Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Maafkan Aku, Ra


__ADS_3

"Bian, Amara ... masuklah." Ucapan itu membuat Bian melepas pelukannya. Amara mengusap air mata yang masih mengalir. Menatap Pak Akmal sekilas lalu kembali menunduk.


"Maafkan Amara, Kek. Amara telah menghancurkan acara makan malam keluarga Kakek." Amara berkata tanpa sedikitpun menatap Pak Akmal. "Mungkin akan lebih baik kalau aku pulang sekarang. Maaf kalau kehadiranku membuat yang lain tidak nyaman."


Pak Akmal terkejut mendengar ucapan Amara. Tidak menyangka kalau gadis itu keras kepala juga. Pria itu berjalan lebih mendekat pada Amara. "Tidak, Nak. Tiket kepulangan mu sudah ada di tangan Kakek. Semua akan pulang besok pagi. Sekarang masuk dan istirahatlah. Kakek tau, hari ini adalah hari yang berat untukmu. Maafkan Kakek tidak bisa melindungi kamu. Kakek sungguh sangat menyesali hal ini." Pak Akmal mengakhiri kalimatnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Masuk ya.." Bian mencoba membujuk Amara. Yang dibujuk hanya merespon dengan gelengan kepala.


"Rara, masuk ya. Kasihan yang lain lelah menunggu." Bian masih berusaha. Untungnya Bu Fatimah sudah diamankan dan di bawa pergi oleh Pak Parjo sopir pribadi Pak Akmal. Pria itu tidak mau istrinya kembali membuat keributan di rumah putrinya. Kejadian tadi sudah cukup menjadi bukti, kalau Bu Fatimah tidak benar-benar berubah. Wanita itu masih saja memandang orang dari keberadaan uangnya.


Amara diam beberapa saat. Melirik ke setiap orang yang berdiri di hadapannya. Dari Bu Santi, wanita itu memberikan anggukan kecil padanya. Beralih ke Ardian, pria itu juga melakukan hal yang sama dengan mertuanya. Amara kini menatap Humaira. Gadis itu juga melakukan hal yang sama. "Masuklah, Rara. Kami sebagai tuan rumah menghormati tamu. Kamu adalah tamu yang baik, Ra. Kamu juga adalah sosok teman yang baik untukku. Masuklah ... pintu kami selalu terbuka untuk orang baik seperti kamu, Rara." Berkata sambil menatap Amara dengan penuh keyakinan.


"Ayo, Dek." Chayra ikut meyakinkan. Wanita itu bahkan sampai mengulurkan tangannya.


Amara masih menatap semuanya satu persatu. Dari sekian banyak keluarga besar itu, hanya satu orang yang menjadi penentang hubungannya dengan Bian.


"Ayo, Ra.." Bian mendorong pelan punggung Amara agar melangkah maju. Amara menatap pria di sampingnya sebelum akhirnya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.


**********


Pagi itu, suasana di rumah Bu Ainun sudah ramai. Seisi rumah sedang mempersiapkan diri untuk berangkat pulang. Bu Ainun dan Pak Ismail hanya menatap dengan sedih anggota keluarga yang akan meninggalkan rumah mereka.


Di saat suasana sedang haru, Pak Ismail tiba-tiba mendekati Amara. Dia ingin minta maaf secara pribadi pada Amara. Gadis yang sudah bersedia datang untuk memenuhi undangan Pak Akmal, malah direndahkan oleh istri Pak Akmal sendiri. Pak Ismail tidak banyak bicara semalam karena pria itu menghormati ibu mertuanya itu.


"Nak,"


Amara yang sedang sibuk memeriksa kopernya langsung berdiri tegak begitu mendengar suara Pak Ismail di depannya. "Eh, i.. iya, Abah." Melirik Pak Ismail lalu kembali menunduk.


Pak Ismail hanya bisa menghela nafas berat melihat mata Amara yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Bukan hanya Amara, Bu Santi pun terlihat seperti itu. Pak Ismail menghela nafas berat.


"Abah minta maaf untuk kejadian semalam. Ke depannya, Abah berharap kamu tidak jera berkunjung ke rumah kami. Sejujurnya, kamu adalah wanita baik, Nak. Maafkan perlakuan kasar Ummi padamu."


Amara tersenyum kaku. Dia memang sudah memaafkan hinaan yang dilontarkan Bu Fatimah semalam. Namun, untuk melupakan hal itu, sepertinya Amara membutuhkan waktu seumur hidup. "Mara ... Mara sudah memaafkan Nenek, Abah. Tapi, kalau di minta untuk melupakan itu, maaf, Abah.. Mara belum bisa melakukannya. Mara akan menjadikan kejadian semalam sebagai sebuah pelajaran berharga." Amara menelan ludahnya sambil mendongak untuk menahan air matanya yang terasa akan tumpah lagi.

__ADS_1


"Orang mempunyai pandangan yang berbeda-beda, Nak. Tapi, kalau Abah sendiri diminta untuk memberikan penilaian tentang kamu. Abah akan menjawab dengan yakin, kalau kamu adalah wanita baik-baik dan pantas bersanding dengan anakku, Bian Putra Arianto."


Amara tersenyum, tetapi air matanya meleleh tak terbendung. "Terimakasih, Abah. Aku akan menjadikan dukungan Abah ini sebagai motivasi ke depannya."


Pak Ismail ikut tersenyum. "Sekarang pulanglah dengan tenang, Nak. Mudah-mudahan Allah mempertemukan kamu dan Bian dalam ikatan yang halal. Kejarlah cita-citamu sekarang. Buktikan pada Ummi, kalau kamu bukanlah wanita sembarangan dan patut diperhitungkan."


"Terimakasih dukungannya, Abah."


"Iya, Nak. Sekarang pulanglah. Tapi, Abah punya satu permintaan padamu sebelum kamu pergi."


"Apa itu, Abah." Amara kembali menatap Pak Ismail.


"Sekali lagi, Abah minta maaf untuk kejadian semalam. Tapi, Abah mohon sama kamu, Nak. Jangan pernah sampaikan kejadian semalam pada orang tuamu." Pak Ismail menatap Amara dengan penuh harap.


Amara diam beberapa saat. "Insya Allah, aku akan menjaganya, Abah."


"Terimakasih, Nak. Semoga Allah selalu melindungi mu dimanapun kamu berada."


"Aamiin.. terimakasih doanya, Abah. Amara pamit, assalamu'alaikum..." Amara menarik tuas kopernya untuk bersiap meninggalkan tempat itu. Setelah berpamitan pada Ismail, ia berpindah ke Bu Ainun. Wanita itu sampai terisak saat memeluk Amara. "Jaga diri baik-baik, Nak. Ummi akan sangat merindukan kamu. Insya Allah, Ummi pasti akan mengunjungi kamu jika Ummi berkunjung ke tempat Santi." Bu Ainun mendaratkan satu ciuman di dahi Amara. "Ummi sayang sama Amara."


Kini, Amara berpindah ke hadapan Humaira. Namun, gadis itu menepis tangannya saat Amara menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "Ngapain salaman samu aku?! Aku juga mau ikut ke rumah Ibu."


"Loh.." Amara tercengang.


"Iya, aku mau ikut ke tempat kamu. Kenapa emangnya.. nggak suka?" Humaira berkata ketus.


"Kak Mayra apaan sih?!" Amara mencubit pelan lengan Humaira.


"Kita berangkat sekarang." Bian akhirnya memberikan instruksi pada semua anggota keluarganya. Pria itu berjalan mendekati Amara. Tapi, langkahnya terhenti karena Humaira menghadang jalannya.


"Jangan dekat-dekat sama Rara. Semalam kamu sudah khilaf. Aku takut kamu khilaf lagi kalau berdampingan lagi dengannya."


Bian akhirnya hanya melengos. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berjalan menuju mobil tanpa menunggu yang lain.

__ADS_1


Anggota keluarga yang lain saling pandang lalu tersenyum. Mereka mengikuti langkah Bian masuk ke dalam mobil.


Muka Bian berubah pucat begitu pintu pesawat tertutup. Tangan pria itu mengeluarkan keringat dingin. Untungnya yang duduk di sampingnya adalah ibunya. Pria itu segera memasang headseat begitu pramugari memberikan instruksi. Melihat hal itu, Bu Santi menggenggam tangan putranya. Tidak terbayang bagaimana paniknya Ardian saat mereka pergi ke Singapura kemarin


"Peluk dia, Bu." Ardian tiba-tiba mendekat dan berbisik di telinga mertuanya. Pria itu duduk kembali setelah melihat Bu Santi melakukan apa yang diucapkannya tadi.


Setelah melihat putranya tenang, Bu Santi menyandarkan tubuh Bian lalu memakaikan sabuk pengaman untuknya. Akhirnya Bian menghabiskan waktu dengan tidur sampai pesawat landing dua puluh menit kemudian.


Bian menarik lengan baju Amara saat gadis itu berkata akan memakai mobil lain untuk pulang. "Jangan berniat untuk pulang ke rumahmu sebelum mampir ke rumahku dulu."


Amara menautkan alisnya heran. "Tapi..."


"Ssstttt...." Bian mencegah Amara untuk melanjutkan ucapannya. "Kita perlu bicara, Ra. Aku butuh waktumu saat ini. Aku tidak tau kapan lagi bisa bicara jika kamu menolak permintaanku hari ini."


Amara terdiam. Beberapa kali melirik ke arah Bian dan yang lain. Wanita itu akhirnya mengangguk setuju.


"Bian benar, Mara. Sebaiknya kamu ikut ke rumah Ibu terlebih dahulu. Masalah kemarin harus diselesaikan dengan tuntas. Kamu adalah wanita bijak dan mandiri. Kak Ayra tau, kalau kamu pasti ingin yang terbaik untuk menyelesaikan masalah kemarin." Chayra menepuk pundak Amara untuk lebih meyakinkan. Menunggu sampai gadis mengangguk setuju.


Bian mengajak Amara ke taman belakang rumahnya begitu mereka sampai di rumah. Wanita itu hanya menurut. Drama kemarin malam benar-benar membuatnya malas untuk berdebat.


"Duduk lah!" Bian mempersilahkan Amara duduk di salah satu ayunan diantara tiga ayunan yang berjejer. Tanpa diminta dua kali, Amara langsung duduk di atas ayunan.


"Maafkan aku, Ra."


"Maaf untuk apa, Kak?"


"Maaf untuk kejadian bodoh itu. Aku ingin kita memperbaiki perasaan yang hancur karena ucapan bodoh Nenek."


Amara menghela nafas berat. "Nggak usah dibahas lagi, Kak. Insya Allah, aku sudah ikhlas." Amara berkata sambil membuang pandangannya.


Bian beralih ke depan. Duduk di hadapan Amara yang masih duduk di atas ayunan. "Ra,"


"Mm.."

__ADS_1


"Aku mencintaimu,"


*********


__ADS_2