
Bian mendapati istrinya sudah terlelap saat masuk ke ruangan tempat istirahatnya. Hanya layar handphone istrinya yang masih menyala. Ia akhirnya duduk di sisi ranjang. Awalnya Bian berniat ingin mematikan layar handphone itu. Namun, ia malah tertegun saat membaca chat istrinya. Dengan siapa lagi istrinya berkirim pesan kalau bukan dengan Ameena, si gadis berisik.
Bian mulai membaca satu persatu pesan itu.
Ameena : Mara, gue mau nikah kayak lho. Lho bantu gue cari jodoh dong.
Amara : Mau cari di mana, Na. Lho ini aneh banget deh.
Ameena :Di Kantor laki lho. Gue lihat Kantor laki lho cukup luas. Kalau Kantornya luas, otomatis karyawannya juga pasti banyak.
Amara :Gue jarang ke sana. Lagian gue juga nggak akrab dengan siapapun di sana. Kalau ikut ke Kantor, palingan gue cuman tidur di kamar rahasia suami gue.
Ameena : Iya makanya bantu gue. Nggak apa-apa dah, Walaupun orangnya cuman karyawan biasa bukan bos seperti laki lho. Gue mah yang penting cowoknya taat beragama, rajin bekerja dan bertanggung jawab pada keluarga.
Amara : Gue nggak kenal siapapun, Na. Kenapa lho nggak cari gebetan di RS tempat lho bekerja.
Ameen : Gue nggak mau seprofesi dengan suami. Takutnya nanti, kalau kami sama-sama bekerja nggak ada yang jagain anak. Coba lho comblangin gue dengan Asisten Kak Bian. Orangnya tampan, Mara... Mmm... gue mau kalau sama dia..
Amara : Eh, jangan gila lho, Na. Orang Pak Daniel udah punya istri dan anak. Anaknya udah dua lagi. Mau lho jadi pelakor? (Emoji tertawa melengkapi pesan itu).
Ameena : (Emoji marah) Dasar lho! Kenapa nggak bilang dari dulu, biar gue nggak ngarep.
Bian menggeleng-geleng pelan seraya meletakkan handphone istrinya. Awalnya dia berniat membangunkan Amara. Namun, istrinya terlihat sangat pulas. Ia akhirnya memilih untuk ikut berbaring di samping istrinya. Memeluk tubuh Amara dari belakang. Memejamkan mata menikmati hangatnya memeluk bantal bernyawa miliknya.
_________
Amara membuka matanya karena merasa tubuhnya terhimpit. Saat dia sadar, ternyata tubuhnya memang menempel di tembok karena terhimpit tubuh suaminya.
"Ish, aku terjepit, Kak. Ngapain coba ikut tidur di sini." Amara berusaha membalik tubuhnya. Mendorong tubuh Bian yang tidak bergeser sedikit pun walaupun dia berusaha sekuat tenaga.
"Sssttt... jangan bergerak. Ruangan ini tidak kedap suara. Kalau kamu berisik, takutnya Kak Daniel mengira aku ngapa-ngapain kamu."
__ADS_1
"Eh," Amara langsung tutup mulut. Ia akhirnya memaksa Bian untuk memberikan ruang untuknya agar bisa bangkit. "Geser dikit, Kak. Please..." kembali mendorong tubuh suaminya. Namun, melihat tampang suaminya yang senyum-senyum sendiri membuatnya jadi kesal. "Jangan ngomong yang aneh-aneh deh, Kak." Ucapnya, menepis lengan Bian setelah berhasil bangkit. "Lagian aku juga nggak akan teriak kok. Huh, menyebalkan sekali deh." Melengos seraya membuang pandangannya. Amara beringsut ke pinggir ranjang.
Bian langsung menahan tangan Amara yang sudah bersiap turun dari ranjang. "Mau kemana, Sayang? Jangan bergerak atau aku akan membuatmu berteriak." Masih memegang tangan istrinya sambil menahan senyum.
Amara berusaha melepaskan tangannya. "Yang malu juga Kak Bian kalau aku teriak. Aku mah, bukan siapa-siapa di Kantor ini. Kalau Kak Bian sendiri kan, pimpinan tertinggi. Kaeyawan akan bisik-bisik kalau bosnya yang mesum di Kantor."
Bian terdiam, melirik istrinya beberapa kali sebelum akhirnya bangkit. Melepaskan tangan Amara yang di genggamnya. "Ah, kamu menyebalkan, Ra. Kok malah aku yang kena imbasnya ya, kalau dipikir-pikir." Membuang nafas dengan kasar seraya mengacak-acak rambutnya. "Tadinya aku berniat mau membahas tentang honeymoon kita, Ra. Makanya aku mepet-mepet terus sama kamu. Tapi, dari tadi kamu menolak aku terus. Lagi tidur aja kamu bisa menghindari ciumanku."
Amara mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar ucapan suaminya. "H.. honeymoon.. kapan, Kak?" Tersenyum sumringah. Ia langsung duduk kembali di hadapan suaminya.
"Hmm..." Bian menyebikkan bibirnya. "Kalau di sebutkan honeymoon, sikapmu langsung berubah manis." Pura-pura enggan menatap istrinya.
"Eh, aku nggak pernah kepikiran sampai ke situ lho, Kak. Makanya aku terkejut sekaligus bahagia saat Kak Bian mengatakan itu tadi." Amara masih menatap suaminya dengan tatapan penuh bahagia.
Melihat hal itu membuat Bian perlahan menatap istrinya. "K.. kamu beneran nggak pernah kepikiran sampai situ, Ra?" Menatap istrinya dengan tatapan aneh.
Amara menggeleng dengan polosnya. "Aku memang nggak pernah memikirkan hal itu, Kak. Aku..."
"Loh, hubungannya apa coba dengan itu?" Amara menatap suaminya dengan heran.
Bian terdiam, memikirkan kata apa yang akan ia keluarkan agar dia tidak terlihat bodoh di depan istrinya. "Kamu ... tadi ... kamu bilang suntuk dan bosan di rumah. Itulah mengapa aku meminta Kak Daniel mengatur jadwalku. Aku akan menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa di tunda agar bisa mengambil cuti."
Amara tersenyum, menatap suaminya tanpa berkedip. Mencium bibir Bian sekilas lalu kembali ke posisinya semula. "Aku memang pingin pergi karena ingin merasakan suasana selain suasana di rumah besar itu. Tapi, bukan berarti aku mau menuntut untuk di ajak honeymoon. Aku nggak mau merepotkan dan merusak jadwal kerja Kak Bian yang sudah tersusun rapi. Kak Bian sibuk. Kak Bian tidak perlu sampai mengorbankan pekerjaan hanya untuk hal tidak penting seperti itu. Di bawa kesini saja aku sudah merasa senang, Kak. Suasananya kan berbeda dengan suasana di rumah."
Bian tidak bisa berkata apa-apa. Hanya sudut bibirnya yang tertarik membentuk sebuah lengkungan. Dia tidak menyangka kalau istrinya bisa memberikan pengertian perihal kesibukannya mengurus pekerjaan. Tapi, ia jadi ingin senyum sendiri setelah menyadari kesalahannya. Ternyata ia salah mengartikan ucapan istrinya.
"Sebentar lagi zuhur, Kak Bian ambil air wudhu dulu sementara aku menyiapkan tempat shalat." Amara beranjak bangkit. Mengambil sapu di pojok ruangan dan mulai menyapu ruangan itu.
Bian tersentak dari lamunannya. Beralih menatap istrinya yang sudah mulai menyapu ruangan kecil itu. "Kamu tidak perlu menyapunya, Ra. Cleaning Servis sudah menyapu dan mengepelnya tadi pagi." Ucap Bian sambil memperhatikan istrinya.
"Nggak apa-apa. Agar lebih meyakinkan kalau lantai ini benar-benar bersih." Jawab Amara. Meletakkan sapu itu kembali. Beralih mengambil sandal jepit untuk mengganti sepatu suaminya.
__ADS_1
"Jangan melayaniku seperti ini, Sayang. Aku jadi merasa berubah menjadi laki-laki manja."
Amara tersenyum kecil. Matanya melirik suaminya, walaupun tangannya sibuk membuka kaos kaki suaminya. "Sebenarnya aku bahagia bisa melakukan ini pada Kak Bian. Di rumah, semua dikerjakan pelayan. Aku jadi merasa kurang dibutuhkan oleh suami ku."
Bian menghela nafas berat, ia akhirnya membiarkan apapun yang ingin dilakukan istrinya. Hanya bibirnya yang tidak berhenti menyunggingkan senyum untuk istrinya itu.
*********
Dua hari kemudian...
Bian masih disibukkan dengan pekerjaan. Hari ini bahkan dia datang lebih pagi karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Daniel masuk ke ruangan Bian dengan tersenyum ramah. "Selamat pagi, Tuan." Menyapa tuannya terlebih dahulu sebelum membacakan jadwal pekerjaan Bian hari ini.
"Saya sudah mengatur ulang jadwal kerja Tuan. Tuan bisa mengambil cuti satu minggu, agar bisa pergi berlibur bersama istri tercinta." Masih menampakkan wajah bahagia untuk tuannya.
"Terimakasih atas kerja kerasnya, Kak. Tapi, ternyata kita salah mengartikan kode perempuan yang kemarin diucapkan istriku.
Daniel mengernyit. "Maksud Tuan?"
"Rara tidak ingin pergi bulan madu, jika hal itu malah merusak pekerjaanku. Sebenarnya dia ingin pergi, tapi tidak menuntut untuk disegerakan." Bian melirik Daniel sekilas lalu kembali menatap layar komputernya.
"Darimana Tuan tau hal itu?" Daniel bertanya dengan alis tertaut. Mendengar ucapan Bian itu membuatnya jadi penasaran.
Bian mendengus. "Apa aku harus menjelaskan alasannya? Intinya istriku tidak bermaksud seperti itu saat mengatakan bosan. Dia hanya butuh suasana baru karena tidak mau terus-terusan diintimidasi di rumah. Ingin beraktivitas, tetapi tidak bisa karena tidak nyambung dengan Nenek. Itulah yang membuatnya suntuk dan ingin dibawa keluar, agar bisa melihat suasana yang berbeda.
Daniel akhirnya hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tidak paham dengan penjelasan Bian. Tapi, intinya dia yang salah dalam pandangan Bian. Amara tidak mau pergi berbulan madu, jika itu mengganggu pekerjaan suaminya.
Ia menarik nafas panjang karena merasa bersalah. Sebenarnya ini hanyalah masalah sepele. Tapi, dia tidak suka bekerja setengah-setengah. Semua rencana yang sudah di susun harus terlaksana dengan sempurna. Dan sekarang, dia hanya menunggu keputusan tuannya. Apakah akan melanjutkan rencana atau jadwal yang sudah diaturnya harus di rombak lagi.
***********
__ADS_1