
Bian menyusuri koridor Rumah Sakit dengan langkah gontai. Suara sepatu pantofel yang dikenakannya memecah keheningan koridor.
"Na, kalian di ruangan mana?" Bian menempelkan handphone di telinganya dengan tangan yang satu memperbaiki posisi tasnya.
"Ruang VIP di lantai dua, Kak. Ruangan ketiga yang ada label bunga mawar putihnya. Tadi perawatnya menyebut VIP tiga sih."
Bian melototkan matanya. Dia sudah berada di lantai lima. Saat bertanya pada resepsionis tadi...
"Oh ya Allah.. aku salah saat bertanya tadi." Bian mengusap wajahnya. Bisa-bisanya dia bertanya pada resepsionis 'pasien atas nama Rara.'
"Maksudnya?" Ameena bingung mendengar ucapan Bian.
"Aku salah bilang tadi pas bertanya. Aku tanya, pasien atas nama Rara di ruangan apa. Pantas aja resepsionisnya bilang, Pasien atas nama Rara di lantai lima, ruangan Anggrek. Pasien tersebut berobat dalam tanggungan BPJS." Bian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tawa Ameena langsung pecah. "Hahahaha... kayaknya Kak Bian terlalu tergesa tadi. Om Arif mana mau putrinya ditaruh di ruangan biasa. Huh, Kak Bian kok aneh. Bisa-bisanya nama panjang kekasih sendiri sampai lupa. Sekarang Kak Bian ada dimana?"
Bian tersenyum meringis. "Iya ... ini ... aku sudah di lantai lima. Masih di depan lift sih." Kembali menggaruk kepalanya.
"Iya udah turun lagi kalau gitu. Siapa suruh nyasar ke lantai lima. Nanti telepon lagi kalau udah di lantai dua." Ameena masih menahan senyum. Sepertinya Bian tidak konsentrasi. Mungkin pria itu terlalu banyak beban pikiran sehingga sampai seperti itu. Ameena meletakkan handphonenya setelah sambungan telepon terputus.
"Siapa, Na?" Pak Arif yang dari tadi penasaran langsung melontarkan pertanyaan saat melihat Ameena meletakkan handphonenya.
"Huh, itu calon mantu Om Arif. Dianya nyasar ke lantai lima gara-gara salah menyebut nama Amara. Bisa-bisanya dia memakai nama panggilannya pada Amara saat bertanya pada resepsionis."
"Oh," Pak Arif terdiam beberapa saat. "Tapi.. sejak kapan Om punya calon mantu?" Bertanya sambil menatap Ameena dengan tajam, menunggu reaksi gadis itu.
"Eh," Ameena langsung memberikan senyuman palsu saat melihat tatapan Pak Arif. "Hehehe... Om bisa tanyakan itu pada Amara nanti. Tapi, jangan menolak kedatangan Kak Bian kali ini. Kasihan dia, sudah bela-belain datang kemari, sampai nyasar ke lantai lima lagi."
Pak Arif menghela nafas berat. Om tidak sejahat itu, Na. Masa ada tamu datang, Om akan mengusirnya sih?!"
"Iya ... siapa tau aja Om. Saking kesalnya karena Amara memiliki penyayang sebelum dia selesai kuliah." Ameena menggoda Pak Arif.
"Hah, Om tidak pernah melarangnya untuk pacaran. Om cuma berharap, dia bisa menyelesaikan kuliahnya sebelum menikah. Tapi, seandainya dia tidak bisa. Iya.. lebih baik menikah daripada nanti malah hal lain yang terjadi." Pak Arif mengakhiri ucapannya dengan menyeruput teh hangat buatan Ameena.
__ADS_1
"Darimana calon mantu Om, Na?"Pak Arif kembali bertanya. Ternyata pria itu penasaran dengan pria yang mencintai putrinya.
"Ya elah, Om.. sebentar lagi juga bertemu. Ngapain aku harus kasih tau coba.." Ameena beralih menatap Amara yang masih terlelap. Gadis itu belum ada tanda-tanda akan membaik walaupun sudah tiga hari di rawat. Beralih menatap handphonenya saat benda gepeng itu berbunyi nyaring.
Pak Arif hanya tersenyum masam. Perasaannya sedikit tidak tenang karena rasa penasaran. Nama pria yang disebut Ameena terasa tidak asing di telinganya. Tapi, dia tidak mau bertanya lagi. Mendengar handphone yang di samping Ameena berbunyi, ia kembali memasang telinga untuk mendengar percakapan gadis itu.
"Oh iya, Kak. Ini aku akan keluar. Kasihan kan, kalau Kak Bian nyasar lagi." Mengisyaratkan pada Pak Arif untuk minta izin keluar. Pak Arif hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Sekitar sepuluh menit berlalu, Ameena kembali ke dalam ruang rawat Amara, diikuti dengan Bian di belakangnya. Saat mereka masuk, Pak Arif sedang rebahan di sofa.
"Assalamu'alaikum, Pak." Bian mendekati Pak Arif, menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengannya.
Pak Arif tersentak. "Wa'alaikumsalam.. loh kok, Nak Bian?" Melongo saat Bian mencium tangannya untuk bersalaman.
"Iya, Pa. Ini Bian.."
"Oh," Pak Arif tidak bisa berkata-kata. Hanya bisa tersenyum kecil pada Bian. Dia masih tidak percaya, kalau yang dibilang calon mantunya oleh Ameena adalah Bian Putra Arianto. Pria yang sering mengantar jemput putrinya ke rumahnya dulu.
"Maaf, Pa.. aku nggak tau kalau Rara sakit. Satu minggu terakhir ini, aku benar-benar sibuk. Bolak-balik ke Kampus untuk persiapan wisuda. Kebetulan di rumah juga ada Kakek dan Nenek yang menginap. Jadi, aku dan Rara jarang saling kontak. Dia juga sibuk praktek sehingga tidak bisa main ke rumah."
"Ini loh, Om calon mantu yang aku bilang tadi. Orangnya tampan dan mapan kok. Tenang saja, Om. Amara itu pandai mencari cowok. Nggak bakalan ngecewain Om kok."
Pak Arif melengos mendengar ucapan Ameena. "Kalau yang ini sih, Om sering bertemu, Na. Kan dulu dia sering mengantar Mara pulang."
Bian hanya bisa tersenyum salah tingkah. Ia bangkit lalu duduk di samping Pak Arif. "Maaf tidak pernah minta izin untuk mendekati putri Papa."
"Ah," giliran Pak Arif yang tersenyum salah tingkah. "Dipanggil Papa sama Nak Bian rasanya gimana gitu..? Papa tidak punya anak laki-laki loh, Nak. Jadi mendengar Nak Bian manggil gitu, saya seperti diistimewakan."
"Tapi, Papa nggak marah kan, kalau aku manggil Papa?" Bian bertanya ragu-ragu.
"Nggak kok, Nak. Hah," Menghela nafas berat. Ternyata Bian pria yang ramah. Pak Arif kira, Bian akan jutek dan sombong karena dia anak orang kaya."
"Orang asli mana, Nak?" Kembali bertanya.
__ADS_1
"Aslinya sih, orang tuaku berasal dari kota A, Pa. Tapi, Almarhum Bapak membawa Ibuku pindah ke kota ini."
Pak Arif tersentak. "Loh, Papa kamu sudah meninggal, Nak?"
"Hehehe... Bapak meninggal sejak aku masih menjadi bayi, Pa. Kata Ibuku sih, umurku waktu itu baru delapan belas bulan."
"Oh, maaf."
Bian hanya mengangguk. Pria itu beralih menatap Amara. Wajahnya terlihat merah. Mungkin karena demam tinggi seperti yang dikatakan Ameena.
"Selain asam lambungnya naik, Rara juga sakit apa, Pa?" Melirik Pak Arif lalu kembali menatap Amara.
Pak Arif menarik nafas panjang lalu menatap ke arah putrinya seperti yang dilakukan Bian. "Dia typus juga, Nak. Kemarin Papa kira dia terkena demam berdarah karena demam tinggi. Tapi, setelah hasil pemeriksaan laboratoriumnya keluar, ternyata penyakit typus. Dulu juga pernah sakit typus. Tapi, sejak saat itu Mara selalu disiplin menjaga kesehatannya. Mungkin akhir-akhir ini dia terlalu sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan kesehatannya seperti dulu. Papa cuman merasa bersalah saja sama dia." Menundukkan kepalanya. "Selama ini Papa sangat minim perhatian padanya. Tapi, mulai sekarang Papa akan selalu berusaha untuk mengutamakannya." Mengangkat kepalanya seraya melirik Bian.
Bian menanggapi dengan senyuman kecil. Ia bangkit lalu mendekati ranjang Amara. Duduk di sisi kanan ranjang, berhadapan dengan Ameena yang duduk di sisi kiri.
"Na, aku haus. Minta tolong ambilkan minum." Suara Amara serak. Matanya masih terpejam, hanya mulutnya yang bergerak.
Bian yang bangkit untuk mengambilkan air. Perlahan, pria itu mendekatkan sedotan ke mulut Amara. "Apanya yang terasa sakit, Ra?" Ucapnya dengan pelan. Suara itu membuat Amara menautkan alisnya. Perlahan, ia membuka matanya yang terasa berat. "Eh, Kak Bian kapan datang?" tersenyum lemah melihat Bian di depannya.
"Barusan, Ra. Kamu.. kenapa tidak pernah mengabari aku kalau kamu sakit? Kalau aku tidak bisa datang siang, setidaknya aku akan usahakan datang malam untuk menemani kamu."
Amara kembali tersenyum lemah. "Aku tau Kak Bian sibuk. Belum lagi ada Kakek dan Nenek di rumah. Kak Bian..."
"Sssttt..." Bian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Jangan libatkan mereka dalam masalah ini. Lagian aku juga kebanyakan menghabiskan waktu di Kampus. Tapi, alhamdulillah.. sebagian besar tugas sudah aku selesaikan kok. Kakek dan Nenek juga sudah berangkat pulang. Kakek titip salam untuk kamu. Dia juga titip sesuatu, tapi aku lupa membawakannya untukmu. Insya Allah, nanti aku bawakan kalau aku pulang."
"Jangan terlalu dekat sama aku, Kak." Amara menutup mulutnya saat Bian memperbaiki posisi duduknya dan sedikit condong padanya.
"Loh, kenapa emangnya?" Bian menautkan alisnya.
"Aku belum gosok gigi dari kemarin sore. Nanti Kak Bian eneg sama aku." Masih menutup mulutnya.
"Hah, mana ada seperti itu, Ra. Kamu kan lagi sakit. Memangnya kalau kamu bau mulut sekarang, perasaanku akan berubah? Nggak segitunya juga, Sayang.."
__ADS_1
Pak Arif hanya bisa tersenyum melihat interaksi putrinya dengan Bian. Tidak menyangka kalau pria tampan itu akan jatuh cinta pada putrinya.
**********