
Amara memeluk tubuh Bian setelah pria itu minta ampun karena sakit di cubit berulang kali oleh istrinya.
"Baru di cubit kayak gitu, sudah mengaduh kesakitan. Aku mah sudah kebal kalau cuman digituin."
Bian hanya tersenyum menanggapi. Melihat istrinya bisa tersenyum lagi sudah membuatnya bahagia.
"Kenapa Kak Bian pergi sampai empat hari. Udah tau punya istri yang menunggu di rumah. Belum lagi, istrinya tidak bisa bergaul dengan baik dengan penguasa rumah." Amara menunjukkan tampang sedih.
"Maafkan aku."
"Huh, kata maafnya sudah terlalu banyak." Amara memukul pelan dada Bian. Melepas pelukannya lalu menatap suaminya. "Pikiranku suntuk, Kak. Aku ingin melihat pemandangan lain selain rumah besar ini."
"Kamu mau melihat pemandangan yang bagaimana, Sayang?" Mencubit gemas pipi istrinya. Amara terlihat lucu dengan ekspresinya yang seperti itu.
"Intinya, aku mau melihat pemandangan yang berbeda dengan pemandangan rumah ini." Amara mendongak membayangkan pemandangan indah di pinggir pantai.
"Tunggu, Ra. Ada panggilan dari Kak Zidane." Bian beranjak bangkit, berjalan sedikit menjauh dari Amara.
Amara melengos. Suaminya itu terlalu sibuk akhir-akhir ini, sehingga dia tidak mempunyai banyak waktu untuknya. Hanya memperhatikan punggung suaminya yang terlihat cukup serius bicara di telepon. Hanya beberapa menit menunggu. Bian kembali ke sampingnya. Melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu.
"Aku mau ke kantor sebentar. Ada yang perlu di bahas dengan Kak Daniel."
Amara diam beberapa saat. "Kak Bian pergi lah. Tapi, selama Kak Bian pergi aku akan tinggal di kamar. Aku nggak mau keluar karena malas bertemu siapa pun."
"Hmm... terserah kamu. Bian termenung sejenak. " Bagaimana kalau kamu ikut saja ke kantor. Tadi kamu bilang ingin melihat pemandangan lain selain pemandangan rumah ini." Menatap istrinya dengan polos.
Amara mengernyit lalu melengos. "Ya nggak segitunya juga kali, Mas. Masa iya sih, refreshing ke kantor suami. Yang ada malah semakin suntuk melihat tumpukan berkas."
"Iya... aku kan cuma menawarkan saja. Untuk beberapa hari ke depan aku masih sibuk. Tapi, aku akan melihat minggu depan. Mudah-mudahan tidak ada pekerjaan yang menuntut kehadiranku." Bian meraih tangan istrinya. "Ikutlah denganku. Setidaknya, kalau kamu ikut ke kantor tidak ada orang yang akan mengajakmu berdebat."
Amara berpikir sejenak. Yang dikatakan suaminya benar. Jika dia ikut ke kantor, dia akan aman dari segala macam gangguan. "Aku ikut dah, Kak." Beranjak bangkit, membuka pintu lemari untuk mencari pakaian yang sekiranya nyaman dan cocok."
"Jangan utamakan style, Sayang. Pakai pakaian yang tertutup tapi membuat kamu nyaman."
"Iya makanya, ini aku juga sedang memilih."
Amara dan Bian keluar setelah merasa semuanya siap dan tidak ada yang kurang. Namun, Amara langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Bu Fatimah begitu mereka melintas di ruang tamu. Hal itu membuat Bian langsung menggenggam erat tangan istrinya.
"Kalau Nenek merasa terganggu dengan kehadiran kami di sini, aku akan segera membawa Rara pergi." Melepaskan tangan istrinya, berganti meraih tangan Neneknya dan menciumnya. "Aku tidak bisa hanya membela salah satu dari kalian. Karena bagaimanapun juga, baik Nenek dan Rara adalah orang yang aku sayangi. Rara sudah berusaha berdamai dengan keadaan, Nek. Aku berharap Nenek juga bisa melakukan itu." Bian melirik istrinya dan memberikan kode padanya. Melihat itu membuat Amara berjalan lebih mendekat pada Bu Fatimah. Mengulurkan tangannya untuk salam. Terlihat jelas kalau Amara sangat kaku. Namun, wanita itu berubah memberikan senyuman terbaiknya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ..." Bian meraih tangan istrinya dan membawanya pergi dari hadapan neneknya.
***********
Bian meminta Amara untuk masuk ke ruangan tempat peristirahatannya di kantor.
"Eh, kok Kantor ini dilengkapi dengan tempat tidur segala ya.." Amara tersenyum sambil terus memperhatikan keadaan sekitar.
"Sudah, kamu istirahat di sini. Aku mau membahas pekerjaan dengan Kak Daniel. Kalau kamu butuh sesuatu untuk di makan, kamu keluar ambil di lemari samping meja kerjaku."
"Tapi Kak Bian sedang bekerja di sana. Aku nggak mungkin lalu lalang dan mengganggu pekerjaan Kak Bian."
"Nggak akan. Intinya kamu tidak berisik, itu sudah cukup bagiku." Bian meraih kepala istrinya dan mencium dahinya. "Aku keluar, Ra."
"Mm..." Amara mengangguk. Matanya masih saja menatap sekitar kamar itu. Tidak ada yang terlihat spesial, tetapi ia masih tidak percaya kalau suaminya memiliki tempat istirahat di kantornya. Walaupun hanya ada spring bed ukuran standard, tapi itu adalah suatu yang menurutnya sangat berbeda.
Amara beranjak bangkit, ia membuka salah satu laci lemari kecil di samping tempat tidur itu. Namun, hanya album foto Bian dan keluarganya yang dia temukan. Ia membolak balik album itu, meletakkannya kembali setelah melihat semuanya.
Sementara itu...
Daniel sedikit heran karena tuannya membawa istri ke Kantor. Ingin bertanya, tetapi Bian terlihat sedang fokus membaca berkas yang diserahkannya tadi.
"Hari Kamis ini, Tuan. Konveksinya cukup memadai menurut saya."
"Kak Daniel sudah mengatur jadwal pertemuannya?"
"Sudah, Tuan."
"Apa ada yang perlu di bahas lagi?" Meletakkan berkas di tangannya lalu beralih menatap Daniel.
"Tuan bisa istirahat."
"Hah, alhamdulillah..." Bian menyandarkan tubuhnya seraya menarik nafas lega.
"Tumben sekali Nona Amara mau ikut ke Kantor bersama Tuan." Pancingan mulai keluar karena Daniel tidak kuat penasaran. Apa mungkin istri tuannya itu ngidam, sehingga mengekor ke Kantor. Menurut Daniel, orang ngidam biasanya memiliki keinginan yang aneh. Hal yang tidak disukainya bisa saja menjadi hal yang sangat diinginkannya.
Bian menegakkan duduknya. Menarik nafas panjang lalu menatap Daniel. "Dia bosan di rumah. Belum lagi Nenek selalu memberikan tatapan tidak bersahabat untuknya, jika kebetulan berpapasan di rumah. Iya.. dia hanya ingin melihat pemandangan lain selain pemandangan rumah."
Daniel manggut-manggut. Apa bedanya sebenarnya kalau dipikir. Di Kantor, Bian meminta istrinya untuk menunggu di dalam kamar khususnya. Tiba-tiba, Daniel kepikiran sesuatu yang sepertinya belum sempat di pikirkan tuannya itu. Atau mungkin Bian memang tidak peka dengan hal itu.
__ADS_1
Daniel memperbaiki posisi duduknya. "Apa Tuan tidak kepikiran sesuatu dengan sikap Nona Amara?"
Bian menautkan alisnya. "Maksudnya?"
Daniel langsung membuang nafas dengan kasar. Sepertinya Bian memang tidak peka dengan hal itu. "Tuan bilang, Nona Amara ingin melihat pemandangan lain selain pemandangan rumah. Itu bisa jadi sebuah kode untuk Tuan. Tuan tidak pernah mengajak Nona Amara pergi berbulan madu."
"Oh," Bian tertegun. Ia melirik Daniel beberapa kali. Sejauh ini dia memang tidak pernah memikirkan honeymoon karena banyaknya tuntutan kerja. Bahkan waktu untuk istrinya pun, terbilang sangat minim. Berangkat jam delapan pagi dan pulang terkadang lewat dari jam sepuluh malam.
"Atau mungkin ..." Daniel melirik Bian. "Apa Nona Amara tidak pernah menceritakan siklus menstruasinya yang berubah?"
"Maksudnya?"
Daniel melengos. Karena sedang membahas selain pekerjaan, Daniel berani menampakkan wajah seperti itu. Bicara dengan Bian benar-benar tidak bisa dengan kode-kodean. Harus pada inti pembicaraan dan tidak bertele-tele.
"Maksud saya, mungkin Nona Amara hamil, Tuan. Soalnya ikut ke Kantor adalah hal yang tidak biasa Nona Amara inginkan.
Giliran Bian yang melengos. Itu mah, aku yang mengajaknya tadi. Lagian dia juga sedang datang bulan sekarang. Apa orang yang menstruasi bisa dikatakan sedang hamil?"
"Ehehehe..." Daniel cengengesan. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya pendapat Kak Daniel yang pertama yang benar. Istriku ingin pergi honeymoon."
"Mmm..." Daniel mengangguk-angguk setuju.
"Lain kali kalau istriku bersikap sedikit aneh, Kak Daniel bantu aku cari solusi agar mengerti keinginannya."
Daniel langsung menggeleng. "Seharusnya tidak seperti itu, Tuan. Jika Nona Amara bersikap aneh, Tuan yang harus belajar mengerti keinginannya. Buktikan kalau Tuan adalah suami siaga dalam keadaan apapun untuknya."
"Masalahnya saya kurang peka, Kak." Bian menyandarkan kembali punggungnya.
"Harus belajar peka mulai sekarang. Tujuan menikah itu memang harus saling memahami kan. Saling melengkapi satu sama lain."
"Iya, saya akan belajar kalau begitu. Tapi, sepertinya ini lebih sulit dari mengurus pekerjaan kantor."
"Jika Tuan benar-benar mencintai istri Tuan, Tuan harus melakukan itu. Dan untuk masalah Nyonya Besar dan Nona Amara. Sepertinya keputusan Tuan untuk tinggal serumah dengan Nyonya Besar perlu dipertimbangkan lagi."
Bian manggut-manggut. "Aku juga memikirkan itu dari kemarin, Kak. Rara benar-benar tidak nyaman tinggal bersama Nenek. Aku harus belajar tentang kode-kode yang diberikan wanita mulai sekarang."
*******
__ADS_1