
Bian hanya bisa mengusap wajahnya seraya beristighfar setelah mengetahui maksud ucapan ibu dan istrinya. Ia segera menghubungi Daniel setelah sadar dari lamunannya. Namun, sampai dua kali Bian mencobanya, Daniel tidak memberikan jawaban. Sepertinya Daniel sudah tidur karena kecapekan di kantor.
Bian akhirnya hanya bisa menghela nafas berat. Ia merenung mencoba mendikte rentetan kejadian yang ia rasa terkadang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia. Kenapa kehidupannya terasa penuh dengan drama. Mulai dari Amara yang di asingkan neneknya, Amara yang pingsan di acara akad nikah, Amara yang kecanduan obat tidur. Sekarang dramanya ditambah dengan drama pemberian pil kontrasepsi oleh neneknya. Semua kejadian itu tidak luput dari neneknya. Apakah neneknya yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan manusia normal atau apa.
Bian melirik ke arah handphonenya saat benda gepeng itu kembali berbunyi. Nama Zidane terpampang di layarnya. Ia mendengus kesal. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Masalah yang di hadapinya belum kelar, kini sudah datang masalah baru yang terasa ingin menguras emosi jiwa.
Dengan malas, ia akhirnya menjawab panggilan itu. "Iya, ada apa lagi, Kak?!" Langsung pada intinya karena tidak mau berbasa-basi.
"Kamu sudah tidur, Dek." Zidane mengernyit karena Bian tidak biasanya seperti itu.
"Belum, tapi kepalaku sakit."
"Sudah minum obat?" Tanya Zidane tanpa rasa bersalah. Ia tidak mengerti maksud ucapan Bian.
Bian mendengus. "Ck..! kepalaku sakit, tapi tidak membutuhkan obat. Kepalaku sakit karena menanggung beban yang terlalu besar dari Kak Zidane. Kak Zidane mengajakku kemari, bukannya membantuku malah memintaku memecahkan masalah ini sendirian. Kalau tau kayak gini, aku bawa aja Rara ikut serta biar ada yang bantu aku mikir." Melengos kesal seraya membuang pandangannya. Padahak dia hanya sendirian di kamar hotel itu.
Zidane menahan senyum. "Eh, mana ada orang bekerja sampai bawa bini segala. Lagian ini kan tugas kamu sebagai pemimpin. Aku mah apa, cuman bawahan kamu."
"Udah ah, jangan di bahas lagi." Bian akhirnya memilih untuk mengalah. Kakak sepupunya itu selalu bisa mengelak darinya. "Kak Zidane mau ngomong apa, katakan!" Ucap Bian dengan tegas. Kepalanya terasa mau meledak. Selain lelah memikirkan masalah perusahaan, dia juga memikirkan istrinya yang menolak panggilannya.
"Manager keuangan itu memilih mengundurkan diri dan akan mengembalikan dana yang sudah dia curi dari Perusahaan."
Sepersekian detik Bian tertegun. Berita yang dibawa Zidane ini yang di nanti-nantinya dari kemarin. Orang itu akhirnya memilih mundur daripada harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Ternyata strategi yang diluncurkannya benar-benar membuahkan hasil.
"Kamu memang luar biasa, Dek. Kamu adalah pemimpin yang patut di acungi jempol. Kamu tidak hanya sekedar menggertak, tetapi langsung bertindak."
Bian tersenyum sinis. Pujian seperti itu sudah menjadi santapannya setiap hari. "Huh, kalau hanya sekedar menggertak, pelakunya tidak akan bisa kapok."
"Iya.. iya.. Kakak akui keberanian kamu itu, Dek. Itu yang sulit Kakak lakukan. Kakak tidak bisa meniru sifat tegas kamu." Zidane memberikan tepuk tangan kagum untuk adiknya itu.
"Sudah ah, Kak Zidane nggak usah ajak aku bahas hal itu lagi. Karena masalah intinya sudah berhasil aku tangani, sisa-sisanya aku serahkan pada Kak Zidane. Aku mau pulang. Kalau bisa, malam ini juga aku akan berangkat pulang."
__ADS_1
"Terimakasih, Dek. Kamu berkemas saja. Aku akan pesankan tiket dan mencarikan penerbangan terdekat untukmu. Kakak salut atas kerja keras kamu. Assalamu'alaikum ..." Panggilan terputus.
Bian langsung mengucap syukur. Ia ingin tidur, tetapi matanya sulit untuk terpejam. Ia akhirnya duduk termenung tanpa melakukan aktivitas apa pun. Dia malas memegang handphone jika tidak ada yang penting.
Ting..!
Bian tersentak dan langsung melirik benda gepeng itu. "Eh," bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat ada pesan masuk dari istrinya.
Kak Bian jangan lupa makan. Jangan karena pekerjaan, Kak Bian tidak memperhatikan jadwal makan. Selamat beristirahat. Love you...
Bian memukul-mukul kasur saking senangnya. "Ah, kamu memang benar-benar penyemangatku, Ra. Terimakasih, Sayang. Aku akan istirahat dengan baik," ucapnya. Raut wajahnya kini terlihat lebih bersemangat. Ia beralih menatap pesan lain yang masuk dari Zidane.
Subuh nanti, Dek. Aku berhasil membooking tiket penerbangan terdekat. Semoga perjalanannya lancar. Kakak juga sangat berterimakasih untuk semuanya. Semoga kerjasama ini selalu terjalin dengan baik.
Bian menarik sudut bibirnya, langsung membalas pesan itu.
Aamiin... terimakasih untuk tiketnya, Kak. Aku mau istirahat dulu.
**********
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Amara sudah berada di taman belakang rumah. Menikmati indahnya bunga-bunga yang bermekaran, yang memberikan kesegaran untuknya. Ia keluar dari rumah setengah jam yang lalu setelah mendapatkan tatapan yang tajam dari Bu Fatimah. Untungnya dia sudah berhasil memasukkan beberapa suap nasi sebelumnya. Sehingga lambungnya aman saat dia keliar dari rumah tadi.
"Ternyata kamu di sini.."
Amara langsung tersentak mendengar suara itu. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan ragu, ia membalik tubuhnya. Menatap Bu Fatimah yang sudah menampakkan wajah angkuh untuknya. Wanita itu melipat tangan di dada dengan tatapan mata tajam pada Amara.
"Sepertinya kamu sengaja menghindar dariku." Semakin tajam menatap Amara. "Apakah kamu sudah meminum obat yang Nenek berikan semalam?" Berjalan lebih mendekat.
Amara menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Bu Fatimah. Ia harus bersikap tenang, agar Bu Fatimah tidak meremehkannya.
"Kak Bian tidak mengizinkan aku untuk meminumnya. Bukan hanya Kak Bian, Ibu dan Kak Ayra pun, melarang aku untuk meminumnya. Jadi, mau bagaimana lagi." Amara mengangkat bahu seraya menyebikkan bibirnya. Memberanikan diri menatap Bu Fatimah. Wanita paruh baya itu terlihat cukup terkejut mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Apa maksud kamu?! Apakah kamu melaporkan pembicaraan kita semalam pada semua orang?" Bertanya dengan sinis seraya menurunkan tangannya yang di lipat di dada.
"Aku tidak bisa mengkonsumsi obat sembarangan kalau tidak ada izin dari suamiku. Aku juga bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana vitamin dan mana pil kontrasepsi. Aku seorang perawat, Nek. Obat-obatan seperti itu sudah tidak asing lagi bagiku." Ucap Amara dengan berapi-api. "Masih untung aku tidak melaporkan tindakan Nenek pada Kakek."
"Eh, ja..." Bu Fatimah tidak bisa menimpali ucapan Amara. Wanita itu akhirnya hanya diam, tetapi tatapan matanya masih tajam pada Amara. Sepersekian detik menatap Amara lalu membuang pandangannya.
"Aku pamit, Nek." Amara bergegas masuk ke dalam rumah. Ia mengunci pintu kamarnya dari dalam. Bertekad tidak akan membuka pintu itu kalau ada yang mengetuknya.
Amara menangis sepuasnya di atas ranjang. Ia menumpahkan air mata yang ditahannya sejak di hadapan Bu Fatimah tadi. Ternyata, tampang tenang dan santai yang ditunjukkannya di depan Bu Fatimah tadi, hanyalah sebuah sandiwara belaka. Dia bukanlah wanita setegar karang yang tidak bisa hancur jika terus-terusan di remehkan dan di rendahkan.
"Sudah, jangan nangis, Sayang."
Amara langsung tertegun. Air matanya bahkan langsung berhenti mengalir. Selain terkejut mendengar suara itu, ia juga terkejut dengan sentuhan di lengannya. Perlahan, ia memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat orang yang sedang memegang lengannya dengan lembut.
"K.. Kak B.. Bian..." Amara menganga tidak percaya melihat suaminya sudah berada di hadapannya saat ini.
"Maaf karena mengabaikan mu semalam." Bian menjatuhkan tubuh Amara ke dalam pelukannya.
Amara terdiam beberapa saat. Menikmati kehangatan pelukan yang diberikan suaminya. "Kapan Kak Bian pulang? Kenap Kak Bian tidak mengabari ku terlebih dahulu?"
"Aku tidak mau merepotkan kamu, Ra. Subuh tadi aku terbang dari sana. Perjalanannya cuma lima belas menit. Aku sudah mendengar sebagian besar pertikaianmu dengan Nenek. Aku juga sadar sekarang. Kamu tidaklah mudah menjalani hari-hari tanpa aku di sini. Maaf, Sayang." Bian semakin mempererat pelukannya. "Aku kira masalah yang kamu hadapi ini adalah masalah sepele. Ternyata, masalahnya tidak sesimpel yang kubayangkan. Semua yang kamu lakukan tidak luput dari pengawasan Nenek. Aku akan mencoba mempertimbangkan keinginanmu untuk pindah dari rumah ini. Aku akan membicarakan semuanya dengan Kakek. Mudah-mudahan Kakek mengerti dan mengizinkan kita untuk pindah.
Amara hanya mengangguk-angguk dalam pelukan suaminya.
Bian meraih kepala istrinya dan mengusap-usapnya. "Jangan menangis lagi, Ra. Maafkan aku atas kejadian semalam."
Amara menarik tubuhnya dari pelukan suaminya. Mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. "Jam berapa Kak Bian sampai rumah?" Menatap suaminya setelah merasa lebih tenang.
"Setengah tujuh tadi. Aku melihat kamu keluar dari kamar. Tadinya aku berniat membuat kejutan. Tapi, aku malah mendapati istriku diintimidasi terus oleh Nenek. Iya... jadinya aku terus mengikuti drama kamu tadi. Aku melihat bagaimana kamu berusaha tenang menghadapi Nenek. Tau-taunya, sampai kamar langsung ambruk dan meledak."
"Ish," Amara menyusut ingusnya seraya mencubit suaminya karena kesal.
__ADS_1
************