
Niko melengos mendengar ucapan Bian. "Gue datang kemari membawa tamu, Bi.."
"Assalamu'alaikum, Kak Bi.." Khanza menghentikan ucapannya saat melihat Amara yang duduk berhadapan dengan Bian.
"Wa'alaikumsalam," Menjawab salam dengan ekspresi datar. Sedangkan Amara menjawab dengan suara pelan hampir tak terdengar. Gadis itu langsung berdiri. "Silahkan duduk, Za."
"K.. kenapa kamu bisa ada di sini, Mara? A.. apa yang kamu lakukan di tempat Kak Bian? A.. apa.. apa.."
"Aku yang membawanya kemari. Kalau mau bertamu, jangan mempermasalahkan keberadaan Amara di tempat ini." Bian ikut berdiri. Kalau seperti ini ceritanya selera makan pria itu akan hilang.
"Ah, lho ini nggak update, Khanza. Amara ini kan sudah menjadi tunangannya Bian. Wajar saja lah kalau dia sering-sering ke tempat ini."
"M.. maksud Kak Niko?" Khanza melirik Niko.
"Mereka udah bertunangan.."
"Udah, jangan dibahas. Kamu duduklah dulu. Kamu ada perlu apa sampai mencariku kemari?" Bian akhirnya memilih jalan pintas. Harus mengutamakan wanita itu terlebih dahulu agar tidak membuat keributan.
"Aku mau menyerahkan tugas yang kemarin itu, Kak." Jawab Khanza, tetapi tatapan matanya malah ke arah Amara.
Bian menghela nafas berat. "Aku kan cuma menjelaskan ke kamu apa yang harus kamu lakukan. Iya.. kalau kamu sudah menyelesaikannya, kamu tinggal menyerahkannya ke Dosen kamu."
Khanza sedikit terkejut. Jawaban Bian terdengar tidak bersahabat di telinga gadis itu. Tidak biasanya Bian melakukan itu. Ia akhirnya menarik nafas dalam. "T.. tapi, aku hanya ingin Kak Bian memeriksa itu. Aku tidak mau disalahkan lagi kalau ada yang salah."
"Makanya belajar lebih giat lagi, Non." Niko yang menimpali. Ia bahkan berkata dengan nada meledek. "Sekarang itu Bian nggak suka terlalu sering diganggu. Kalau lho terlalu banyak mengganggunya, bisa-bisa kamu di blacklist nanti. Mm.. bukan dia yang akan memblacklist kamu, tapi gue." Sambungnya sambil melotot pada Khanza.
"Udah, kalian jangan berisik. Aku dan Rara mau sarapan. Atau.. kalau kalian tidak ada perlu lagi kalian bisa pergi sekarang." Bian kembali duduk. "Ra, kamu bangunkan Ameena dulu. Temanmu itu tidur nggak kenal waktu." Ucapnya sambil mencuci tangannya kembali.
"Mm.. apa.. apa.. aku boleh numpang memeriksa tugasku sebentar, Kak? Khanza bertanya dengan takut-takut.
Bian dan Amara langsung menoleh ke arah Khanza. "Silahkan, asalkan kamu tidak membuat suara. Aku tidak mau sarapanku terganggu dengan suaramu nantinya." Bian kembali memberikan jawaban yang terdengar kurang bersahabat di telinga Khanza.
__ADS_1
Khanza hanya bisa mengangguk lemah. Ia tidak berani berkomentar lebih. Takutnya Bian berubah pikiran dan tidak mengizinkannya diam di tempat itu.
Niko hanya tersenyum sinis melihat ekspresi Khanza. Dia sudah berusaha menolak Khanza untuk ikut ke Apartemen Bian. Tapi, wanita itu terus memaksanya. "Wah, ini ... yang mau sarapan lho apa Rara, Bi?"
"Ck..! Bian menatap tajam Niko. "Hanya aku yang boleh memanggilnya Rara. Kalau kamu panggil dia seperti biasa. Masuk sana! Ngapain coba diam disini?"
"Gue mau ikut sarapan, boleh kan, Mara?" Niko menaik turunkan alisnya pada Amara. Mudah-mudahan wanita itu memberinya izin agar Bian tidak mengusirnya lagi.
"Silahkan, Kak. Tapi.. makanannya ambil sendiri di dapur. Kak Bian tidak mengizinkan aku untuk melayani orang lain selain dirinya."
"Rara, apaan sih Sayang? Tetep aja itu namanya. Kamu memang tidak menyuguhi makanan di depannya. Tapi kan kita yang capek masak tadi."
"Hah, kita..? Maksud lho, lho juga ikut terjun ke dapur? Sejak kapan lho...."
"Ssttt... diam! Kalau mau sarapan, ambil sendiri sana." Bian langsung memotong. Takutnya Niko membuka rahasianya pada Amara. Pria itu sangat malas berurusan dengan dapur. Untuk membuat secangkir teh pun, harus Niko yang turun tangan. Padahal dulu, dia sangat suka menunggui ibunya memasak di dapur. Tapi, sajak kuliah dia jadi malas berurusan dengan dapur.
"Hehehe.. ya udah nggak apa-apa. Yang penting gue dapat sarapan gratis. Gue juga mau sarapan di dapur biar tidak mengganggu kalian." Niko berlalu untuk mencari makanannya sendiri. Sialnya dia hampir menabrak Ameena yang baru keluar dari dalam kamar. "Eh, si manis baru bangun aja. Apa kamu nggak ada jam kuliah, kenapa bisa ada disini?"
"Bukan urusan Kak Niko." Ameena melengos seraya berlalu. Wanita itu memilih duduk di sofa dekat Amara. Walaupun dia sudah sadar kalau Khanza juga ada di sana. Tapi tak sedikitpun ia berniat untuk menyapa teman lamanya itu.
"Cari sendiri di dapur. Buruan sana, nanti Niko menghabiskan jatah lho juga."
"Terus, makanan lho mana?" Ameena menunjuk sepiring nasi di hadapan Bian dan Amara.
"Sepiring berdua." Jawab Bian singkat. Jawaban itu sudah cukup untuk Ameena. Gadis itu langsung pergi ke dapur untuk mengambil jatahnya.
Khanza yang duduk tidak jauh dari mereka hanya bisa mengerjap-ngerjap seraya menelan ludahnya. Dua teman lamanya terlihat sangat akrab dengan Bian. Bahkan, Amara sudah seperti bagian dari pria itu. Ternyata mengejar pria itu tidak membuatnya lebih akrab dengannya. Yang ada dua temannya yang menjauh lah yang mendapatkan hati Bian.
"Ra, jangan terburu-buru. Nanti kita bersentuhan, siapa yang mau menanggung dosa? Aku nggak mau loh.." Bian menahan senyum sambil menggoda Amara. Yang di goda menyebikkan bibirnya kesal. "Yang mau makan kayak gini kan Kak Bian sendiri. Jadi, kalau aku nggak sengaja menyentuh tangan Kak Bian. Yang menanggung dosanya Kak Bian sendiri."
Bian malah tertawa kecil. Dia benar-benar menikmati ekspresi Amara yang seperti itu. "Yang berdosa tetap kita berdua. Walaupun kamu tidak mau menanggung dosanya, malaikat Atid tetap mencatat itu sebagai dosa Bian dan Amara."
__ADS_1
Khanza kembali mengerjap-ngerjap mendengar perkataan lembut Bian pada Amara. Benar-benar pemandangan indah, jika saja itu terjadi pada dirinya. Gadis itu kembali menunduk. Dia tidak bisa lagi konsentrasi untuk mengecek tugasnya. Pria yang dia impikan selama ini sepertinya akan semakin sulit dia dapatkan. Temannya yang tidak dia sangka-sangka akan mendapatkan hati pria itu, malah dia yang mendapatkannya.
Khanza menarik nafas dalam saat menyadari kalau Ameena tersenyum sinis padanya. Tentu saja Ameena merasa menang banyak darinya, karena dia berhasil membuktikan kata-katanya, kalau Bian tidak akan jatuh cinta pada wanita licik sepertinya.
"Rara, kamu ini ini selalu saja.. makannya nggak bersih." Bian mengelap mulut Amara yang sedikit belepotan oleh kecap.
"Oh," Khanza langsung membuang pandangan melihat hal itu. Hatinya terasa ngilu melihat perlakuan Bian yang begitu lembut pada Amara. Berbanding terbalik dengan gaya bicara pria itu padanya. Pantas saja akhir-akhir ini Bian seperti menjaga jarak darinya. Ternyata pria itu sudah mencintai wanita lain, yang tak lain adalah temannya sendiri. Selama ini dia mengira Amara sering bersama Bian karena pria itu membutuhkan pengasuh untuk keponakannya. Ternyata dugaannya meleset jauh.
"Kak Bian, aku pamit dulu." Khanza membereskan barangnya di atas meja.
"Loh, kok buru-buru sekali, Za. Apa pertunjukan ini kurang ngena, atau... terlalu menyesakkan?" Ucap Ameena. Gadis itu kembali tersenyum sinis. Puas sekali rasanya berhasil mengungguli temannya yang agak sombong itu.
"Kamu ngomong apa sih, aku nggak ngerti."
"Mm.. nggak ngerti ya.. hmm.. tapi baguslah kalau lho nggak ngerti. Setidaknya hati lho nggak terlalu sakit kalau lho nggak ngerti dengan ucapan gue tadi."
"Na.. lho ini.."Amara sudah melangkah mendekat, agar Ameena tidak semakin bicara bebas.
"Udah, jangan diperpanjang. Kalian istirahat saja dulu. Aku mau ke Kampus sebentar. Kalau ada apa-apa call me ok." Bian menepuk-nepuk kepala Amara seperti yang biasa dia lakukan. "Jangan lakukan apapun selama aku pergi. Pekerjaan yang tersisa itu biarkan Ameena yang melakukannya. Sekarang kamu harus istirahat. Kamu sudah memasak tadi."
"Loh, kok gue sih?!" Ameena menunjuk dirinya dengan heran.
"Iya.. siapa lagi kalau bukan kamu. Aku kasih kamu gaji setiap bulan, bukan hanya untuk menjaga Rara. Selain menjaganya, kamu juga bertugas untuk meringankan pekerjaannya. Calon istriku tidak boleh kecapekan."
"Hah," Ameena hanya melengos. Pantas saja pria itu sampai rela mengeluarkan banyak uang untuknya. Ternyata dia harus menggandeng dua profesi sekaligus. Menjadi teman sekaligus asisten Amara Andini.
Amara melihat Khanza seperti menahan senyum mendengar ucapan Bian. Tapi gadis itu buru-buru merubah ekspresi wajahnya saat menyadari kalau Bian sedang menatapnya.
"Kamu juga, Khanza. Jangan pernah berniat untuk menyakiti Amara. Kamu akan berurusan denganku jika kamu berani mengusiknya." Bian memperbaiki jas almamaternya. "Rara, antar aku sampai ke bawah. Aku nggak enak kalau satu lift dengan dia." Melirik Khanza dengan ekor matanya. "Kalau dengan kamu, setidaknya dia akan sadar diri dan tidak akan berani menggodaku."
Giliran Ameena yang menahan senyum. Ternyata Bian hanya mengizinkan Khanza menang beberapa menit saja darinya.
__ADS_1
Hahahaha.. kena mental lho.. wanita sombong..
*********