Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Mencari Tau


__ADS_3

Amara menutup mulutnya menahan isak tangisnya. Gadis itu baru saja selesai bicara dengan papanya. Namun, cerita Pak Arif tentang kedatangan Bian dan permintaan Bian untuk menghubunginya membuat air matanya mengalir tanpa diminta. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya benar-benar merindukan pria itu. Namun, dia ingin memastikan kalau semuanya aman terkendali sebelum menghubungi pria itu.


Setelah lelah menangis, Amara menatap handphonenya lama. Tiba-tiba tangannya meraih handphone yang diletakkannya asal di atas tempat tidur itu. Tangannya spontan mengetik nomor telepon Bian yang masih dihafalnya di luar kepala. Ternyata keinginan hati dan perkataannya tidak sinkron. Keinginan menghubungi Bian datang dari lubuk hatinya yang sangat merindukan pria itu. Sedangkan mulutnya selalu berkata, akan menghubungi Bian jika keadaannya sudah benar-benar aman.


Amara menatap benda gepeng itu saat panggilannya tidak terjawab. Bian tidak menjawab panggilannya yang pertama. Amara tidak menyerah. Ia mencoba kembali, menempelkan handphone itu di telinganya. Dadanya sudah terasa tidak nyaman menunggu panggilannya yang belum terjawab.


Deg..!


Amara menelan ludahnya saat panggilannya terjawab. Bibirnya terkatup rapat tidak bisa mengatakan apapun. Ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya untuk menahan suaranya agar tidak keluar.


"Halo.."


"Halo, ini siapa?"


Amara mematikan sambungan telepon itu. Ia tidak kuasa menahan perasaan bersalahnya pada pria itu. Alih-alih bisa bicara, yang ada malah isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi.


Meletakkan handphonenya kembali. Kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan. Beberapa kali menarik nafas panjang untuk menenangkan perasaannya yang terasa hambar.


Amara menatap handphone yang sudah diletakkannya. Kembali mencoba menghubungi Bian. Ia tidak menunggu terlalu lama karena Bian langsung menjawab panggilannya. Amara menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak didengar Bian.


"Halo, selamat malam. Ini dengan siapa? Jika ada yang ingin disampaikan, silahkan. Saya sudah dua kali ini menerima panggilan anda, tetapi anda tidak mau bicara. Jika anda belum siap bicara, silahkan hubungi saya di lain waktu. Untuk saat ini saya mau istirahat."


Amara langsung memutus sambungan itu. "Ya Allah.. kenapa dadaku terasa sesak." Mengusap-usap dadanya lalu mengusap air mata yang masih saja mengalir.


Tok.. tok.. tok..


"Nona Amara, apa Nona baik-baik saja?"


Amara tertegun saat mendengar suara Myta di depan pintu. Ia segera membersihkan sisa-sisa air matanya. "A.. aku baik-baik saja, Mbak." Jawabnya sambil mengusap air matanya.


Ceklek..!


Pintu terbuka dari luar. Myta selalu membawa kunci cadangan kamar Amara karena mengkhawatirkan wanita itu. Dia takut kalau Amara misalnya mencoba melakukan percobaan bunuh diri karena belum diizinkan untuk pulang. Amara hanya bisa diam. Saat ini dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya karena Myta sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa Nona menangis? Apa ada ucapanku sebelum ini yang kurang berkenan di hati Nona?"

__ADS_1


Amara menggeleng pelan. Menarik nafas dalam untuk menenangkan pikirannya.


"Lalu apa yang membuat Nona menangis?" Myta duduk di samping Amara, menarik tubuhnya sampai jatuh ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku, Mbak. Tadi aku menghubungi Kak Bian. Tapi ... tapi aku tidak bisa bicara saat mendengar suaranya." Amara kembali menangis dalam pelukan Myta.


Myta membuang nafasnya dengan kasar. "Aku pernah merasakan perasaan rindu pada seseorang yang aku cintai. Tapi, rinduku tidak tersampaikan karena orang yang aku rindukan sudah meninggal dunia."


Amara menarik tubuhnya dari pelukan Myta. Menatap wanita itu dengan heran. Selama ini, dia tidak tau kalau Myta berpisah dengan suaminya karena suaminya meninggal dunia.


"Hah, sudahlah Non. Nggak usah pikirkan aku. Lebih baik Nona Amara fokus dengan urusan Nona. Aku sudah lama berpisah dan aku merasa baik-baik saja sekarang." Myta beranjak bangkit. "Nona istirahatlah sekarang. Besok Nona harus bekerja. Masalah laki-laki itu, aku yakin dia juga pasti merindukan Nona. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Nona. Semoga takdir segera mempertemukan kalian."


"Aamiin.." ucap Amara dengan suara lirih. Menatap Myta yang beranjak keluar dan mengunci kembali pintu kamarnya.


**********


"Kita akan berangkat ke Tiongkok lusa, Tuan." Daniel mengakhiri laporannya dengan laporan kunjungan kerja ke Tiongkok.


"Hah.." Bian menghela nafas berat. "Iya sudah, itu sudah menjadi kewajiban mau bagaimana lagi." Pria itu membuka jasnya karena mau mengambil air wudhu' untuk shalat zuhur. Melipat lengan kemejanya dengan menampakkan wajah kusut.


"Baik, Tuan." Daniel beranjak keluar dari ruangan Bian. Sementara itu, Bian beranjak ke kamar mandi.


Usah shalat, Bian mengambil handphonenya. Nomor asing yang menghubunginya dua malam yang lalu masih membuatnya penasaran. Nomor itu tidak pernah menghubunginya lagi sampai sekarang. Namun, hal itu justru membuatnya semakin penasaran.


Bian ingin menghubungi nomor itu. Tetapi ia urungkan dan memilih mengirim pesan singkat terlebih dahulu. Bian memicingkan matanya melihat foto profil pemilik nomor telepon itu. Seorang wanita berhijab. Tetapi, sayangnya foto itu hanya menunjukkan bagian belakang dari kepala si wanita. Pria itu mencoba mengingat, apakah dulu dia punya teman wanita berhijab pas kuliah di Singapura. Pria itu manggut-manggut saat mengingat ada seorang temannya yang berhijab.


Bian mengurungkan niatnya untuk menghubungi wanita itu. Rasanya tidak nyaman karena itu seorang wanita. Ia akhirnya meletakkan kembali handphonenya. Jika ada yang penting, wanita itu pasti akan menghubunginya kembali.


Pria itu beranjak bangkit. Ia akan kembali ke Apartemennya untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Tiongkok. Ia menghela nafas berat. Pantas saja kakeknya ingin cepat-cepat memintanya untuk mengganti posisinya. Ternyata menjadi seorang pemimpin perusahaan itu penuh dengan tanggung jawab. Selain itu, kesehatan fisik juga harus selalu dijaga karena perjalan bisnis yang tiada henti.


"Tuan, makan siang sudah saya persiapkan."


Bian mengangguk saat Daniel masuk dan memberitahukan tentang kesiapan makan siang. "Kak Daniel jangan kemana-mana. Kita makan siang bersama." Ucapan Bian menghentikan langkah Daniel yang sudah sampai di depan pintu.


Daniel mengurungkan niatnya untuk keluar. Walaupun dia merasa tidak enak kalau harus ikut makan siang dengan jatah makan siang bosnya.

__ADS_1


"Kak Daniel tidak usah sungkan. Jatah itu terlalu banyak untukku." Bian berusaha menetralkan suasana karena Daniel terlihat tidak nyaman.


"I.. iya, Tuan." Daniel akhirnya ikut duduk. Mengambil sedikit nasi yang disediakannya untuk Bian.


Melihat hal itu, Bian menghela nafas berat. Ia menambahkan nasi ke piring Daniel.


"Tuan, ja..."


"Kak, ada nomor asing yang menghubungiku." Bian memotong ucapan Daniel karena tau apa yang akan diucapkan pria itu.


"Nomor asing, maksud Tuan?"


Bian tersenyum kecil karena berhasil mengalihkan perhatian Daniel. "Nomor itu berkode +65. Itu kode negara Singapura kan?"


"Mm.. kalau nggak salah memang benar, Tuan. Apa nomor itu terlihat mencurigakan?"


Bian menelan nasi yang sedang di kunyahnya sebelum menjawab pertanyaan Daniel. "Nomor itu beberapa kali menghubungiku. Tapi, orangnya tidak pernah bicara. Aku beberapa kali bertanya, tapi orangnya tetap diam. Itu yang membuatku bingung, Kak."


"Mm.. apa aku perlu menyelidiki nomor itu untuk Tuan?" Asisten siaga langsung membaca keinginan tuannya.


"Terserah Kak Daniel. Itu nomornya ada di sana." Bian menggeser handphonenya ke hadapan Daniel. "Nanti kita urus yang itu. Sekarang kita makan siang dulu."


"Iya, Tuan." Daniel melanjutkan makan siangnya. Dia jadi penasaran dengan nomor telepon yang dimaksud Bian itu.


Sementara itu, Bian beberapa kali melirik Daniel. Asistennya itu selalu siap siaga membantunya mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.


Bian POV...


Sebenarnya aku tidak enak membagi masalah ini pada Kak Daniel. Dia sudah menanggung banyak beban. Tapi, aku tidak tau kepada siapa akan membagi hal ini. Dia mempunyai pengalaman yang lebih dalam hal ini. Aku tidak tahu menahu masalah pelacakan nomor. Yang aku tau, nomor telepon itu hanya berkode negara Singapura.


Tapi, aku merasakan sedikit keganjalan saat melihat foto profil itu. Wanita itu... tapi siapa ya. Aku seperti mengenalnya, tapi siapa...?


Aku memang punya satu teman yang memakai hijab dulu waktu aku kuliah di Singapura. Tapi, namanya saja aku tidak ingat, karena temanku itu cukup pendiam. Aku hanya bicara beberapa kali dengannya karena itu, sifatnya yang terlalu pendiam.


Hah, sudahlah.. terlalu memikirkan itu malah membuatku pusing. Biarlah Kak Daniel yang mengurus ini. Nanti aku akan tanyakan padanya jika sudah membuahkan hasil. Ingin mengabaikan, tetapi aku penasaran. Mudah-mudahan Kak Daniel bisa menjawab semua tanda tanya dalam pikiranku.

__ADS_1


********


__ADS_2