
"Sudah, duduk sana. Nanti kamu juga mengerti dengan sendirinya." Pak Arif mendorong tubuh Bian. Sementara dia sendiri berjalan keluar.
"I.. iya, Pa." Bian berjalan kaku mendekati sofa. Dadanya berdebar tak menentu. Padahal dari rumah dadanya baik-baik saja.
"Silahkan duduk, Kak. Aku mau membuatkan teh hangat dulu. Pasti sangat dingin berkendara malam hari."
"Hehehe.. sedikit, Ra. Aku juga pakai motor, biar bisa nyalip dan tidak kemalaman sampai sini.
Amara melototkan matanya. Ia langsung menatap ke arah jam dinding. Pantas saja pria itu sampai rumahnya tujuh menit lebih cepat. "Kak Bian pakai motor?"
"Mm. Kalau pakai mobil, aku nggak akan bisa sampai secepat ini. Apalagi jalan raya sedang padat pengguna." Bian membuka resleting jaket tebal yang membalut tubuhnya.
Amara tersenyum meringis. "Mm.. i.. iya udah, Kak Bian tunggu sebentar. Aku ke dapur sebentar."
"Mm.." Bian mengangguk seraya mendudukkan pantatnya di atas sofa. Pria itu menatap setiap sudut rumah yang terlihat sangat rapi. Tanpa disadari bibirnya mengulas senyum tipis. Beberapa kali masuk ke rumah itu, tidak pernah ia mendapati rumah dalam keadaan berantakan. Hal itu yang membuatnya kagum pada Amara. Perangai gadis itu sangat mirip dengan perangai ibunya.
"Nak Bian kenapa bela-belain datang jam segini?"
Bian tersentak, menoleh ke arah pintu depan. "P.. Papa bicara padaku?" Bertanya untuk lebih yakin dengan apa yang didengarnya.
"Iya, Nak." Jawab Pak Arif.
Bian menarik nafas dalam. "Kemarin aku membeli sesuatu untuk Rara. Tadi sore aku menitipkannya pada Ameena. Tapi, saat aku tanya tadi, dia belum membukanya, Pa. Itulah mengapa aku datang kemari."
"Oh," Pak Arif manggut-manggut. "Malam ini terasa sangat dingin, Nak. Kenapa tidak pakai mobil biar tidak masuk angin?"
"Ah, aku sudah biasa, Pa. Tadi takut terjebak macet kalau pakai mobil. Pas dari rumah tadi udah lewat jam delapan. Kalau terlalu malam, aku takut pintu Papa sudah tertutup dan aku tidak bisa bertamu."
"Iya.. Papa nggak berani menjamin, Nak. Kalian kan belum menikah. Kalau bertamu terlalu malam, takutnya ada bisik-bisik tetangga nanti. Dan itu bisa jadi masalah besar."
"Iya, Pa.. Bian mengerti."
Amara datang dengan nampan di tangannya. Ternyata wanita itu membawa sepiring mie goreng juga ke hadapan Bian. Bian hanya menatap mie itu dengan heran.
"Barusan Ibu mengirim pesan untukku. Katanya Kak Bian belum makan sejak tadi siang. Tapi, di rumah nggak ada nasi. Yang ada cuman mie ini aja." Ucap Amara. Bian langsung tersenyum lebar. Dia tidak sempat memikirkan makan karena sibuk dengan perasaannya. Tanda tanya besar saat melihat Amara membawa sepiring mie goreng, meletus begitu mendengar penjelasan Amara.
__ADS_1
"Makasih, Ra." Bian menatap sekilas keluar rumah. "Ra, Papa sudah makan kah?" Bertanya dengan suara pelan. Tidak mau Pak Arif mendengar ucapannya.
"Sudah, Kak. Papa yang menghabiskan stok nasi tadi, makanya nggak ada yang tersisa. Kami memang selalu masak pas-pasan biar nggak ada yang mubazir."
"Oh, alhamdullah.." Buan tersenyum kecil lalu kembali melirik ke pintu. "Pa, Bian makan dulu ya. Maaf merepotkan Papa dan Rara."
"Iya.. tidak apa-apa, Nak. Anak muda memang suka begini. Lupa makan karena sibuk dengan perasaan. Papa juga pernah muda."
"Hehehe..." Bian hanya cengengesan menanggapi.
Usai makan, Bian menatap Amara dengan bibir yang mengembangkan senyum. "Terimakasih perhatiannya, Ra. Maaf karena sudah membuatmu kecewa kemarin."
"Udah, jangan diingat lagi. Bawaannya pingin nangis terus kalau ingat yang kemarin." Amara menundukkan kepalanya.
"Aku.. aku nggak pernah berniat untuk meninggalkan kamu. Tapi, Kak Mayra bilang, aku harus membuatmu sakit hati terlebih dahulu sebelum memberi kejutan."
Amara mengangkat wajahnya. "Kejutan apa?"
"Itu kan.. yang.. aku titip di Ameena tadi sore."
"Apa kamu tidak suka dengan kejutan itu?"
"Hmm.." Amara melirik Bian. "Kejutannya di titip lewat orang lain. Jadinya, perasaan haru karena kejutan itu kurang dapat, Kak."
"Oh," Bian terdiam sejenak. "Maunya sih dikasih langsung, tapi kamu ngambeknya lama, Sayang." Memajukan sedikit badannya pada Amara. "Apa aku boleh melihat kotak itu sebentar?" Mengulurkan tangannya ke depan wajah Amara.
"Eh, k.. kotak itu di kamar, Kak. A.. aku ambilkan sekarang." Amara segera bangkit. Tangannya sedikit bergetar saat menyadari wajah Bian yang semakin dekat dengan wajahnya.
Bian tersenyum seraya menegakkan kembali posisi duduknya. Beberapa hari tidak melihat ekspresi malu-malu Amara seperti itu, membuatnya benar-benar menikmatinya.
"Ini, Kak." Amara meletakkan kotak kecil itu di hadapan Bian. "Segelnya masih utuh. Aku.. aku benar-benar belum membukanya." Kegugupan Amara semakin kentara.
Bian meraih kotak itu seraya tersenyum tipis. "Kita ribut gara-gara ini, Ra." Meletakkan kembali kotak itu di atas meja.
"Hah, maksudnya?"
__ADS_1
"Iya, aku dan Kak Mayra pergi membeli ini waktu meninggalkan kamu di Bandara waktu itu."
Amara tertegun. "B.. bukannya.. bukannya Kak Bian ke Toko perhiasan?"
Bian membuang nafasnya dengan kasar. "Hah, aku dan Kak Mayra memang ke Toko Perhiasan untuk me membeli kotak ini beserta isinya. Memangnya kamu kira kotak ini isinya apa?"
Amara menggeleng. "Aku nggak tau, Kak."
Bian kembali membuang nafasnya dengan kasar. Tadinya, dia mengira Amara akan langsung membuka kotak itu dan mengucapkan terimakasih dengan gaya manja, seperti yang dilihatnya di film-film. Ternyata, Amara bukanlah wanita bermata besar. Wanita itu malah terlihat masa bodoh dan tidak terlalu tertarik untuk membuka hadiah darinya. Ia memejamkan matanya sebelum akhirnya menatap wanita itu kembali. "Rara, apa kamu mencintaiku?"
Amara menautkan alisnya. "Kenapa Kak Bian menanyakan itu? Apa aku terlihat tidak meyakinkan?"
"Bukan begitu maksudku. Tapi, aku hanya heran padamu. Kamu terlihat tidak tertarik dengan hadiah yang aku berikan."
Amara melengos. "Apalah arti sebuah hadiah, Kak. Yang penting itu isi hati kita." Menatap Bian yang terlihat mengernyit mendengar jawabannya. Bian mengambil kembali kotak itu. Tangannya mulai sibuk membuka segel kotak. Perlahan tapi pasti, Bian membuka kotak itu dan meletakkannya di hadapan Amara.
Amara POV...
Kaku hanya bisa menelan ludahku. Mataku bergantian menatap Kak Bian dan kalung di depanku. Huh, kenapa coba, pria ini terlihat semakin tampan dan memikat hatiku. Dari tadi aku terus memperhatikannya dalam diam. Laki-laki ini..
Dia benar-benar sosok laki-laki yang mendekati sempurna.
Saat dia menanyakan kotak kecil itu, aku tidak tau harus mengekspresikan diri bagaimana. Seumur hidup aku tidak pernah memperoleh hadiah dari laki-laki yang mengaku mencintaiku. Yah, aku dan memang tidak pernah punya orang spesial sebelum ini. Aku memang nggak laku karena tidak pernah memperhatikan penampilan. Tapi.. iya.. begini. Sekalinya dapat, langsung dapat pria tampan, mapan dan menjadi favorit para wanita. Aku bahkan sampai putus persahabatan gara-gara pria ini. Tapi, kan bukan aku yang memutusnya, tapi dianya sendiri yang terlalu egois. Sudah jelas-jelas kalau Kan Bian tidak mau padanya.
Untuk masalah pemberian hadiah, Papa sih, tidak termasuk karena dulu Papa sering membelikan boneka untukku.
Sebenarnya, aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku saat Ameena memberikan kotak ini padaku sore tadi. Tapi, tidak pernah terbersit dalam hati, kalau isinya adalah kalung sebagus ini. Siapa sih, yang nggak senang mendapat hadiah? Kak Bian salah kalau mengatakan aku tidak senang. Tanganku sudah gatal ingin membukanya sejak sore tadi. Namun, akhirnya aku berhasil mengalahkan hawa nafsuku. Malu Hah, udah ngambek beberapa hari, eh masa saat ada hadiah langsung berjingkat senang. Aku bukanlah wanita matre. Lagian aku juga masih sering mengingat hinaan Nenek Fatimah waktu itu. Hah, hal itu seperti mimpi buruk yang sering sekali mengangguk tidurku.
Aku terkejut saat tiba-tiba tangan Kak Bian mengangkat kalung itu. Pria itu tersenyum manis. Ah, melihat senyuman itu membuatku seperti tersengat arus listrik.
"Ra, apa aku boleh memakaikannya untukmu? Aku.. aku akan memasangnya di luar jilbab kamu kok. Boleh ya.."
Haaaaaaa...
Bagai di sambar petir di siang bolong. Wajahku langsung berubah merah padam. Aduh, kepalaku tiba-tiba terasa kaku. Aku merasa tidak bisa mengangguk. Aduh.. apes banget sih. Ni wajah kenapa juga tidak bisa diajak kompromi. Kayak kepiting rebus. Kak Bian malah tertawa kecil melihat ekspresiku. Terlihat sangat menikmati ekspresi malu-malu yang terpancar sari wajahku. Pertemuan malam ini terasa sangat kaku. Sebenarnya bukan Kak Bian yang kaku. Tapi, aku sendiri. Malu juga karena dari kemarin ngambek. Tau-taunya dia malah seperti ini.
__ADS_1
**********