Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Pertemuan Tak Disengaja


__ADS_3

Setiap minggunya ia datang ke toko buku ini. Sudah menjadi ritual baginya untuk mendatangi tempat ini dengan alasan mencari ketenangan dan tempat melarikan diri yang paling tepat. Sehingga para pekerja yang bertugas merapikan buku-buku dirak sudah mengenali Kanaya, termasuk dua kasir di dekat eskalator. Ibu-ibu yang rajin merapikan buku-buku di rak juga sudah tahu. Tempat ini menyenangkan. Tempat ia bisa membaca sepuas hatinya.


Kanaya berjalan-jalan di sepanjang rak buku, menyentuh satu-dua buku. Tapi belum juga menemukan buku yang diinginkanya.


“Dimana ya? Aku rasa aku menyembunyikannya disini,” gumamnya sambil melihat-lihat dengan satu persatu buku itu. Keningnya berkerut kebingungan.


Tanpa berpikir panjang, ia kembali mencari-cari. Usut punya usut matanya menadah ke atas dan melihat. Akhirnya ia menemukan buku itu juga, terselip rapi dengan buku lainnya. Seseorang mungkin telah memindahkanya di rak paling atas dengan sengaja. Ia menyeringai datar. Menatap pengunjung lain yang sibuk, seperti menaruh kecurigaan terhadap mereka. Namun, itu jelas tidak mungkin ulah mereka.


“Oh! Aku menemukannya,” ia berseru kegirangan.


Kanaya hendak mengambil buku itu, tapi tak semudah itu ia mengambilnya. Karena raknya cukup tinggi dan diluar jangkauannya. Emang nasib jika bertubuh pendek. Kanaya mendesah panjang. Buku itu belum juga bisa ia ambil. Ia bahkan sudah berusaha untuk kesekian kalinya tetap saja sia-sia. Kanaya hampir kehilangan akal.


“Aku tahu bagaimana kehadiranku setiap hari bisa menarik perhatiannya. Tapi bukan seperti ini juga caranya!” ketusnya yang tahu siapa pelaku dari semua ini. Siapa lagi kalau bukan salah satu karyawan toko yang si Dendi anak yang tinggi semampai itu. Dua minggu terakhir dia selalu mencuri-curi pandang dan selalu usil.


Kanaya nekat untuk memanjat rak itu, tak peduli jika pengunjung lain melihatnya. Namun aksinya justru gagal ketika seseorang datang membantunya. Entah sekedar kebetulan, atau hari ini adalah hari keberuntungan untuk Kanaya, tapi baru saja ia mengalami sedikit intermezo yang persis terjadi dalam sebuah drama. Lebih mengejutkan lagi rupanya seseorang itu yang tak asing lagi baginya. Persis yang terjadi saat sekarang ini.


Dan kagetlah ia ketika mata mereka saling bertumbukkan selama beberapa detik. Kanaya tak berkedip, bola matanya membesar.


“Oh!” kata Kanaya dengan ekpresi gugupnya. Ia menatap dengan yakin orang yang ada dihadapanya benar-benar Kak Raka atau orang lain yang menjelma jadi Raka. ”Kakak” lanjutnya dengan menyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Laki-laki di hadapanya benar Raka yang dikenalnya. Bukan hayalannya.”Terima kasih,” ia berkata pelan.


Raka memberikan buku itu pada Kanaya sambil tersenyum yang mengalihkan dunia Kanaya.


“Ya,” balas Raka.


Kanaya tersipu malu mendengarnya. Ia menerima buku itu dengan malu-malu. Raka tersenyum. Kemudian memperhatikan Kanaya baik-baik. Ia menebak-nebak gadis yang dihadapannya. Ia yakin mengenal gadis itu sebagai Kanaya, juniornya di masa sekolanya dulu.


“Kanaya?” ia bersuara.


“Ya?” jawab Kanaya membenarkan.


“Kau rupanya. Kebetulan aku melihatmu mengambil buku itu.”


Kanaya tersenyum malu-malu mendengarnya. Tak disangka Raka mengenalnya. Senang bukan kepalang, jantungnya berdegup kencang sekali saat Raka berdiri gagah dihadapannya.


“Ya. Itu karena letaknya terlalu tinggi.”


Raka tersenyum mendengarnya sebagai jawabannya.


“Apa kakak ingin membeli buku?” tanya Kanaya dengan berani. Ia merasa tindakannya saat ini sudah benar sebelumnya keduanya kembali terdiam tanpa sepatah kata.


Raka mengangguk membenarkan.


“Ya. Tapi sebenarnya otakku yang sederhana ini hanya bisa memahami komik.”


Kanaya tertawa lepas. Tawa yang bahagia.


“Apa aku terlihat begitu?” tanya Raka.


Kanaya segera menggeleng-geleng kepala.


“Tidak. Tidak juga. Aku juga suka membaca komik. Aku bahkan sudah membaca komik disini.”


“Begitukah? Sepertinya kau sering mengunjungi tempat ini.”

__ADS_1


“Ya begitulah”


Lima detik berlalu ganjil sekali.


“Mermaid? Apa ini kisah dalam dongeng yang sering kita dengar itu? Kau belum membacanya?” kening Raka berkerut melihat komik yang dipegang Kanaya.


Kanaya mengangguk membenarkan.


“Benar. Tapi cerita yang satu ini sangat berbeda dan jauh lebih menarik. Aku sangat menyukai ceritanya”


“Oh ya?”


Kanaya mengangguk. “Tentu saja. Komik ini sangat populer sekarang.”


“Baiklah. Aku mengerti” Ia mengambil buku itu dari Kanaya.”Aku akan membeli buku ini”


“Ya?” Kanaya tak mengerti apa maksud semua ini.


“Kenapa? Katamu ceritanya sangat berbeda, karena itu aku jadi penasaran,” jelas Raka memberi klarifikasi dari maksud ia ingin membeli buku itu.


Kanaya menyeringai.


“Ini satu-satunya komik yang tersisa disini setelah semuanya habis terjual. Bahkan aku sengaja menyembunyikannya agar orang lain tidak mengambilnya. Tapi aku tidak bisa membelinya sekarang,” kata Kanaya dengan malu-malu. Ia tersenyum simpul. Dia hanya berusaha membuat suasana lebih rileks, lewat bercakap-cakap santai.


Raka langsung tertawa renyah setelah melihat ekspresi lucu Kanaya barusan. Ia langsung mengerti apa maksud dari perkataannya.


“Biar aku saja yang membelinya.”


“Apa?” Kanaya terhenyak.


Kanaya langsung salah tingkah.


“Jadi begitu ya?” Kanaya tersenyum mengembang. “Bagaimana ya? Baiklah, tidak apa-apa.”


“Aku akan mengembalikan buku ini secepatnya padamu.”


“Ya, tidak masalah.”


Raka meninggalkan tempat itu. Sesaat Raka hilang dari pandangannya, Kanaya langsung melonjak kegirangan tak jelas. Ia sungguh tak menyangka akan mengalami kejadian ini.


“Astaga! Apa aku bermimpi? Apa yang baru saja terjadi? Kakak ada disini,” gumamnya. Ia terus-terusan memukuli dirinya yang masih berkhayal.


Seseorang wanita tua pegawai toko buku tak sengaja melihatnya langsung menghampiri Kanaya yang masih .


“Astaga! Pria tadi yang bersamamu itu siapa? Tampan sekali dia. Apa dia pacarmu?” ia bertanya penasaran.


“Kakak Raka,” jawab Kanaya berterus terang sambil senyum-senyum.


Sontak mata wanita tua itu membelalak besar. Ia terkejut. Nama yang tak asing lagi baginya. Bahkan sudah tersimpan di memorinya saat setiap hari Kanaya menceritakan nama Raka pada bibi itu panjang lebar. Siapa yang tak terkejut jika bibi pegawai toko melihat langsung pria yang bernama Raka itu bersama Kanaya saling bercakap satu sama lain. Ditambah lagi, Kanaya sangat tergila-gila padanya, akhirnya bisa bertemu jua.


Merekapun mulai bercerita.


“Apa? Dia pria yang sering kau ceritakan itu? Benarkah?” seru bibi dengan sumringah.

__ADS_1


Kanaya mengangguk membenarkan.


“Ya benar,” jawab Kanaya malu-malu.


“Astaga! Memang benar katamu, dia sangat tampan. Bagaimana bisa itu terjadi?” ia bertanya dengan antusianya.


Tampaknya ceritanya terus berlanjut jika bibi si karyawan toko buku terus bertanya pada Kanaya yang kelihatan penasaran sekali dengan kejadian tadi.


“Entahlah. Aku juga tidak menyangka ini akan terjadi. Sepertinya aku sedang bermimpi,” jawab Kanaya yang mulai jadi salah tingkah jika diberikan pertanyaan seperti itu. Ia bisa tidak terkendalikan lagi jika sudah membicarakan kaka Raka.


“Lalu, apa kalian sudah pacaran?”


Kanaya menggeleng kepala.


“Tidak. Sekarang ini aku akan melupakannya,” seru Kanaya menguatkan diri. Secara tiba-tiba ia langsung sadar akan dirinya yang sudah bertekad ingin menghapus nama Raka di benaknya.


“Kenapa? Apa kau akan melupakan cinta pertamamu begitu saja?” tanya bibi karywan toko tidak percaya. Matanya lekat memandang Kanaya menunggu jawaban.


“Ya begitulah. Tapi, sekarang aku harus move on dari kakak. Karena kakak sudah memiliki pujaan hatinya sendiri.”


“Aku tahu ini tidak mudah. Tapi kau harus berusaha, karena kau juga harus bahagia. Kau pasti paham maksudku.”


“Terima kasih bibi. Aku pergi dulu, kalau begitu.”


“Mau kemana? Bantu aku sebentar,” sergah bibi segera.


Kanaya tampak berpikir sebentar. Setelah ini ia mungkin tidak melakukan apa-apa dan kembali ke kontrakan. Jadi tidak ada salahnya ia berlama-lama disini sebentar dan membantu bibi.


“Ya sudahlah. Aku akan membantu bibi. Apa yang bisa aku lakukan?” ia memutuskan.


“Itu bagus. Letakkan buku-buku ini kembali. Semantara aku juga melakukannya disana. Hari ini si Dendi sedang libur, jadi aku yang mengerjakan pekerjaanya.” Jelas bibi.


“Oh ya? Pantas saja aku tidak melihatnya dari tadi.” Ujar Kanaya.


Bibi membenarkan.


“Benar. Katanya ia ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Karena itu aku jadi kesusuhan sekarang”


Kanaya tergelak.


“Jangan mudah percaya dengan dia, bi. Mungkin saja dia mencari-cari alasan untuk libur supaya bisa pergi kencan dengan gadis yang datang waktu itu. Dia kan paling pintar membuat alasan”


Bibi jadi percaya dengan ucapan Kanaya barusan.


“Astaga. Kau ada benarnya juga. Sudah kedua kalinya ia ambil cuti dalam dua minggu ini. Apa dia benar-benar berkencan dengan gadis itu?” serunya.


Kanaya tersenyum.


“Sebaiknya bibi harus mencaritahunya.”


Bibi mengangguk mengerti.


“Anak itu, lihatlah saja ketika dia kembali.”

__ADS_1


Kanya terkekeh geli mendengarnya


__ADS_2