
Bian mencium lama tangan Pak Arif. Entah mengapa sampai sekarang ia masih merasa bersalah pada pria itu. "Maafkan Bian, Pa." Ucapnya setelah melepas tangan Pak Arif.
"Sudah, Nak. Kejadian itu sudah terlewat cukup lama. Papa sudah mengikhlaskannya. Papa hanya bersyukur, Amara baik-baik saja tanpa kurang sedikit pun."
Bian mengernyit sekaligus tersentak mendengar ucapan Pak Arif. "D.. darimana Papa tau kalau Rara baik-baik saja?!" Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Bian. Terlihat jelas kalau pria itu benar-benar terkejut.
"Ah, kamu ini, Nak." Pak Arif menepuk-nepuk pundak Bian sambil tersenyum. "Mana mungkin Papa bisa setenang ini jika dia tidak baik-baik saja."
"Papa..." hidung Bian kembang kempis, menatap Pak Arif dengan mata berbinar penuh harapan. "R.. Rara dimana, Pa?"
Pak Arif menghela nafas berat. "Sayangnya, Nak. Mara tidak mau ada orang yang tau keberadaannya. Dia tidak mau menjadi korban untuk yang kedua kalinya."
Bian ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa. Hanya mulutnya yang terbuka tanpa suara. Ia benar-benar tidak menyangka kenyataan yang baru saja di dengarnya. Ia menelan ludahnya beberapa kali karena tidak bisa mengekspresikan perasaan yang sedang dirasakannya saat ini.
Pak Arif pun hanya diam melihat hal itu. Sebenarnya dari dulu pria itu ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun, karena Amara tidak menginginkan hal itu, akhirnya dia merahasiakan semuanya. "Maafkan Papa yang merahasiakan semua ini darimu, Nak." Kembali menepuk-nepuk pundak Bian.
"Rara dimana, Pa?" Bian menatap tempat di mata Pak Arif. Mendengar ucapan yang mengatakan keadaan Amara baik-baik saja membuat semangat baru tumbuh dalam hatinya.
Pak Arif diam beberapa saat. "Amara berada di tempat yang sangat jauh dari kita, Nak."
Bian tertegun beberapa saat lalu kembali menatap Pak Arif. "Aku akan mencarinya walaupun sampai ke ujung dunia, Pa." Bian menjawab dengan penuh keyakinan. Dadanya tiba-tiba berdebar tak menentu. Tatapan matanya semakin berbinar-binar.
Pak Arif tersenyum melihat hal itu. "Intinya,Amara masih hidup dan dia baik-baik saja. Maafkan ara, Nak. Dia sempat memakai uang di kartu milikmu."
Bian menautkan alisnya tidak mengerti. "Kartu..? Kartu yang mana maksud Papa?"
Pak Arif menghela nafas berat. Pria di depannya apakah sudah melupakan kartu yang diberikannya pada Amara dulu? "Kamu pernah memberikan salah saru kartu debit kamu pada Amara. Kartu itu tidak main-main isinya, Nak. Apa kamu semudah itu melupakan uang milik kamu? Cari uang itu tidak mudah loh, Nak." Menatap Bian yang terlihat masih bingung.
Bian merenung mencoba mengingat. Setelah cukup lama merenung, pria itu akhirnya mengingat kartu itu. "I.. iya, Pa. Bian ingat sekarang. Bian tidak pernah memikirkan hal itu, Pa." Bian membuang nafas dengan kasar. "Uang bukanlah perioritas utama dalam hidup Bian. Bian hanya ingin mencapai target dan kepuasan karena hasil usaha selama bekerja. Ketenangan hati dan kebahagiaan Itulah hidup yang sesungguhnya menurut Bian." Kembali menatap Pak Arif sambil tersenyum kecil. "Tapi, setahun belakangan ini kehidupanku sedikit kacau karena nggak ada Rara, Pa. Ternyata ... selama ini ... sebagian kehidupan Bian ada pada Rara, Pa. Bian merasa... pekerjaan Bian sia-sia karena nggak ada wanita yang akan Bian bahagiakan dengan hal itu."
Pak Arif manggut-manggut. "Hah, Papa jadi bingung, Nak. Di sisi lain, Papa kasihan sama kamu. Tapi, di sisi lain Papa juga tidak mau anak Papa dijadikan barang yang di oper kesana-kemari oleh Nenek kamu. Apalagi Kakek kamu bersikeras tidak mengizinkan Papa untuk melapor kepada pihak yang berwajib. Papa merasa itu tidak adil. Kakek kamu seolah-olah melindungi nenek kamu, agar tidak di proses pihak yang berwajib."
Giliran Bian yang manggut-manggut. Ucapan Pak Arif memang benar. Sebenarnya, Pak Akmal tidak mengizinkan Pak Arif karena keadaan istrinya yang sedang koma waktu itu. "Nenek sudah dalam kendaliku saat ini, Pa. Aku sudah menutup semua akses keuangannya. Aku sudah memblokir lima kartu miliknya. Bodohnya aku tidak melakukan itu sejak dulu. Uang adalah senjatanya untuk bisa berbuat semaunya."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nak. Biarlah itu menjadi pelajaran untuk Papa agar bisa lebih waspada ke depannya. Kita perlu ingat, tidak semua orang suka sama kita."
Bian mengangguk, tetapi tatapan matanya terlihat kosong. Kehilangan wanita yang dicintainya benar-benar menguji kewarasannya. Ia jarang tersenyum sejak Amara hilang. Bukan hanya jarang tersenyum, ia juga berubah menjadi pria yang sangat tegas. Namun, sikap tegasnya itu akan menghilang jika dia sudah masuk ke rumahnya atau ke rumah Amara.
"Nak..." Pak Arif menepuk pundak Bian.
"Eh, iya, Pa." Bian beralih menatap Pak Arif. "Dimana Rara, Pa?" Pertanyaan itu keluarga begitu saja dari mulut Bian.
"Hmm.." Pak Arif menghela nafas berat. Melirik Bian lalu menatap lurus ke depan. "Apa putri Papa benar-benar berarti untuk kamu, Nak?"
"Itu adalah kepastian yang tidak bisa dielakkan, Pa. Aku tidak akan mendatangi Papa di setiap ada waktu, jika Rara tidak berarti untukku."
"Kenapa kamu tidak mencari wanita lain, Nak. Kenapa kamu tidak memilih salah satu wanita yang sudah di pilih nenekmu?" Pak Arif menatap lurus ke depan. Pertanyaan itu diperuntukkan untuk Bian. Namun, tak sedikitpun dia menatap pria itu.
Bian yang terkejut langsung menatap Pak Arif dengan heran. "Maksud Papa apa berkata begitu?"
"Mencintai Amara hanya menjadi masalah untuk Nenek kamu. Itulah mengapa Papa berkata begitu."
"Selamat berjuang, Nak. Papa akan selalu mendukung keputusanmu. Kamu adalah laki-laki yang baik. Putri Papa juga, insya Allah... wanita yang baik. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan sebaliknya." Pak Arif menarik nafas dalam. "Amara ada di luar negeri. Untuk negaranya, Papa tidak akan mengatakan negara mana. Hanya sebatas itu Papa bisa membantu kamu. Negara itu menjadi tempatnya menatap saat ini. Nenek kamu yang membuangnya kesana. Amara sudah menceritakan semuanya pada Papa. Tidak ada tindakan nenek kamu yang kelewatan. Hanya saja, saat membawa Amara pergi, nenekmu itu menyuntikkan obat tidur dosis berat."
"Apa.. astagfirullah.."
Pak Arif tersenyum getir. "Amara sampai melakukan terapi karena over dosis obat itu. Tapi, alhamdulillah sekarang dia baik-baik saja."
Mata Bian berbinar mendengar cerita Pak Arif. "A.. apa.. apa Rara selalu menghubungi Papa?" Sedikit terharu, tetapi bibirnya mengulas senyum.
"Iya.. alhamdulillah, Mara selalu menghubungi Papa. Dia selalu menanyakan keadaan Papa, Mamanya dan kedua adiknya." Kembali tersenyum pada Bian. "Oh iya, Nak. Dia juga tidak pernah lupa menanyakan kamu dan ibumu. Tapi, Papa akan menjawab dengan jujur. Kalau kamu datang kemari, Papa mengatakan itu padanya."
Bian menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar. "Apa Papa bisa menghubunginya sekarang?"
"Hah.." Pak Arif terdiam seraya melirik Bian beberapa kali. Mempertimbangkan apakah akan menuruti keinginan Bian atau tidak.
"Bian mohon, Pa. Bian tidak akan bicara saat Papa bicara dengannya. Bian hanya akan mendengar suaranya Rara saja. Mungkin dengan begitu, Bian semakin semangat untuk menemukannya." Bian menatap Pak Arif dengan penuh harap.
__ADS_1
"Tapi, Nak.."
"Bian mohon, Pa. Ini hanya sebuah permintaan seseorang yang sangat merindukan wanitanya." Masih menatap Pak Arif penuh harap.
"Hmm.. baiklah, Papa akan mencobanya. Tapi, berjanjilah pada Papa, kalau kamu tidak akan mengatakan apapun nantinya."
"I.. iya, Pa. I.. insya Allah, Bian tidak akan bicara apapun."
"Tunggu sebentar di sini. Papa mau mengambil handphone di kamar." Pak Arif beranjak bangkit meninggalkan Bian.
Bian menarik nafas dalam. Dadanya semakin berdebar. Perasaannya benar-benar bahagia. Hanya akan mendengar suara Amara, tetapi rasanya seperti akan bertemu Presiden.
Pak Arif keluar dan duduk kembali di samping Bian. Menatap handphonenya karena sedang menghubungi Amara. "Sepertinya Amara sedang bekerja, Nak. Dia tidak menjawab panggilan dari Papa."
"Papa coba sekali lagi." Ucap Bian dengan penuh harap.
Pak Arif mengangguk seraya mencoba kembali.
Tuuuuuuuttt....
"Assalamu'alaikum, Pa. Apa ada hal penting?"
"Wa'alaikum salam, Nak. Mm.. apa kamu sedang bekerja?"
"Iya, Pa. Ada pasien gawat. Tapi, kalau ada hal penting yang ingin Papa sampaikan Papa bicara saja."
"Tidak, Nak. Kamu bekerja saja."
"Nanti Mara hubungi Papa lagi. Assalamu'alaikum.."
Bian tertegun mendengar suara itu. Suara yang dia rindukan selama satu tahun terakhir ini.
********
__ADS_1