
Myta hanya bisa menelan ludahnya. Wajahnya langsung berubah merah padam. "A.. anda jangan bercanda, Tuan. Mana mungkin handphone milik Bu Fatimah ada pada anda." Menatap Daniel dengan ekspresi takut. Namun, beberapa kali mengalihkan pandangannya karena tidak Kita terlalu lama berkontak mata dengan pria itu.
Daniel menghela nafas berat lalu tersenyum sinis. "Heh, jangan terlalu percaya diri, Nona. Saya sudah bilang sejak awal. Anda jangan coba-coba mempermainkan Tuan kami. Nyonya Besar tidak memiliki pengaruh yang besar di keluarganya. Semua keputusan ada di Tuan Muda saat ini. Jadi, jika anda ingin hidup dengan tentram, jangan pernah main-main dengan kami. Atau.. kalau tidak, anda akan tau sendiri akibatnya."
Myta kembali menelan ludahnya seraya memperbaiki posisi anak dalam gendongannya. Wanita itu kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Daniel. Ia hanya diam dengan nafas naik turun tidak beraturan. Terlihat jelas kalau dia sedang ketakutan.
"Silahkan, anda berjalanlah di depan saya. Sini, koper yang paling besar, biar saya bantu bawakan." Daniel meraih tuas koper Myta. Dia bukanlah orang yang tega melihat Myta berjalan kewalahan karena terlalu banyak barang bawaan. "Adek, sini jalan sama Om. Mama kamu kewalahan kalau harus menjaga kailan berdua." Daniel mengulurkan tangannya pada anak Myta yang lebih besar. Namun, anak itu menggeleng dan langsung bersembunyi di belakang bokong ibunya. Melihat hal itu, Daniel tersenyum getir. "Anak ini pasti kurang pergaulan. Seharusnya anda membiarkan anak ini bergaul dengan orang lain. Jika keadaannya seperti ini, anda sendiri yang repot karena anak anda tidak tau siapa-siapa."
"Akan lebih baik kalau seperti ini." Jawab Myta dengan ekspresi datar. "Terlalu banyak bergaul malah bisa merusak moralnya."
"Terserah anda. Kita memiliki jalan pikiran yang berbeda." Daniel melangkahkan kakinya mendahului Myta. Menurutnya hidup wanita itu terlalu ribet karena membuat anaknya takut pada orang lain.
Tidak ada percakapan selama di dalam lift. Daniel sibuk melihat email yang masuk dari Perusahaan. Sementara Myta, wanita itu masih memikirkan semua yang diucapkan Daniel tadi. Jika semua yang dikatakan pria itu adalah fakta, maka ke depannya hidupnya akan terancam. Dia hanya bisa berdoa, semoga Bu Fatimah sudah menghapus semua pesan mereka sebelum handphone itu diambil oleh Daniel. Tapi, jika wanita itu tidak menghapusnya, maka keadaannya sudah pasti terancam saat ini. Bu Fatimah selalu mengirimkan perintah lewat pesan. Dia bahkan jarang bicara dengan wanita itu.
"Jangan lupa untuk selalu mengutamakan kesopanan saat bicara dengan Tuan Muda kami." Daniel langsung mengeluarkan peringatan begitu pintu lift terbuka. "Tuan Muda kami adalah orang yang selalu menghormati orang lain. Jadi, saya berharap anda tau diri."
"I.. iya, Tuan." Myta menatap punggung Daniel yang berjalan di depannya. Entah mengapa suasana tiba-tiba berubah mencekam seperti ini. Padahal sebelum ini, Myta selalu menimpali ucapan Daniel.
"Kami sedang menuju hotel, Tuan." Daniel memberikan informasi melalui pesan suara pada tuannya.
"Tunggu, Tuan! Bukankah kita akan langsung ke Bandara?"
Daniel membalik tubuhnya. Menatap Myta beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan wanita itu. "Tuan Muda dan Nona Amara masih di hotel. Belum lagi mereka tinggal di kamar yang berbeda. Saya harus memastikan keduanya sudah siap. Kita akan menjemput mereka terlebih dahulu. Jangan banyak protes kalau mau pulang dengan selamat."
Myta kembali kehilangan kata-kata. Benda gepeng yang menjadi barang bukti kuat yang dipegang Daniel membuatnya tidak berani terlalu banyak bicara dan tidak berani berbuat apa-apa. Wanita itu berdecak kesal dalam hatinya. Kali ini dia benar-benar seperti wanita lemah tak berdaya. Sebelum ini, dia yang selalu mengatur hidup Amara. Apakah kali ini akan berbalik?
__ADS_1
Daniel tersenyum kecil melihat ekspresi Myta. Wanita itu harus sering ditakut-takuti agar tidak banyak tingkah. Ia mempercepat langkahnya agar cepat sampai mobil.
*********
"Jangan tatap dia.." Bian menarik kepala Amara agar tidak menatap Myta yang berjalan di belakang mereka. "Kamu hanya boleh menatap aku saat ini." Mendorong pelan tubuh Amara agar berjalan di depannya. Pria itu sedikit kesal karena Amara terlihat begitu perduli pada Myta. Pada hal wanita itu selalu merepotkannya.
"Ih, Kak Bian apaan sih?!" Amara merenggut kesal. "Lebay tau nggak. Nanti aku malah tidak bahagia lagi, kalau terlalu ditekan."
"Ck! jangan ngomong gitu, Sayang." Bian menatap tajam Amara. Aku hanya tidak mau kamu menatap orang lain. Masa sih, itu bisa membuat kamu merasa tertekan?" Menarik lengan baju Amara agar wanita itu berjalan lebih dekat di
sampingnya.
Amara mengangkat bahu. "Nggak tau.." jawab ya dengan santai. Tidak sadar kalau ucapannya membuat Bian merasa bersalah.
"Hah, sudahlah.." Bian kembali menarik lengan baju Amara.
Namun, pemandangan lain harus mengusik ketenangan pandangan wanita itu. Apa lagi kalau bukan kelakuan Bian pada Amara. Bagaimanapun juga, keromantisan pasangan itu mengusik ketenangan jiwanya yang sudah lama haus dengan kasih sayang.
Tapi, Myta merasa sedikit aneh. Selama perjalanan, dia tidak pernah melihat Bian dan Amara melakukan kontak fisik yang berlebihan. Yang ada, Bian hanya menarik lengan baju atau ujung jilbab Amara. Tapi, ucapan-ucapan romantis pria itu membuat Myta tertarik untuk merekamnya. Ia mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan mulai merekam.
"Tutup mata dan telinga dengan apa yang kamu lihat dan apa yang kamu dengar."
Deg..! Myta langsung menatap orang yang berbisik di telinganya.
"Ingat, kamu sedang berurusan dengan siapa. Jangan merekam atau apa. Simpan handphone dalam tas. Itu adalah privasi Tuan Muda kami."
__ADS_1
Myta tersentak mendengar kelanjutan ucapan orang itu. Dadanya berdebar saat menyadari kalau salah seorang berkepala pelontos sedang berjalan di sebelahnya. Itu berarti, empat pria yang berjalan di belakang mereka mengawasi gerak-geriknya. Ia langsung memasukkan benda gepeng itu ke dalam tasnya. Ia menghela nafas berat. Hari ini terasa sangat panjang karena ia merasa terintimidasi.
Myta menatap sekeliling. Tidak terlihat ada Daniel di kursi penumpang di sampingnya atau di bagian depan dan belakangnya. Jangan tanyakan lagi soal Amara. Bian selalu membuat Amara menjauh darinya. Hanya empat orang berkepala pelontos yang terlihat.
"Tuan," Myta mencoba memanggil pria terdekat dengan tempat duduknya.
"Ada apa, Nona?" Pria berkepala pelontos memajukan tubuhnya mendekati Myta.
"Mm.. dimana Nona Amara, Tuan M.. Muda dan Tuan Daniel?" Bertanya dengan ragu.
"Hah, anda memang bodoh atau pura-pura bodoh."
Myta mengernyit. "Maksud anda apa, saya hanya menanyakan posisi Nona Amara."
"Nona Amara bersama Tuan Muda di first class penerbangan ini. Tuan Daniel ada di kelas bisnis."
Myta semakin mengernyit tidak mengerti. Dia baru tau kalau di penerbangan, tempat duduk pun ada kelasnya. "Terus apa bedanya dengan tempat kita ini?"
"Bodoh..!" Orang berkepala pelontos itu menyentil jidat Myta. "Kelas Kita dengan Tuan muda berbeda, Nona. Sudah jelas tempat duduknya juga berbeda. Dia mampu membayar first class. Kalau Kita ini hanya muka gratisan. Makan pun ditanggung Tuan Besar." Menggeleng-gelengkan kepalanya bingung. Di zaman sekarang, ternyata masih ada orang bodoh seperti Myta. Prai itu jadi ragu, kalau selama ini wanita itu bisa menjalani tugas dari Bu Fatimah. "Nona bisa memesan tempat di kelas bisnis kalau Nona mampu." Menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum mengejek.
Myta membuang pandangannya kesal. Ada rasa menyesal menanyakan hal itu. Andai saja dia bisa menahan mulutnya, pria itu pasti tidak akan merendahkannya. Ia segera mengeratkan sabuk pengamannya. Pandangan matanya masih terlihat kesal. Ingin rasanya dia mencubit pria yang sok pintar itu. Myta kembali melirik ke arah pria itu.
"Huh,"
Pria itu memejamkan matanya dengan bibir masih mengulas senyum. Kebodohan Myta sepertinya menjadi hiburan baginya. Hal itu membuat Myta mengeratkan giginya kesal. Kini, dia baruk mulai sadar dengan posisinya. Amara adalah calon istri dari orang yang memiliki banyak kekuasaan.
__ADS_1
*********