Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Bulan Madu di Rumah Sakit


__ADS_3

Pintu terbuka lebar. "Tuan..." Daniel menunduk sopan diikuti seorang wanita di belakangnya.


Bian langsung membuang pandangannya saat melihat siapa yang datang bersama Daniel. "Kenapa Kak Daniel membawa wanita itu kemari?" Tanyanya dengan ketus. Masih menatap ke lain arah karena enggan menatap Myta.


Daniel mengisyaratkan pada Myta dengan ekor matanya agar wanita itu mendekati Bian. Myta menarik nafas dalam sebelum akhirnya melangkah maju dengan ragu. Tidak sedikit pun wanita itu berani mengangkat wajahnya. "Maafkan saya, Tuan. Saya akan bertanggung jawab penuh atas perbuatan saya itu. Saya baru tau, kalau Tuan adalah cucu orang penting. Saya benar-benar tidak tau hal itu, Tuan. Maafkan saya..."


Mendengar ucapan Myta membuat Bian semakin enggan menatap wanita itu. Jika dia bukan cucu Pak Akmal, apakah wanita itu tidak akan minta maaf atas semua yang sudah dia lakukan pada Amara. Bian hanya menghela nafas berat tanpa sedikit pun menimpali ucapan wanita itu.


"Saya akan merawat Nona Amara sampai dia benar-benar sembuh, Tuan." Ucap Mata lagi. Dia harus benar-benar meyakinkan Bian agar bisa dimaafkan.


"Heh.." Bian tersenyum sinis seraya berbalik menatap Myta. Matanya tajam menatap wanita itu. "Apakah aku masih bisa percaya padamu, setelah apa yang kamu lakukan pada istriku?" Bian kembali membuang pandangannya. "Aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu berulang kali. Cukup sekali dan itu tidak akan pernah terulang. Masalah ini akan di urus oleh pihak yang berwajib. Mau kamu menyeret nenek pun, aku tidak perduli."


"Tuan...!" Daniel maju beberapa langkah.


Bian langsung mengangkat tangannya, membuat Daniel menghentikan langkahnya. Jangan coba-coba melindunginya saat ini."


"Tidak, Tuan. Jika Tuan menyeret Nyonya Besar, maka reputasi Tuan yang akan hancur." Daniel tetap bicara walaupun mendapat penolakan dari Bian.


"Istriku lebih berharga daripada sebuah reputasi."


"Tapi, bukan hanya reputasi Tuan saja. Reputasi Tuan Besar juga akan hancur jika Tuan melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib."


"Yang bersalah harus bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya. Jika dibiarkan, pasti dia akan mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak menghukum Nenekku. Aku hanya menghukum kesalahan yang di perbuatnya. Jika terus dibiarkan, aku takut dia mengulang kesalahan yang sama tanpa di pikir dua kali."


"Oh," Daniel menggigit bibir bawahnya karena bingung harus bilang apa lagi. Sifat Bian yang keras kepala membuatnya sulit membujuk pria itu.


"Silahkan Kak Daniel bawa wanita ini keluar. Aku tidak mau kehadirannya mengganggu istirahat istriku."


"B.. baik, Tuan." Daniel langkung mundur, mengisyaratkan pada Myta agar mengikuti Daniel keluar dari ruang perawatan Amara.


Bian melirik ke belakanya. Setelah yakin kalau dua orang itu sudah keluar, ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia merasa cobaan kali ini benar-benar menguji kesabarannya. Pria itu kembali duduk di samping pembaringan istrinya. Meraih tangannya lalu menciumnya dengan lembut. Ia merebahkan kepalanya di samping kepala Amara. Memejamkan matanya dan ikut terlelap di samping wanitanya itu.


*********

__ADS_1


Humaira, Chayra dan Ameena bersiap masuk ke ruangan tempat Amara di rawat. Namun, ketiga wanita itu berhenti di depan pintu saat melihat pemandangan di depannya. Bian sedang memperbaiki posisi tidur Amara. Setelah merasa nyaman, pria itu memberikan satu ciuman di dahi istrinya. Pemandangan itu membuat Humaira dan Ameena menelan ludahnya. Sementara Chayra tersenyum bahagia melihat pemandangan itu. Ia bahagia karena adiknya memberikan kasih sayang yang penuh pada istrinya.


"Aaaa... so sweet..." Humaira menatap Ameena sambil tersenyum meringis. Dua jomblo sejati itu benar-benar iri melihat pemandangan di depannya. Setelah keadaan stabil dan melihat Bian duduk di sofa, ketiga wanita itu mengucap salam dan masuk ke dalam ruangan. Mereka langsung mengambil posisi di samping pembaringan Amara.


"Belum ada perkembangan, Bi?" Humaira menatap Bian yang sedang fokus menatap laptop di depannya. Ini adalah hari ke empat Amara di rawat. Tapi, belum ada tanda-tanda akan diizinkan pulang oleh Dokter.


"Ada tapi sedikit." Jawab Bian tanpa mengalihkan pandangannya. "Dosisnya sedang dikurangi sedikit demi sedikit."


Humaira mengalihkan pandangannya pada Amara. "Bagaimana perasaan kamu sekarang, Ra? Apa masih sering cemas atau bagaimana?"


Amara tersenyum lemah. "Aku belum tau, Kak. Tapi, aku ingin segera pulih biar tidak merepotkan kalian."


"Khmm.." Bian berdehem sambil melirik istrinya.


"Apa..?" Tanya Ameena dan Humaira kompak menatap Bian.


"Tidak ada yang merepotkan mereka, Ra. Mereka kan datang sesekali menjenguk kamu." Jawab Bian, masih fokus menatap laptop.


Humaira tersenyum kecil. "Hmm.. kalian masih pengantin baru. Nggak enak kalau aku terlalu sering datang. Aku takut mengganggu waktu kalian."


"Kasihan sekali ya. Seharusnya kalian bulan madu ke tempat yang indah. Menginap di Villa mewah di tengah pulau. Eh, ini kok malah bulan madu di Rumah Sakit. Nggak ada enak-enaknya." Ameena berkomentar sambil menyebikkan bibirnya.


Bian langsung melotot. Spontan pria itu beralih menatap Ameena. Baru saja membuka mulutnya untuk menimpali ucapan Ameena, Ameena langsung menyahut lagi.


"Apa.. ?! Berniat mau marah.. ini kan kenyataan." Ameena menaik turunkan alisnya bangga. Ia merasa menang banyak karena Bian terlihat kesulitan untuk menimpali ucapannya.


"Tapi.. insya Allah, ada berkah di balik musibah ini. Mungkin Allah sengaja menunda bulan madu kalian, karena Allah sedang merencanakan yang lebih indah dari rencana yang sudah kalian susun." Humaira menepuk-nepuk punggung tangan Amara.


"Terimakasih, Kak." Ucap Amara seraya tersenyum kecil. Tatapannya terlihat masih kosong. Sebenarnya ia masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan Bian tentang dirinya yang kecanduan obat tidur. Sikap manis Myta sebelum tidur ternyata hanya sandiwara belaka. Ini adalah sebuah pelajaran berharga baginya, untuk tidak mudah percaya pada sikap manis seseorang.


Ameena beranjak bangkit, mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. "Mara, gue lapar nih. Lho punya makanan yang bisa gue makan nggak di sini."


"Makanan banyak di sini, Na. Di kulkas ada, di lemari kecil samping kulkas juga ada. Kalau kamu mau ngopi, tinggal ambil kopi kemasan yang sudah tersimpan di kulkas." Timpal Bian. Pria itu menutup laptopnya lalu menarik nafas dalam.

__ADS_1


"Ibu bilang, kamu meminta Kakak untuk nginap nanti malam." Tanya Chayra yang duduk di samping kanan Amara.


Bian langsung menatap kakaknya. "Ibu nggak ada teman untuk juga Rara. Aku ada pertemuan penting dan nggak tau akan kembali jam berapa. Sebenarnya sih berat meninggalkannya dengan keadaannya yang belum pulih seperti ini. Hah.." Bian menghela nafas berat. "Ini itu sama-sama kewajiban. Kak Daniel tidak bisa mewakilkan aku kali ini. Aku memintanya ke luar kota."


"Hmm..." Chayra manggut-manggut. "Nggak apa-apa, Dek. Biar Kakak yang menemani istrimu kalau begitu. Kamu selesaikan saja tanggung jawab di perusahaan. Itu adalah tanggung jawab besar dari Kakek."


"Terimakasih, Kak." Bian tersenyum kecil seraya menyandarkan tubuhnya. Ia benar-benar kesulitan membagi waktunya saat ini, sampai-sampai Daniel yang harus mewakilkannya mengurus pertemuan ke luar kota. Pertemuan nanti malam pun tidak bisa di tunda ataupun diwakilkan. Bian sulit mempercayai orang lain. Apalagi kalau itu menyangkut perusahaan. Keadaan istrinya juga menjadi beban pikirannya yang paling berat.


Bian mendekati pembaringan istrinya. Hal itu membuat Ameena yang duduk di dekat kepala Amara langsung bangkit untuk memberikan tempat pada Bian. Ameena pindah duduk di sofa tempat Bian tadi. Kembali menikmati makanan yang diambilnya di lemari kecil tadi.


"Ra," Bian tersenyum kecil seraya menatap dalam istrinya. "Maaf ya.. aku harus pergi malam ini." Meraih tangan Amara lalu menciumnya dengan lembut.


"Nggak apa-apa. Kenapa harus minta maaf. Lagian kita nggak bisa ngapa-ngapain kan, walaupun Kak Bian ada di sini." Amara menautkan alisnya, menatap suaminya dengan tatapan sok kecewa.


"Eh," Bian melotot seraya menahan senyum.


Amara ikut menahan senyum. "Malam pertamanya aja di Rumah Sakit." Mengalihkan pandanganya masih menahan senyum.


"Hahaha..." Humaira tidak kuat menahan tawa melihat interaksi pasangan baru itu. "Bian.. istri kamu ngambek karena belum bisa bulan madu. Hahaha..."


Ameena yang sedang makan biskuit tersedak karena tidak kuat untuk tidak tertawa. "Uhuk.. uhuk.. uhuk.. eh, Mara.. lho itu lagi sakit. Bisa-bisanya berkata begitu. Tapi.. kalau kalian pergi bulan madu, aku mau ikut. Nggak apa-apa walaupun di kasih tidur di lantai, yang penting aku bisa melihat kalian seperti ini setiap hari."


Chayra hanya menggeleng-geleng pelan sambil tersenyum. Setidaknya dia bisa bernafas lega karena Amara sudah bisa bercanda lagi.


"Kalau mau sembuh, kamu mau bulan madu ke mana? Aku akan mengabulkan permintaan kamu, kemana pun itu." Ucap Bian, tangannya masih menggenggam erat tangan Amara


"Kemana aja, yang penting jangan di tempat ini." Jawab Amara datar. "Tapi, selama ini... hanya satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi."


"Dimana..? Katakan saja." Bian masih menatap mata istrinya. Memenuhi semua keinginan istrinya setelah istrinya sembuh adalah nazarnya.


Amara menunduk. "Aku.. aku ingin ke tanah suci, Kak. Aku ingin melaksanakan ibadah umroh. Itu adalah keinginan terbesarku selama ini." Melirik suaminya lalu kembali menunduk.


Sepersekian detik Bian tertegun. Ia tidak menyangka kalau Tanah Suci yang akan keluar dari mulut Amara. Dadanya sedikit bergetar mendengar nama tempat itu. Tidak pernah terlintas di pikirannya, kalau tempat itulah yang menjadi tempat impian istrinya. Bukan Paris atau Maladewa.

__ADS_1


***********


__ADS_2