
Bian POV...
Aku mengetuk-ngetuk meja di depanku untuk mengusir rasa aneh yang menjalar di hatiku. Hmm.. ternyata aku berhasil melakukannya. Iya, aku berhasil. Hal ini sudah aku pertimbangkan sejak beberapa hari yang lalu. Aku sampai sulit konsentrasi karena ini. Ternyata mengikuti ucapan Amara di mobil pas aku kesasar tadi, ada baiknya juga.
"Jangan bergerak, Viona. Kamu nggak boleh kemana-mana sebelum Amara kembali." Aku menggertak Viona yang perlahan-lahan malah semakin menjauh dari tempat dudukku. Huh, baru kali ini aku masuk di ruangan ini. Suasananya sedikit berbeda dengan ruangan yang lain. Aku merasa kurang nyaman karena asap rokok. Biasanya yang masuk ke ruangan ini adalah teman-teman yang di cap sebagai Preman Kampus. Hmm.. kenapa juga Amara dan Ameena masuk kemari. Tapi.. sudah lah, dengan seperti ini setidaknya aku bisa mengatakan apa yang selama ini tercekat di tenggorokan. Aku juga akhirnya bisa memberikan pelajaran untuk Viona. Gadis ini sudah terlalu sering membuat masalah di Kampus.
Aku menoleh ke arah pintu. Oh, ternyata Amara sudah ada di sana. Mm.. sepertinya Khanza mengatakan sesuatu padanya. Eh, tu cewek malah menyenggol lengan Amara. Sudahlah, aku cuma bisa berharap, semoga ke depannya dia tidak terus mengekor di belakangku.
"Ini uangnya, Kak."
Aku tersenyum lembut pada Amara seraya menatapnya agak lama. "Terimakasih.." ucapku sambil terus menatapnya. Hal itu membuat gadis itu mengalihkan pandangannya. Hah, kok aku malah menikmati semua ini. Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Dia terlihat malu-malu saat aku menatapnya.
"Mm.. ini kartunya, Kak." Eh, dia malah menyerahkan kedua kartu milikku. "Kamu bawa saja yang ini." Aku menyerahkan kembali kartu yang aku berikan padanya pagi tadi. "Kalian belum membayar makanan kalian kan?"
Dia malah tersenyum kaku padaku. Hmm.. aku mendekati Viona. "Ini uang denda yang kamu minta pada Amara. Tapi, kalau kamu mengambil uang ini, urusan kita tidak akan selesai sampai disini. Aku akan membawanya ke atas dan kita akan bertemu kembali di..."
"Nggak.. nggak, gue nggak mau memperpanjang masalah ini. Gue nggak akan mengambil uang itu. Tapi, gue minta sama lho, anggap tidak pernah terjadi apa-apa." Aku tersenyum sinis melihat ekspresi Viona. Dasar wanita licik. Baru digertak aja, tampangnya kayak orang yang mau dieksekusi. Heran aku, kenapa dia berbuat seperti ini. Apa dia tidak memikirkan bagaimana orang tuannya berusaha menyekolahkannya sampai tahap ini.
"Ayo kita keluar." Aku langsung mengajak Amara dan Ameena keluar dari tempat itu.
________
"Lho duduk di depan, Mara." Ameena mendorong tubuh Amara setelah mereka sampai di depan mobil.
"Eh, kok gitu? Nggak.. nggak. Gue mau duduk di belakang aja." Amara kembali ke posisinya yang semula.
"Lho duduk di samping laki lho sana.." Ameena kembali mendorong tubuh Amara. "Sudah diakuin juga, masih aja malu-malu."
"Hus, lho ngomong apa sih?"
Ameena memutar bola matanya kesal. "Udah, lho nurut aja sama gue. Lho duduk di depan ya. Kalau lho duduk di belakang.. mm.. gue nggak bisa tidur. Gue mau rebahan caranya, biar nggak mangap. Dan.. mm.. gue takut nggak pulas. Ujung-ujungnya kepala gue sakit nantinya." Mengakhiri ucapannya seraya masuk ke dalam mobil. Sengaja langsung menutup pintu tempat Amara berdiri.
"Kamu pintar sekali memanipulasi keadaan." Bian berucap sambil menahan senyum.
__ADS_1
"Ya elah, Mas.. palingan Kak Bian juga senang kan. Wanita mu sudah berhasil aku dudukkan di samping mu. Nantinya kalian tinggal berjanji untuk saling menjaga perasaan satu sama lain. Tapi, kalau Kak Bian mau romantisan, tunggu aku terlelap dulu. Aku nggak mau baper. Lirik aja ke belakang. Kalau aku sudah tidur, Kak Bian silahkan ngomong apapun dengannya."
Tepat saat ucapan Ameena selesai, Amara masuk ke dalam mobil. Ameena menatap Bian tajam. "Ingat ucapanku tadi, Kak. Lakukan yang aku katakan tadi, jika Kak Bian tidak mau kecolongan orang lain."
Bian tersenyum kecil. "Iya, Na."
"Siapa yang kecolongan?" Amara yang tidak tau arah pembicaraan orang tiba-tiba ikut nimbrung.
"Ng.. nggak ada. Lho nggak perlu tau deh. Kalau lho tau, yang ada lho pasti sakit hati nantinya." Ameena menguap lebar. Sepertinya gadis itu benar-benar mengantuk setelah melewati hari yang panjang dan penuh drama. "Mm.. Mara, kayaknya gue beneran mau tidur deh. Gue tidur ya. Lho bangunin gue kalau kita sudah sampai Kost." Ameena langsung merebahkan tubuhnya. Tidak perduli dengan keadaan sekitar. Malahan dia juga sengaja tidur, agar Bian bisa lebih leluasa membicarakan apapun yang ingin dia bicarakan pada Amara.
Bian berbelok ke sebuah Restoran di tengah perjalanan. "Mara, aku belum makan siang. Apa kamu mau menemaniku sebentar?"
"Boleh, Kak. Lagian kenapa tidak makan siang dulu tadi. Menu di Kafe itu enak-enak kok." Amara melirik ke arah Bian lalu kembali menatap lurus ke depan. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba agak aneh. Ia juga merasa kalau Ameena sedang menyembunyikan sesuatu.
"Enak sih enak, tapi aku nggak akan bisa menelan makanan di tempat kalian tadi. Aku nggak kuat dengan asap rokok."
"Oh, maaf, Kak."
"Ruangan itu terlihat paling menarik dari ruangan yang lain. Designnya terlihat unik dari luar. Aku langsung tertarik begitu masuk ke halaman Kafe itu. Jangan tanyakan lagi dengan Ameena. Dia Bahkan langsung menarik tanganku untuk masuk ke ruangan itu."
"Hmm... sudah lah, semua sudah terjadi." Bian melirik ke arah Ameena. Ternyata gadis itu sudah tidur pulas. "Mau membangunkan dia atau bagaimana?" Melirik ke arah Amara.
"Biarkan saja, Kak. Dia itu agak sulit dibangunkan kalau sudah seperti itu. Apa lagi dia makan terlalu kenyang tadi."
"Oh.." Bian kembali menghadap depan. "Apa kamu juga sering makan sampai kekenyangan?" Menatap Amara yang masih menatap Ameena.
"Dulunya aku sering seperti itu. Tapi, setelah dekat dengan Kak Ayra, aku mulai merubah pola makan. Bukan hanya pola makan saja, Kak. Aku juga mengubah pola hidupku. Kak Ayra mengajarkanku banyak hal yang tidak aku ketahui selama ini. Dia melarang aku makan sampai kenyang. Tapi, dia juga menyuruhku makan sesudah lapar."
"Sebenarnya itu bukan Kak Ayra yang menyuruh kamu. Tapi, itu adalah anjuran dari Rasulullah."
Amara langsung menatap Bian. "Benarkah begitu, Kak?"
"Pertanyaan kamu terdengar konyol, Mara. Nanti kita bahas lagi. Temani aku makan sekarang."
__ADS_1
Amara tersenyum seraya mengangguk. "Tapi aku tidak mau makan lagi. Aku sudah makan tadi."
"Iya.. temani aku, itu sudah cukup. Sebentar lagi, azan Adhar. Sekalian kita shalat Ashar di sini."
"Iya, Kak." Amara mengikuti Bian yang sudah keluar duluan.
"Mau pakai VIP atau di luar saja?"
"Terserah Kak Bian. Aku kan cuman mau menemani Kakak saja."
"Ok, kalau pilihan terserah padaku, aku mau makan di luar saja. Kayaknya pemandangan di luar lebih menyehatkan mata karena banyak tanaman."
"Mm.." Amara hanya mengangguk. Mengikuti Bian masuk ke dalam Kafe.
Baru saja selesai memesan menu, Bian berdecak saat melihat Pak Anton ternyata ada di tempat itu juga. "Ngapain si Botak ini ngikutin aku terus."
Amara mengikuti arah tatapan Bian. "M.. maksud Kak Bian, Pak Anton?"
"Siapa lagi kalau bukan dia."
"Tapi kan dia mengawasi Kak Bian dari kejauhan."
Bian menghela nafas berat. "Tapi tetap saja, Mara. Aku sudah bilang berulang kali pada Kakek agar mencabut anak buahnya. Aku bisa menjaga diri."
Amara tersenyum kecil. "Seharusnya Kak Bian mensyukuri hal itu. Itu berarti ada orang yang begitu menyayangi Kak Bian, sehingga tidak ada yang bisa mengusik ketenangan Kak Bian."
Bian langsung menatap Amara. "Terimakasih.. tapi, aku juga butuh kebebasan. Aku yakin, kalau kamu yang berada di posisiku kamu akan merasakan hal yang sama." Bian tersenyum lemah pada Amara. "Aku makan dulu ya.. nanti kita lanjut ngobrol lagi. Aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Ngomongin apa, Kak?" Amara menatap Bian penasaran. Tidak biasanya pria di depannya ini menunda sesuatu. Biasanya dia langsung menyampaikan apapun itu dan tidak pakai 'nanti dulu'.
"Mm.. something. Wait me for a moment." Bian tersenyum lembut pada Amara lalu mulai menyantap makanannya.
*******
__ADS_1