Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Perbincangan serius


__ADS_3

Di waktu yang bersamaan nyonya Retno sedang berada di beranda rumahnya bersama manager Hans. Mereka sedang membicarakan hal yang penting dan tidak bisa ditunda lagi.


Mendiang ketua SH Group akan mengeluarkan surat wasiatnya menjelang usia Alex 28 tahun. Dan kini sudah tiba saatnya, nyonya Retno akan mengumumkan wasiat itu kepada keluarganya.


Seorang pelayan datang secara tenang dengan kereta penuh makanan kecil, biskuit, dan teh. Kemudian ia menuangkan teh perlahan-lahan ke cangkir putih itu, meletakkan di hadapan nyonya Retno dan manager Hans. Setelah itu, baru ia pamit.


"Silahkan diminum manager Hans" sahut nyonya Retno mengawali pembicaraanya.


"Terima kasih ketua" balas Manager Hans dengan senang hati. Ia menyeduh minumannya sedikit.


Pertama-tama, nyonya Retno menghempa udara sebelum masuk ke inti pertemuan mendadaknya dengan manager Hans. Ia sedang menyusun kata-kata yang tepat.


"Manager Hans" kata nyonya Retno menatapnya dengan lembut.


"Ya ketua" balas manager Hans dengan sopan.


"Aku sengaja mengundangmu kesini karena ada hal penting harus ku bicarakan padamu" kata ny. Retno dengan bijak.


Manager Hans mengangguk paham.


“Manager Hans, kita tidak bisa menundanya lagi. Sudah saatnya aku mengumumkan wasiat dari mendiang suamiku. Dan kita harus menepati janji mendiang suamiku pada sahabatnya,” kata nyonya Retno membuka pembicaraan setelah menyeduh teh hangatnya.


Manager Hans membenarkan. “Iya ketua,” balasnya mengerti. “Ini sudah waktunya. Tuan muda juga sudah berusia 28 tahun sekarang,”

__ADS_1


Nyonya Retno membenarkan. “Iya. Untuk itu, aku meminta bantuanmu mengeluarkan wasiat itu bersama pengacara Dave. Aku sudah membicarakan padanya juga”


“Baik. Aku mengerti, ketua.” kata manager Hans menuruti. Tiba-tiba manager Hans terdiam. Ia sedikit khawatir mengenai wasiat itu. Ada sedikit kecemasan dalam dirinya. Bagaimana tidak, wasiat itu sangat membuatnya tidak tenang semenjak mengetahuinya.


“Tapi, apakah itu tidak akan jadi masalah nantinya, ketua?” tanya manager Hans yang tampak ragu.


Nyonya Retno tersenyum. Ia tahu manager Hans akan berpendapat seperti itu. “Sudah ku duga, kau pasti sangat mengkhawatir mengenai hal ini,” kata nyonya Retno dengan tenang. “Keputusanku sudah bulat. Karena janji adalah janji dan kita aku harus menepatinya. Kita tidak bisa menentangnya, manager Hans,” jelasnya dengan sangat menyakinkan.


Mendengar hal itu, manager Hans hanya bisa terdiam dan membenarkan. “Ya aku tahu itu. Apa presdir sudah mengetahui dan menyetujui wasiat ini?” ia bertanya.


Nyonya Retno mengangguk. “Tentu saja. Aku sudah berbicara dengannya tempo hari. Ia justru tidak keberatan dengan itu. Sekarang ini yang kami khawatirkan adalah Aida yang belum bisa menerimanya. Terutama dengan Alex, putranya. Ia mungkin akan menentang wasiat ini.”


Manager Hans sependapat dengan itu. “Kita harus bisa meyakinkan tuan muda. Biar bagaimanapun wasiat ini lebih ditujukan untuknya. Kita harus melakukan sesuatu agar ia menerima wasiat itu,”


“Ya. Semoga saja semuanya berjalan dengan semestinya, seperti yang diinginkan oleh mendiang suamiku. Untuk membujuk Alex, tidaklah gampang. Alex harus mengerti kalau itu adalah kewajibannya. Suatu hari ia akan menggantikanku. Jadi ia harus mulai banyak belajar dengan posisinya dan ia tak bisa mementingkan persaannya sendiri,” jelas ny. Retno dengan bijak.


Nyonya Retno tersenyum puas. “Baiklah. Aku mohon bantuanmu, manager Hans. Satu-satunya yang kita lakukan hanyalah menyakinkan cucuku yang sangat keras kepala itu. Dia tidak akan mudah menerima semua ini. Berbagai alasan mungkin sudah ia persiapkan untuk menentang wasiat ini. Tapi kau tenang saja, aku sendiri sudah memiliki senjata ampuh untuknya"


“Tentu, ketua. Aku akan berusaha melakukannya. Kalau begitu, aku permisi dulu.”


“Ya silahkan manager Hans dan terima kasih telah membantu selama ini.”


"Sama-sama ketua" manager Hans menunduk lalu bangkit dari tempat duduknya meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kantor melanjutnya tugasnya.

__ADS_1


Saat manager Hans sudah pergi, nyonya Retno beralih pada pengawal Sadi yang baru saja datang dari dalam rumah.


"Selamat siang ketua" sapa pelayan Sadi ramah.


"Siang juga Sadi" balas nyonya Retno dengan senang. “Pengawal Sadi, segera buatkan jadwal untuk mengumumkan wasiat itu. Secepatnya kita akan menemui keluarga calon cucu menantuku.” Katanya memberitahu.


“Baik, ketua. Aku mengerti,” balas pengawal Sadi mengangguk mengerti.


Nyonya Retno menghempa udara segar. Ia mulai merenungkan nasibnya.


“Aku masih belum bisa tenang mengenai wasiat itu,” gumam nyonya Retno dengan nada cemas. “Apa yang harus aku lakukan? Saat ini aku terlihat seperti wanita yang egois dan mementingkan keinginkan sendiri,” keluhnya.


“Ketua tak usah khawatir tentang itu. Semuanya akan baik-baik saja. Untuk saat ini yang lebih kita khawatirkan adalah keluarganya Shin untuk menerima semua ini. Kita harus menemukan tempat tinggal mereka,” kata pengawal Sadi memberi komentar.


“Benar. Cari tahu mengenai keluarga sahabat suamiku itu. Sudah lama kita tidak mengunjunginya. Mungkinkah putra Shin sudah lupa denganku? Aku yang akan mengunjunginya sendiri”


“Tahun lalu aku menemukan petunjuk tentang keberadaan mereka. Sepertinya mereka masih tinggal ditempat itu ketua"


"Benarkah? Itu sangat melegakan sekali. Baiklah, aku akan mempersiapkan diri untuk menemuinya"


Baik ketua,” sahut paman Sadi dan beranjak dari situ.


Sementara itu, ny. Retno mengesap minumannya dan mengambil sebuah koran di atas meja lalu mulai membaca korannya. Salah satu berita hari ini adalah mengenai proyek pembangungan apartemen di pusat kota di bawah naungan SH Grup yang sudah hampir selesai. Disana di jelaskan bahwa perusahaan SH Grup tidak akan mengecewakan mereka sedikitpun.

__ADS_1


"Syukurlah, SH Grup masih menjadi kepercayaan mereka" gumamnya senang saat melihat berita di koran yang dibacanya itu.


***


__ADS_2