Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pengakuan Bian


__ADS_3

"Kalian dimana?" Bian celingukan di sekitar mobilnya.


"Mm.. kami di Kafe yang di belakang gedung Kampus Kak Bian." Amara menjawab sambil celingukan. Takutnya Bian berada di sekitar tempat itu.


"Sini handphonenya." Ameena merebut handphone Amara. "Kak Bian kami sedang menghabiskan uang Kak Bian. Siapa suruh nyuruh kami menunggu sampai dua jam. Katanya kelasnya cuma satu jam. Heh, malah ngilang sampai jam segini." Ameena bicara dengan suara keras, hampir berteriak. Gadis itu sampai lupa tempatnya sekarang. Beberapa Mahasiswa yang sadang makan siang langsung menoleh ke arah mereka.


"Astagfirullah, Na. Suara kamu.." Amara memejamkan matanya menahan kesal. "K..kamu mengganggu pelanggan lain, Na." Entah mengapa, akhir-akhir ini Ameena berubah menjadi wanita tengil. Bawaannya pingin kesal aja kalau bicara dengan sahabatnya itu.


"Kita cuman berdua kan di meja ini. Lagian semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing." Ameena berusaha bersikap santai sambil memperbaiki jilbabnya yang tidak berantakan. Sebenarnya dia juga merasa grogi. Saat dia menatap sekeliling, ternyata banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Kembali menunduk seraya berpura-pura menikmati makanan penutup di depannya.


Amara membuang nafas dengan kasar. "Katanya nggak ada yang merhatiin kita. Tau-taunya kita jadi pusat perhatian banyak orang. Ya Allah, Na.." Amara mengusap wajahnya dengan kasar.


Brak..!


Seorang wanita tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja Amara. Wanita itu terlihat menahan sakit karena menggebrak meja di depan Amara. "Eh, kalian berdua ini mahasiswi baru atau pindahan dari Universitas lain? Apa kalian tidak membaca rule yang terpampang saat kalian memasuki tempat ini?"


Amara dan Ameena langsung mengangkat wajahnya. Kompak menatap wanita yang terlihat emosi di depannya. "M.. maaf, kami tidak sempat membacanya. Lain kali kami tidak akan mengulanginya lagi." Amara menarik nafas panjang setelah menyelesaikan ucapannya. Ia melirik Ameena yang masih menatap wanita itu.


"Yang berisik tadi siapa, kamu apa dia?" Wanita itu menunjuk Amara dan Ameena secara bergantian.


"Aku, Kak." Ameena langsung tunjuk diri. Tidak mau kalau Amara yang bicara terlebih dahulu. "Temanku sudah mewakilkan permintaan maaf tadi. Kami memang tidak tahu menahu rule di sini, karena kami bukan Mahasiswi di Kampus ini. Kami kemari dibawa Bian Putra Arianto."


"Oh," wanita itu sedikit terkejut saat Ameena menyebut nama Bian. "Maaf sebelumnya, tapi.. untuk apa ya, seorang Bian yang terkenal dengan kesopanannya membawa wanita udik kayak kalian kemari? Hmm.. sepertinya kalian cuman beralasan saja, agar gue melepaskan kalian." Sedikit menunduk dan bicara di depan wajah Ameena. Gadis itu tersenyum sinis. "Oh ya, gue lupa memperkenalkan diri. Nama gue Viona. Gue di sini mewakili teman-teman yang terganggu karena suara berisik kalian. Kalian harus membayar denda karena telah membuat kerusuhan di sini. Karena kalian orang baru, jadi uang dendanya lima ratus ribu." Viona mengakhiri kalimatnya dengan melipat tangan di dada.


"Hah..?!" Amara dan Ameena tersentak mendengar ucapan Viona. "Seharusnya tidak seperti itu, Kak. Kami tidak tau peraturan itu. Seharusnya kami tidak langsung mendapatkan hukuman. Hukum tidak berlaku bagi orang yang tidak tahu." Amara berucap dengan sedikit emosi. Wanita di depannya terlihat semakin sombong kalau tidak ditimpali. Amara menelan ludahnya seraya meraih handphone di atas meja. Langsung menekan nomor Bian di handphonenya.

__ADS_1


Ameena hanya menatap kelakuan Amara tanpa bisa berkata-kata. Berbeda dengan Viona, gadis itu malah tersenyum meremehkan pada Amara. Dia tidak yakin, kalau Bian akan benar-benar datang menemui dua gadis di depannya.


"Assalamu'alaikum, Kak Bian dimana? Kenapa lama sekali sampai sini?" Amara sengaja mengaktifkan loudspeaker agar wanita di depannya bisa mendengar suara Bian.


"Aku udah di depan Kafe. Kalian ada di ruangan nomor berapa?"


Amara tertegun mendengar pertanyaan Bian. Apakah dia yang kurang pengalaman atau memang Kafe ini yang aneh. Biasanya Kafe hanya menyediakan ruang VIP, atau ruangan bebas asap rokok. Tapi, Kafe tempatnya sekarang sepertinya di design sedikit berbeda. M.. maksud Kak Bian?"


"Salah satu dari kalian keluar dan lihat nomor yang terpampang di atas pintu masuk."


Amara bangkit dan siap untuk berlalu. Tetapi, Viona mengulurkan kakinya sehingga menghalangi langkahnya. Untungnya dia melihat hal itu, sehingga kemalangan yang mungkin akan menimpanya bisa diantisipasi. "Kak, kami sedang bermasalah dengan seseorang. Aku tidak bisa keluar karena dia menghalangiku untuk itu. Kami diminta membayar denda karena Ameena melakukan sedikit kesalahan tadi," melirik kesal ke arah Viona. Yang dilirik terlihat tidak perduli, masih tersenyum mengejek ke arahnya.


"Oh, Astagfirullah.. kalian salah masuk ruangan. Tunggu aku, aku akan ke sana sekarang." Bian segera bergegas tanpa mematikan sambungan telepon.


Dua menit menunggu, Amara bisa menarik nafas lega setelah melihat Bian datang dan mendekat ke arah mereka. Bian memasukkan handphonenya setelah melihat Amara.


"Berhenti, Viona!" Ucapan Bian membuat Viona menghentikan langkahnya. Sebenarnya dia sengaja berlalu untuk menghindari Bian. Membuat masalah dengan Bian sama saja dengan Membuat masalah dengan Universitas. Ia berbalik perlahan dan menatap ragu ke arah Bian. "A.. ada apa, Bian?"


"Kesalahan apa yang dibuat Ameena, sehingga kamu sampai bertindak seperti itu?" Bian berkata sambil berjalan mendekati meja Amara.


"Mm.. dia berisik tadi. S.. sebenarnya gue cuman bercanda tadi. Tapi, teman kamu itu malah menganggapnya serius dan langsung malaporkan semuanya padamu." Viona menatap ragu ke arah Bian. Menunggu reaksi pria itu, apakah akan percaya dengan ucapannya atau bagaimana.


"Tapi, sepertinya candaanmu berlebihan. Dua gadis ini biasa bercanda denganku. Aku setiap hari selalu bercanda dengan mereka." Bian duduk dengan tenang di kursi kosong di dekat tempat duduk Ameena. Beralih menatap Amara. "Mara, berapa denda yang dia minta tadi?"


"L.. lima ratus ribu, Kak." Amara langsung menjawab pertanyaan Bian, tetapi matanya tidak teralihkan dari Viona.

__ADS_1


Bian mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya. "Kamu ambil lima ratus ribu di ATM depan Kafe. Untuk password, hampir sama dengan kartu ATM yang aku berikan tadi pagi. Cuman dibalik saja." Menyerahkan kartu ATM pada Amara.


"Baik, Kak." Amara berbalik, tetapi langkahnya terhenti saat menyadari kalau ada Khanza juga di ruangan itu.


"Kenapa berhenti, Mara?" Bian menatap tajam pada Amara. Hal itu membuat Amara tergagap. "I.. iya, Kak. Aku pergi sekarang." Amara menarik nafas dalam, memberikan senyuman tipis pada Khanza seraya berlalu.


Khanza melangkah lebih dekat setelah puas menatap Amara. "Kenapa mereka.."


"Kalian jangan coba-coba menyakiti Amara." Bian langsung memotong ucapan Khanza. "Ke depannya, gadis itu akan sering datang ke Kampus ini. Dia tidak kuliah di sini. Tapi, dia akan menemaniku kemari."


"Kenapa harus dia, Kak? Aku selalu ada di sini kok, untuk Kak Bian." Khanza berkata dengan penuh percaya diri sambil melangkah lebih dekat pada Bian. Beberapa Mahasiswa yang menonton kejadian itu menahan senyum mendengar ucapan Khanza.


Bian tersenyum sinis. "Amara itu berbeda dengan kamu, Khanza. Dia itu wanitaku, dan akan sulit tergantikan oleh siapapun. Jadi, kalau kamu membuat masalah dengannya, maka kamu akan bermasalah denganku juga. Siapapun itu, termasuk kamu, Viona." Bian beralih menatap Viona.


Semua terkesiap mendengar ucapan Bian. Ekspresi Khanza langsung berubah. Bahkan wajahnya merah padam. Entah karena kesal karena pengakuan Bian, atau karena malu. Jangan tanyakan lagi dengan Ameena, gadis itu rasanya ingin berjingkat karena terlalu senang mendengar Bian mengatakan kalau Amara adalah wanitanya.


Mara, where are you.. Kak Bian jahat. Kenapa mengatakan ini saat Amara sedang keluar. Huh, Mara.. sepertinya kamu akan pingsan di tempat mendengar ucapan Kak Bian.


"K.. Kak Bian nggak salah ngomong kan? Atau mungkin Kak Bian sedang tidak baik-baik saja?" Tanya Khanza lagi. Gadis itu sepertinya masih tidak percaya dengan yang didengarnya tadi.


"Aku nggak salah ngomong. Dan ... saat ini aku juga sedang sangat baik. Aku malahan sengaja membawa wanitaku kemari, agar kamu tau kalau aku sudah ada yang memiliki."


Khanza menelan ludahnya seraya mengalihkan pandangannya. Air mata mulai menganak sungai. Tanpa aba-aba, dia bergegas meninggalkan tempat itu. Dadanya seperti mendidih menahan kesal. Sialnya, dia malah berpapasan dengan Amara di pintu masuk. Ia menatap tajam pada Amara. Kilat amarah terlihat jelas di matanya.


"Dasar pengkhianat...!" Khanza menyenggol lengan Amara lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Amara menautkan alisnya heran. Bingung dengan ucapan Khanza. Tetapi, ia melanjutkan langkahnya untuk masuk karena ingin segera meninggalkan tempat itu.


*********


__ADS_2