Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Omelan Pedas Chayra


__ADS_3

Amara menatap Pak Akmal dengan air mata berlinang. Pria itu terlihat sangat berbeda dari pertemuan terakhir dengannya.


"Amara.. mendekat lah, Nak."


Amara melangkah dengan ragu mendekati ranjang Pak Akmal. Duduk bersimpuh di sisi ranjang pria itu. Semua mata fokus menatap ke arah gadis itu. "I.. iya, Kek. Kakek sakit apa?" Meraih tangan yang sudah mulai keriput itu. Menatapnya dengan prihatin.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" Tangan Pak Akmal terulur untuk menyentuh wajah Amara.


"Alhamdulillah, Amara baik, Kek."


"Hmm.. alhamdullah kalau begitu. Kakek ingin kamu segera menikah dengan Bian. Kakek ingin, akad nikah dilakukan besok siang di rumah ini. Kakek takut tidak bisa menyaksikan hari bahagia kalian. Itulah mengapa Kakek ingin kalian menyegerakan niat baik itu." Ucap Pak Akmal dengan nafas tersengal. Pria itu benar-benar terlihat lelah.


"Kakek jangan ngomong yang aneh-aneh. Kakek pasti sembuh kok." Amara memeluk tangan Pak Akmal. Hal itu membuat seisi ruangan terheran-heran. Amara terlihat benar-benar dekat dengan Pak Akmal.


Tidak ada yang tau, selama Amara tinggal di Singapura, Pak Akmal selalu rutin mengunjungi Amara dua minggu sekali. Hal itu dirahasiakan Pak Akmal dari seluruh keluarganya. Dia selalu mengunjungi Amara karena mengkhawatirkan wanita yang di cintai cucunya itu. Namun, setelah Bian menemukan Amara, Pak Akmal tidak pernah datang lagi mengunjunginya.


Percakapan terus berlanjut sampai masuk waktu ashar. Pak Akmal bahkan mengeluarkan banyak candaan untuk calon cucu menantunya itu. Amara hanya tidak menyangka, Pak Akmal memintanya untuk datang hanya untuk memintanya menyetujui rencana pernikahannya dengan Bian.


Chayra mengajak Amara keluar dari ruangan itu setelah Bu Fatimah diminta mendekat oleh Pak Akmal. "Kita ke Musholla dulu yuk, Dek." Meraih jangan Amara seraya menggandengnya. Wanita seakan-akan tau, kalau Amara tidak akan nyaman jika duduk berdekatan dengan neneknya.


"Amara..." Chayra menatap dalam Amara setelah mereka duduk berdua di Musholla.


"Eh, i.. iya, Kak." Amara menatap Chayra ragu. Jarang sekali Chayra memanggilnya dengan sebutan itu jika tidak bicara serius.


"Kamu tidak main-main kan dengan jawaban yang kamu berikan untuk Kakek tadi?"


Amara menautkan alisnya. "Jawaban yang mana yang Kak Ayra maksud. Semua jawaban yang aku berikan pada Kakek adalah jawaban yang keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam, Kak. Aku tidak mungkin memberikan jawaban palsu hanya untuk menghibur Kakek."


"Bukan begitu maksud Kakak, Dek." Chayra mengusap air matanya yang keluar tanpa disadarinya. "Kakak hanya ingin memastikan saja. Soalnya, Kakak takut kamu tidak serius pada Bian. Bagaimana pun juga, Bian adalah satu-satunya saudara Kakak. Kakak harus memastikan kebahagiaannya."


"Kak Ayra..." Amara meraih tangan Chayra lalu menggenggamnya dengan erat.


Chayra tersenyum kecil. "Kakak takut kamu berubah setelah perlakuan Nenek padamu. Tapi... Kakak sangat bersyukur, kamu memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah tergoyahkan." Membuang nafasnya dengan kasar.


Amara menunduk seraya tersenyum kecil. "Aku.. aku pernah berpikir untuk mengakhiri perjuangan cintaku pada Kak Bian. Tapi, setiap aku menghubungi Papa, Papa pasti memberitahuku, kalau Kak Bian datang mengunjunginya. Dari itu aku mulai berpikir. Semua yang terjadi padaku adalah takdir hidupku. Yang tidak mau melihat kami bersama adalah neneknya, bukan ibunya. Andaikan Ibu yang menentang hubungan kami, aku akan mundur dengan lapang dada, Kak." Mengangkat wajahnya menatap Chayra.


"Kenapa kamu mau mundur kalau Ibu yang menentang?" Chayra mencoba bertanya. Ia hanya ingin mendengar alasan yang akan diutarakan Amara.


"Mmm..." Amara menautkan alisnya menahan senyum. "Aku takut Kak Bian menentang ibunya. Itu berarti, Kak Bian berubah menjadi anak durhaka. Aku nggak mau itu terjadi." Menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, kenapa bilang aku anak durhaka?" Bian tiba-tiba muncul di belakang Amara.

__ADS_1


"Kamu anak durhaka." Chayra yang menimpali. "Kakak wudhu duluan ya, Dek." Menepuk pelan paha Amara.


"Shalat jamaah aja, Kak." Ucap Bian.


Chayra mengangguk seraya berlalu masuk ke kamar mandi.


Amara tersenyum menatap punggung Chayra. "Kak Ayra cantik banget ya, Kak." Masih menatap Chayra yang sudah menghilang di balik pintu.


"Huh, jangan mengalihkan pembicaraan, Ra."


Amara menautkan alisnya seraya beralih menatap Bian. "Maksudnya?"


"Tadi kamu bilang aku anak durhaka. Itu maksudnya apa? Memangnya aku ada salah apa sama Ibu, sampai kamu bilang begitu?"


Amara terdiam beberapa saat, mengalihkan pandangannya seraya tersenyum.


"Lah, pakai senyum-senyum segala." Memutar kepala Amara agar kembali menatapnya.


"Itu makanya, jangan cepat mengambil kesimpulan dari cuplikan berita yang di dengar."


"Itu kan kamu yang ngomong tadi. Aku dengar kok, kamu bilang aku anak durhaka." Bian masih bersikeras karena merasa dirinya benar.


"Nggak..!" Jawab Bian singkat.


Chayra yang baru keluar dari kamar mandi hanya bisa menghela nafas berat melihat tingkah adiknya. "Udah.. udah.. kita shalat dulu. Mau nikah juga, masih aja suka berdebat."


"Mm.." Amara tersenyum, beralih menatap Chayra. Namun, gadis itu malah gagal fokus melihat Chayra yang melepas cadarnya. Calon kakak iparnya itu benar-benar cantik. "Masya Allah, Kak Ayra ini manusia atau bidadari..?" Ucap Amara tanpa ia sadari apa yang diucapkannya.


"Awas.. liurmu jatuh, Sayang..." Bian mengusap wajah Amara.


"Dek..." Chayra langsung melotot pada adiknya.


"Ehehehe... maaf, Kak. Aku khilaf." Bian menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Amara.


"Rara, kamu wudhu duluan. Kakak mau bicara dengan Bian."


Amara langsung bangkit tanpa diperintah dua kali. Ia melirik Bian seraya tersenyum mengejek.


Bian hanya bisa menelan ludahnya mendengar ucapan sang Kakak. Jika mereka sudah berdua, Chayra pasti akan memperlakukannya seperti anak kecil yang melakukan kesalahan.


Benar saja.. begitu Amara menutup pintu kamar mandi, Chayra langsung memukul tangan Bian dengan cadarnya. "Apa tangan ini tidak kuat untuk tidak menyentuh yang tidak halal, Dek?" Masih memberikan tatapan yang tajam pada Bian.

__ADS_1


"Ih, Kak Ayra jangan marah dong. Tadi aja disanjung sama Rara, kalau Kak Ayra itu cantik bak bidadari turun dari gunung."


Plak...!


Satu pukulan melayang di punggung Bian. "Sanjungan tidak akan membuat Kakak melayang dan melupakan kesalahan kamu. Kakak nggak suka kamu kayak tadi. Hormati wanita dan juga dirimu sendiri. Kamu sendiri yang bilang, kalau kamu benci masa lalu kakak iparmu yang bejat. Apa kamu tidak malu melihat perubahan Mas Ardian yang sekarang?"


Bian hanya diam. Dia tidak mau menimpali karena takut emosi kakaknya menjadi meledak.


"Apa kamu tidak bisa tahan, Dek? Tinggal beberapa jam lagi, wanita itu akan halal untukmu. Jangankan mengusap wajahnya seperti tadi, kamu bahkan boleh menyentuh bagian mana pun yang kamu mau." Chayra mencubit tangan Bian yang di pakai untuk mengusap wajah Amara tadi. Wanita itu terlihat geregetan pada adiknya. "Udah wudhu sama.." mendorong punggung Bian agar segera mengambil air wudhu.


Amara yang baru keluar hanya menahan senyum melihat Bian. Pria yang biasanya memerintah itu, kini hanya bisa pasrah di pukul dan dicubit kakaknya.


"Rara, kita tunggu Bian di dalam Musholla."


"Iya, Kak." Amara mengangguk patuh seraya masuk mengikuti Chayra. Dua wanita itu berbudi bersebelahan membentuk saf menunggu imam yang masih mengambil air wudhu.


"Apa Bian sering seperti tadi, Dek?" Ternyata Chayra masih belum puas mengomeli adiknya. Kini, Amara yang menjadi targetnya.


"Sering seperti apa maksud Kak Ayra?"


Chayra menghela nafas berat. "Apa dia sering menyentuhmu tanpa izin?"


Amara terdiam sejenak. "Mm... tidak juga, Kak. Dia hanya melakukannya sesekali. Itu pun dia akan minta maaf setelah sadar dengan apa yang dilakukannya. Cuman ..." Amara menatap Chayra, karena ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Cuman apa?!" Chayra menatap Amara dengan tajam. Persis seperti yang dilakukannya pada Bian tadi.


"Waktu... pertemuan pertama pertama kami di Singapura, Kak."


"Apa yang terjadi?"


"Mm..." Amara menatap ke arah pintu karena Bian berdiri di sana. "Nanti aku cerita sama Kak Ayra. Imam kita sudah datang, Kak."


"Huh," Chayra langsung mendengus saat melihat adiknya. Ia kembali menatap Amara. "Kamu berhutang penjelasan padaku. Awas saja kalau ada tindakannya yang terdengar berlebihan. Aku akan menjewer telinga kalian berdua."


"Kenapa nggak sjewer telinga Kak Ardian juga karena selalu khilaf di masa lalu." Timpal Bian dengan santai.


"Dek.."


"Shalat.. shalat.. waktu ashar mau lewat." Bian langsung melakukan iqomah untuk menghentikan esmosi jiwa kakaknya.


**********

__ADS_1


__ADS_2