Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Permintaan Maaf Khanza


__ADS_3

"Silahkan masuk, Nona." Daniel mempersilahkan Khanza masuk ke ruang tamu yang lumayan luasnya.


"Apa.. apa saya boleh bertanya, Pak?" Khanza menatap Daniel dengan takut-takut.


"Apa yang anda pikirkan, Nona?"


"Hmm.. tidak ada. Lupakan saja pertanyaan saya itu, Pak."


"Silahkan duduk, Nona. Saya akan Panggilkan Tuan Muda dan Nyonya Amara kemari."


Khanza mengangguk pelan. Menatap Daniel yang berjalan menjauhinya dan menaiki anak tangga. Ia menatap setiap sudut rumah itu. "Eh," menutup mulutnya saat matanya tidak sengaja menatap foto besar di ruangan sebelah. Foto Amara dan Bian yang terpampang besar. Senyum Amara di foto itu menunjukkan betapa bahagianya wanita itu memiliki pasangan seperti Bian.


Khanza menunduk menahan perasaan tidak nyaman di hatinya. Rumah yang didatanginya saat ini berarti rumah Bian dan Amara. Ia hampir lupa, kalau saat ini dia datang untuk minta maaf pada Amara.


"Assalamu'alaikum, Za."


Khanza langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang terdengar tidak asing itu. Bibirnya terkatup rapat saat melihat Amara berdiri di hadapannya. Temannya itu terlihat sangat cantik dan elegan. Sangat berbeda dengan keadaan dirinya saat ini. "A.. Amara..."


Amara tersenyum lembut. "Iya, ini aku. Maaf karena suamiku membuatmu menjadi seperti ini."


Khanza kembali menunduk. "Ini semua memang salahku."


"Sayang, Adreena nggak mau diam nih. Sepertinya dia mau mimik." Bian menyentuh pelan pundak istrinya dangan sebelah tangannya. Tangannya yang lain menopang tubuh putrinya.


"Mm.." Amara beralih menatap suaminya. "Kan di kamar tadi ada ASI yang sudah di pompa, Mas Kamu nggak membawanya turun."


"Kamu yang buru-buru. Sudah, pegang dulu Adreena. Kamu duduk dulu, biar aku ambilkan di atas."


"Terimakasih, Mas." Amara Tersenyum pada suaminya.

__ADS_1


"Dasar manja.." Bian mengacak-acak jilbab istrinya.


"Mas, jilbab aku berantakan.."


"Mau kamu berantakan atau bagaimanapun, kamu tetap cantik di mata Bian."


"Khmm.. khmm.." Daniel pura-pura sakit tenggorokan mendengar ucapan gombal Bian. Hal itu membuat Bian melirik sinis ke arahnya. "Sudah punya istri juga. Masih saja sewot mendengar ucapanku pada istriku. Ini istriku, Kak. Mau aku bilang apapun, itu menunjukkan kalau aku benar-benar mencintainya." Bian menimpali dengan santai, seolah-olah tidak ada Khanza di tempat itu.


Bian meninggalkan ruang tamu untuk mengambilkan ASI yang tertinggal di kamar. Sementara Daniel keluar dari ruang tamu dan memilih untuk duduk di ruang keluarga agar Amara dan Khanza bisa ngobrol dengan nyaman, tanpa harus merasa terintimidasi oleh keberadaannya.


Khanza menarik nafas panjang setelah Bian dan Daniel berlalu. Ia memberanikan diri menatap Amara yang sedang menantinya membuka percakapan.


"Kebaikan apa yang pernah kamu lakukan sehingga Kak Bian bisa seperti itu, Amara?"


Amara melirik Khanza seraya mengangkat bahu. Ia sudah di latih dari kemarin oleh Bian agar bisa bersikap tenang saat berhadapan dengan Khanza. "Aku nggak tau, Za. Kamu kan tau, aku ini orangnya bagiamana. Aku nggak suka cari muka. Itu yang terlihat di luar sampai dalamnya sama. Itu yang membedakan aku dengan kamu. Kamu pandai mencari perhatian orang. Aku wanita acak-acakan yang tumbuh di keluarga yang tidak utuh seperti yang selalu kamu katakan."


"Jangan ungkit masa lalu, Amara." Khanza terlihat tidak suka dengan ucapan Amara.


"Aku ... aku minta maaf untuk semua itu." Khanza menunduk. Ia merasa tidak enak menatap Amara karena penampilan mereka yang terlihat jauh berbeda. Andaikan Daniel mengizinkannya pulang terlebih dahulu, penampilannya pasti tidak sekucel ini saat harus berhadapan dengan Amara.


"Katakan, apa tujuan kamu datang kemari. Suamiku maupun Pak Daniel tidak menjelaskan apapun perihal kedatangan kamu hari ini. Mereka hanya bilang, kamu akan datang untuk menemuiku."


Khanza mengangkat wajahnya, menatap Amara dengan ragu. "Kenapa kamu bisa setenang ini, Amara?"


"Kalau harus memikirkan perbuatan kamu, aku tidak akan bisa hidup dengan tenang. Yang ada aku hanya ingin marah dan balas dendam padamu. Tapi, aku adalah manusia yang masih memiliki kewarasan, Za. Benci dan dendam hanya akan membawa petaka pada hidupku sendiri."


"Apa ... apa kamu sedang menyindirku?"


"Tidak.." timpal Amara dengan tenang. "Untuk apa menyindir orang dewasa sepertimu? Kamu sudah tau mana yang benar dan yang salah. Kamu sudah pasti tau kalau yang kamu lakukan adalah sebuah kesalahan."

__ADS_1


Bian yang berdiri di belakang istrinya tersenyum mendengar semua jawaban bijak istrinya untuk Khanza. Dia sudah turun dari beberapa menit yang lalu. Namun, dia hanya diam di belakang Amara karena salut dengan ketenangan wanitanya itu.


"Aku hanya iri dengan keberuntungan yang kamu dapatkan, Amara."


Amara tersenyum getir. "Kamu salah, Za. Seharusnya aku yang iri dengan keberuntungan kamu. Kamu tumbuh dalam keluarga yang lengkap. Kamu hidup dalam kemewahan. Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Cuman satu hal yang tidak bisa kamu dapatkan, dan itu membuat kamu menjadi manusia yang tidak bersyukur."


Khanza hanya diam menyimak semua ucapan Amara. Dia tidak berani bicara banyak setelah menyadari keberadaan Bian yang berdiri di belakang Amara.


"Kamu tidak bernasib baik dalam urusan asmara. Aku lebih unggul dalam hal itu, karena aku mendapatkan cinta seseorang yang aku cintai. Baik sadar atau tidak, itu yang membuat kamu iri padaku, Za." Amara menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Suamiku itu adalah orang yang sangat teguh pendirian. Termasuk dalam hal mencintaiku. Kalaupun aku mati karena apa yang kamu lakukan kemarin, sepertinya dia tidak akan bisa mencintaimu, Za. Mas Bian itu cinta mati loh, sama aku. Aku tidak akan bisa tergantikan oleh wanita mana pun, termasuk wanita seperti dirimu."


"Aku ... aku ... minta maaf untuk hal itu, Amara. Aku mengaku salah, karena mengejar suami orang. Kedepannya, aku tidak akan melalukan itu lagi. Kak Bian sudah menjadi milikmu. Aku salah karena terlalu berambisi untuk mendapatkannya."


"Alhamdulillah kalau kamu sadar. Mudah-mudahan niat kamu datang kemari untuk minta maaf itu tulus dari hati kamu."


"Aku benar-benar tidak mau mengulangi kebodohan itu lagi, Amara. Aku akan berhenti mengejar Kak Bian. Dia terlalu kejam padaku."


"Mas Bian itu orang yang baik, Za. Tapi, dia itu tidak suka dengan orang yang ingin merebut hak orang lain, seperti yang kamu lakukan padaku. Apa lagi kamu melakukan itu dengan cara yang sangat kotor. Kamu hampir membunuhku dan bayiku karena kejahatan kemarin. Kalau aku sampai mati kemarin. Aku berani jamin, Mas Bian tidak akan memaafkan kamu seumut hidupmu."


"Aku minta maaf, Amara. Aku berjanji, aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu dengan Kak Bian lagi. Aku berjanji, aku akan menjadi diriku sendiri mulai sekarang. Aku nggak mau kembali ke tempat Itu lagi. Tempat itu seperti neraka dunia untukku."


Amara tersenyum seraya menarik nafas lega. "Alhamdulillah, kata-kata yang aku nantikan sejak dulu."


"Apa kamu mau memaafkan aku, Amara?" Khanza menatap Amara dengan ragu. Kunci keberhasilannya hari ini ada pada Amara. Kalau Amara memaafkannya, maka Bian akan membebaskannya. Dia ingin bebas melakukan apapun seperti sebelumnya. Tidak mau lagi terikat dengan peraturan.


"Aku sudah memaafkanmu sejak mengetahui kamu adalah pelakunya. Tapi, suamiku yang tidak bisa memaafkan kamu dengan mudah. Dia bahkan ingin mengurung kamu sampai masa hukuman kamu habis. Tapi, ia mempertimbangkan banyak hal, sehingga memberikan kamu pilihan."


Khanza menyeka air matanya yang keluar tanpa disadarinya. Sedikit demi sedikit, hatinya mulai sadar dengan kesalahan yang dia lakukan pada teman lamanya itu.

__ADS_1


*********


__ADS_2