
Amara mengangguk, mengikuti Bian keluar dari Apartemen. Begitu tiga orang itu keluar, tawa Ameena langsung meledak. Tidak menyangka, seorang Bian yang terkenal sopan santun dan lembut dalam bicara membuat seorang wanita pengagumnya kena mental. Wanita itu sampai berguling-guling di atas sofa saking senangnya.
"Heh, ketawain apa lho sampai suara lho seperti petir yang menggelegar?!"
Ameena langsung diam. Segera bangkit karena menyadari kalau ada laki-laki di tempat itu. "Hah, gue kira nggak ada orang." Ucapnya lirih seraya menepuk jidatnya. Berbalik perlahan menghadap Niko. "Loh, Kak Niko kenapa nggak ikut pergi bersama mereka?"
Niko tersenyum kecek. Berjalan mendekat seraya meletakkan tas ranselnya di atas meja dan mengeluarkan laptopnya. Pria itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa. "Gue beda Kampus dengan mereka. Mana mau gue kuliah di tempat Bian. Selain biayanya lebih mahal. Gue nggak suka terlalu disiplin. Di sana itu, kita harus tepat waktu. Terlambat satu menit maka kamu tidak akan diizinkan mengikuti pelajaran." Mengakhiri kalimatnya seraya mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celananya. Melihat hal itu, Ameena langsung mengernyit tidak suka. "Kak Niko ngerokok ya?"
Niko meletakkan sebatang rokok yang sudah dikeluarkannya. "Iya, gue ngerokok. Kenapa emangnya, nggak suka?"
"Heh," Ameena membuang nafas dengan kasar. "Pantas aja bibir lho agak hitem kayak gitu." Mengambil tempat duduk yang bersebrangan dengan Niko. "Gue cuman kurang suka dengan pria yang merokok. Soalnya gue ada penyakit sesak. Jadi, dari dulu itu gue selalu menghindari laki-laki yang merokok."
Niko mengurungkan niatnya untuk menyulutkan api di sebatang rokoknya saat mendengar pengakuan gadis itu. "Untung aja lho cepat bilang. Gue nggak mau menyakiti orang karena asap yang gue buat. Apalagi itu wanita cantik seperti lho."
Ameena memutar bola matanya. "Rayuan Kak Niko terlalu murahan." Melongos seraya membuang pandangan.
"Apaan murahan. Jarang-jarang loh, gue mau merayu wanita." Niko melipat tangannya di belakang kepala. "Hmm.. padahal kalau habis makan gini, paling enak kalau menghisap sebatang rokok. Gue pilih waktu saat Bian sudah pergi. Tapi, tau-taunya lho juga sama dengan dia. Kalau Bian tau gue ngerokok di tempat ini, dia pasti akan mengusir gue. Benar-benar benci tu orang sama asap rokok." Ucapnya seraya memperbaiki posisi duduk. "Kalau gitu, gue mau ngerokok di dekat jendela ya. Kalau gue di sana asapnya akan dibawa angin."
"Terserah, yang penting baunya tidak sampai tercium. Gue benar-benar eneg dengan aroma itu." Jawab Ameena sambil melipat tangan di dada.
Tepat setelah itu, Amara masuk kembali ke dalam Apartemen. Kedatangan gadis itu disertai dengan suara deringan handphone Niko. Niko kembali mengurungkan niatnya untuk menyulut rokoknya.
"Iya, Bi.. ada apa..?" Niko langsung menjauh dari Amara dan Ameena.
__ADS_1
"Kamu kenapa masih di sana?! Keluar sekarang, atau aku minta satpam mengusir kamu. Rara mau istirahat. Jangan pernah berniat diam di sana selama ada dua gadis itu. Keluar sekarang...!"
Niko langsung melotot mendengar ucapan tegas Bian. Temannya itu benar-benar berubah menjadi sangat sensitif jika itu menyangkut masalah Amara. "Iya, gue keluar sekarang. Baru aja mau merokok.. eh, udah diminta keluar aja."
"Apa kamu bilang..?! Kamu mau merokok?! Jangan gila, Nik. Rara dan Ameena itu sangat nggak suka dengan asap rokok. Jangan sampai mereka nggak nyaman gara-gara ulah kamu. Awas saja kalau ada bau yang masih tertinggal saat aku kembali nanti."
Niko akhirnya hanya bisa menelan ludahnya. Keinginannya itu harus dia tahan sampai keluar dari Apartemen. "I.. iya, Pak Bos. Seharusnya lho bersyukur ada gue disini. Jadinya wanita lho ada yang jagain selama lho pergi." Ucap Niko mencoba menggoda Bian. Mau menguji seberapa marah temannya itu.
"Ke.. lu.. ar.. Ni..koooo...!"
Niko kembali melotot. Kalau suara Bian sudah seperti itu, dia harus segera kabur. Jangan sampai Bian kembali lalu menonjoknya di depan dua gadis itu. "I.. iya.. iya.. g..gue keluar sekarang. Kalau lho nggak percaya sama gue, lho bisa menunggu gue di lantai dasar. Lima menit gue udah ada di depan lho." Segera mematikan sambungan telepon. Melirik ke arah Amara sambil membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. "Amara, kenapa lho mau sih, sama pria posesif seperti dia?" Bergidik ngeri sambil mengangkat laptopnya lalu memasukkannya ke dalam ransel. "Kalau gue jadi lho, gue lebih baik memilih Niko yang tidak menyeramkan kalau marah." Memakai ranselnya sambil berlari keluar.
Ameena tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Niko. "Katanya maco, baru di ancam seperti itu saja udah lari terbirit-birit kayak orang dikejar anjing. Hahahaha... dasar.. kirain dia nggak takut dengan ancaman. Tau-taunya..."
"Udah ah, Na. Lho ini terlihat sangat berlebihan." Amara duduk di samping Ameena yang masih memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Amara melirik Ameena dengan sinis. "Iya, Kak Bian memang tidak akan marah. Tapi gue yang nggak mau seperti dulu lagi. Lho tau nggak, kalau menghadapi proses sampai gue seperti ini itu tidak mudah, Na." Melirik handphonenya saat ada notifikasi pesan masuk.
Ra, Ibu mau datang ke Apartemen. Aku minta tolong sama kamu, segera instruksikan pada Ameena agar segera menjalankan tugasnya. Bilang ke dia, jangan tertawa terus. Lama-lama dilihat kok dia terlihat seperti orang gila.
"Na," menepuk paha Ameena yang masih saja tertawa. "Lho baca pesan ini dulu." Menunjukkan layar handphone pada Ameena. Matanya menatap setiap sudut ruangan. Pasti ada cctv yang terpasang sehingga Bian bisa memantau gerak-gerik mereka.
Amara POV...
__ADS_1
Huh, niat hati ingin istirahat. Eh, baru masuk aja sudah disuguhi dengan peristiwa lucu. Kak Niko itu kenapa sering sekali melakukan hal-hal konyol. Aku ingin tertawa lebar seperti yang dilakukan Ameena. Tapi, mulutku seperti terkunci untuk melakukan itu.
Kak Niko itu terlalu aneh. Ngapain coba pakai bergaya mau ngerokok disini segala. Huh, ada-ada aja deh tu orang. Kalau memang takut sama pemiliknya, setidaknya patuhi peraturan yang sudah dibuat olehnya. Baru diancam aja sudah takut kayak gitu. Bagaimana kalau Kak Bian naik dan memergokinya sedang membuat polusi?
Perhatianku teralihkan saat tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ada pesan masuk dari Kak Bian. Aku langsung membukanya.
Hah, apa-apaan ini? Ibu mau datang kemari. Perasaanku langsung panik. Malah Apartemen ini terlihat sangat berantakan lagi. Huh... aku menunjukkan pesan itu pada Ameena yang masih tertawa. Hmn... ternyata dia juga terkejut. Dasar, temanku yang satu ini sering sekali merespon sesuatu dengan berlebihan. Padahal Kak Niko mungkin sudah sampai lantai dasar. Tapi, kekonyolan yang dibuat pria itu masih menghiburnya.
"Ya ampun, Mara.. kenapa baru bilang sih.." Temanku itu langsung bangkit dan terlihat panik. Bagaimanapun juga, pekerjaan yang masih tersisa adalah tugasnya semua. "Ini Kak Bian baru kirim, Na." Ucapku sambil memperlihatkan layar handphoneku kembali padanya.
"Terus gue bagaimana sekarang?"
"Gue akan bantu. Lho jangan panik, Na. Kerjakan semuanya dengan pelan tapi pasti. Kalau lho cuman panik dan tidak mulai bekerja, pekerjaan lho tidak akan pernah kelar" aku akhirnya ikut bangkit. Semua harus dikerjakan bersama biar cepat selesai. Jangan sampai saat Ibu datang nanti pekerjaan kami belum beres.
Ting...!
Aku kembali melirik handphoneku. Kayaknya ada pesan lagi dari Kak Bian.
Jangan panik, Rara. Ibu akan datang dua jam lagi. Dua jam cukup kan buat kalian mempersiapkan diri. Jangan lupa minta Ameena untuk mandi. Jangan menampakkan kejorokan di depan Ibu nantinya. Peringatan ini buat Ameena, bukan kamu.
Aku menahan senyum membaca pesan yang ini. Sengaja tidak menunjukkannya pada Ameena. Takutnya dia malah ngambek nanti.
"Kenapa lho senyum-senyum kayak gitu?" Ameena menarik paksa handphone di tanganku. Gagal sudah untuk tidak memberinya tahunya.
__ADS_1
"Hah... Amara... kenapa coba Kak Bian bilang gini..? Ha... kok gue merasa bau banget deh.."
Aku hanya mengangkat bahu sambil tersenyum mendengar ocehannya.