Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Salah jalur atau lupa jalur


__ADS_3

"Hah, calon? Maksud Mbak Dira?" Bian menganga tidak percaya.


"Tidak bermaksud apa-apa, Pak. Hati-hati di jalan, Pak. Semoga semua urusan Pak Bian dilancarkan. Selamat pagi, Pak..." Dira menunduk sopan.


Bian menghela nafas berat seraya membuang pandangan. "Assalamu'alaikum.." langsung berlalu keluar tanpa mengajak dua gadis yang hanya bisa melongo melihat tingkahnya.


"Kenapa sih, semua orang pada bersikap aneh hari ini?" Bian menyandarkan tubuhnya seraya beristighfar. "Hmm... aku yang aneh apa mereka sih?!" Kembali menegakkan tubuhnya. Memutar kembali rentetan kejadian sejak dia menjemput Amara dan Ameena di kostnya. Bian mengusap wajahnya dengan kasar setelah mengingat semuanya. "Astagfirullah.. ya Allah ... ternyata aku yang aneh. Tiba-tiba datang ke Kostan orang dan marah-marah tanpa alasan yang jelas. Huh, pantas saja Ameena terlihat kesel terus sama aku." Kembali bersandar seraya melipat tangannya di belakang kepala.


Amara dan Ameena tiba-tiba masuk ke dalam mobil. Tindakan dua wanita itu berhasil membuat Bian terlonjak kaget. "Astagfirullah.." spontan berbalik ke belakang menatap dua wanita itu. "Kalian ini kenapa sih?!"


"Kami kira Kak Bian meninggalkan kami." Jawab Amara. "Maaf membuat Kak Bian terkejut." Sambungnya seraya memasang seat belt.


"Nggak apa-apa."


Bian POV...


Aku menghela nafas berat. Kalau emosi ini terus dipelihara, rasanya aku ingin menumpahkan semua kekesalan ini pada dua wanita yang duduk di belakangku ini. Entah mengapa aku merasa kesal pada Amara sejak dia mengabaikan pesanku semalam. Padahal dia sudah menjelaskan padaku alasannya. Tapi tetap saja aku tidak suka diabaikan. Dan untuk Ameena, gadis ini semakin kesini semakin cerewet dan tidak bisa mengontrol ucapannya di depanku. Huh, padahal dulu kalemnya minta ampun pas kita masih SMA.


Aku merasa malah Amara yang berubah jauh sekarang. Dulu gadis ini yang blak-blakan dan tidak bisa menjaga sikap di depanku. Tapi, saat ini dia terlihat sangat menghormati dan menghargai keberadaanku. Aku sudah sering semobil berdua dengannya. Kata Niko, wanita akan ke merubah sifatnya ketika dia memiliki perasaan pada kita. Tapi.. masa sih kayak gitu?


Sejauh yang aku perhatikan, Amara tidak hanya merubah sikapnya saat di depanku. Tapi dia juga berubah dimana-mana. Apa dia memang berubah karena sadar kalau dirinya bukan anak-anak lagi.


Huh, aku beberapa kali menarik nafas panjang. Aku terlihat konsentrasi menyetir. Tapi pikiranku dipenuhi dengan berbagai macam kejadian yang aku sendiri belum mengerti sepenuhnya.


Akhir-akhir ini aku sering memikirkan Amara. Saat aku sendiri, aku sering mengingat tingkah-tingkah konyol gadis ini. Aku bahkan sering senyum-senyum sendiri saat mengingat betapa polosnya dia. Tidak ragu menanyakan bacaan shalat saat ada yang dia lupakan. Aku rasa semua itu terekam indah dan akan menjadi kenangan terindah kami. Aku juga sering merasa aneh. Apa.. apa aku ada rasa pada gadis ini?


Aku meliriknya lewat kaca spion. Dia terlihat duduk bersandar dengan mata terpejam. Hmm.. apakah dia merasa tertekan karena aku memaksanya ikut denganku? Heh, kayaknya aku harus memperjelas semuanya nanti. Aku.. aku tidak mau menderita karena terpaksa mengikuti keinginanku.


Hah, kok aku harus mengerti perasaannya sekarang. Hmm.. apakah ini yang dimaksud Niko, merubah sikap saat berada di depan orang yang kita cintai. Jangan-jangan bukan Amara yang berubah. Tapi aku yang berubah karena.. tapi karena apa..?

__ADS_1


Aku tidak suka ada yang mendekati Amara. Apalagi saat melihatnya ngobrol dengan pria lain. Kok aku benar-benar kesal. Jangan tanyakan lagi masalah semalam saat dia mengabaikan pesanku. Rasanya aku ingin mendatangi kostnya dan memintanya mematikan sambungan telepon dengan orang yang sedang mengajaknya ngobrol. Iya.. walaupun kenyataannya dia sedang membujuk keponakanku sendiri agar mau tidur di awal waktu.


Aku baru sadar, aku kok seperti pria posesif. Aku merasa Amara itu adalah milikku, walaupun kami tidak memiliki hubungan apapun. Aku tidak suka melihatnya berhubungan dengan siapapun. Hah, aku hanya bisa mengusap wajahku dengan kasar setelah menyadari semuanya.


__________


Ameena tidak henti-hentinya memperhatikan tingkah Bian. Wanita itu sadar, kalau Bian tidak konsentrasi menyetir. Terlihat dari beberapa kali ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melirik ke arah Amara. Dia langsung melengos saat tau kalau Amara malah sudah terlelap.


Ameena melotot saat Bian melewati gedung Kampus tempatnya kuliah. Tangannya sudah terangkat, siap untuk menegur Bian. Tapi, dia menurunkan kembali tangannya. Mengurungkan niatnya dan membiarkan Bian melajukan kendaraannya, kemanapun pria itu membawa mereka.


Sepuluh menit kemudian..


Mobil Bian memasuki halaman rumahnya. Hal itu tentu saja membuat Ameena melotot karena kaget. Untuk apa Bian membawa mereka ke rumahnya. Tapi, mulutnya seperti terkunci dan tidak bisa mengatakan apapun.


Ameena masih bengong melihat Bian yang keluar dari mobil tanpa mengajak mereka sama sekali. Apakah ada sesuatu yang akan diambilnya di dalam rumah? Pertanyaan itu terlintas dalam pikiran gadis itu.


Ameena masih terus memperhatikan tingkah Bian sampai pria itu sudah berdiri di depan pintu. Dan..


Bian berbalik arah dan kembali mendekati mobilnya. "Na, kenapa nggak peringatkan aku, kalau aku salah tempat membawa kalian?"


"Hah?!" Ameena melengos sambil menahan senyum. "Bisa-bisanya Kak Bian menyalahkan aku. Kan yang membawa Mobil Kak Bian sendiri." Ameena mengecilkan suaranya karena takut Amara terbangun kalau dia bicara dengan volume tinggi.


Bian tersenyum meringis. "Maaf, aku nggak konsentrasi tadi. Aku.. aku salah jalur atau lupa jalur ya.." menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Terlihat seperti orang bodoh yang kesulitan menjawab soal matematika.


"Huh, makanya kalau ada rasa sama seseorang itu, diungkapkan Pak ya. Kalau dipendam sendiri, bakalan kayak gini jadinya. Sampai salah jalur ke Kampus sendiri. Kalau Kak Bian menjadi driver online, kayaknya para penumpang tidak akan mau memberikan bintang pada Kak Bian. Otaknya ngebleng karena tidak bisa mengungkapkan cinta."


Bian hanya diam mendengar omelan Ameena. Dia memutar kembali kendaraannya untuk kembali ke Kampus. Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasakan perasaan aneh seperti ini. Bahkan perasaan ini sampai membawanya sampai lupa pada tujuan utamanya. Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Bian terlihat berusaha konsentrasi, agar tidak salah jalur lagi. Jangan sampai kerena perasaan aneh ini, dia malah membawa Amara dan Ameena kembali ke Butiknya.


********

__ADS_1


"Kalian tunggu aku di mobil. Aku ada kelas kurang lebih sampai satu jam ke depan." Bian berucap sambil melepas seat belt. Dengan santainya meminta Amara dan Ameena untuk tinggal di mobil selama dia pergi.


"Hah, Kak Bian gila mau meninggalkan kami di mobil."


"Sebentar aja, Na. Jangan berisik nanti dia bangun."


"Satu jam itu lama, Kak. Bisa kehabisan oksigen kami kalau diam selama itu. Huh," Ameena melengos kesal. "Kenaoa nggak menyuruh kami menunggu di Kafe atau apa kek."


Bian mengernyit mendengar ucapan Ameena. "Oh, kamu mau nunggu di kafe?"


"Iya.. dimanapun sih sebenarnya. Intinya buat kami merasa tidak bosan menunggu. Tau sendiri kan, kalau menunggu itu adalah hal yang paling menyebalkan. Kak Bian aja ngeluh tadi pas nunggu kami di Butik. Padahal nunggunnya cuman setengah jam." Ameena berkata sambil membuang pandangannya.


"Tapi.. kalau kalian pindah tempat, otomatis kamu harus membangunkan Amara dong." Bian melirik Ameena. Yang dilirik malah melengos. Hari ini Ameena benar-benar cerewet dan banyak permintaan. Gadis itu memang sering seperti itu. Kalau dia kurang istirahat, paginya dia akan membuat orang lain kesal karena tidak mau kalah.


"Udah jelas dibangunin lah. Memangnya Kak Bian mau menggendong dia keluar."


"Ah," Bian menggeleng pelan. "Hal itu tidak boleh sembarangan dilakukan, Na. Yang boleh melakukan itu hanya pasangan suami istri atau orang lain, tapi jika keadaan sedang darurat."


"Yang ini juga sedang darurat, Kak. Kak Bian kan khawatir membangunkan dia."


"T.. tidak seperti itu. Silahkan kamu bangunkan saja. Aku harus segera masuk. Lima belas menit lagi kelas akan dimulai. Kunci mobil aku tinggal disini. Kalau kamu jadi keluar, minta tolong bawa kuncinya." Bian membuka pintu mobil setelah menyelesaikan ucapannya.


"Eh, tunggu, Kak!"


Bian kembali berbalik seraya menatap heran pada Ameena. "Ada apa lagi?"


"M..minta uang untuk membeli secangkir kopi. Mana mungkin kami akan duduk saja tanpa memesan apapun."


Bian memejamkan matanya. "M.. maaf aku lupa. Tapi, aku nggak ada uang cash. Ini.." menyerahkan sebuah kartu pada Ameena. "Bawa aja ini. Mara tau passwordnya. Pakai saja, tapi jangan menghamburkan isinya. Tau sendiri kan, kalau mencari uang tidak semudah membalikkan telapak tangan."

__ADS_1


"Ehehehe.." Ameena tersenyum salah tingkah mendengar ucapan Bian.


*******


__ADS_2