
Amara langsung ke dapur saat Ameena menyerahkan nasi kotak yang diambilnya di bawah. Mengeluarkan semua isi kotak yang dibawa Ameena. Ameena hanya melongo melihat
semua isi kantong itu.
"Mara, ini ... sebenarnya ini untuk apa?" Ameena mengangkat daun bawang yang baru saja diletakkan Amara.
"Kenapa menanyakan itu?" Jawab Amara sambil sibuk mencari pisau. Tidak sedikit pun ia merasa tertarik untuk menjelaskan pada Ameena apa yang akan dia lakukan.
"Ini kan bahan-bahan dapur, Mara." Giliran mentimun yang diangkatnya.
"Udah tau kenapa nanya?" masih menanggapi dangan santai. Amara terlihat tidak perduli dengan perubahan raut wajah temannya.
"Ih, lho nyebelin banget sih. Ya udah kalau lho nggak mau diganggu, tunjukin letak kamar yang bisa gue pakai untuk istirahat. Nggak mungkin kan, gue tidur di kamarnya Kaki Bian." Ameena melipat kedua tangannya di dada.
Amara menghentikan aktivitasnya, langsung fokus menatap Ameena. "Kamarnya Kak Bian selalu dikunci, Na. Kamu pakai kamar sebelah yang tidak dikunci. Kamar itu juga sudah tergolong lumayan kok. Masa iya sih, lho mau pakai kamar orang. Yang ada nanti Kak Bian malah marah sama kita. Ada tiga kamar di sini. Yang paling barat punya Kak Bian. Kamu pakai saja yang paling timur." Amara melanjutkan aktivitasnya setelah selesai bicara.
Ameena tersenyum sinis. "Giliran gue nyebut nama tu cowok, lho pasti langsung merespon dengan baik. Bahkan nggak ada rasa malas untuk menjelaskan dengan sangat detail. Kayaknya, ke depan dia akan menjadi saingan gue untuk mendapatkan perhatian Amara Andini." Melengos seraya berlalu. Amara hanya bisa menghela nafas berat. Akhir-akhir ini, dia memang harus menambah porsi kesabarannya karena Ameena yang cepat kesal. Temannya itu memang sedang putus cinta. Nasib Ameena berbanding terbalik dengan dirinya. Disaat dia sadang menikmati indahnya saling mencintai, Ameena malah sedang menikmati sakitnya dikhianati.
Amara tersenyum lemah seraya menatap nanar kepergian Ameena. Tidak bisa berbuat banyak karena dirinya yang tidak punya pengalaman di bidang itu. Ia akhirnya memilih untuk melanjutkan aktivitasnya kembali.
Sampai waktu Ashar tiba, belum ada tanda-tanda Bian akan kembali. Amara akhirnya memilih untuk shalat Ashar sementara pria itu kembali.
Tapi..
Saat sedang melaksanakan shalat, kekhusyukan gadis itu harus terganggu karena suara berisik dari luar. Ia bisa mendengar dengan jelas, kalau suara itu adalah suara Bian yang sedang berdebat dengan seseorang.
"Tingkah kamu mencurigakan, Bi. Tumben sekali kamu melarang aku ikut ke tempat kamu. Aku cuman mau numpang istirahat." Bobi, salah satu teman kuliah Bian memaksa Bian untuk membawanya ikut ke Apartemennya.
"Tapi, masalahnya aku ada tamu, Bob. Kok kamu ngeyel sih, dibilangin." Bian berkata kesal karena Bobi sama sekali tidak menghiraukan larangannya.
"Nggak ada orang juga." Bobi langsung nyelonong masuk dan membuka salah satu pintu kamar. Bian hanya menggenggam tangannya seraya memejamkan matanya menahan kesal.
__ADS_1
Ceklek!
Bobi bersiap untuk masuk. Tetapi, langkahnya terhenti. "Hah..?!" Mulutnya menganga lebar. Dia hampir jatuh karena tidak kuat menopang tubuhnya saking terkejutnya melihat pemandangan di depannya. "Bi ... ini maksudnya apa?!" Melototkan matanya ke arah Bian. "Bisa-bisanya kamu menampung dua wanita dalam satu Apartemen sekaligus." Bobi menggeleng-geleng pelan.
Bian menarik nafas panjang. "Aku udah bilang dari awal, tapi kamu nggak mau mendengarkan penjelasanku."
"Ini ... kamu nggak macem-macem kan, tapi?"
"Nggak, Bob. Aku membawa mereka saat aku meninggalkan kamu Zuhur tadi." Memangnya aku udah nggak waras kalau berniat macem-macem. Lagian kalau aku berniat begitu, apa iya aku akan melakukannya pada dua orang sekaligus?!" Bian membuang nafas dangan kasar. "Na'udzubillah.. semoga Allah selalu melindungi ku dari hal-hal seperti itu." Membuang pandangan karena kesal pada Bobi.
Bobi menghela nafas berat seraya menutup pintu dengan perlahan. "Aku percaya sama kamu, Bi. Tapi, aku butuh penjelasan dangan semua yang kulihat barusan." Memilih duduk di atas sofa. Rasa kantuknya langsung lenyap karena melihat pemandangan tadi.
Bian diam beberapa saat. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan apakah akan menjelaskan semuanya pada Bobi atau tidak. Beberapa kali melirik Bobi dangan ragu.
"Ck.. terlalu lama mikir. Ceritakan semuanya, Bi. Kamu kan tau kalau aku tidak bisa penasaran."
Ceklek...!
"Kak Bian udah shalat?" Amara berusaha bersikap wajar, tidak mau menampakkan kegugupan. Takut kalau Bobi berpikir negatif karena dia berada di tempat itu.
"Belum, Ra. Ini aku mau shalat. Tapi temanku ini ngeyel mau ikut kemari tadi. Padahal aku sudah bilang kalau aku ada tamu."
"Nggak apa-apa, Kak. Mm.. Kakak mau dibuatkan kopi atau teh?" Amara bertanya pada Bobi.
"Nggak dua-duanya, Ra. Kamu istirahat saja dulu sementara kita pulang. Bobi tidak terbiasa disuguhkan kopi atau teh kalau datang kemari. Biasanya dia mengambil susu indomilk kid yang ada di kulkas. Itu artinya, Bobi nggak suka minum kopi, tapi sukanya minum susu." Bian berkata sambil melengos kesal membuang pandangan. Terlihat jelas kalau dirinya tidak suka Amara memberi perhatian pada pria lain.
Amara tersenyum lembut. Melihat Bian melengos membuatnya langsung paham. "Mm.. Kak, nasi gorengnya udah jadi dari tadi. Apa Kak Bian tidak mau memakannya dulu. Takutnya kalau udah dingin, nasi gorengnya malah tidak enak nanti." Mengalihkan pembicaraan untuk mengalihkan perhatian pria itu.
Perlahan, Bian kembali menatap Amara. "Aku lapar sih, Ra. Tapi.. aku nggak enak kalau makan dulu, sementara aku belum shalat." Menatap Amara dengan tatapan sendu.
"Shalat dulu kalau gitu. Nanti aku siapin makanannya sementara Kakak shalat." Amara berlalu ke dapur.
__ADS_1
Bobi merapat ke dekat Bian setelah yakin kalau Amara sudah masuk ke dapur. "Bian Putra Arianto..." bisiknya di telinga Bian.
"Astagfirullah.." Bian mendorong wajah Bobi menjauh karena telinganya geli oleh hembusan nafas Bobi. Mengusap-usap daun telinganya untuk mengusir rasa tidak enak akibat perbuatan Bobi.
"Hahaha.. aku kira kamu sudah lupa istighfar karena..."
"Apa..?!" Bian langsung memotong ucapan Bobi. "Kita shalat sekarang. Jamaah caranya biar dapat dua puluh tujuh derajat. Persiapkan diri juga, karena kamu yang harus menjadi imam." Bian beranjak bangkit meninggalkan Bobi yang masih melongo. Kalau sudah seperti ini, Bobi merasa Bian sudah berubah menjadi penjajah yang suka bersikap otoriter.
Akhirnya pria itu ikut bangkit. Meletakkan jaketnya di atas sofa, lalu mengikuti Bian ke kamar pria itu.
********
Bobi hanya bisa menelan ludahnya melihat Bian makan nasi goreng dengan lahap. Amara segera kembali ke belakang setelah meletakkan nasi itu di hadapan Bian. Ia hanya duduk diam menunggu Bian selesai makan. Sebelumnya dia berniat akan menemani Bian makan. Tapi, melihat ada teman Bian yang datang membuatnya tidak enak kalau harus berdiam di sana.
"Bi.. nasi goreng itu beneran di buat gadis itu atau kamu delivery?" Bobi bertanya dengan ekspresi aneh. Jarang sekali dia melihat temannya itu menikmati makanan sampai seperti itu. Biasanya Bian akan makan dengan pelan suap demi suap.
"Rara yang masakin untukku. Kenapa emangnya?" Menjawab tanpa menoleh.
"Kamu terlihat sangat lahap. Apa nasi goreng itu sangat enak? Kamu bahkan tidak mengajakku untuk makan bersama kamu."
"Mm.. enak banget." Berhenti mengunyah seraya menatap Bobi. "Ini Rara buatkan khusus untukku saja. Kalau kamu ikut memakannya, itu berarti aku tidak menghargai kerja kerasnya."
Bobi kembali menelan ludahnya. Hanya bisa menatap nanar tindakan Bian yang tidak menawarinya makan sama sekali. Apakah kata khusus dari wanita itu menghalanginya untuk berbagi dengan orang lain?
"Bob, aku mau taruh piring ini dulu ya. Kasihan Rara, nanti dia terlalu capek." Langsung bangkit tanpa menunggu persetujuan Bobi. Bian mendapati Amara sedang merapikan dapurnya.
"Rara sayang.. terimakasih ya, nasi gorengnya. Masakan kamu memang benar-benar enak."
Amara mengangguk. "Tapi.. Kak Bian kenapa jahat banget sih, sama teman sendiri?! Kayaknya teman Kak Bian itu juga lapar."
Bian berdecak. "Terserah, Ra. Aku nggak mau Ada orang lain yang menikmati makanan yang sudah kamu masak khusus untukku. Aku memintanya secara khusus. Itu berarti tidak ada yang boleh memakannya selain aku." Meletakkan piring lalu beranjak keluar. Amara hanya melongo bingung mendengar ucapan pria itu.
__ADS_1
********