
"Kenapa nggak pernah cerita kalau kamu alergi dingin, Ra?" Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Bian begitu sampai di hadapan istrinya.
Amara menatap suaminya dengan kesal. Padahal Bian sudah tau hal itu jauh sebelum mereka menikah. "Apakah aku perlu menjelaskan hal itu setiap malam padamu, Mas?" Timpalnya seraya membuang pandangan.
"Sudah, sudah, sekarang kita pulang." Bu Santi menuntun Amara masuk ke dalam mobil.
Amara menahan tangan mertuanya yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. "Aku duduk di belakang saja, Bu. Ibu yang duduk di depan bersamanya."
"Ibu nggak pulang bersama kalian, Nak. Ibu masih di sini sampai jam dua belas nanti. Ada yang perlu Ibu bicarakan dengan kakek kamu."
Amara tidak menimpali, tetapi ia masuk ke dalam mobil karena tidak mau menambah masalah. Menyandarkan tubuhnya seraya memejamkan matanya. Tidak sedikit pun ia berniat melirik Bian yang sudah duduk di balik kemudi. Suasana pun berubah canggung karena mereka berdua terlihat enggan bertegur sapa.
Perut Amara semakin tidak nyaman setelah mobil mulai melaju. Udara di dalam mobil juga terasa sangat dingin. Ia mengangkat kepalanya yang terasa berat. Melirik Bian yang terlihat cuek dengan keadaannya. "Mas, AC-nya tidak usah dihidupkan, bisa nggak. Aku mual nih.."
"Lepas jas itu, baru aku matikan. Kamu itu kayaknya sangat menikmati memakai pakaian pria lain sebagai penghangat tubuhmu." Bian menimpali tanpa menatap istrinya. Dia tetap fokus menatap jalan yang dilaluinya dengan kecepatan tinggi.
Amara langsung menegakkan duduknya. Ia terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya. "Maksud kamu apa, Mas?"
"Nggak usah di bahas."
Amara menghela nafas berat. Menyandarkan kembali tubuhnya. Menggembungkan pipinya, memenuhinya dengan oksigen karena perutnya semakin tidak nyaman.
"Buka jas itu aku bilang, Ra! Apa salahnya sih minta bantuanku, tidak usah memakai pakaian pria lain."
"Astagfirullah, Mas. Ini.. ini punya Kak Ardian. Dia itu kakak ipar kita, Mas. Kak Ayra yang memintanya untuk melepasnya. Lagian yang memakaikannya juga Kak Ayra, bukan Kak Ardian.
"Aku nggak perduli dan tidak butuh penjelasan kamu tentang hal itu. Sekarang kamu buka itu, sebelum aku melepasnya dengan paksa."
__ADS_1
Amara terkesiap. Malam ini ia melihat sisi lain dari Bian. Tapi, ia langsung melepas jas itu tanpa melakukan protes. Melempar asal jas milik Ardian ke bagian belakang. "Aku sudah melepasnya. Sekarang kamu matikan AC-nya biar aku tidak menggigil lagi." Ucap Amara seraya menatap keluar jendela.
Bian tidak menanggapi. Ia masih fokus menyetir dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan keadaan istrinya.
"Mas, aku mau muntah." Amara terpaksa menatap Bian saat perutnya terasa di aduk dan siap memuntahkan apa yang ada di dalamnya.
"Berhenti, Mas!" Amara meninggikan suaranya karena suaminya masih tidak perduli.
"Muntah saja di dalam." Jawab Bian dengan santai.
"Aku akan lompat kalau kamu masih bersikeras." Amara menempelkan tangannya di pintu mobil sambil menahan gejolak di perutnya.
"Sshhhttt..." Bian menepikan kendaraannya. "Kamu ini kenapa cerewet sekali sih?!" Mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Hanya melirik istrinya yang sudah turun dan duduk di pinggir trotoar.
Bian ikut turun setelah Amara tak kunjung kembali ke mobil. Ia mendapati istrinya yang sedang memuntahkan isi perutnya. Ia berjalan mendekat seraya mengurut-urut tengkuk Amara. "Kok kamu jadi seperti ini sih Ra. Tubuh kamu lemah kayak wanita hamil. Padahal kamu hamil juga nggak."
Amara menelan paksa ludahnya yang terasa hambar. Entah kenapa ucapan dan tindakan Bian malam ini kebanyakan menyakitinya. Pria yang menikahinya itu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Tapi, malam ini Bian memberikan rasa sakit yang bertubi-tubi.
"Ayo masuk kalau sudah selesai."
Amara melirik Bian dengan tatapan yang berbeda. Entah mengapa dia merasa membenci pria itu malam ini. Semua ucapannya sangat menyakiti perasaannya. "Jangan sentuh aku!" Menepis tangan Bian yang memegang lengannya. "Pulang saja sendiri. Aku akan bermalam di tempat ini." Berbalik membelakangi tubuh Bian. Tubuhnya sudah menggigil. Tapi, rasa kesal karena sikap suaminya membuatnya menahan semua itu. Memejamkan matanya seraya menggigit bibirnya menahan peraaaan sakit.
"Kamu jangan seperti ini, Ra. Ini tempat sepi. Mau jadi apa kamu jalan sendirian dengan keadaan berantakan seperti ini?" Menarik paksa tangan Amara untuk masuk ke dalam mobil. Kesabarannya hampir habis karena tidak mengerti dengan sikap istrinya yang sangat berbeda sejak kemarin.
Amara menangis tersedu-sedu di dalam mobil. Tatapan matanya hanya fokus keluar jendela. Menghabiskan waktu perjalanan dengan menangis. Ia tidak berselera lagi untuk membahas apapun dengan Bian. Semua yang keluar dari mulut suaminya hanya akan menyakitinya.
Amara berlari keluar dari mobil setelah sampai rumah. Bergegas ke kamarnya untuk mengambil minyak kayu putih dan jaket. Tidak lupa membawa selimut tebal untuk menghangatkan tubuhnya. Bergegas turun kembali ke lantai satu. Memilih untuk istirahat di kamar kosong yang di peruntukkan untuk tamu di lantai satu. Berdekatan dengan Bian saat ini hanya akan membuatnya semakin sakit.
__ADS_1
Bian menatap istrinya dengan heran saat mereka berpapasan di tengah tangga. "Kamu mau kemana, Ra?" Menahan tangan Amara yang terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan dirinya.
"Kalau suami bertanya itu dijawab, Ra. Jangan cuma diam."
Amara menghentikan langkahnya seraya tersenyum getir. "Lihat diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain." Menghempaskan tangan suaminya, menyenggol lengan Bian yang menghalangi langkahnya.
"Kamu mau kemana makanya? Ini sudah malam. Kalau kamu mau pergi, kamu pergi besok. Kamu mau pergi kemanapun aku tidak akan melarang. Tapi sekarang kamu istirahat dulu." Berlari kecil mendahului langkah istrinya di anak tangga. Segera merengkuh pundak Amara agar wanita itu menghentikan langkahnya.
Amara tersenyum lemah menatap suaminya. "Aku tidak akan kemana-mana, Mas. Aku cuman mau menenangkan diri saja. Berdekatan dengan kamu saat ini hanya membuat perasaanku semakin sakit. Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku mau introspeksi diri, agar tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi segala hal. Seperti yang kamu bilang tadi, Mas. Aku sangat menikmati hangatnya pakaian yang diberikan oleh pria lain untuk menghangatkan tubuhku. Itu sepertinya aku yang salah, sehingga aku harus memperbaikinya." Menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku juga bukan wanita hamil yang harus muntah-muntah tanpa sebab yang pasti." Menurunkan tangan suaminya perlahan dari pundaknya. "Jangan ganggu aku malam ini." Melanjutkan langkahnya dengan gontai.
Bian terkesiap. Ia berdiri mematung saat menyadari kesalahannya. Apakah dia benar-benar mengatakan hal itu pada istrinya. Jika dia memang mengatakan itu, itu berarti dia tidak menyadari apa yang diucapkannya. Rasa kesal karena diganggu ketika sedang berdiskusi membuatnya lupa sesuatu yang seharusnya lebih diutamakan nya.
Brak...!
Bian terlonjak kaget saat Amara menutup pintu kamar tamu dengan kasar. Ia mengerjap-ngerjap bingung. Antara ingin menyusul istrinya atau melanjutkan langkahnya. Ia akhirnya terduduk di anak tangga. Mengacak-acak rambutnya karena kesal. Tidak tau mau menyalahkan siapa atas kejadian ini. Ingin melanjutkan langkahnya, tapi dia memikirkan istrinya yang pasti sangat terluka saat ini.
Bian bangkit setelah cukup lama terdiam. Masalah ini harus segera di selesaikan agar tidak menimbulkan masalah baru. Ia menghampiri kamar tamu tempat istrinya beristirahat. Dengan ragu, ia mengangkat tangan dan mulai mengetuk pintu. "Ra..."
Hening...
Amara sedang sibuk menggosok-gosok tubuhnya dengan minyak kayu putih. Sepertinya dia adalah orang yang kurang kerjaan kalau harus menjawab panggilan suaminya.
"Rara..." Bian kembali mengetuk pintu. Tapi Amara tetap diam. Dia tetap fokus menatap beberapa bagian tubuhnya yang mulai membengkak karena efek alergi dingin.
"Buka pintunya, Rara.."
Amara menghela nafas berat. Perasaannya sangat rapuh saat ini, kalau harus bicara lagi dengan Bian. Dia akhirnya mengabaikan kembali suaminya. Diraihnya jaket tebal dan membalut tubuhnya dengan itu. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menggulung tubuhnya dengan selimut tebal yang dibawanya tadi. Ia memilih untuk istirahat setelah meminum obat yang aman dikonsumsi wanita hamil.
__ADS_1
Karena istrinya tak kunjung memberikan jawaban, Bian akhirnya memilih rebahan di sofa. Ia mulai mencari tau efek dari alergi dingin yang dialami seseorang. Ia beberapa kali menghela nafas berat setelah membaca hasil pencariannya. Matanya beberapa kali menatap ke arah pintu kamar. Berharap Amara tiba-tiba membukakan pintu itu untuknya.
***********#