Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Amara...


__ADS_3

Pagi itu..


Mata Amara sangat sulit terbuka. Gadis itu mendengar suara Adzan Subuh yang berkumandang, tetapi matanya benar-benar berat. Gara-gara begadang berkirim pesan dengan Bian membuatnya seperti ini.


"Mara.." Mutia berulang kali mengetuk pintu kamar Amara. Tetapi, gadis yang ditunggunya keluar tak kunjung keluar. Semalam Amara berjanji akan menemani Mutia jalan-jalan keliling komplek sebelum matahari terbit.


"Mama, apa Kakak belum bangun?" Carissa mendekati Mutia yang masih berdiri di depan pintu kamar Amara.


Mutia mengangkat bahu. "Kayaknya belum, Sayang. Tumben sekali..." Mutia menautkan alisnya.


"Ma, Papa jadi pulang kan, hari ini? Papa kan sudah janji akan menemani Kak Mara cari kerja." Carissa mengalihkan pembicaraan karena melihat ibu tirinya itu seperti orang kebingungan. Carissa sedikit mengerti dengan masalah keluarganya setelah anak itu duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Dia tidak banyak menuntut dan lebih mengerti. Apalagi Mutia menjalankan perannya dengan sangat baik. Wanita itu benar-benar tidak pilih kasih pada kedua anak tirinya. Wanita yang berprofesi sebagai Guru Sekolah Dasar itu selalu berusaha membuat Amara dan Carissa nyaman. Pak Arif benar-benar beruntung bertemu dengan Mutia.


"Mm.. nanti kita lihat keadaannya ya, Nak. Papa kamu kan nggak bawa mobil kemarin karena dipakai Kak Mara. Nanti kalau Kak Mara bisa jemput, Papa kamu pasti pulang." Ucap Mutia.


"Iya udah, Ma. Biar Rissa yang bangunin Kak Mara. Sepertinya dia begadang semalam. Kak Mara sering begadang kalau Kak Bian pergi."


Mutia menautkan alisnya sambil menahan senyum mendengar penjelasan Carissa. Entah darimana anak itu tau tentang hal itu.


"Mama duduk saja di sofa. Rissa mau cari kunci cadangan kamar Kakak."


Mutia tersentak. "Loh, Rissa punya kunci cadangan?"


"Mm.." Carissa mengangguk. "Dari dulu Rissa yang selalu pegang kunci kamar Kakak. Kakak kan jarang pulang."


"Oh," Mutia hanya mengangguk. Wanita itu sedikit tau masalah suaminya dengan mantan istrinya karena cerita Carissa. "Iya udah, kamu ambil dulu sana. Nanti kita bangunin Kak Mara bersama-sama.


Carissa berlalu masuk kembali ke dalam kamarnya. Anak itu benar-benar mengambil kunci yang dimilikinya dan membuka kamar Amara.


Setelah berbagai upaya dilakukan, mata Amara akhirnya bisa terbuka. Carissa sampai menuntunnya ke kamar mandi karena khawatir Amara tidur lagi kalau dibiarkan sendirian.


*******


"Kamu yakin akan pergi sendiri?" Mutia menatap ragu pada Amara. Gadis itu sedang bersiap untuk pergi menjemput papanya.


"Insya Allah, Ma. Mara kan sudah fasih bawa mobil. Lagian jaraknya kan tidak terlalu jauh." Amara menjawab sambil mengikat tali sepatunya.


Mutia menghela nafas berat. "Iya udah, Nak. Kamu hati-hati di jalan. Papamu itu, diminta beli mobil lagi biar kamu bisa kemana-mana tanpa harus saling menunggu seperti ini."

__ADS_1


Amara tersenyum mendengar ucapan Mutia. "Nanti Mara yang beli kalau udah punya pekerjaan."


"Hmm.. sebentar lagi kamu akan menikah. Kalau kamu menikah otomatis kamu akan berpindah menjadi keluarganya Bian. Hah, Mama kok jadi sedih kalau harus merelakan kamu menjadi milik orang lain."


"Mama ngomong apa sih..?!" Amara mencubit gemas pipi Mutia yang terlihat semakin berisi.


"Tapi, laki-laki pilihan kamu itu benar-benar terlihat luar biasa, Nak. Mama sampai terkejut saat mengetahui kalau dia itu adalah cucu seorang pengusaha sukses. Keluarganya itu memiliki beberapa pabrik tekstil di negeri ini."


Amara hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Siapa yang tidak akan bahagia memiliki calon pasangan sesempurna Bian. Laki-laki yang benar-benar memahami segala kondisinya. Pria yang selalu menjadi garda terdepan untuknya. "Mm.. Mara berangkat dulu, Ma." Amara meraih tangan Mutia lalu menciumnya. Dengan mengucap basmalah, gadis itu melangkah keluar.


Amara menepikan kendaraannya saat handphonenya berbunyi. Untungnya dia sudah memasuki jalan pintas yang agak sepi. Jadinya tidak ada yang akan membunyikan klakson saat dia melambat di tengah jalan tadi. Dia menatap layar handphonenya dan tersenyum saat melihat foto Bian terpampang di layar handphonenya.


"Assalamu'alaikum, Kak." Mengucap salam dengan suara ceria agar pria itu tau kalau dirinya sedang bahagia.


"Wa'alaikum salam, Ra. Kamu dimana, Sayang?" Terdengar suara serak dari sebrang. Sepertinya pria itu baru bangun tidur. Daniel menghubungi Bian kalau Amara sedang di luar. Itulah mengapa dia langsung menghubungi Amara untuk mengetes kejujuran wanita itu.


"Mm.." Amara menatap sekeliling. "Aku mau pergi jemput Papa, Kak. Kemarin Papa Nggak bawa mobil. Aku udah di jalan pintas kok. Sebentar lagi juga sampai."


Bian terdiam beberapa saat. Ternyata Amara menjawab pertanyaannya dengan jujur. "Oh, kamu pergi sama siapa?" Kembali pertanyaan terlontar dari mulut Bian. Pria itu sepertinya mengkhawatirkan Amara.


"Mmm... aku pergi sendirian. Ameena pulang ke rumahnya kemarin sore."


"Hmm.. nggak enak sama Om, Kak. Ameena juga ada acara di rumahnya. Masa iya, dia harus sama aku terus. Kak Bian jangan khawatir, insya Allah tidak akan terjadi apa-apa kok." Amara berusaha meyakinkan agar pria itu tidak mengkhawatirkannya secara berlebihan.


Bian menghela nafas berat. Neneknya yang belum kembali ke rumah membuatnya bertambah khawatir. Bagaimana pun juga, neneknya itu sering berbuat nekat dan tidak memikirkan dampak di belakangnya. "Kamu.. lebih berhati-hati, Sayang. Aku nggak ada di sana. Bagaimana pun juga, utamakan keselamatan kamu."


Amara diam beberapa saat. Mendengar Bian berkata begitu membuat perasaannya tidak tenang. "I.. iya, Kak. Aku akan lebih berhati-hati."


"Kalau ada orang yang terlihat mencurigakan, jangan memberikan sinyal. Sekarang kamu lanjutkan perjalanan. Konsentrasi menyetir, jangan pedulikan keadaan sekitar."


"I.. iya, Kak Bian sayang.."


"Huh, kamu cuman berani bilang sayang kalau aku sedang jauh. Coba aku di depanmu, kamu nggak pernah bilang sayang." Bian mendengus tetapi menahan senyum.


"Iya.. iya.. nanti kita coba praktekkan kalau Kak Bian udah ada di sini."


"Iya udah, aku tutup ya.. Assalamu'alaikum, Cantik.."

__ADS_1


Amara tersenyum kecil. "Wa'alaikum salam... Ganteng.." masih menatap layar handphonenya walaupun sambungan telepon sudah terputus. Menatap foto mereka yang sedang tersenyum saling bertatapan.


Amara menghidupkan kembali mesin mobilnya. Namun, sebuah mobil Avanza berwarna hitam tiba-tiba berhenti di hadapan mobilnya. Wanita itu menelan ludahnya. Baru saja Bian memintanya untuk lebih berhati-hati. Ucapan Bian yang memintanya untuk tidak memberi sinyal terngiang-ngiang di kepalanya.


Amara menarik nafas panjang saat pemilik mobil itu turun. Ia membelalakkan matanya saat Bu Fatimah juga turun dari mobil itu. Wanita itu terlihat sibuk bicara. Namun, Amara tidak ada celah untuk kabur. Mobilnya sudah dikepung, karena di belakang mobilnya sudah berjejer tiga mobil ke belakang.


Amara mengambil kembali handphonenya untuk menghubungi Bian. Tangannya bergetar karena takut. Dia khawatir Bu Fatimah berbuat nekat padanya.


Dug.. dug.. dug..


Ketukan di kaca mobilnya membuat handphone Amara jatuh karena terkejut. Bu Fatimah berdiri dengan mata melotot. "Buka..!" Memerintah dengan kasar sambil mengetuk-ngetuk kaca itu kembali.


Amara menatap ke depan. Dia benar-benar kebingungan saat ini. Tidak ada pilihan lain selain membuka pintu mobilnya. Ia hanya bisa berdoa, semoga Bu Fatimah hanya ingin bicara padanya. Gadis itu menarik nafas dalam. Situasi ini harus ia hadapi. Dengan mengucap basmalah, ia membuka pintu mobilnya. Keluar dari mobil dengan menegakkan tubuhnya.


"Ada apa Nyonya menghalangi jalan saya?" Ucapnya dengan ekspresi tegang.


Bu Fatimah tersenyum sinis. "Kita perlu bicara." Berkata tanpa menatap lawan bicara. Wanita itu benar-benar terlihat arogan.


"Tapi saya sedang tergesa karena akan menjemput Papa saya." Amara kembali menimpali. Tapi, kali ini ia menatap Bu Fatimah.


Bu Fatimah terdiam, tetapi tatapan matanya mengisyaratkan pada anak buahnya untuk berjalan mendekat.


"Eh, anda mau apa?!" Amara menepis tangan pria bertubuh tegap yang mencoba memegang tangannya. Namun, pria itu lebih sigap dan langsung menutup mulut Amara dengan kain hitam di tangannya. Hal itu membuat Amara langsung lemas dan tidak sadarkan diri.


"Bawa dia!"


"Baik, Nyonya."


"Bagaimana dengan mobil ini?" Seorang pria yang lain mendekat dan menunjuk mobil Amara.


"Biarkan saja di sana. Oh, handphonenya juga jangan sampai terbawa. Orang akan mudah melacak keberadaan kita kalau benda itu terbawa."


Pria tadi langsung memeriksa keadaan di dalam mobil. Kembali keluar untuk melapor pada Bu Fatimah. "Handphonenya ada di dalam mobil, Nyonya. Benda itu jatuh di bawah."


"Biarkan kalau begitu. Sekarang periksa isi tasnya."


Pria tadi membuka tas yang bergelayut di tubuh Amara. Mengambil dompet dan membukanya. "Isinya ada kartu identitas, beberapa lembar uang tunai, kartu mahasiswa dan dua buah kartu ATM."

__ADS_1


"Ok, biarkan benda itu. Sekarang bawa dia. Jangan sampai ada yang curiga." Menatap sekeliling tempat yang terlihat sepi.


**********


__ADS_2