ah, kita berangkat sekarang. Huh, selera makan gue jadi hilang gara-gara wanita itu." Ameena mengambil kembali sandwich yang masih tersisa di atas meja.

__ADS_1


Super sejuak detik Amara melongo melihat Ameena yang memaksa masuk sandwich ke mulutnya. "Katanya nggak selera, tapi tu mulut kok, sampai maju gitu..?"


"Iya.. namanya juga dipaksa, Mara. Kan sandwichnya mubazir kalau tidak dimakan. Lho kan udah capek membuatnya."


Amara tersenyum kecil. Melihat tingkah Ameena yang seperti ini membuatnya sedikit terhibur. Mereka akhirnya berangkat ke Kampus setelah Ameena menghabiskan tiga tangkup sandwich yang masih tersisa.


**********


Siang itu, handphone Amara terus berbunyi. Gadis itu tau kalau Bian yang menghubunginya. Namun, ia sengaja mengabaikan panggilan itu. Perasaan yang campur aduk karena perbuatan Bu Fatimah pagi tadi belum bisa menghilang. Bayangan wanita itu terus saja menghantui pikirannya.


"Mara... kenapa nggak diangkat saja sih.. benda gepeng lho berisik banget." Ameena menepuk punggung Amara. Mereka sedang istirahat siang. Namun, bunyi handphone Amara benar-benar mengganggu.


"Nggak kuat gue, Na. Masih bingung mau bilang apa sama dia." Amara memejamkan matanya. Pikirannya jauh melayang memikirkan Bian. Pria itu pasti sudah sampai rumah. Dia sudah bilang akan datang pada Ibu Santi. Namun, pikirannya jadi kacau setelah Bu Fatimah datang.


Ameena berbalik. Saat melihat Amara sedang menatap layar handphonenya, ia menghela nafas berat. "Sini, biar gue yang ngomong ke dia." Merebut handphone dengan kasar. Menjawab panggilan itu tanpa menunggu persetujuan dari Amara.


Amara hanya diam. Ingin mencegah, tetapi sudah terlanjur. Ia akhirnya hanya menatap dengan pasrah, apa yang akan dikatakan Ameena pada Bian.


Ameena menekan loudspeaker agar Amara bisa mendengar suara Bian. "Halo, assalamu'alaikum.."


"Mm.." Ameena melirik Amara sebelum menjawab pertanyaan Bian. "Kami baru pulang dari Kampus, Kak. Maaf, Amara sedang tidur karena kecapekan. Aku juga tidur tadi. Tapi karena handphone Amara di sampingku, aku jadinya yang terbangun."


"Oh," Bian terdiam sejenak. "Kalau begitu kamu lanjutkan istirahat. Kalau Rara bangun, bilangin ke dia kalau aku akan datang nanti sore."


"I.. iya, Kak."


"Assalamu'alaikum..."


"W.. wa'alaikum salam.." Ameena meletakkan handphone di hadapan Amara. "Lho udah dengar sendiri ucapan Kak Bian tadi. Bagaimana, apa lho siap bertemu Kak Bian?"


"Mm.." Amara melirik Ameena seraya tersenyum kecil. "Gue bingung, Na. Kedatangan Nenek mema..."


"Sstt.. jangan panggil Nenek. Apa lho lupa, kalau wanita sok keren itu nggak sudi dipanggil nenek sama lho." Ameena mengingatkan Amara sambil tersenyum mengejek.


"Apaan sih?!" Amara ikut tersenyum. "Iya udah.. iya udah.. gue ganti nih. Khmm.." memperbaiki posisi duduknya sebelum merubah panggilan untuk Bu Fatimah. Saling menghibur seperti ini bisa mengurangi perasaan hambar karena ulah Bu Fatimah pagi tadi.

__ADS_1


"Kedatangan wanita sosialita pagi tadi benar-benar menghancurkan semangat gue untuk berangkat ke rumah Kak Bian. Sebenarnya, baik Ibu maupun Kak Bian tidak tau apa-apa tentang ini. Tapi, gue Yang nggak enak, Na." Amara menatap Ameena dengan lemah. Dia sampai tidak fokus di Kampus gara-gara memikirkan masalah ini. "Gue bingung bagaimana harus bersikap. Maunya bersikap biasa-biasa aja, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Tapi.. gue nggak yakin akan bisa melakukan itu."


"Hah, udahlah.. yang salah kan wanita itu. Kamu rindu nggak sama Kak Bian?"


"Mm.." Amara menatap Ameena. "Rindu banget, Na. Kalau boleh, gue ingin memeluknya langsung begitu melihatnya."


"Hahaha.. makanya jangan munafik jadi orang. Katanya nggak mau bertemu gara-gara masalah tadi pagi. Eh, sekarang malah bilang mau memeluknya langsung begitu melihatnya. Dasar lho..!"


"Hmm.. gue rindu berat sama dia, Na." Amara berkata dengan ekspresi datar. Ameena melengos melihat hal itu. "Siapa yang nggak merindukan kekasihnya, Mara. Lho ini ngomongnya kok aneh sih. Apalagi cowoknya setampan Kak Bian. Kalau gue jadi lho, gue akan mendengarkan ucapan Nenek sosialita itu. Nih, gue taruh di pantat semua ucapannya." Ameena menepuk-nepuk pantatnya meremehkan.


"Apaan sih?!"


"Lho sih, baru dikata-katain nenek begituan udah baper. Kayak gue dong, walaupun orang tuanya yang tidak merestui sekalipun, gue nggak akan mundur begitu saja. Kalau memang dianya udah nggak cinta, baru kita menyerah." Ameena mengangkat bahu.


Amara hanya diam tidak menanggapi. Gadis itu memikirkan ucapan Ameena yang mengandung unsur kebenaran.


"Lho pernah dengar cerita nggak?"


"Cerita apaan, Na?"


"Banyak wanita yang berstatus sebagai istri yang dibenci mertua atau iparnya. Tapi, selama suaminya masih cinta, status sebagai istri akan tetap terjalin. Mertua dan ipar itu tidak bisa menjatuhkan talak, Mara. Apalagi seorang Nenek kayak tadi."


"Mm.. iya.. gue ngerti maksud lho."


Ameena tersenyum sumringah. "Gitu dong.. Masa kalah sama Nenek model begituan. Sahabat gue itu nggak lemah. Cuman, karena lho terlalu cinta sama cucunya, lho sampai nggak berani melawannya."


"Ih, tadi kan gue udah melawannya, Na."


"Itu makanya gue seneng melihat keberanian lho. Mau sampai kapan lho akan diam melihat ulah nenek tadi. Orang begituan mah cuman bermodal uang dan mulut pedas saja. Kalau keberanian mah, cemen." Ameena menyentik ujung jarinya. "Mereka itu jauh di bawah kita, Mara. Lho lihat aja ekspresi nenek tadi saat gue menggertaknya. Dia langsung tergagap. Gk.. gk.. gk.. seneng banget gue melihatnya."


"Ih, jahat banget sih lho.."


"Heh, Ameena di lawan.."


Amara hanya bisa menggeleng-geleng pelan. Temannya ini benar-benar terhibur melihat ekspresi Bu Fatimah sebelum meninggalkan Kost mereka pagi tadi.

__ADS_1


***********


__ADS_2