
"Ehehehe..." Daniel hanya tersenyum meringis mendengar ancaman tuannya. Mengusap-usap tengkuknya salah tingkah.
Tidak sedikit pun Bian mengalihkan pandangannya dari Daniel. Ingin rasanya dia membekap asistennya itu karena berani merencanakan sesuatu tanpa izinnya. Namun, dia masih sadar, kalau Daniel tidak akan berani bertindak jika tidak ada perintah langsung dari kakeknya.
Daniel berjalan mendekati Bian dengan ragu. Duduk di sampingnya seraya mendekatkan wajahnya ke telinga Bian. "Maafkan saya karena berani lancang, Tuan. Tapi, saya tidak berani membantah perintah Tuan Besar. Membantah perintah beliau sama saja artinya saya sudah bosan hidup enak. Saya akan kehilangan banyak hal kalau saya berani membantahnya." Berbisik dengan suara sangat pelan agar Amara tidak mendengar apa yang diucapkannya.
"Aku hanya butuh penjelasan. Kak Daniel harus menjelaskan itu semua nanti. Sekarang kita masih harus menjamu tamu." Timpal Bian dengan suara tak kalah pelan. Menegakkan posisi duduknya kembali. Beralih melirik istrinya yang terlihat tidak perduli dengan pembahasan mereka. "Hmm.. Sepertinya wanita itu butuh pengawalan untuk kembali ke ruangan ini. Apakah dia tersesat dan tak tau arah jalan kembali kemari. Sudah setengah jam lebih kita menunggunya."
Sepersekian detik Daniel melongo mendengar ucapan Bian. Ia segera beranjak bangkit setelah mengerti. "Saya akan segera mencari tau semuanya, Tuan." Bergegas meninggalkan tempat itu.
Amara menyentuh tangan suaminya. "Mas,"
Bian tersentak. Ia masih fokus menatap ke arah Daniel dan tidak memperhatikan istrinya. "I.. iya, Sayang."
"Mm.. jadi, tamu yang kamu maksud itu, Khanza? Kenapa harus merahasiakan namanya dariku?" Bertanya tetapi pura-pura sibuk menata makanan yang sudah tertata rapi.
"S.. sebenarnya bukan seperti itu, Sayang. Aku.. aku tidak ada niat buruk. Aku menyembunyikan hal ini karena aku tidak mau terjadi hal seperti kemarin. Aku hanya berniat menjaga perasaan kamu. Aku juga tidak memberitahumu, agar kamu dan dia tidak bertemu dalam satu tempat duduk yang sama." Bian menarik nafas dalam. "Tapi, sepertinya rencanaku salah. Kakek sudah menyusun rencana lain dan menyalib rencana yang sudah aku susun."
Amara tersenyum getir. "Aku nggak ngerti arah pembicaraan kamu, Mas."
"Maafkan aku, Ra. Aku nggak ada niat menyembunyikan ini semua." Menggenggam erat tangan Amara yang menatapnya dengan kesal.
Pintu ruangan itu kembali terbuka. Bian dan Amara langsung terdiam dan fokus menatap ke arah pintu. Tangan Bian masih menggenggam tangan istrinya, walaupun mata merekamenatap ke arah wanita yang berjalan anggun mendekati sofa.
Tatapan Khanza terlihat sangat tajam ke arah Amara. Tatapan itu terlihat menyiratkan kebencian pada teman lamanya itu.
"Kita akan makan siang dulu sebelum melanjutkan diskusi kita, Nona." Daniel mencoba menjelaskan situasi karena Khanza menatap tidak suka ke arah meja yang sudah di penuhi makanan yang di bawa Amara.
"Hmm.. baiklah.." Khanza mendudukkan tubuhnya pelan. Melirik ke arah Amara yang sedang tersenyum kecil ke arahnya.
__ADS_1
"Kak Daniel duduk di sini." Bian mempersilahkan Daniel untuk duduk karena asistennya itu masih berdiri di dekat sofa. Daniel pun tidak membantah. Tidak menunggu perintah dikeluarkan dua kali.
"Apa hal seperti ini sudah menjadi tradisi di Perusahaan kalian?" Satu pertanyaan terlontar dari mulut Khanza. Bian dan Amara terkejut, tetapi mereka tidak menimpali. Biarlah Daniel yang bicara dan menjelaskan apapun yang akan ditanyakan wanita itu.
"Maaf, kami kurang mengerti dengan pertanyaan Nona."
Khanza mendengus seraya membuang pandangannya. Kembali menatap Daniel dengan kesal. "Perusahaan besar seperti kalian seharusnya menjamu tamu di sebuah restoran mewah atau sejenisnya. Tapi, saya merasa kalian sedikit aneh. Kalian hanya menyediakan makan siang seperti ini. Bahkan menggunakan satu ruangan dengan ruangan tempat kita berdiskusi."
Daniel menatap Bian untuk meminta persetujuan sebelum menjawab lagi. Melihat anggukan kepala Bian, Daniel langsung mengerti. Kembali menatap Khanza yang sedang menunggu jawabannya. "Saya rasa, situasi seperti ini malah membuat tamu lebih terkesan. Dimana kami sendiri yang menyiapkan semuanya. Rasa kekeluargaan itu akan lebih dapat, Nona. Itu maksud dari penjelasan saya."
"Terus, siapa yang menyiapkan ini semua?" Menunjuk satu persatu makanan di atas meja dengan angkuh.
"Itu semua sudah disiapkan oleh orang-orang terpercaya di rumah Tuan Muda." Daniel mulai tidak nyaman karena Khanza mulai menyinggung ke ranah pribadi.
"Heh, apakah Nyonya CEO kurang pendidikan sehingga dia yang ditugaskan mengantar makan siang untuk tamu suaminya?" Menatap Amara dengan tatapan meremehkan.
"Mas..." Amara langsung menahan tangan suaminya.
Daniel membuang nafas dengan kasar. Hal yang paling ditakutkannya kini harus dimulai lagi. Dia harus bisa menguasai keadaan agar kondisi aman terkendali. "Nyonya kami hanya mengantarkan makanan untuk suaminya saja, Nona. Makanan ini sudah di masukkan oleh pelayan ke dalam mobilnya atas perintah Tuan Besar. Nyonya Amara tidak tahu menahu tentang hal ini. Dia pun datang kemari karena Tuan Muda yang memintanya untuk datang. Tuan Muda selalu makan dengan masakan istrinya. Dia tidak terlalu berselera dengan masakan di luar. Masakan Nyonya memang lebih enak daripada makanan di restoran bintang lima."
"Oh, begitu ya.." timpal Khanza, masih dengan ekspresi meremehkan.
"Sudah, kita mulai makan siangnya. Ayo, Mas.. kamu mau makan pakai apa?" Amara mengambil sendok lauk, bersiap mengambilkan makanan untuk suaminya."
Bian tiba-tiba tersenyum kecil. Entah apa yang ada di pikirannya. Tangannya mengambil alih sendok di tangan istrinya. "Apa kamu mau cari muka di hadapan Kak Daniel? Biasanya juga aku yang melayani kamu. Kamu kan suka yang aneh-aneh, Ra. Ayo katakan, kamu mau makanan yang mana."
Amara mengerjap-ngerjap bingung. Mencoba mencerna maksud dan tujuan suaminya berkata demikian. "Aku.."
"Mau makan seperti biasa, oke.." Bian langsung memotong. Tangannya mulai sibuk memilah makanan yang akan diberikan kepada istrinya.
__ADS_1
"Mas..." Amara menahan tangan suaminya. Dia benar-benar bingung dengan kelakuan Bian saat ini.
"Silahkan dimulai makan siangnya."
"Tapi, Tuan.."
"Saya akan makan setelah istri saya selesai. Kak Daniel kan tau, kalau Rara selalu datang di jam makan siang, hanya untuk di suapi makan."
Sepersekian detik Daniel melongo, mencoba memahami maksud tuannya. Bibirnya tersenyum sumringah setelah mengerti. Beralih menatap Khanza yang juga terlihat bingung dengan perubahan sikap Bian.
"Silahkan dinikmati hidangannya, Nona." Ucap Daniel menyadarkan Khanza.
"Maaf kalau Nona sedikit terusik dengan cara makan Nyonya. Nyonya Amara sedang hamil anak Tuan Muda. Seperti yang Tuan Muda katakan tadi. Nyonya Amara sering berkeinginan aneh. Bela-belain datang ke kantor di jam makan siang hanya untuk disuapi makan oleh Tuan Muda. Sebenarnya itu bukan keinginan Nyonya. Itu semua hanyalah keinginan anak dalam kandungannya."
Khanza mengernyit, melihat bibirnya tidak suka ke arah Amara. "Apakah keinginan tidak masuk akan itu harus selalu terpenuhi?"
"Tentu saja, Nona." Jawab Daniel dengan cerdas. "Keinginan wanita hamil itu harus segera terpenuhi." Sambungnya sambil terus menyantap hidangan yang sudah dipersiapkan Amara.
"Maaf kalau Ibu Khanza sedikit terganggu dengan situasi ini." Bian angkatan bicara setelah semua diam. Sepertinya caranya ini cukup ampuh membuat Khanza tutup mulut. Seharusnya dia memakai cara ini dari kemarin agar tidak terjadi adu mulut yang menguras emosi jiwa. "Aku terlalu bucin pada istriku sehingga tidak bisa menolak permintaannya."
Daniel menahan senyum mendengar pengakuan Bian. Amara mengernyit menatap suaminya. Sedangkan Khanza, wanita itu terlihat tidak perduli tapi memperhatikan apa yang terjadi antara Bian dan Amara. Terlihat jelas kalau dirinya sedang menahan sakit hati melihat interaksi suami istri itu.
"Wah.. Tuan sudah pandai saja memakai istilah yang sering dipakai anak muda. Bucin itu apa sih, Tuan?" Daniel yang kurang kerjaan menambahkan bara ke kompor Khanza yang terlihat mau meledak.
"Hmm.. Kak Daniel kurang gaul." Bian memasukkan suapan terakhir ke mulut istrinya. "Bucin itu artinya budak cinta. Aku terlalu cinta pada Rara, sehingga tidak ada yang bisa aku tolak, apapun yang diinginkannya."
Prang...!
***********
__ADS_1