Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bertemu dengan Khanza


__ADS_3

"Bagaimana, Nona Khanza? Jika anda setuju dengan syarat yang Tuan Muda ajukan tadi, saya akan membebaskan anda dan kita tidak akan berhubungan lagi ke depannya." Daniel mengetuk-ngetuk meja di depannya menunggu jawaban Khanza. Namun, wanita itu terlihat masih mempertimbangkan tawaran Daniel.


"Tuan Muda tidak mau yang muluk-muluk, Nona. Anda cukup minta maaf pada Nyonya Amara, mengakui Semua kesalahan Nona dan bersumpah untuk tidak mengulangi hal bodoh itu lagi. Lagian, mau anda jungkir balik sekuat apapun, Tuan Muda tidak akan pernah menatap anda."


"Saya akan pikirkan dulu, Pak Daniel."


Daniel mendengus. "Kami tidak punya banyak waktu untuk menemui anda lagi. Ini adalah kesempatan terakhir anda. Di sini tidak nyaman, Nona. Anda tidur di lantai. Makan dengan makanan seadanya. Apalagi anda adalah orang terhormat seperti kata Papa anda. Anda itu seorang Direktur loh. Masa Ibu Direktur tidur di lantai. Belum lagi, Ibu Direktur tersandung kasus p********. Jika anda mau tidur di tempat yang nyaman, anda hanya perlu menurunkan sedikit ego anda, Nona. Anda cukup minta maaf dengan tulus pada Nyonya Amara."


Khanza menelan ludahnya mendengar ejekan Daniel. Ingin menimpali, tetapi mulutnya seperti terkunci, tidak bisa mengatakan apapun.


"Saya beri anda waktu lima menit untuk memilih. Jika dalam rentan waktu itu anda masih diam, itu berarti anda menolak tawaran kami. Ini adalah kesempatan terakhir. Kesempatan ini tidak akan datang lagi untuk Nona."


"Mm.. b.. bagaimana saya harus minta maaf pada wanita itu?" Khanza bertanya sambil membuang pandangannya. Terlihat jelas kalau wanita itu sangat gengsi untuk melakukan hal itu. Dia merasa tidak pantas minta maaf pada Amara, karena merasa levelnya lebih tinggi dari Amara.


Kali ini Daniel menghela nafas berat. "Anda pikirkan sendiri bagaimana caranya, Nona. Apa anda tidak pernah minta maaf selama hidup anda? Anda terlihat sangat bodoh kalau hal sekecil itu saja anda tidak tau."


"Pak Daniel, apa anda bisa berhenti meremehkan saya?! Dari tadi telinga saya sakit mendengar ucapan mencemooh anda pada saya."


Daniel tersenyum sinis. "Baru mendengarkan ucapan seperti itu saja, anda sudah sakit hati. Apa anda pernah memikirkan bagaimana perasaan Nyonya Amara saat anda mengirimkan gambar fitnah itu?"


"Aku.. aku.." Khanza kehilangan kata-kata.


"Tidak perlu dibahas, Nona. Sekarang silahkan anda putuskan, apakah anda mau minta maaf atau bertahan di tempat ini."


"Aku.. aku akan minta maaf pada Amara. Tapi, beri aku waktu untuk memikirkan kalimat yang akan aku pakai untuk minta maaf padanya."


"Bagus, keputusan ini terdengar lebih baik. Saya akan memberitahukan hal ini pada Tuan Muda, agar dia bisa memutuskan dimana tempatnya."

__ADS_1


"Apa anda bisa mengeluarkan saya dari tempat ini sekarang? Saya berjanji akan datang menemui Amara besok."


Daniel langsung melayangkan tatapan tajam pada Khanza. "Ucapan anda tidak bisa di pegang, Nona. Saya akan membebaskan anda, jika anda sudah minta maaf pada Nyonya Amara."


"Terus, aku harus tidur di tempat ini lagi malam ini."


"Itu hal yang pasti, Nona. Jika anda bersedia minta maaf saat ini pada Nyonya Amara dan Tuan Muda yakin dengan apa yang anda ucapkan, saya bisa membawa Nona Khanza untuk menemuinya sekarang."


"Tapi aku butuh persiapan, Pak Daniel." Khanza berdecak kesal. Kata maaf sudah pasti sangat sulit terucap dari mulutnya.


"Keputusan ada di tangan anda, Nona. Semakin cepat semakin baik. Saya akan keluar untuk menemui Tuan Muda." Daniel beranjak bangkit.


"Tunggu, Pak Daniel!"


Daniel berbalik seraya menatap Khanza. "Apa anda berubah pikiran, Nona."


"Aku.. aku hanya mau menanyakan sesuatu pada Pak Daniel." Ucap Khanza dengan ragu.


"Kenapa.. kenapa Kak Bian tidak ikut masuk untuk menjengukku?"


"Hah?!" Ingin rasanya Daniel tertawa mendengar pertanyaan wanita itu. "Apa anda pikir Tuan Muda ada niat sebaik itu pada anda?" Akhirnya Daniel tertawa kecil. "Jangankan menjenguk anda, membayangkan wajah anda saja sepertinya tidak pernah. Yang ada Tuan Muda benar-benar muak dengan drama yang anda buat. Tapi, jika anda minta maaf dan merubah sikap anda. Mungkin Tuan Muda tidak akan muak dengan anda lagi."


Khanza menelan ludahnya mendengar jawaban Daniel. Jawaban yang tidak diharapkannya sama sekali.


"Jangan berharap terlalu banyak, Nona. Tidak dibenci saja, itu adalah sebuah keberuntungan." Daniel beralih menatap ke arah pintu karena melihat penjaganya sudah berdiri di sana. "Jam berkunjung sudah habis. Silahkan anda pikirkan ucapan saya tadi. Mudah-mudahan Allah membukakan pintu hidayah untuk anda." Kali ini Daniel benar-benar keluar dari ruangan itu tanpa melirik Khanza sama sekali.


Selepas kepergian Daniel, Khanza langsung di giring kembali ke dalam sel tahanan. Air matanya jatuh beberapa tetes saat harus masuk kembali ke tempat itu. Ia merasa menjadi manusia yang paling hina saat ini. Memilih duduk di pojok, memeluk lututnya sambil mulai memikirkan tawaran Daniel tadi.

__ADS_1


"Hah, kenapa Papa tidak bisa menolongku saat ini. Biasanya Papa selalu menjadi orang pertama yang menolongku saat aku lemah seperti ini. Kenapa Papa tidak menggunakan kekuasaan Papa untuk mengeluarkan ku dari tempat hina ini?" Khanza terus bicara pada dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Setengah bulan mendekam di tempat itu membuatnya kehilangan kepercayaan dirinya. Wajah yang biasanya selalu terawat, kini tidak pernah bersentuhan dengan skin care lagi. Hanya sabun batang yang disediakan di tempat itu.


"Papa.. kenapa Papa tega membiarkan anak Papa seperti ini.." menggigit bibir bawahnya karena tidak tau mau melampiaskan rasa kesalnya pada siapa. Teman-temannya di ruangan itu semuanya lebih kuat darinya. Mereka akan langsung membentak jika melihat Khanza menangis.


Di tempat itu, tidak ada yang bersimpati. Yang kuat itulah pemenangnya. Tidak ada yang mengenal kamu karena harta. Karena yang masuk ke ke sana pasti seorang narapidana.


***********


Bian tersenyum kecil saat mendengar laporan yang di bawa Daniel. "Bagus, setidaknya wanita itu mau menurunkan egonya. Kita harus tegas padanya, agara Pak Edward tidak terus-terusan meremehkan kita." Memperbaiki jasnya yang tidak berantakan. "Ayo kita pulang. Tempat ini terasa sangat panas."


"Baik, Tuan." Dengan sigap, Daniel membukakan pintu mobil untuk tuannya. Ia langsung mengantar Bian pulang karena tidak ada yang perlu di urus lagi. Daniel tersenyum bahagian dalam hatinya karena Bian terlihat puas dengan hasil kerja kerasnya. Khanza memang kehabisan langkah. Kalau maju, ia harus rela menurunkan egonya untuk minta maaf pada Amara. Sedangkan kalau mundur, ia harus bertahan dengan keadaan di tempat yang telah dihadiahkan Bian untuknya.


Mobil yang dikendarai Daniel berhenti sempurna di halaman rumah Bian. Bian langsung membuka pintu mobil, tetapi ia kembali duduk dengan tegak karena ada yang ingin dia tanyakan pada Daniel.


"Jam berapa wanita itu akan menemui istriku untuk minta maaf, Kak?"


"Oh, sesuai perjanjian, Nona Khanza di izinkan meninggalkan lapas jam dua siang, Tuan."


"Kak Daniel atur semuanya. Pastikan wanita itu tidak akan berani membuat masalah baru lagi. Alu nggak mau ada kata-kata yang tidak pantas yang keluar dari mulutnya. Jangan sampai dia menyakiti istriku."


"Baik, Tuan. Sepertinya, hukuman yang dijalaninya saat ini terasa cukup berat, Tuan. Nona Khanza terlihat lelah. Selain lelah karena banyak pikiran, Nona Khanza juga terlihat tertekan karena tidak biasa dengan keadaan lapas yang benar-benar berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya. Dia juga menangis saat saya pergi tadi. Dia pikir daya akan membawanya langsung untuk menemui Nyonya. Dia menanyakan kenapa Tuan tidak ikut masuk untuk melihatnya."


"Hah," Bian tersenyum getir. "Percaya diri sekali dia berkata begitu. Jika saja aku tidak kasihan pada papanya, aku tidak akan melakukan ini. Buang-buang waktu dan tenaga. Aku juga memikirkan permintaan kakek karena Pak Edward adalah sahabatnya."


"Nona Khanza terlihat sangat tertekan, Tuan." Daniel melanjutkan laporannya.


Bian tersenyum kecil. "Itu yang kita butuhkan. Setidaknya dia akan berpikir dua kali jika ingin mengulang kesalahan yang sama suatu saat nanti." Bian menepuk-nepuk pundak Daniel. "Terimakasih untuk hari ini, Kak. Aku tidak akan bisa bergerak cepat tanpa bantuan Kak Daniel."

__ADS_1


Daniel hanya mengangguk kecil untuk menjawab. Hanya matanya yang melirik tuannya yang sudah turun dari mobil. Bibirnya mengulas senyum tipis karena bisa membuat Bian puas dengan hasil kinerjanya. Hanya butuh pembuktian besok. Mudah-mudah Khanza bisa memegang ucapannya dan tidak membuat masalah yang baru. Jika wanita itu membuat masalah lagi. Tidak menutup kemungkinan kalau Bian akan menutup pintu maaf untuknya. Bisa jadi, Bian akan membiarkannya mendekam sampai masa hukumannya berakhir.


**********


__ADS_2