
Satu bulan kemudian..
Aktivitas sehari-hari mulai terlihat normal di kediaman Bian. Bian juga selalu berusaha pulang tepat waktu demi memenuhi janjinya pada Amara.
Sore itu, Bian segera meminta Daniel membereskan meja kerjanya setelah melihat jam dinding. "Aku akan menyelesaikan sisanya besok, Kak."
Daniel menautkan alisnya sambil membereskan sisa pekerjaan tuannya. "Nanggung sekali, Tuan. Tuan hanya butuh membaca lalu menanda tangani beberapa berkas ini."
"Tidak, aku mau pulang. Aku mau bertemu istriku. Aku sudah berjanji akan menemaninya pergi periksa kandungan habis maghrib nanti. Kalau aku menyelesaikan pekerjaan ini, aku pasti diam di sini sampai waktu maghrib tiba."
Daniel hanya manggut-manggut. Tidak mungkin dia memaksa Bian untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Dia hanya seorang Asisten. Sangatlah tidak pantas jika dirinya melakukan itu. Walaupun pada kenyataannya dia memiliki kekuasaan tersembunyi.
"Saya sudah merapikan semuanya, Tuan." Daniel melangkah mundur menjauh dari meja kerja Bian.
"Oh iya, Kak. Perwakilan dari Konveksi Z, bagaimana ceritanya?" Bian baru teringat kalau Konveksi Z pernah meminta bertemu dengannya untuk membicarakan kontrak kerjasama.
"Oh, mereka sedang mencari waktu, Tuan. Katanya mereka tidak akan mengirimkan perwakilan. Direktur mereka sendiri yang akan datang menemui Tuan."
"Oh, itu lebih bagus." Bian meraih jasnya yang tersampir di kursi kerjanya. Memakainya sebelum akhirnya keluar dari ruang kerjanya.
Sampai rumah...
Bian mendapati ibu dan kakaknya sedang berkumpul di ruang keluarga. Dia langsung ikut duduk santai tanpa membuka pakaian kerjanya.
Melihat adiknya yang terlihat lelah membuat rasa jahil Chayra timbul untuk mengganggu adiknya. Ia membisikkan sesuatu di telinga Adzra dan memintanya untuk mendekati Bian agar adiknya itu tidak bisa bersantai. Adzra yang masih polos langsung mendekati Bian. Duduk di atas pangkuannya tanpa izin terlebih dahulu.
"Uncle, kata Mama Adzra uncle mau jadi ayah. Kalau mau jadi ayah, uncle nggak boleh duduk kayak gini."
"Hah, maksudnya apaan?" Bian menimpali seraya memperbaiki posisi duduknya.
"Kalau pulang kerja, ganti pakaian dan buka sepatunya. Tasnya tidak boleh ditaruh sembarangan. Kasihan Bibi yang membersihkan rumah jadi capek nantinya. Aunty juga lagi hamil adek. Dia tidak boleh kecapekan, Uncle. Kalau Aunty kecapekan, adek bayi tidak bisa tumbuh dengan baik. Adek bayi harus sehat biar bisa cepat keluar dari perut Aunty."
Bian tertegun mendengar ucapan Adzra. Menatap keponakannya itu dengan tatapan aneh. "Adzra kelas berapa sih sekarang?"
"Kelas enam, Uncle. Tapi, Mama selalu mengajarkan Adzra untuk membereskan keperluan Adzra sendiri. Masa Uncle kalah sama Adzra. Kalau kayak gini, Uncle itu kelihatan jorok."
Bian menyebikkan bibirnya. Beralih melirik kakaknya yang sedang tersenyum ke arahnya. "Uncle cuman mau istirahat sebentar, Adzra. Uncle capek kerja dari pagi dan baru pulang."
"Oh, gitu.." Adzra mengangkat alisnya sok bingung. "Adzra kan cuman menjalani perintah dari Mama untuk mengingatkan Uncle. Soalnya, kata Mama, Uncle itu manja sekarang."
Bian tersentak. Spontan ia menurunkan tubuh tembem Adzra dari pangkuannya. "Ish, mana ada seperti itu. Mama kamu saja yang selalu berprasangka buruk. Lagian yang manja itu, Abang Adzra. Udah gede juga masih aja senang duduk di atas pangkuan." Bian beranjak bangkit. "Aunty kamu mana?" Menanyakan keberadaan istrinya karena tidak melihat keberadaannya.
"Aunty sedang mandi. Kata Nenek, kita mau antar Aunty ke Dokter. Makanya Aunty di minta mandi terlebih dahulu. Kalau mau menemui Dokter, badan harus terlihat segar biar tidak disuruh minum obat."
Bian akhirnya hanya bisa menghela nafas berat seraya menggeleng-geleng pelan. Keponakannya ini selalu membawa kejutan baru setiap kali berkunjung ke rumahnya.
Bian naik ke kamarnya untuk mencari Amara. Dia harus memastikan sendiri kalau istrinya tidak bergabung di ruang keluarga karena memang sedang mandi dan bukan karena kendala lain.
__ADS_1
"Sayang, aku pulang." Sedikit berteriak agar istrinya bisa mendengar suaranya.
"Mm.. aku di ruang ganti, Mas. Letakkan saja pakaian kamu di atas ranjang. Nanti aku yang pindahkan."
Bian sudah bersiap melempar jasnya di atas ranjang. Namun, ucapan Adzra yang mengatakan dirinya pria manja langsung terngiang-ngiang di telinganya. Ia akhirnya membawa sendiri pakaian kotornya ke ruang ganti.
"Loh, Mas.. kok.." Amara menunjuk pakaian yang diletakkan suaminya di keranjang pakaian kotor.
"Aku nggak mau dibilang pria manja sama Adzra."
"Eh, kok.."
"Dia tadi bilang aku manja karena langsung duduk santai di sofa."
"Oh," Amara menahan senyum. Melihat ekspresi istrinya membuat Bian berjalan mendekat dan memeluk tubuh Amara dari belakang. "Kenapa menatapku seperti itu hmm?"
"Apaan sih, Mas?" Amara berbalik dan membalas pelukan suaminya. Mencium dalam aroma tubuh pria itu. Kebiasaannya ini selalu berhasil membuat perasaannya menjadi lebih bahagia.
"Kayaknya kamu rindu berat ditinggal dari pagi."
"Mm..." Amara tidak menimpali. Hanya kepalanya yang semakin tenggelam di dada suaminya.
"Jadi kan pergi periksa malam ini.."
"Mm.. Ibu sudah meminta temannya untuk mendaftarkan namaku."
"Umurnya belum seberapa, Mas."
"Sudah berapa minggu ya kira-kira?"
"Ini kan USG pertama, Mas. Kemarin cuman perkiraan Dokter secara logika saja." Melepaskan tubuhnya dari pelukan suaminya. "Nanti juga kita akan lihat bersama.
"Aku mandi dulu ya," mencium dahi istrinya sebelum keluar dari ruangan itu. Dia tidak mau membuat yang lain menunggunya saat akan berangkat nanti. Apalagi sebentar lagi akan masuk waktu maghrib. Mereka semua sudah sepakat untuk makan malam di luar.
Amara mengangguk seraya tersenyum lembut. Melihat perubahan sikap Bian satu bulan terakhir ini membuatnya bisa memegang janji pria itu. Bian benar-benar membuka lembaran baru dalam rumah tangga mereka. Selalu mengutamakannya dalam keadaan apapun. Dia selalu berkata, akan menjaga dengan baik Amara.
*************
Pagi itu, seperti biasa Amara selalu mual-mual. Satu bulan melewati pagi seperti itu membuat Bian mulai terbiasa. Awalanya dia panik saat mendapati Amara muntah hebat di wastafel kamarnya. Namun, setelah Amara menjelaskan semuanya, dia mulai memahami kondisi istrinya setiap pagi. Dia juga selalu membuatkan istrinya segelas teh jahe setiap pagi untuk mengurangi morning sickness yang selalu di alami Amara.
"Sudah sini, minum tehnya dulu." Bian mendekatkan gelas teh jahe ke mulut Amara. Meletakkan kembali gelas itu setelah istrinya meneguk beberapa teguk tehnya.
"Kamu berangkat kerja saja, Mas. Aku bisa mengatasi ini sendiri." Mengusap mulutnya yang masih terasa asam.
Bian menatap istrinya dengan prihatin. "Sampai kapan kamu akan seperti ini, Sayang. Kok aku yang capek melihat kamu setiap pagi harus muntah-muntah seperti ini."
"Orang hamil pasti mengalami hal ini, Mas. Ngapain dipusingkan sih." Kembali meneguk minuman jahenya. "Sudah, kamu bersiap sana." Mendorong pelan tubuh suaminya agar segera bersiap berangkat kerja.
__ADS_1
"Aku kok jadi nggak tega ninggalin kamu dengan kondisi kamu yang seperti ini."
"Aku nggak apa-apa kok, Mas. Nanti juga baik dengan sendirinya."
"Hmm... nanti siang aku akan pulang di jam makan siang. Aku harus memantau keadaan kamu."
"Kan ada Ibu yang menemani aku, Mas. Aku juga selalu baik-baik saja kalau sudah melewati pagi."
"Mm..." Bian beranjak bangkit. Tidak lupa mencium perut istrinya yang masih terlihat datar.
"Mas..."
"Aku cuman mencium anak aku." Timpal Bian seraya membuka bajunya. "Hah," kembali duduk di samping istrinya.
"Kok duduk lagi, Mas.."
"Aku merasa agak lemes, Sayang." Menatap istrinya dengan sendu.
"Kamu nggak enak badan atau apa?" Meraba dahi suaminya. Namun, suhu tubuh Bian terasa normal. "Tapi kamu nggak demam kok."
"Aku kekurangan vitamin, Ra."
Amara menautkan alisnya. "Aku selalu menyediakan stok vitamin di kotak obat. Sepertinya kamu yang malas minum, Mas."
Bian melengos. "Bukan itu maksud aku, Sayang. Yang kekurangan vitamin itu b-a-t-i-n Abang."
"Hah...?!" Giliran Amara yang melengos setelah paham maksud suaminya. "Itu mah beda ceritanya, Babang. Kalau Mas Bian terlalu sering, yang ada janinnya yang terganggu. Katanya ingin segera memanen hasil."
"Iya tapi nggak usah di minta sering libur juga. Aku jadinya kurang konsentrasi saat bekerja karena airnya mengalir ke otak."
"Hmm.. itu mah cuman alasan kamu aja, Mas. Lagian aku juga nggak meminta kamu untuk sering-sering libur. Aku kan bilang, kalau mau memompa bensin, pelan-pelan caranya biar adiknya tidak terganggu."
Bian tersenyum meringis. "Kalau begitu, aku boleh dong pompa bensin sekarang. Please.." menatap istrinya dengan tatapan memohon. "Boleh sayang, ya. Udah satu minggu, Ra. Kalau tidak di pompa keluar, nanti pom bensinnya penuh."
"Alasan kamu aja, Mas. Lagian ini sudah jam setengah delapan. Kamu kan harus pergi bekerja." Amara berusaha menyadarkan suaminya.
"Tiga puluh menit saja, Sayang. Boleh ya.." masih menatap dengan tatapan memohon.
"Tapi kamu bisa telat."
"Sesekali nggak apa-apa, Ra. Aku juga selalu rajin datang tepat waktu selama ini. Boleh ya.."
Amara menarik nafas panjang. Kasihan juga melihat tatapan memelas suaminya. "Ya udah, terserah kamu aja kalau begitu."
Mata Bian langsung berbinar mendengar jawaban istrinya.
*********$$
__ADS_1