Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kenyataan Pahit untuk Bian


__ADS_3

Bian sampai rumah pukul lima sore. Perasaannya tidak tenang karena ucapan terakhir kakeknya. Dengan membaca basmalah, ia melangkah mendekati pintu utama rumahnya. Awalnya dia ingin menghampiri rumah ibunya terlebih dahulu. Namun, melihat pintu rumah ibunya tertutup rapat, ia mengurungkan niatnya.


Tangannya terangkat ragu untuk menekan bel rumahnya sendiri. "Assalamu'alaikum, Ra. Aku pulang, Sayang..." kata-kata yang pasti diucapkannya ketika sampai rumah.


Tak berselang lama, pintu terbuka dari dalam. Manampakkan wajah Ida yang terlihat sangat terkejut melihat dirinya yang berdiri di depan pintu. "T.. T.. Tuan..."


"Iya, ini memang aku, Ida. Di mana Rara? Apa dia sedang istirahat di kamar?"


"Tuan, Nyonya..."


"Ah, kamu ini kenapa sih? Aku akan ke kamar untuk menghampirinya. Aku tidak pernah memberitahunya kalau aku pulang lebih cepat." Melangkah melewati tubuh Ida yang terlihat masih syok. Ida bahkan semakin syok karena tuannya tidak tau kalau istrinya masuk Rumah Sakit.


"Tapi, Tuan.."


"Mmm..." Bian berbalik, menatap Ida dengan heran. "Ada apa lagi, Ida?"


"Apa ... apa Tuan benar-benar tidak tau apa yang terjadi?"


Bian semakin tercengang. Kembali mendekati Ida untuk memastikan apa yang ingin di sampaikan asisten rumah nya itu. "Ngomong yang jelas, Ida. Aku tidak tau keadaan rumah sama sekali karena handphone ku hilang kemarin. Mau beli yang baru, tapi belum sempat karena aku benar-benar sibuk."


"Maafkan kami, Tuan. Nyonya Amara ... Nyonya ..."


"Ada apa dengan Rara...?"


"Anu.. itu.. Tuan.. Nyonya.. Rara.."


"Astagfirullahal'azim, Ida. Katakan dengan jelas agar aku bisa paham apa yang ingin kamu sampaikan." Bian menghela nafas berat karena Ida terlihat sangat gugup. "Apa Rara pergi ke rumah Papa?" Entah darimana datangnya, sehingga pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya.


"T.. tidak, Tuan. Tapi ... Ny.. Nyonya di R.. Rumah Sakit, Tuan. T.. tadi pagi saya dan Bu Sumi menemukannya pingsan di dalam kamar."


"Allahuakbar..." Bian tidak bisa mengatakan apapun lagi. Jantungnya seperti berhenti berdetak, darahnya pun seperti berhenti mengalir. Inikah penyebabnya sehingga Pak Akmal memintanya langsung pulang tanpa banyak tanya. Ia segera berpegangan pada sofa karena tubuhnya terasa linglung.


"Minum dulu, Tuan." Ida segera mengambil air kemasan yang selalu tersedia di meja ruang tamu. Segera menyerahkannya pada Bian yang masih berpegangan pada sandaran sofa. "Maafkan kami, Tuan. Kami tidak bisa menjaga Nyonya dengan baik."


"Tidak apa-apa, Ida. Terimakasih airnya. Kamu tidak salah apa-apa. Saya tidak akan menyalahkan siapapun. Ini adalah salah saya karena hilang kontak selama di luar kota. Rara di bawa ke Rumah Sakit mana?"

__ADS_1


"Di Rumah Sakit Swasta depan Toko Ibu, Tuan. Saya dan Bu Sumi juga mau ke sana untuk mengantarkan makanan."


"Apa makanannya sudah siap sekarang?"


"Sudah, Tuan. Saya sedang menunggu Bu Sumi selesai shalat Ashar."


"Panggil Bi Sumi. Kita pergi bersama sekarang. Masukkan saja makanannya ke dalam mobil saya."


"Tapi, Tuan..."


"Jangan ada kata tapi. Masukkan saja sekarang. Sekalian juga bawa apa yang diminta Ibu agar kalian tidak capek bolak-balik."


Ida tidak berani membantah. Ia segera ke belakang untuk memanggil Sumi. Mengeluarkan semua yang akan di bawanya ke Rumah Sakit sementara menunggu Sumi bersiap.


"Bu Sumi, kita akan pergi bersama Tuan. Jangan pakai dandan segala. Masa Tuan yang akan menunggu kita?" Ucap Ida sambil mempersiapkan barang terakhir yang akan dibawanya.


"Tuan kapan sampai rumah?" Tanya Sumi sambil memakai lipstik di bibirnya. Ida tidak pernah bilang apapun karena dia sedang shalat tadi.


"Barusan, Bu. Dia tidak tau kalau Nyonya Amara masuk Rumah Sakit. Katanya handphonenya hilang dan belum sempat beli yang baru."


"Hus, Bibi ini jangan ngomong sembarangan. Mana mungkin Tuan akan memakai ponsel dengan harga jutaan. Dia pasti pakai smartphone yang harganya puluhan juta. Kalau cuman satu atau dua juta, itu sih cuman kita yang pakai. Ayo keluar, kasihan Tuan, dia pasti sangat capek karena perjalanan jauh. Belum lagi sampai rumah dapat berita seperti ini." Ida bergegas keluar dari


kamar diikuti oleh Sumi di belakangnya.


***********


"Itu istri kamu, Bian. Dia koma sekarang. Dia belum membuka matanya sejak ibu membawanya pagi tadi. Tekanan darahnya sangat rendah. Pas keluar dari ruang operasi tadi, tensinya cuma tujuh puluh. Denyut nadinya juga lemah. Saat ini kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya. Tim medis di ruang operasi juga sudah berjuang keras untuk memberikan yang terbaik untuk kita."


Bian tidak bisa berkata apa-apa. Hanya air matanya yang mengalir menandakan betapa hancurnya perasaannya saat ini.


Bu Santi memegang tangan putranya. Membawa Bian ke ruangan anak untuk melihat bayinya. Bu Santi mendekati salah satu Inkubator. Tangannya masih memegang erat tangan putranya. Menatap nanar ke arah Inkubator yang di huni oleh seorang bayi mungil yang sedang tidur pulas. "Ini anak kamu, Nak. Anaknya cantik seperti ibunya. Dari dulu kamu melarang Dokter untuk memberitahukan jenis kelaminnya kan. Sekarang kamu sudah tau kalau anak kamu perempuan." Menatap ke arah putranya dengan air mata berlinang.


"Abang kamu sudah azan di telinganya tadi. Tapi, kalau kamu mau mengazankannya lagi, itu terdengar sangat baik, Nak. Istri kamu juga pasti berharap kamu yang akan azan untuk anak kalian."


"Ibu...." tubuh Bian tiba-tiba merosot jatuh dan memeluk kaki ibunya.

__ADS_1


"Bangun, Nak."


"Maafkan Bian karena tidak bisa manjadi imam yang baik untuk Rara. Seharusnya Bian tidak pergi kemarin, agar bisa menemaninya. Aku terlalu bodoh, Bu. Putramu ini tidak berguna."


"Bian.. bangun, Nak. Tidak ada yang patut di sesali. Penyesalan itu selalu di belakang. Kalau pun kita tau sebelumnya keadaannya akan seperti ini, kita pasti mengambil langkah yang benar untuk menghindari situasi ini. Ibu pun merasa menyesal karena meninggalkan Amara untuk pulang mengganti pakaian. Ibu sudah berjanji akan menemaninya jalan-jalan."


"Rara..." Bian terisak sambil terus memeluk kaki ibunya. Dia benar-benar merasa hancur saat ini.


"Semalam dia beberapa kali mencoba menghubungi kamu. Dia bilang sangat merindukan kamu. Dia ingin sekali mendengar suara kamu. Tapi, kamu tidak bisa dihubungi sama sekali. Dia sampai menghubungi kamu lewat Daniel. Tapi, Daniel bilang sedang berada di tempat yang berbeda dengan kamu. Daniel sedang menemani Kakek kamu menemui seseorang di luar. Ibu tidak habis pikir kamu sampai mematikan handphone karena gila kerja."


"Ibu ... handphone Bian hilang. Mau beli, tapi belum ada waktu."


"Hah," Bu Santi menghela nafas berat. "Kalau begitu Ibu nggak tau mau bilang apa. Sekarang kamu azan dulu untuk anak kamu. Setelah itu, temui istri kamu. Setidaknya ajak dia ngobrol walaupun matanya masih terpejam. Mudah-mudahan Allah segera mengangkat penyakitnya. Bangunlah!" Bu Santi memaksa Bian untuk bangkit.


"Jangan seperti ini, Nak. Lihat anak kamu, dia terbangun karena menyadari ada papanya yang datang." Bu Santi meminta perawat yang berdiri di sampingnya untuk mengeluarkan bayi mungil itu dari dalam inkubator. Mengambil alih bayi itu lalu menyerahkannya pada Bian.


Tangan Bian bergetar mengambil bayi itu. "Sayang..." ucapanya dengan pelan. Air matanya kembali bercucuran tak terbendung. Mendekatkan mulutnya ke telinga bayi itu. Mulai melantunkan azan dengan sangat lembut di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri buah hatinya. Memberikan satu ciuman di dahi putrinya. Perasaannya berdesir melihat bayi itu.


"Biarkan dia istirahat lagi, Nak. Tadi anak kamu sesak nafas karena ada air ketuban yang tertelan. Untungnya hanya sedikit, sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan."


Bian menatap bayi itu sekali lagi. Tersenyum untuknya lalu mencium dahinya dengan lembut. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya tatapan matanya yang terlihat sangat bahagia dengan kelahiran putri kecilnya itu.


"Bayi kamu sehat kok, Nak. Barat badannya 3,5 kg. Tapi, hanya itu yang menjadi masalahnya tadi. Ia sedikit sesak karena menelan air ketuban." Bu Santi meraih tangan Bian dan mengajaknya keluar untuk kembali ke ruang ICU tempat Amara.


Bu Santi mengajak Bian duduk di depan ruang perawatan. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu yang menanda tangani surat persetujuan untuk tindakan istri kamu. Ibu benar-benar panik tadi pagi karena keadaan istri kamu yang sangat memprihatinkan."


Bian menatap ke arah ruangan istrinya. Dia ingin masuk, tapi masih ada Papa mertuanya di dalam. "Yang Ibu lakukan sudah benar. Kalau menunggu aku pulang... hah, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada istri dan anakku, Bu. Terima kasih, Bu. Ibu adalah wanita yang paling berharga untuk Bian."


"Nak Bian..."


Bian tersentak dan langsung berbalik saat mendengar suara Pak Arif. "P.. Papa," Bian berdiri dan mendekati Pak Arif. ia langsung memeluk erat tubuh mertuanya itu. "Maafkan Bian karena lalai menjaga putri Papa."


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Nak. Sekarang masuk lah, temui istrimu. Siapa tau, keberadaan kamu di sampingnya merangsang motoriknya."


Bian melepaskan pelukannya. Tanpa bicara sepatah kata pun, ia melangkahkan kakinya mendekati pintu ruangan itu.

__ADS_1


**************


__ADS_2