Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Dia Benar-benar Putra Ari


__ADS_3

Pak Akmal tertegun selepas kepergian Bian. Benar-benar tidak menyangka Bian berani mengatakan hal itu. Cucunya bahkan tidak meliriknya sama sekali.


Senyum samar tiba-tiba terbit dari bibirnya yang keriput. Ia merasa seperti melihat putranya hidup kembali. Almarhum Arianto pernah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bian padanya hari ini. Dimana Ari lebih memilih wanita yang dicintainya daripada pekerjaan dan kehidupan mewah.


"Bian.. kamu benar-benar putra Kakek yang hidup lagi." Mata Pak Akmal berbinar mengatakan hal itu. Perlahan bangkit dan ikut keluar ruangan.


Bian menyambar tangan istrinya yang masih asyik bicara dengan Chayra di ruang keluarga. "Kita pulang, Ra."


"Eh, Mas.. aku..."


"Kita pulang sekarang..!" Melayangkan tatapan tajam pada istrinya.


"Bian ... ada apa?" Ardian mendekat, menepuk pundak Bian dan memaksanya untuk berbalik ke arahnya.


"Aku hanya ingin pulang menenangkan diri, Bang. Jangan paksa aku diam di sini." Mencoba memberikan pengertian pada Ardian agar kakak iparnya itu tidak menahan langkahnya. Kembali menarik tangan istrinya memaksanya untuk mengikutinya.


"Kalau kalian pulang, aku ikut ke sana. Ada yang sedang aku bicarakan dengan Amara." Chayra beranjak bangkit. Menyerahkan Farel pada suaminya.


"Lah, Farelnya di bawa dong, Sayang. Kalau kamu tinggalin, yang ada dianya rewel sama aku nanti." Ardian menatap istrinya dengan heran. Bisa-bisanya berniat mau pergi, tapi anak diserahkan pada suami.


"Sebentar aja, Mas. Aku mau menanyakan sesuatu pada Amara." Chayra menaik-turunkan alisnya agar suaminya mau mengalah.


Ardian menghela nafas berat. "Iya sudah, kamu cepat kembali. Kalau kamu lama dan Farel rewel, aku akan langsung mengantarnya ke kamu."


"Ini hari minggu, Mas. Setiap hari aku yang menjaga anak-anak. Gantian untuk hari ini saja. Istrimu butuh waktu untuk dirinya sendiri." Kembali menaik turunkan alisnya.


Ardian akhirnya tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa menatap Chayra yang sudah berjalan menjauh sambil menggandeng Amara. "Biarkan saja mereka, Dek." Memegang tangan Bian yang sudah bersiap melanjutkan langkahnya mengikuti dua wanita itu. "Wanita punya dunia sendiri. Jangan ganggu mereka."


"Aku hanya ingin pulang, Bang. Kak Ayra dan Amara tidak akan memperdulikan aku kalau mereka sudah asyik ngobrol."


"Jangan libatkan wanita kita dalam masalah pekerjaan. Mereka sudah capek mengurus keluarga. Jangan tambah beban mereka dengan ikut memikirkan masalah kita di Perusahaan."


"Iya, Bang. Tapi, wanita itu seperti ini karena dia ada dendam sama Rara."


"Nah, itu berarti..." Ardian menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan Bian. "Iti berarti dia tidak profesional. Melibatkan masalah pribadi dengan pekerjaan."


Bian hanya tersenyum lemah karena tidak tau mau menanggapi dengan kalimat apa. "Aku mau pulang dulu, Bang."


Ardian tersenyum. "Iya, jangan terlalu dipikirkan. Masalah itu akan berlalu jika dihadapi dan diselesaikan. Semangat.. masalah seperti ini sudah biasa dalam dunia bisnis." Menepuk-nepuk pundak Bian untuk menguatkan

__ADS_1


"Terimakasih, Bang." Bian beranjak pergi. Kepalanya terasa buntu saat ini. Ia hanya ingin sendiri agar bisa menenangkan pikirannya.


Pak Akmal muncul dari dalam rumah. "Bian mana, Ardian." Bertanya pada Ardian yang masih berdiri di dekat pintu menggendong putranya.


"Eh, Kakek.."


"Kakek bertanya pada kamu, Bian mana?"


"Dia baru saja pulang, Kek. Dia bilang mau menenangkan diri dulu sebelum melanjutkan pembicaraan dengan Kakek."


Pak Akmal membuang nafas dengan kasar. "Anak itu.. benar-benar seperti Almarhum. Hah, melihatnya Kakek seperti melihat sosok Ari saja." Beralih mencubit-cubit pipi gembul Farel. Bian hanya tersenyum menanggapi.


"Kakek akan mencarinya sekarang."


"Tapi, Kek." Ardian mencoba menghentikan langkah Pak Akmal. Usahanya berhasil, Pak Akmal berbalik lalu menatapnya. "Ada apa..?"


"Apa.. apa Kakek akan membahas masalah itu lagi dengannya?" Bertanya dengan ragu.


"Tidak untuk saat ini, Nak. Kakek hanya merindukannya. Kakek belum puas menatap wajahnya, tapi dia sudah pergi meninggalkan Kakek." Tersenyum kecil pada Ardian. "Kakek merasa seperti melihat Ari setiap kali melihat Bian. Jika Kakek merindukan Ari, Kakek akan mendatangi Bian. Memeluk dan menciumnya terasa seperti memeluk dan mencium Almarhum."


Ardian tertegun. Tidak pernah terlintas di kepalanya kalau hal itu yang akan di katakan sang kakek. Pantas saja Pak Akmal terlihat lebih menyayangi Bian daripada cucunya yang lain. Ternyata ada sosok Almarhum mertuanya yang tumbuh dalam diri adik iparnya itu.


Ardian mengangguk lemah tanpa bisa mengatakan apapun. Ia berbalik untuk membawa putranya kembali ke ruang keluarga. Namun, ia urungkan saat melihat hanya ada Bu Fatimah di sana. Hubungannya dengan sang nenek tidak terlalu baik. Ia akhirnya membawa Farel berjalan keluar, ke arah rumah Bian untuk mencari keberadaan istrinya.


************


Bian benar-benar mengurung diri di dalam kamarnya. Sampai waktu maghrib tiba, pria itu tidak keluar sama sekali. Amara bahkan sampai shalat di Musholla bawah bersama Chayra dan Ardian. Tidak enak mengganggu suaminya karena mengerti keadaan Bian yang sedang kacau.


"Suami kamu, Ra.." Chayra membuka percakapan usai mendirikan shalat.


"Ada apa dengan Mas Bian, Kak?" Menatap kakak iparnya dengan heran.


Chayra menghela nafas berat. "Perangainya kalau sedang marah seperti ini, sangat tidak pantas di tiru. Sangat jelek."


Amara tersenyum kecil. "Iya.. mau bagaimana lagi, Kak. Aku hanya bersyukur, kalau memang dia bersalah dia akan cepat menyadari kesalahannya. Tapi, dia bukan tipe orang yang bisa mengontrol ucapannya ketika sedang marah."


"Dulu dia tidak seperti ini, Ra. Kalau dia marah atau kecewa dia akan lebih banyak diam. Tapi, mungkin karena pengaruh umur dan kedewasaan. Menurut Kakak, Bian sekarang lebih terbuka dan melampiaskan apa yang ada di pikirannya." Beralih menatap Amara lalu tersenyum kecil.


"Kata Kakek, Mas Bian sangat mirip dengan Almarhum Bapak. Apa..?"

__ADS_1


"Iya," Chayra langsung mengangguk membenarkan ucapan Amara. Ia sampai memotong pertanyaan Amara yang belum selesai. "Kalau dari segi wajah, Bapak memang sangat mirip dengan Bian. Tapi, kalau dari segi sifat aku kurang tau. Saat Bapak pergi, aku juga masih kecil waktu itu. Aku hanya sangat mengingat rupanya." Tersenyum kecil membayangkan wajah Almarhum Arianto. "Apalagi kalau ke rumah Ibu, aku sering senyum-senyum sendiri saat melihat fotonya yang terpampang di mana-mana."


Amara mengernyit. Pikirannya langsung melayang membayangkan beberapa foto-foto suaminya yang terpampang di rumah mertuanya. "Maksud Kak Ayra, foto...?" mengisyaratkan dengan tangannya seolah-olah menjelaskan beberapa foto di rumah mertuanya. "Beberapa foto besar..."


"Iya, itu Bapak, Ra." Chayra menahan senyum melihat ekspresi Amara.


"Hah, b.. bukannya itu foto Mas Bian, Kak?"


Chayra tertawa kecil. "Siapa bilang, Dek? Itu foto Bapak semua."


Amara langsung melotot. "Aku kira itu Mas Bian, Kak. Kemarin pas aku ngambek ... aaa ... pantas saja Ibu senyum-senyum sendiri pas aku bilang foto Mas Bian terpampang di mana-mana. Lagian kok kayak nggak ada bedanya sih.."


"Itu makanya. Wajah mereka kayak fotokopian kan.."


Bian tiba-tiba muncul di belakang mereka. Chayra langsung mengisyaratkan pada Amara agar tidak bicara lagi. Posisi Amara yang membelakangi pintu masuk membuatnya tidak menyadari kedatangan suaminya.


"Ra, makan dalam dulu. Kamu ini sering lupa waktu kalau sudah bertemu dengan Kak Ayra." Bian melipat tangan di dada sambil menatap istrinya dengan tajam.


Amara tertegun beberapa saat. Menatap Chayra sebelum akhirnya berbalik menatap suaminya. "Eh, Mas..." tersenyum meringis karena merasa bersalah.


"Makan malam, Sayang. Kita makan malam di rumah Ibu. Semua sudah menunggu di sana."


"Kakak kamu masuk ke kamar tadi, minta tolong ajak dia, Dek." Chayra melepas mukenahnya dan langsung menutup wajahnya dengan cadarnya.


"Kak Ardian sudah berangkat. Adzra dan Farel juga sudah ada di sana. Tinggal kita bertiga yang sedang di tunggu." Bian mengulurkan tangannya pada Amara, agar istrinya itu berpegangan padanya.


Sampai di rumah Bu Santi, Bian langsung menjadi pusat perhatian. Entah kapan anggota keluarga yang lain datang. Saat mereka masuk, anggota besar Akmal sudah melingkari meja makan.


"Abah dan Ummi kapan datang?" Bian menyalami Pak Ismail dan Bu Ainun.


"Kamu nggak pernah menampakkan batang hidung. Abah sudah di sini sejak ashar tadi." Pak Akmal Menepuk-nepuk punggung Bian.


"Maaf, Abah. Bian kecapekan..."


"Bian, Amara, kalian berdua duduk di samping Kakek." Panggilan Pak Akmal mengalihkan perhatian Bian. Ia melirik istrinya yang hanya menganggukkan kepalanya.


Pak Akmal langsung memeluk tubuh Bian begitu cucunya itu berdiri di samping tempat duduknya. "Maafkan Kakek untuk kejadian tadi siang. Bian... kamu benar-benar putra Ari. Semua yang ada pada Ari, sekarang ada pada dirimu. Jangan menghindari Kakek lagi, Nak. Kakek tidak tau dimana Kakek akan memeluk putra Kakek kalau kamu menjaihi Kakek."


Perlahan tangan Bian terangkat dan membalas pelukan kakeknya. "Bian hanya pergi menenangkan diri, Kek. Bian takut tidak bisa mengontrol diri dan mengucapkan hal-hal yang tidak baik. Maafkan Bian, Kek.."

__ADS_1


__ADS_2