Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Berkunjung


__ADS_3

Lalu lintas tampak ramai, cuaca yang cerah dan juga sejuk nyaris tidak berawan sedikitpun. Tampak sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap keluar dari kompleks perumahan mewah yang terlihat asri itu dengan kecepatan sedang melintasi dataran yang rata keluar dari kota Nirwana. Nyonya Retno sedang melakukan perjalanan jauh.


"Pak Mus, hari ini kita akan mengunjungi kerabat lamaku di Mataya" kata ny. Retno memberitahu.


"Baik ketua" balas Pak Mus, supir pribadi ny. Retno mengerti.


Tidak sampai setengah jam, mobil sedan itu sudah menyusuri jalan raya pesisir perbatasan kota Nirwana dengan Mataya. Sesekali nampak laut biru yang membentang luas, dilihat dari sela-sela pepohonan yang berjejer disisi kiri jalan. Disebelah kanannya terdapat gedung-gedung pencakar langit yang disuguhkan dengan langit biru cerah di atas puncak gedung itu. Langit tenang seperti akwarium besar.


Setelah perjalanan jauh selama dua jam penuh kesebelah utara kota mereka, sekarang mobil tersebut memasuki kota Mataya yang tak kalah indahnya dengan kota Nirwana. Lalu memasuki sebuah persimpangan jalan kecil dari kota, mendatar masuk kesebuah cekungan dan melintasi pesawahan hijau. Harus diakui keadaan serasa bagai sebuah lapangan hijau yang damai dan mungkin jarang ditemukan di kota-kota besar saat ini.


“Apa ketua yakin ini alamatnya?” tanya sang supir dengan sopan, karena dari tadi belum juga ada tanda-tanda mereka telah sampai tujuan.


“Tentu. Tidak jauh lagi, kita hampir sampai pak Mus,” balas nyonya Retno sambil menikmati pemandangan.


Setelah sejauh beberapa kilo, tampak banyak anak-anak mengelilingi bibir jalan sambil bermain layang-layangan satu sama lain. Mereka tampak senang sekali. Adapula yang sedang bermain kejar-kejaran.


“Nah, sekarang belok kiri,” nyonya Retno menyuruh supirnya membelokkan mobil kearah itu.


Anak-anak mendengar bunyi klason mobil yang datang dari arah belakang mereka. Dengan segera mereka menepi dan terperangah serentak melihat. Pandangan mereka panjang tak berkedip.


Kini, mobil itu berjalan pelan-pelan menyeberangi jembatan kecil yang mereka lewati. Pak Mus membelokkan mobil itu memasuki sebuah rumah mungil yang manis itu. Halaman yang penuh tanaman bunga itu tiba-tiba terasa penuh oleh hadirnya sebuah mobil. Karena halaman yang tak seberapa besar itu memang dipenuhi taman bunga. Di desain untuk menjadi rumah mungil sederhana yang asri. Hanya depan pintu sampai pagar saja yang longgar. Biasanya kalau sepeda motornya Galang dan teman-temannya bisa muat lebih dari sepuluh. Tapi sebuah mobil nyaris memenuhi sepanjang halaman yang tersisa itu. Mobil dihentikkanya disitu.


Flamboyan ternyata merupakan seruas jalan yang pendek dan buntu. Letaknya di lingkungan permukiman yang terdiri dari rumah-rumah kecil yang masing-masing ditinggali satu keluarga saja. Nomor 15 adalah sebuah rumah kayu dengan pondasi tinggi yang letaknya kurang lebih dari di pertengahan jalan itu.


Pak Mus segera membukakan pintu untuk nyonya Retno. Dengan gerakan pelan, nyonya Retno keluar dari dalam mobil dan seketika tersenyum mengamati suasana rumah yang dihadapannya sudah jauh berbeda dari dulu.


“Inilah tempatnya,” gumam nyonya Rita tersenyum seraya menghempas napas lega.


“Akhirnya sampai juga,” balas sang supir sambil tersenyum.


Galang yang sedang makan siang kaget saat mendengar jelas suara deru mob di depan rumah. Ia meninggalkan meja makan untuk melihat siapa gerangan yang datang. Galang berdiri di depan pintu dengan terbengong. Sebuah mobil mewah tengah terparkir di depan rumahnya dan dua orang sedang memandang kearahnya. Ia tak bersuara.


“Siapa yang datang, Lang?” tanya sang ayah lalu menyusul keluar hendak melihat siapa yang datang kerumahnya.


Galang dan ayahnya sontak terkejut saling betatapan melihat kedatangan wanita tua dengan rekannya yang mengenakan kemeja kerja berwarna hitam pendek lengan dengan celana dasar dijahit rapi. Wanita tua itu tersenyum pada mereka. Ayas, ayah Galang langsung menyadari siapa yang datang. Ia tersenyum senang tidak menyangka dengan kehadiran ny. Retno.


“Nyonya Retno. Ayo silahkan masuk,” ajak Ayas dengan sopan segera menyuruh tamunya untuk masuk kerumahnya.


Nyonya Retno dan supirnya itu menaiki jenjang depan rumah yang meledut dari bangunan itu dan kemudian masuk ke dalan rumah tersebut. Ayas membawa tamunya ke ruang depan dan duduk di kursi sofa yang di atur mengelilingi sebuah meja rendah berdaun kaca. Meja, kursi serta lemari pajangan yang tampak lapuk itu merupakan satu-satunya perlengkapan yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian mereka berbincang-bincang disana.


“Istriku, tolong ambilkan minuman untuk tamu kita. Mereka pasti sangat lelah sekali,” ujar Ayas kepada istrinya yang baru saja selesai membereskan meja makan masih terlihat bengong. Sementara Galang memilih mengurung diri di kamarnya.


“Baiklah,” sahut sang istri mengerti.


Nyonya Retno mengamati sekitar ruangan, lalu menoleh ke arah Ayas yang tampak agak tidak percaya ia kedatangan tamu sepertinya.


“Sudah lama sekali sejak terakhir aku datang kesini,” kata nyonya Retno mengawali pembicaraanya. Ia melemparkan pandangan rindu dan simpati yang murni kepada Ayas.


“Ya nyonya. Tapi rasanya masih seperti kemaren,” balas Ayas seraya tersenyum.


“Jadi, bagaimana keadaanmu, Ayas?” nyonya Retno bertanya. Ia menunjukkan keperhatiannya pada Ayas yang sudah berbeda semenjak lima belas tahun yang lalu bertemu.


“Aku dan keluargaku baik-baik saja. Yaa, seperti inilah keadaanku sekarang,” jawab Ayas tanpa ada putus asa dalam dirinya.


Sesaat kemudian, istri Ayas datang membawa nampan yang berisi cangkir teh dan biskuit didepannya. Lalu meletakkanya di atas meja dengan hati-hati.


“Maaf nyonya. Sekarang ini kami tidak bisa menawarkan apa-apa selain teh,” ujar Rita, istri Ayas dengan raut wajah sedikit merasa tidak enak, tapi ia tetap melempar senyum.


“Jangan bicara seperti itu. Bagiku, kalian sudah menerimaku disini, aku sudah sangat bahagia,” balas nyonya Retno sambil tersenyum bahagia.


“Tentu saja nyonya. Karena nyonya adalah tamu kami,” kata Ayas dengan senyuman lebarnya.


"Terima kasih"


Timbul wajah keseriusan pada nyonya Retno. Ia menatapi wajah Ayas dan istrinya secara bergantian. Nyonya Retno berdehem sebentar sebelum melanjutkan pembicaraanya.


“Maafkan aku yang sudah lama tidak mengunjungimu, Ayas. Aku sudah hampir melupakan bagian dari keluargaku sendiri. Aku sungguh minta maaf padamu"


Ayas menggeleng, tidak mempermasalahkan hal itu. "Tidak apa-apa nyonya. Saya mengerti keadaan nyonya. Maafkan aku juga yang tidak datang pernah mengunjungimu selama ini"


"Sebenarnya aku tidak punya banyak waktu sekarang. Itulah kenapa aku datang kemari,” ujar nyonya Retno berterus terang. Matanya yang sipit menatap serius ke Ayas.


Ayas dan istrinya langsung terheran. Suasana mendadak jadi sedikit tegang begitu tau kedatangan Nyonya Retno ada maksud tertentu. Sementara pak Mus memilih diam mendengarkan.


“Apa maksud nyonya?” tanya istri Ayas dengan raut wajah ketidakmengertian. Ia kaget dan juga heran memilih duduk di sebelah suaminya yang juga menatap heran.


“Ini adalah sebuah amanat yang harus kita jalani. Ada janji yang dibuat antara mendiang suamiku dengan mendiang ayahmu, Ayas. Mereka menjodohkan cucuku dengan putrimu. Kau juga tahu itu bukan?” jelas nyonya Retno dengan tenang.

__ADS_1


Ayas dan begitupun dengan istrinya sontak terkejut mendengar hal itu. Mereka membelalak tidak percaya. Sebuah pernyataan yang tak pernah mereka duga. Terpikirkan sedikitpun tidak. Rasanya seperti mendengar sebuah lelucon di siang bolong. Tapi memang begitu kenyataanya. Itu sangat terdengar jelas oleh mereka.


Ayas menelan ludah. Matanya masih terbelalak kaget.


“Sungguh?” gumam Rita merasa tidak percaya. Ia mencondongkan badannya ke depan, lalu menatap ke arah suaminya melongo. “Suamiku, apa itu benar?” ia bertanya berbisik.


Ayas yang diam sejenak tampak berfikir sesuatu. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu yang sempat terlupakan olehnya. Matanya fokus menatap ke arah meja, padahal sebenarnya ia sedang berfikir. Ia menyadari suatu hal yang hampir dilupakannya selama ini. Sebuah pesan penting dari mendiang ayahnya. Belum sempat bersuara, nyonya Retno memecah keheningan yang terjadi beberapa detik lalu.


“Aku melihat putrimu dulu sekali. Ia tentu tidak lebih dari tiga tahun waktu itu,” kata nyonya Retno sedih.


Ayas mengangguk membenarkan.


“Ya benar, nyonya. Aku hampir saja lupa akan hal itu. Untuk menyatukan keluarga kita, ayah juga meninggalkan pesan itu padaku,” katanya dengan tegar.


“Benar. Selama ini aku selalu mengharapkan seorang cucu perempuan. Namun sekarang aku yakin mimpiku akhirnya akan terwujud dengan adanya putrimu, Ayas. Tuhan juga telah memilihkan jodoh seorang pemuda yang sangat baik untuk putrimu. Kami mempunyai Alex, cucuku,” ujar nyonya Retno dengan tenang.


Ayas mengerti dan paham yang dikatakan Nyonya Retno barusan. Mengingat dan menimbang bagaiamana keadaan keluarganya, membuatnya sedikit khawatir. “Tapi putriku lahir dan dibesarkan di desa ini,” Kata Ayas merendah.


Nyonya Retno membantah. “Aku tidak peduli itu, Ayas,” nyonya Retno menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti biasanya sangat yakin akan dirinya. “Mereka sudah tentu cocok satu sama lain, sebab mereka mempunyai kami.”


“Tapi bagaimana dengan putriku, dia...”


Nyonya Retno menyanggahnya segera.


“Jangan cemaskan putrimu. Ia tanggungjawabku sekarang. Aku akan menjaganya” nyonya Rita berusaha meyakinkan Ayas.


Ayas merasa bahwa tidak ada pilihan lain kecuali mematuhi perintah itu. Ia hanya mengangguk mengerti sebagai balasanya. Rekan nyonya Retno meletakkan sebuah kotak kecil hitam terbuat dari kayu itu di atas meja dan membukanya. Ternyata sebuah cincin yang tentunya diukir atas nama Alex.


“Ini adalah simbol dari cincin keluargku yang diberikan mendiang suamiku sebagai bukti atas janjinya. Aku rasa kau juga memilikinya,” kata nyonya Retno dengan nada serius.


“Cincin?” Ayas terkejut. Keningnya berkerut sedikit kebingungan.


“Ya. Meskipun aku tahu bahwa kau sungguh keturunanya, tapi kami harus mengkonfirmasinya dengan cincin ini,” jelas nyonya Retno meberitahu.


Ayas memperhatikan cincin itu dengan seksama dan sesaat ia mengangguk yakin.


“Cincin itu, aku ingat bahwa ayahku memberikanku cincin itu saat putriku lahir,” katanya dengan yakin.


Rita mengangguk membenarkan.


Nyonya Retno senang mendengarnya. Apa yang dicemaskannya selama ini hilanglah sudah saat mendengar penuturan dari Ayas dan istrinya.


“Syukurlah." ia bernapas lega. "Sebentar lagi akan ada pengumuman pernikahan putrimu dengan cucuku. Aku tahu ini sangat mendadak. Tapi kita tidak ada waktu lagi untuk menundanya sekarang. Jadi, kau mau menerimanya, Ayas?”


Ayas mengangkat alisnya kebingungan. Ia takut akan keputusanya. Namun disisi lain ia juga harus menepati janjinya. Alih demi alih ia memang tidak bisa menantangnya. Sang istri juga tidak keberatan dengan itu. Dengan kata lain Ayas tentu saja menerimanya.


“Anda sudah memutuskanya, nyonya. Akupun tidak bisa menolaknya. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyatukan kelurga kita,” putusnya.


“Terimakasih Ayas,” ujar nyonya Retno merasa lega bercampur bahagia. “Hari ini aku sangat bahagia sekali. Secepatnya kita akan membincangkan masalah ini bersama. Saat ini hanya orang tua yang baru memutuskan.”


Ayas mengangguk membenarkan. “Iya nyonya”


“Baiklah Ayas. Semoga saja semuanya berjalan lancar. Aku tidak sabar lagi melihat hari bahagia itu datang.”


“Tentu saja nyonya. Aku juga ingin melihat hari itu datang” kata Ayas. Ada keraguan pada raut wajahnya. “Tapi sekarang ini masalahnya adalah ada pada putriku, nyonya. Ini akan menjadi sulit baginya menerima ini"


“Jangan khawatir Ayas,” kata nyonya Retno dengan tenang, berusaha meyakinkan Ayas. “Kau hanya perlu meyakinkan putrimu mengenai perjodohan ini. Ia sudah dewasa menanggapi semua ini dengan baik. Bicaralah baik-baik padanya. Ia akan mengerti sendiri.”


“Baiklah nyonya. Aku mengerti,” balas Ayas merasa lega. “Putriku akan baik-baik saja”


“Suamiku” kata Rita menengahi, menatap suaminya dengan lembut. “Aku yakin putri kita akan menerimanya. Selagi dia belum bisa menemukan jodoh untuknya sendiri, tapi kita sudah mencarikannya untuknya. Pilihan orang tua-lah yang paling tepat. Bukankah begitu?”


Nyonya Retno membenarkan. “Apa yang dikatakan istrimu adalah benar, Ayas,” tambah nyonya Retno setuju dengan pendapat istri Ayas.


Ayas mengangguk.


“Aku mengerti nyonya. Pasti akan ada jalannya sendiri nanti,” sahut Ayas.


“Iya Ayas. Aku juga akan berbicara pada cucuku. Dan aku akan mengurus segalanya, dari pertemuan hingga acara pernikahanya nanti.”


“Iya nyonya. Aku tidak bisa menyiapkan segalanya nyonya? Maafkan aku nyonya.”


“Tidak apa-apa Ayas. Jangan bicara seperti itu. Kita akan melewatinya bersama. Sudah saatnya aku membalas kebaikan keluargamu terhadapku. Semua ini hanya untuk kebahagiaan kita bersama.”


Ayas memberi anggukan pengertian. “Iya nyonya.”


Nyonya Retno meneguk air minumnya dengan hati-hati. Lalu kembali bersuara. “Putrimu tumbuh dengan baik disini. Ia pasti sudah besar sekarang,” puji nyonya Retno.

__ADS_1


Ayas membenarkan.


“Iya. Putri kami adalah gadis yang sangat keras kepala. Ia persis dengan kakeknya. Ia meniru semua yang ada pada kakeknya. Tapi sebenarnya dia adalah gadis yang ceria dan pintar. Ia pintar dalam memasak dan juga memiliki keterampilan menjahit yang bagus. Sekarang putri kami sedang menyelesaikan kuliahnya di Nirwana,” balas Ayas berterus terang.


Nyonya Retno senang mendengarnya.


“Benarkah? Dia memang ditakdirkan untuk cucuku. Gadis seperti dia adalah impian semua pria. Alex sangat beruntung memilikinya. Aku sangat bangga padanya. Kita akan segera mengatur pertemuan mereka.”


“Terima kasih nyonya,” sahut Rita segera sebelum Ayas sempat bersuara.


Nyonya Retno tersenyum puas.


“Secepatnya kita akan mempertemukan mereka berdua. Aku ingin putrimu tinggal bersamaku jika kau mengizinkan.” kata nyonya Retno tanpa ragu.


“Tapi nyonya...” sergah Ayas kembali tidak percaya dengan ucapan nyonya Retno.


“Jangan menolaknya Ayas. Untuk mendekatkan mereka berdua tentu kita harus membuatnya terus berada dekat. Nantinya mereka akan memutuskan sendiri.”


Rita sependapat. Tampaknya ia paling semangat dengan ini.


“Nyonya benar. Memang seharusnya begitu. Aku akan beritahu putriku nanti. Nyonya tidak perlu khawatir, aku akan mengurusnya. Putriku akan mengerti nantinya,” balas nya segera dengan yakin.


Nyonya Retno mengangguk membenarkan, lalu kembali menyeduh tehnya yang masih panas dengan hati-hati. Ayas hanya diam dan menerima saja.


Kemudian mereka berbincang-bincang satu sama lain saling melepas kerinduan yang mendalam. Setelah satu jam berlalu, nyonya Retno pun pamit untuk pergi.


“Terima kasih untuk semuanya, Ayas. Secepatnya kita akan mengurus semua ini. Pak Sidi dan managerku akan membantu kita. Kalau begitu, aku pamit dulu. Sampai bertemu nanti.”


“Iya nyonya. Aku mengerti. Sampai bertemu lagi” balas Ayas sembari memberi senyum.


Mobil sedan meluncur meninggalkan tempat itu. Sementara itu Galang kembali dari kamarnya dengan penasaran. Ia segera menghampiri ayah dan ibunya ingin tahu apa yang terjadi. Apalagi ia sama sekali tidak mengenali tamu yang datang tadi.


“Ibu. Siapa mereka? Kelihatannya bukan dari daerah sini,” tanya Galang yang dipenuhi rasa penasaran.


“Dia adalah pemilik SH Group, nyonya Retno Kertanegara,” kata ibu dengan singkat dan berseri-seri.


Galang terkejut. Mataya membelalak besar. Ia tahu betul dengan nama perusahaan itu. Siapa yang tidak mengenal SH Group di masa sekarang ini. Bahkan anak kecil 5 tahun pun tahu ketika ia dibawa ke SH Mall di kota Mataya.


“Apa? SH Group? Untuk apa mereka datang kemari?” Galang bertanya memaksa.


“Dia itu istri dari teman kakekmu. Terlebih lagi, kakakmu adalah tunangan dari keluarga SH Group. Bukankah itu lebih mengejutkan lagi?” jelas ibu semakin menjadi-jadi.


Galang tak kalah terkejutnya begitu mendengar penuturan ibunya barusan. Seolah-olah ini hanyalah sebuah lelucon ibu semata. Tapi tetap saja Galang langsung percaya dengan ucapan ibunya.


“Oh!!! Tunangan! Itu tidak mungkin. Kakak akan menikah dengan pemilik perusahaan terkenal itu. Itu tidak mungkin” katanya.


Ibu mengannguk membenarkan.


“Jelas itu mungkin saja. Dari yang ibu dengar kakekmu sudah lama mengabdi pada keluarga mereka. Tanyakan saja pada ayahmu,” serunya dengan rona bahagia.


“Benarkah? Waahh, ini sangat mengejutkan!! Kakak akan segera menikah dengan keluarga kaya raya. Sungguh luar biasa,” Galang tak kalah gembiranya mendengar hal itu.


“Benar. Untuk itu kau harus membujuk kakakmu untuk menerimanya. Ia pasti akan menolak mentah-mentah perjodohan ini. Dia tidak akan dengan mudah menerimanya,” timpal ayah dengan penuh kekhawatiran.


“Kakak, aku tahu kakak sangat terkejut, meskipun kedengaranya tidak masuk akal, tapi percayalah bahwa ini adalah takdirnya menjadi tunangan keluarga kaya” seru Galang.


“Biar bagaimanapun juga ini tidaklah mudah. Kakakmu sangat keras kepala. Dia mungkin akan bersikeras menolaknya” tambah ibu.


Galang mengangguk mengerti.


“Aku punya ide!” seru Galang kemudian.


Sontak ibu terkejut dengan itu.


“Oh ya? Apa itu?” tanya ibu.


Galang segera memibisikkanya pada ibu dan ayah. Sebuah tawa yang segar keluar dari mulut Galang setelah selesai memberitahu ayah dan ibunya tentang idenya.


Ayah tampak tidak setuju.


“Apa itu akan berhasil?” tanya ayah yang ragu.


Galang menganggap mantap.


“Tentu saja.”


“Baiklah. Kita akan melakukannya,” seru Ibu dengan percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2