
"Bagaimana mungkin belum sampai, Pa? Amara berangkat sejak selesai shalat Ashar." Mutia panik saat suaminya mengatakan Amara belum juga sampai di tempat kerjanya. Sudah lewat waktu maghrib dan suaminya baru menghubunginya dan mengatakan Amara belum juga sampai.
"Belum, Sayang. Kalau dia sudah sampai, aku pasti sudah sampai rumah dan berkumpul dengan kalian."
Mutia memijit pelipisnya. "Apa Papa sudah mencoba menghubunginya? Mungkin saja mobilnya mogok atau apalah, Pa."
"Sudah, Ma. Nomor handphonenya aktif, tapi dia tidak menjawab panggilan Papa. Mobil itu juga baru kemarin Papa servis."
"Ya Allah.." Mutia menarik nafas dalam. Keadaan ini membuat perasaannya hancur. "Aku.. aku akan mencoba minta bantuan, Pa."
"Papa akan pakai kendaraan online saja, Ma. Kalau ada informasi baru, segera hubungi Papa."
"I.. iya, Pa."
"Kamu nggak usah kemana-mana. Diam saja di rumah. Kamu sedang hamil tua. Nggak baik kalau keluar malam. Semua akan baik-baik saja." Pak Arif mencoba menenangkan istrinya. Pria itu sebenarnya panik. Namun, saat mengingat istrinya sedang hamil tua, dia berusaha untuk tenang.
"Aku akan bertanya di sekitar rumah saja, Pa."
"Nggak usah, Sayang. Hal itu malah menimbulkan keributan tetangga nantinya."
"B... baiklah kalau begitu, Pa. Mama tunggu kabar baiknya."
"Papa tutup dulu, Ma. Assalamu'alaikum..." Pak Arif langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban istrinya. Pria itu terduduk lemas di bangku ruang loby kantornya. Keadaan kantor sudah sepi karena karyawan yang kebanyakan sudah pulang kerja.
Pak Arif mengangkat wajahnya saat ia merasa ada orang yang menepuk pundaknya. "Eh, Pak." Pria itu tersenyum kaku saat menyadari kalau atasannya yang menepuk pundaknya.
"Pak Arif kenapa belum pulang? Bukannya besok Pak Arif libur?"
"Iya, Pak. Tapi, saya sedang menunggu putri saya datang menjemput saya."
"Oh, kalau begitu sayang duluan Pak."
"Iya, Pak." Pak Arif mengangguk sopan. Pria itu langsung bangkit. Dia harus gerak cepat untuk mengetahui keberadaan putrinya.
Sepanjang perjalanan, Pak Arif terus menatap sekeliling. Mata pria itu terlihat lelah. Namun, keadaan ini benar-benar membuatnya tidak bisa menikmati waktu istirahatnya.
"Kenapa berhenti, Pak?" Pak Arif menatap Driver karena menghentikan kendaraannya.
"Maaf, Pak. Sepertinya di depan ada kecelakaan. Ada banyak orang berkerumun."
Deg...!
__ADS_1
Pak Arif tersentak. "Tunggu sebentar, Pak. Saya ingin melihatnya."
Driver itu hanya mengangguk. Dia pun ikut turun untuk melihat keadaan sekitar.
Pak Arif bertanya pada tiga orang pria yang sedang berdiri di lokasi. "Maaf, Pak. Apa disini sedang terjadi kecelakaan?"
"Bukan kecelakaan, Pak. Tapi, mobil itu ditinggal pemiliknya, Pak. Mobil itu parkir sejak tadi sore. Tapi, ada sedikit keganjalan karena pintu mobil ditemukan dalam keadaan terbuka. Belum lagi ada handphone pemiliknya yang tertinggal."
Deg..!
Jantung Pak Arif berdetak semakin cepat. Pria itu seperti sulit menelan salivanya sendiri. Tanpa aba-aba, ia berjalan lebih mendekat. Melihat semakin mendekat pada kerumunan.
"Amara...!" Pak Arif berteriak kencang saat menyadari kalau mobil tersebut adalah mobil miliknya. Hal itu membuat orang yang berkerumun langsung menatap ke arahnya. Kali pria itu lemas dan ia ambruk di atas aspal.
"Pak, sadar.. apa mobil ini milik Bapak.." kini orang-orang berpindah mengerumuni Pak Arif.
"Putriku.. putriku.. Amara.. Amara.." Pak Arif sudah kehilangan kesadarannya. Pria itu bergumam tidak jelas karena tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Berbagai ucapan terdengar di kerumunan itu. Pak Arif di bawa ke rumah terdekat agar bisa menenangkan diri.
*********
Sudah pukul sepuluh malam. Pak Arif belum bisa di ajak bicara dengan normal. Pria itu duduk termenung seperti orang kerasukan. Mobilnya sudah diamankan dan dibawa. Tinggal menunggu Pak Arif sadar dengan sepenuhnya.
"Pa, kita pulang sekarang ya..." Mutia terus mengulang-ulang ucapan itu. Suaminya masih saja seperti orang yang linglung. "Polisi akan mencari keberadaan Amara. Papa percaya sama Mama kalau Amara pasti baik-baik saja."
Pak Arif terdiam. Pria itu menarik nafas dalam sebelum akhirnya menatap istrinya. "Amara, Ma. Dia bilang mau datang menjemput Papa. Tapi, dia pergi meninggalkan Papa."
"Mungkin Ibu dan Bapak bisa menghubungi orang terdekat putri Ibu." Usul salah seorang warga. Mutia mengangkat wajahnya menatap orang itu.
"Tapi Kak Bian nggak ada di sini, Bu. Kak Bian sedang keluar kota." Carissa menimpali di sela-sela isaknya. Anak itu tiba-tiba bangkit dan menjauhi kerumunan. Membawa handphone Amara yang digenggamnya dengan erat.
Carissa duduk di tempat yang agak sepi, walaupun banyak oasang mata yang memperhatikan apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Kak Ameena... huaaaa..." tangis Carissa pecah saat panggilannya terhubung ke Ameena. Anak itu meletakkan handphone di telinganya dengan posisi terbalik. "Kak Mara hilang... Kak Ameena tolong datang ke rumah. Kami sedang mencari Kak Mara... huaaa..."
Ameena yang menerima panggilan itu seketika panik. Untuk pertama kalinya Carissa menghubunginya menggunakan nomor handphone Amara. Tidak mungkin anak itu berniat mengerjainya, jika keadaan ini tidak darurat.
"Rissa, kamu di rumah atau dimana, Dek. Kakak akan segera ke sana sekarang."
"Kami masih di lokasi kejadian, Kak. Kak Mara hilang, Kak. Dia meninggalkan mobil Papa di pinggir jalan."
__ADS_1
"Ya Allah..." Ameena semakin panik. Apalagi mendengar tangis Carissa yang pecah. "Mm.. apa Adek tau nama tempat itu? Kakak akan ke sana sekarang."
"Rissa mau bertanya dulu, Kak. Papa nggak bisa diajak ngomong. Mama Mutia juga nangis terus, Kak."
Ameena mansrik nafas dalam seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak berpikir macam-macam dari tadi, walaupun dia berulang kali menghubungi Amara tetapi tidak mendapatkan jawaban.
"Kami di Pemukiman S blok C, Kak."
"Ok, Kakak ke sana sekarang." Ameena langsung mematikan sambungan telepon. Bergegas keluar dari kamar untuk meminta papanya mengantar ke tempat yang didebutkan Carissa tadi.
Tiga puluh lima menit kemudian...
Ameena sudah sampai di tempat kejadian. Jalanan yang cukup senggang membuatnya bisa sampai dua puluh menit lebih cepat. Mutia langsung berhambur memeluknya begitu ia sampai. Satu persatu kerumunan berkurang karena waktu yang semakin malam.
"Apa Tante sudah menghubungi Kak Bian?" Ameena memeberanikan diri bertanya saat melihat kondisi Mutia lebih stabil.
"Belum ada yang sempat menghubunginya, Nak. Tapi dia juga tidak ads di sini. Dia masih di luar kota."
"Dia harus tau, Tante. Siapa tau dia bisa membantu kita mencarinya."
"Terserah kamu, Na. Kamu yang menghubunginya kalau begitu."
Tanpa diperintah dua kali, Ameena langsung menghubungi Bian. Pria itu harus segera tau. Firasat Ameena mengatakan, kalau hal ini pasti ada hubungannya dengan nenek pria itu. Sampai dua kali mencoba, Bian tidak menjawab panggilannya. Antara tidur atau masih sibuk. Intinya Bian tidak menjawab walaupun nomor teleponnya aktif.
"Pesan.." Ameena berucap sendiri saat tidak ada orang yang bisa ia mintai bantuan.
Kak Bian tolong jawab teleponnya. Aku mau bicara. Keadaannya benar-benar urgent.
Lima menit menunggu, Bian baru menjawab pesan itu.
Aku masih ada urusan di luar, Na. Nanti aku hubungi kamu kalau sudah di Apartemen.
Ameena menghela nafas berat. Wanita itu diam bercampur kesal membaca pesan balasan Bian. Ia menarik nafas panjang sebelum membalas kembali pesan itu. Saat-saat genting seperti ini, kewarasan perlu dipertahankan.
AMARA HILANG, KAK. SAMPAI SEKARANG KAMI BELUM MENEMUKANNYA. APA PEKERJAAN ITU LEBIH PENTING DARIPADA AMARA...????!!
Ameena sengaja menulis pesan seperti itu karena kesal. Ia semakin kesal karena pesannya tidak langsung terbaca. Sepertinya Bian memasukkan benda gepengnya agar tidak ada lagi yang mengganggu diskusinya.
Kewarasan Ameen hampir saja hilang dan berganti dengan emosi yang siap meledak. Wanita itu mengeratkan giginya menahan kesal. Ingin rasanya dia membanting handphonenya karena kesal Bian mengabaikannya.
Kak Bian akan menyesal karena telah mengabaikan ini. Jangan hubungi aku lagi nanti. Ameena kembali mengirim pesan. Terserah kapan pria itu akan membacanya.
__ADS_1
"Bagiamana, Na.. apa Bian bisa dihubungi?" Mutia menatap Ameena dengan penuh harap. Wanita itu hanya bisa berharap dan berharap. Selebihnya, urusan ini ia serahkan pada yang di atas.
**********