Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Rencana Terselubung Dua Pria


__ADS_3

"Kenapa Tuan Besar bisa datang kemari, Tuan. Kita juga tidak mengadakan persiapan untuk menyambut beliau." Daniel terlihat gugup berbisik di dekat telinga Bian. Dia benar-benar kaget saat mendapati Bian dan Pak Akmal yang datang setelah makan siang.


"Kak Daniel ada apa sih? Nggak usah gugup kayak gitu ah. Kakek cuman datang mau memantau keadaan Perusahaan. Nggak ada yang akan disalahkan atau apa. Kalau ada yang kurang nanti, Kakek akan memberikan saran pada kita, agar bisa melakukan perbaikan." Jawab Bian dengan tenang.


"Tapi, Tuan. Seharusnya kita mengadakan sambutan untuk Tuan Besar. Dia itu pemilik Perusahaan ini." Daniel masih terlihat gugup. Terus memantau langkah Pak Akmal, kemana pria paruh baya itu melangkahkan kakinya.


"Huh, enak aja bilang Perusahaan ini milik Kakek. Perusahaan ini sudah menjadi milikku, Kak. Kakeknya sudah menyerahkannya padaku." Bian mendengus, menepis pelan lengan Daniel.


"Tapi.. kami tetap akan menghormatinya, Tuan. Bagaimana pun juga, Tuan Besar adalah pendiri Perusahaan Tekstil ini. Itulah mengapa kami merasa bersalah karena tidak mengadakan sambutan untuk beliau."


"Hmm... Kakek tidak suka terlalu diistimewakan. Dia lebih suka apa adanya. Kayak orang yang nggak kenal Kakek saja." Bian berjalan lebih gesit mengikuti Pak Akmal yang sudah berjalan cukup jauh darinya. Daniel segera menyesuaikan langkahnya dengan langkah lebar Bian.


Berdiri dengan sopan di samping kakeknya. Daniel mengambil posisi di belakang Bian. Menjadi orang kepercayaan Pak Akmal membuatnya benar-benar merasa bersalah tidak mempersiapkan apapun untuk pria itu.


"Semua terlihat baik-baik saja, Nak." Pak Akmal menepuk-nepuk pundak cucunya dengan bangga. Ayo, kita ke ruangan kamu sekarang. Ada yang ingin Kakek sampaikan sebelum Kakek pulang." Menarik pelan tangan cucunya untuk kembali ke ruangannya. Melirik ke arah Daniel yang berdiri mematung tidak mengikutinya. Menghentikan langkahnya dan menatap Daniel dengan heran. "Daniel ... kenapa kamu masih di sana? Ikut aku ke ruangan Bian. Kamu harus mencatat apa yang akan aku sampaikan pada Bian."


"B.. baik, Tuan.." bergegas mendekat pada Pak Akmal dan Bian. Melihat tampang asistennya membuat Bian menahan senyum. Daniel benar-benar tidak berani melakukan apapun di depan kakeknya itu.


Saat masih berdiskusi dengan serius, azan ashar tiba-tiba berkumandang. Hal itu membuat Pak Akmal berhenti bicara. Pria paruh baya itu langsung bangkit. "Kita shalat dulu, Nak." Ucapnya seraya menatap Bian dan Daniel seraya bergantian.


"Kakek kenapa melangkah ke sana?"


Pak Akmal mengernyit mendengar pertanyaan cucunya. "Kakek mau shalat, Bian. Memangnya kamu tidak mau ikut Kakek. Jangan mentang-mentang kalian masih muda, terus kalian melalaikan kewajiban. Justru karena kalian masih muda, kalian seharusnya yang lebih memperhatikan agama kalian."


Bian dan Daniel saling pandang karena heran. "Eh, bukan gitu maksud aku, Kek. Kakek tidak perlu turun ke Musholla untuk shalat. Aku sudah ada Musholla pribadi di lantai ini. Aku dan Kak Daniel selalu shalat bersama di sini." Bian mencoba menjelaskan pada kakeknya.

__ADS_1


"Hhmm... kenapa Kakek tidak mengetahui hal itu?" Manggut-manggut mendengar penjelasan cucunya.


Bian mengisyaratkan pada Daniel agar menunjukkan letak ruangan yang di maksud.


**********


Bian kembali ke rumah setelah masuk waktu maghrib. Pak Akmal menjelaskan banyak hal yang tidak diketahuinya sebelum ini. Itulah yang membuatnya sampai lupa waktu dan tersadar saat renungan di Masjid samping Perusahaannya terdengar.


"Sebentar lagi azan. Ada yang ingin Kakek sampaikan padamu." Pak Akmal menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Besok pagi menjelang siang, Nona Khanza akan datang kembali kemari. Orang tuanya sudah minta maaf secara pribadi pada Kakek. Kita akan melihat bagaimana dia bersikap saat datang nanti."


Bian langsung mendengus. "Aku berharap dia tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di Perusahaan ini. Bukannya aku tidak mau bekerjasama, Kek. Tapi, dia itu benar-benar keterlaluan. Apalagi dia salah tempat meminta maaf. Seharusnya dia minta maaf pada Rara, Kak Daniel dan aku. Kenapa dia malah minta maaf pada Kakek yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalahnya itu."


"Kakek tau, Nak. Sepertinya kamu dan dia ada masalah asmara di masa lalu. Itu yang membuat kalian tidak bisa menjaga sikap satu sama lain. Mungkin masih ada dendam yang terpendam atau apa, sehingga sampai bersitegang seperti kemarin." Pak Akmal menatap fokus pada cucunya. "Kakek mengatakan ini, karena dulu Almarhum sangat suka menjalin hubungan dengan lawang jenis, walaupun dia tidak memiliki perasaan pada lawang jenisnya."


"Itu Almarhum Bapak, Kek. Aku nggak pernah merasa kayak gitu. Aku nggak pernah ada hubungan apapun dengan Nona itu. Dia hanya pernah bersahabat dengan istriku. Tapi, sekarang tidak lagi, karena dia yang memutuskan persahabatannya dengan Rara." Berucap sambil membuang pandangannya. Bian benar-benar kesal karena Khanza yang tidak pandai membaca situasi dan menjaga sikap. Belum lagi yang disinggung wanita itu adalah istrinya.


"Aku akan menjaga sikap kalau dia menjaga sikap. Tapi, kalau dia kembali seperti pertemuan kemarin, aku tidak akan segan-segan mengusirnya dari sini." Bian mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku akan merahasiakan hal ini dari Rara. Aku tidak mau istriku disakiti wanita itu lagi." Ucapnya lirih.


"Iya sudah, Kakek sudah memberitahukan hal yang paling penting. Besok, kita akan lihat siapa yang sebenarnya tidak profesional dalam hal ini. Baiklah, I think that's all. Sekarang kita shalat dulu sebelum pulang." Beranjak bangkit, mendahului Bian dan Daniel masuk ke Musholla mini di ruangan Bian.


Daniel mendekati Bian setelah Pak Akmal masuk ke dalam Musholla. "Tuan, saya kira wanita itu akan minta maaf pada Tuan dan Nyonya Amara. Permintaan maafnya tidak nyambung. Bersalah sama siapa minta maaf sama siapa."


"Sudahlah, Kak. Aku juga nggak ngerti dengan wanita itu. Mudah-mudahan saja semuanya berjalan lancar besok."


Pak Akmal meminta Bian untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu karena ada yang ingin disampaikan pada Daniel. Meminta Daniel untuk mengikutinya melangkah agak jauh dari mobil tempat Bian menunggu.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?" Daniel menunduk sopan di hadapan Pak Akmal.


"Aku minta kamu memantau dengan benar keadaan besok. Menjelang makan siang, kamu hubungi Amara. Kamu minta dia untuk mengantarkan makan siang untuk Bian."


"T.. tapi, Tuan. Bagaimana kalau Nona Khanza masih disini saat Nyonya Amara datang?"


"Justru itu. Kamu harus pandai mengatur waktu. Usahakan agar mereka bertemu di ruangan Bian. Aku hanya ingin melihat, siapa yang sebenarnya tidak profesional. Orang tuanya bilang, anaknya adalah wanita yang tau sopan santun dan pandai menjaga sikap. Mereka bilang, cucu menantuku yang tersulut emosi saat melihat Nona Khanza akan menjalin kerjasama dengan Bian."


Daniel tersenyum kecil. "Kalau itu yang dikatakan mereka, besok kita akan membuktikan apa yang terjadi sebenarnya. Saya akan merekam semua yang terjadi dari awal pertemuan sampai Nyonya Amara datang. Semoga rencana Tuan berjalan dengan lancar. Mudah-mudahan juga, Nyonya tidak muntah-muntah lagi agar Tuan Muda mengizinkannya datang ke Kantor."


"Itu semua kamu yang urus. Aku tunggu kabar baiknya. Kita pulang sekarang. Tugas hari ini cukup sampai disini. Cucuku juga kurang fit karena anaknya rewel semalam."


"Hah... maksud, Tuan?"


"Ehehehe... Bian kurang istirahat karena bayi dalam perut istrinya meronta minta makan. Katanya, dia keluar jam satu malam mencarikan Amara mie instan."


Daniel berdecak kagum. "Patut diacungi jempol, Tuan. Tuan Muda memang sangat posesif pada istrinya. Terkadang sikapnya sangat berlebihan dan membuat Nona Amara tidak nyaman saat berkunjung kemari. Tuan Muda juga sangat dingin pada karyawan wanitanya."


"Itu hal bagus. Sikap seperti itu perlu dipertahankan. Untuk masalah sikap dinginnya pada karyawan wanita, sepertinya itu terdengar sedikit menyimpang. Nanti aku yang akan memberikan arahan untuk ya agar bisa merubah sikap." Pak Akmal menepuk-nepuk pundak Daniel. Menggiringnya mendekati mobil karena Bian sudah cukup lama menunggu.


Tatapan tajam langsung dilayangkan Bian begitu dua pria itu masuk ke dalam mobil. "Ngomongin apa sih, Kek. Aku sudah menunggu hampir setengah jam." Kalimat protes langsung diluncurkan karena Pak Akmal terlihat santai.


"Kakek dan Daniel membicarakan kamu. Jangan banyak protes agar Daniel bisa menyetir dengan tenang tanpa mendengar celotehan unfaedah kamu."


Bian kembali mendengus, tetapi dia benar-benar tutup mulut. Ia langsung menyandarkan tubuhnya dan fokus menatap ke luar jendela.

__ADS_1


*************


__ADS_2