
Kanaya dan Abel sedang membicarakan Kak Raka di kantin kampus. Kebetulan juga ia melihat Raka berada disana. Kanaya memperhatikan Kak Raka dengan terkagum-kagum tanpa berkedip. Tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini mereka sering membicarakan kak Raka, karena tak ada topik lain yang ingin dibicarakan. Biasanya Abel yang selalu curhat mengenai pria yang di kencaninya. Tapi, belakangan ini tidak ada lagi, itu karena Abel baru saja putus dengan pacarnya yang mencampaknya hingga membuatnya bulat untuk tidak ingin menjalin hubungan dalam waktu dekat ini. Ia akan mencoba fokus dengan kuliahnya. Karena itulah Abel terpaksa melayani Kanaya soal kak Raka, meskipun ia sangat tidak menyukainya.
“Pria yang sungguh menarik,” seru Kanaya dengan ketertarikan yang nyata. “Hari ini kakak tampan sekali,” lanjutnya dengan antusias, ia memandangi Kak Raka dari kejauhan.
Suasana hatinya sedang berbunga-bunga sekarang. Lalu ia mengesap limunnya perlahan-lahan lolos dikerongkonganya.
Abel yang tak sedikitpun tertarik dengan Kak Raka, hanya menyeringai melihat ekspresi Kanaya barusan.
“Aku pikir kau hanya terlampau senang terhadapnya,” Abel berkomentar seperti mengejek sambil mengunyah snacknya dengan santai.
“Kau kan tau bahwa sudah sejak lama aku menyukainya,” kata Kanaya dengan penuh pengharapan. Matanya berseri-seri. Kata-katanya menandakan bahwa ia sangat berharap banyak pada Kak Raka. Terlihat sekali ia begitu sabar menunggu. Bahkan tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Abel yang tak peduli urusan cinta Kanaya yang entah cinta tak bakalan kesampaian ataupun cinta segitiga itu langsung menyambar Kanaya dengan sebuah gosip yang terdengar sebagai kabar angin atau sungguhan yang didengarnya. Dan ia rasa harus memberitahu temannya itu.
“Kau tidak tau ya, aku telah banyak mendengar tentangnya, terutama dari kaum hawa yang tergila-gila padanya,” kata Abel sambil mengedipkan mata nakalnya. Bercerita dengan sangat antusiasnya seperti menceritakan dongeng pada anak-anak disiang bolong itu. Ia membuka awalan ceritanya dengan setengah-setengah agar membuat Kanaya penasaran.
“Benarkah? Seperti apa?” Kanaya bertanya. Ia yang mudah terpengaruh itu langsung mencondongkan badannya ke depan untuk menghadap Abel. Mendengar cerita kelanjutnya.
“Dia sangat dingin, dan juga terlalu sombong dengan ketampananya. Dan dia sangat menyebalkan,” kata Abel berterus terang sambil dengan ekspresi jengkelnya. Ekpsresi seperti itu menunjukkan ketidaktertarikan Abel pada Raka. Tapi berupaya meyakinkan Kanaya.
Kanaya manggut-manggut. Tak membantahnya kali ini.
“Iya, aku tahu itu. Lalu apalagi yang telah kau dengar tentangnya yang tidak ku ketahui?” tantang Kanaya yang mulai tertarik dengan cerita Abel yang tak jelas asal usulnya itu. Ia menatap fokus ke arah Abel. Tak berkedip sedikitpun.
“Banyak lagi. Kau akan segera tau,” balas Abel seraya mengakhiri ceritanya. Ia kembali sengaja tidak melanjutkan kata-katanya agar membuat Kanaya jadi penasaran padanya. Abel mengunyah makananya. Ketawa kecil sekilas bergemuruh dalam lubuk dadanya.
Tiba-tiba Kanaya beralih pandang dengan kedatangan Kak Raka dan sekelompok temannya ke arah mereka sambil bercanda ria. Mereka lewat berjalan menuju dan berkumpul di kantin kampus. Raka menoleh ke arah Kanaya. Melihat itu, Kanaya sangat kegirangan dan senang. Begitu mereka berpapasan, Kanaya memberi salam dengan tersenyum manis tak karuan. Raka memandang dari yang satu kepada yang lain.
Kanaya memiliki wajah bulat, matanya hitam dan rambutnya kepang lurus yang menggantung di atas bahunya. Dia hanya mengangkat kepalanya sedikit. Kanaya tidak dapat mengucapakan sepatah katapun, mulut ternganga, ia menatapnya dengan terpesona. Raka yang melihatnya menahan tawa dan terheran-heran melihat tingkah Kanaya barusan. Begitupun dengan teman-teman Raka yang juga melihatnya. Mereka justru melempar senyum kebingungan kepada mereka berdua. Mereka pun berlalu dengan sekejap mata.
“Lihat, lihat! Kakak sangat senang saat aku memperhatikannya,” seru Kanaya dengan bangga kepada Abel. Kata itu meluncur dari mulutnya secara otomatis. “Apa kakak mengenaliku?” lanjutnya merasa takjub dan tidak percaya.
Abel, mendesah, menggeleng-geleng dan menahan malu. Ia baru saja mendapati masalah yang tak diduga. Kanaya justru berfikir sebaliknya.
“Ooo, kau pasti salah makan. Benarkan? Dia tertawa karena dari tadi melihatmu bertingkah aneh terus. Buatku malu saja,” Abel menjelaskan tentang arti senyuman dari Kak Raka tadi. Ia juga melihat ke arah teman-teman Raka yang juga terheran-heran.
Kanaya tertegun malu dan tak menyadari hal itu. Abel telah menempatkannya pada keadaan yang membuatnya malu, pucat, bingung dan jengkel. Ia memang terlihat sekali gadis yang sangat lugu.
“Benarkah? Itu karna dia memandangku terlalu lama,” kata Kanaya sambil senyum yakin, serta meneguk minumannya perlahan-lahan.
__ADS_1
Abel mendesis. “Kau benar-benar sudah tidak waras lagi,” keluh Abel yang langsung menyerah.
Doni muncul. Pria itu suka dandan dan bertingkah. Ia juga dikenal memiliki wajah yang tak kalah tampannya dengan Raka, hanya saja ia itu pria yang usil dan terlalu berkelebihan. Satu hal yang harus diketahui bahwa Doni cukup akrab dengan Raka, karena itu dia ikut-ikutan terkenal oleh gadis-gadis kampus. Tapi selalu membuat ulah kemanapun dia pergi. Dia merupakan teman dekat kedua Kanaya di kampus. Mereka menjalin persahabatan setahun yang lalu saat mereka selalu satu kelompok dalam mengerjakan tugas kuliah. Jadi, mereka cukup dekat dan sangat akrab.
Bagi Abel, berteman dengan Doni merupakan sebuah kutukan. Kini dia sudah berada disini saat tak sengaja melihat dan mendengar percakapan Kanaya dan Abel langsung menyambarnya. Bukannya disengaja, tapi ia sudah terlanjur menguping.
“Aku merasa kasihan padamu,” ujar Doni yang tiba-tiba muncul disebelah Kanaya dan langsung menyambar snack milik Kanaya, lalu duduk disitu. “Aku tidak sampai hati melihatmu, tapi aku harus memberitahumu sesuatu yang menyakitkan.” ia berlaga serius.
“Apa itu? Siapa?” tanya Abel yang kelihatan kaget yang duluan penasaran. Ia menoleh pada Doni untuk menghadangnya. “Kau baru datang dan selalu ikut campur,” omelnya kemudian.
“Pria yang kalian bicarakan itu. Aku dengar dia sudah memiliki kekasih,” lanjutnya berterus terang. Doni mengunyah makananya dengan cekatan sambil melirik ke arah rombongan Raka. Ia sibuk dengan mengambil makanan Kanaya. Di ikuti oleh Kanaya dan Abel kemudian.
Kanaya terheran-heran, dan membelalakan matanya kearah Doni. Ia mengira Doni tengah mengada-ngada dan mengarang cerita. Dan ketika baru sadar Doni terus mengambil makanannya, ia langsung menepuk tangan Doni untuk melarangnya mengambil makanannya lagi.
“Siapa yang bilang?” bantahnya segera. “Kau selalu saja mengarang cerita aneh.” Kanaya sangat yakin Doni pasti menipunya lagi.
Doni menampakkan wajah seriusnya kali ini.
“Kenapa? Aku ini juga temannya. Aku mendengar sendiri dari anggota basketnya. Kalau pacarnya sangat cantik, memiliki kulit bersih dan tinggi. Kelihatannya dia sangat kaya dan juga muda,” seru Doni dengan yakin. Ia sedikit membesarkan bola matanya pada Kanaya. Tatapannya sangat serius kali ini seperti tidak sedang bercanda.
Kanaya benar-benar kesal mendengar hal itu. Ia mengira Doni pasti sedang bercanda dengannya. Abel langsung menambahi dan sependapat dengan Doni.
“Jangan coba menipuku. Aku tidak akan mudah terpengaruh oleh kalian!” umpat Kanaya dan mewek-mewek. Ia mendelik kesal, tetap pada pendirianya sebelumnya.
“Itu memang benar. Kalau kekasihnya seorang model terkenal,” tambah Doni memanas-manasi Kanaya dan membuatnya cemburu.
Kanaya nampak memanas. “Aku tidak percaya! Bukan aku saja, aku kira akan ada ribuan wanita lain diluar sana yang pasti sependapat denganku.” Bantah Kanaya tidak setuju dengan ucapan kedua temanya itu.
Merekapun mulai berdebat sekarang. Tiba-tiba Doni terkekeh geli melihat ekspresi kesal Kanaya. Ia bahkan mengingat betul terakhir kali Kanaya terlihat cemberut seperti itu. Biar bagaimanapun Kanaya harus tau semua itu. Kecemburuan Kanaya membuat Abel dan Doni menggeleng-geleng kepala.
Doni menghempa udara. “Sepertinya kau belum mengerti juga. Kau bahkan tidak tau bagimana pria yang kau sukai. Sebelum kau menyukai seseorang alangkah baiknya kau mengetahui latar belakangnya. Jika tidak, kau bisa salah menyukai seseorang,” sindirnya. Doni berkata tanpa berpikir panjang bagaimana perasaan temanya itu.
“Yang benar saja. Kau terlalu bodoh telah menunggunya selama ini. Apa kau bisa mengerti sekarang? Kau harus move on darinya,” lanjut Abel menimpali.
Bagaimana Kanaya, apa kau sudah sadar sekarang? Semoga kau mengerti bahwa kami sangat peduli denganmu. gumam Abel.
“Pria bijak dan dewasa seperti dia adalah pujaanku selama ini. Apa benar dia telah mempunyai kekasih dan memiliki latar belakang yang buruk? Tapi hatiku mengatakan itu tidak benar. Kalian hanya mengarang cerita,” gumam Kanaya yang masih bersikeras memebela diri. Hatinya saat ini memang sedang campur aduk. Namun disisi lain ia sangat yakin dengan dirinya sendiri.
Doni menggeleng-geleng kepala. “Kau lihat saja nanti. Setelah itu kau baru percaya atau tidak. Aku harap kau cepat sadar Kanaya. Masih banyak pria lain yang jauh lebih baik darinya. Kau mau aku mencarikan seorang pria?” ujar Doni mengingatkan. Kali ini Doni sedang terlihat tidak mengada-ngada. Ia berkata apa adanya.
__ADS_1
Kanaya langsung bersungut-sungut tak karuan. Ia juga setengah percaya dengan ucapan Doni barusan.
Aku tidak percaya kau Doni! Kanaya membatin.
Entah racun apa yang telah membuatnya begitu tergila-gila dengan Kak Raka, sehingga Kanaya jadi salah tingkah seperti ini. Ia menarik napas panjang dengan wajah menampakkan kemurungan dan kekecewaan, yang semakin membuat Abel kian bertambah memanas-manasi Kanaya.
“Kau kenapa? Kau depresi ya setelah mendengar berita itu? Aku sudah bilang pria itu tidak baik untukmu, tapi kau tidak mau mendengarkanku,” tanya Abel yang memperhatikan sikap Kanaya yang cemberut.
Kanaya mendadak berubah. Ia tiba-tiba tampak lesu kehilangan semangat dan melamun. Ia mengunyah snacknya dengan enggan. Pikiranya entah kemana-mana. Tatapannya kosong dan melayang sedang memikirkan Kak Raka bersama orang lain. Mencerna satu per satu ucapan teman-temanya yang membuatnya kebingungan.
“Apa kalian kenal dengan model itu? Maksudku aku penasaran dengan gadis itu. Mungkin saja mereka Cuma berteman. Ya, aku hanya belum yakin saja. Kalian tau kan, aku sendiri belum melihatnya.” Kanaya kemudian malah balik bertanya, dia kelihatan putus asa. Memutuskan untuk percaya pada kedua temanya itu.
“Kalau kau sudah bertemu dengannya, pasti kau tau sendiri kalau dia sangat cantik. Dan secara alami, dia banyak dikelilingi pria tampan,” seru Doni dengan mantap sembari mengeloyor pergi keluar dari kantin untuk menemui teman-temannya di tempat tongkrongannya.
Kanaya mewek-mewek, hanyut dalam ketidaksadaran akibat apa yang diceritakan temannya itu. “Bagaimana ini?” keluh Kanaya sambil memukul-mukul dengan manja kepalanya di atas meja. Ia merengek seperti kehilangan akal.
“Berhentilah merengek,” kata Abel dengan nada tegas. “Kau menangis darah juga tidak akan merubah semuanya. Jadi tinggalkan pria brengsek itu sekarang.”
“Aku pikir kau ingin menghiburku. Tapi kau malah membentakku seperti itu. Hatiku sangat terpukul sekarang,” gumam Kanaya dengan perasaan yang hanyut dalam kesedihannya.
“Ya. Aku tidak ingin kau terjebak dan sakit hati nantinya. Kau belum terlambat untuk membuka hatimu pada orang lain. Dia bukan jodohmu, ingat itu.” kata Abel mulai melunak.
“Aku tidak mau. Aku sudah terlanjur menyukainya. Bagaimana ini?” Kanaya mengeluhkan dirinya lagi.
“Oleh karena itu kau harus mengakhirinya. Aku akan mendukungmu dan membantumu melupakan pria itu” ujar Abel dengan antusias.
Doni sependapat. "Ya benar. Aku siap mencarikan laki-laki lain untukmu, Nay"
Kanaya menghempa udara dengan kesal.
“Aku tahu, aku terlalu naif. Apa bagusnya pria yang bahkan tidak menghampiriku. Aku pasti sudah buta oleh cintanya. Aku akan move on darinya. Mulai saat ini aku akan menyingkirkannya dari duniaku,” gumam Kanaya membatin.
Abel tahu betul bagaimana perasaan Kanaya pada Raka. Ia mengaku sendiri tidak tega meminta Kanaya melupakan kak Raka yang sejak dulu menjadi inspirasi temannya itu. Semua orang juga tahu bahwa Raka telah memiliki kekasih yang jauh berbeda dengan Kanaya. Itu hanya semata-mata karena Abel sangat peduli dengan Kanaya sendiri yang tidak boleh larut dalam cintanya yang takkan sampai.
Ketika Kanaya mengatakan akan melupakan kak Raka, ada sekelabat rasa bahagia tiada tara muncul dari diri Abel seketika. Akhirnya ia bisa membujuk Kanaya untuk belajar move on dari kak Raka.
Abel lega rasanya. "Jadi bagaimana? Apa kau akan melupakannya?" tanya Abel karena penasaran.
"Entahlah. Untuk sekarang ini aku masih berfikir"
__ADS_1