Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Akad Nikah


__ADS_3

Humaira meletakkan handphonenya setelah pesannya terkirim. "Apa kamu selalu minum jus sebelum tidur?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja, karena Menurutnya kebiasaan Amara itu terdengar aneh.


Amara mengangguk. "Dulunya tidak, Kak. Tapi, satu bulan terakhir ini, Mbak Myta selalu memberikan segelas jus sebelum tidur."


"Myta...? Humaira memperbaiki posisi duduknya. "Siapa Myta?" Menatap Amara dengan serius karena tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.


Amara menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Humaira. "Dia orang yang di utus Nyonya Besar untuk mengawasi ku selama di pengasingan."


Humaira mengangguk-angguk mengerti


"Mm.. apa yang terjadi jika kamu tidak minum jus buatan wanita itu?" Bertanya sambil menautkan alisnya. Kali ini ia menatap Amara dengan tajam.


"Mm.. aku akan sulit tidur, Mbak. Nggak tau aja, kenapa aku bisa kecanduan dengan jus buatan Mbak Myta itu. Padahal rasanya tidak berbeda dengan jus-jus yang lain.


Humaira mengalihkan pandangannya. Ia merasa ada yang ganjil dari cerita Amara. Lama terdiam, ia akhirnya bangkit dan pura-pura merenggangkan ototnya. "Tunggu sebentar di sini, aku ada urusan. Aku akan kembali jam sebelas nanti. Jangan kunci pintunya."


"I.. iya, Kak." Mengangguk pasrah karena tidak mengerti dengan arah pembicaraan Humaira. Sebenarnya Amara mulai tidak fokus karena perasaan cemas yang dirasakannya.


"Amara, jus pesanan kamu sudah datang." Humaira menongolkan kepalanya di depan pintu. Membiarkan seorang pelayan yang membawa jus masuk ke dalam kamar. "Aku pergi dulu, Mara. Kamu habiskan jusnya, lalu tidur lah dengan baik. Aku akan kembali nanti." Langsung menghilang dari pandangan.


Amara kembali mengangguk. Meraih segelas jus yang di sodorkan pelayan muda itu padanya.


"Selamat istirahat, Nona. Semoga malam Nona menyenangkan." Pelayan itu menunduk sopan lalu berjalan mundur keluar dari kamar.


"Terimakasih..." Amara tersenyum ramah pada pelayan itu.


***********


"Waaahh... kamu benar-benar cantik, Mara." Ameena tidak henti-hentinya mengitari tempat duduk Amara setelah temannya itu selesai di rias." Beberapa kali menyentil dagu Amara karena benar-benar kagum dengan aura kecantikan yang semakin memancar jelas dari wajah gadis itu.


"Awas, Na. Air liur kamu jatuh mengenai gaun pengantin Amara."


Ameena tersentak dan langsung menjauh. Ucapan Humaira benar-benar membuatnya terkejut. "Ih, Kakak jahat sekali deh." Ucapnya sambil mengelap mulutnya. Padahal tidak ada bekas apapun di mulutnya, tetapi kata air liur membuatnya merasa ada yang keluar dari mulutnya.


"Ahahaha.. kamu terlihat lucu sekalu. Kok aku baru tau kalau Amara punya teman somplak kayak gini." Humaira menepuk-nepuk punggung Ameena yang masih kesal karena ucapannya tadi.


"Somplak.. somplak... mana ada kayak gitu. Aku adalah teman Amara yang paling setia. Nggak pernah saling menyalahkan satu sama lain." Ameena duduk di samping Humaira. "Bagaimana perasaan kamu, Mara? Wah, nggak terasa kamu akan menjadi istrinya Bian Putra Arianto."


Amara hanya menanggapi dengan senyuman kecil. Tidak biasa merias wajahnya membuatnya merasa kaku kali ini. Ia juga merasa wajahnya berat karena riasan itu.

__ADS_1


"Setengah jam lagi acaranya mulai. Kamu jangan deg-degan ya, Mara. Yang akan ijab qobul dengan papa kamu itu Kak Bian, bukan kamu."


Plak..!


Humaira memukul punggung Ameena. "Yang namanya mau nikah, pasti deg-degan, Na. Walaupun kita hanya menunggu, tetap saja akan ada perasaan tidak biasa."


"Ih, Kak Mayra ini kenapa senang sekali melakukan kekerasan. Baru satu jam bersama, aku udah berapa kali dipukulin. Ini benar-benar sebuah tindakan kekerasan." Ameena mengusap-usap punggungnya yang terasa ngilu karena tindakan Humaira.


"Ini adalah sebuah hiburan bagiku. Hahaha... kamu terlihat menderita, Na."


Ameena mengernyit mendengar jawaban Humaira. Bisa-bisanya menyiksa orang lain dia sebut sebagai sebuah hiburan. Apa yang ada di pikiran wanita itu sehingga bisa mengatakan itu.


"Nggak usah banyak protes, Na. Sepertinya acara sudah mulai." Humaira beralih menatap Amara. "Acara dimulai, Amara. Sekarang waktunya untuk berpindah tempat. Tapi, kamu boleh duduk di samping Bian setelah ijab qobul nya selesai. Sekarang kita hanya perlu berpindah tempat ke tempat yang sudah di sediakan sebagai tempat kita menunggu."


Amara mengangguk. Ia benar-benar merasa sungkan untuk bicara karena takut kalau riasannya akan hancur.


"Bicara aja, Mara.. riasan kamu nggak akan hancur kok, walaupun kamu tertawa sekalipun." Humaira mendekati Amara dan menatap calon adik iparnya itu dengan seksama. "Kamu terlihat semakin cantik, Mara. Terlihat sedikit berbeda juga karena kamu tidak pernah di rias seperti ini sebelumnya." Humaira tersenyum lembut. Gadis itu sedikit prihatin karena semalam Amara tidak istirahat dengan baik. Dia tau kalau Amara hanya pura-pura memejamkan matanya saja.


"Terimakasih, Kak.." Amara akhirnya berani bicara walaupun masih kaku.


"Apa kamu pusing? Semalam kamu tidak istirahat dengan baik."


Amara langsung menatap Humaira. Wanita di depannya agak sulit dibohongi. "Pusing sedikit, Kak. Tapi, Insya Allah aku kuat kok."


"Kenapa, Mara..? Apa kamu tidak sehat?" Ameena ikut mendekat. Mendengar jawaban yang diberikan Amara pada Humaira membuatnya khawatir."


"Tidak seperti itu, Na. Aku sehat kok. Semalam aku nggak bisa tidur, itulah mengapa Kak Mayra bertanya aku pusing atau tidak."


"Hmm.. kayaknya kamu kepikiran hari ini terus sampai nggak bisa tidur segala."


Amara tidak menjawab. Dia hanya ingin acara ini segera selesai. Dia ingin istirahat walaupun hanya sebentar.


"Duduklah dulu. Mata kamu terlihat lelah." Humaira menuntun Amara untuk duduk kembali. Ia hanya bisa berdoa semoga Amara kuat dan tidak terjadi apapun padanya.


"Sudah pembacaan kitab suci Al-Qur'an, sebentar lagi ijab qobul." Ucap Humaira dengan serius. Hal itu membuat Amara menarik nafas panjang. Dadanya terasa semakin bergemuruh mendapati keadaan ini.


Chayra tiba-tiba muncul dari pintu ruangan. Wanita itu berjalan anggun mendekati tempat duduk Amara. "Bersiap, Dek. Sebentar lagi kamu akan dipanggil untuk keluar."


Amara mengerjap-ngerjap seraya mengangguk. Mulutnya masih saja kaku untuk bicara. "Kak Ayra cantik.." bisiknya di telinga Chayra.

__ADS_1


Chayra tersenyum. "Kamu juga terlihat sangat cantik, Dek. Sepertinya Bian tidak akan bisa mengerjapkan matanya melihat istrinya nanti."


"Kak Ayra bisa aja.." Amara tersipu malu.


"Mama kamu sudah tidak sabar ingin melihat kamu. Dia ingin ikut masuk, tapi khawatir sama adik kamu. Yang ada dia malah merusak aksesoris di kepala kamu nanti."


Amara hanya tersenyum. Chayra mengajaknya duduk kembali sementara menunggu pengantin perempuannya di panggil.


Sementara itu...


Bian beberapa kali menarik nafas dalam. Pria itu terlihat tegang. Ia bahkan menautkan jari-jemarinya untuk mengusir ketegangannya.


"Silahkan, mempelai pria berjabat tangan dengan wali dari mempelai wanita." Suara dari pembawa acara memaksa Bian untuk mengangkat wajahnya. Perlahan, ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Pak Arif. Bian dan Pak Arif mengernyit saat merasakan dua tangan yang terasa sangat dingin saat bersentuhan. Ternyata baik mempelai pria dan wali dari mempelai wanita sama-sama merasakan ketegangan yang luar biasa.


"Bismillahirrahmanirrahim..." ucap Pak Arif dengan suara lirih. "Bian Putra Arianto, aku nikahkan dan kawinkan kamu dengan putriku Amara Andini dengan mas kawin seperangkat alat shalat, uang tunai senilai lima ratus lima puluh lima juta dan emas sebesar lima ratus lima puluh lima gram di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Amara Andini binti Arif Wicaksono dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.."


Hening sesaat. Mahar yang di sebutkan Pak Arif membuat beberapa orang gagal fokus karena nominal yang di sebutnya tidak biasa.


Bagaimana para saksi, sah..? Ucap Pak Penghulu.


"SAH...!" Teriak para saksi dengan semangat.


"Alhamdulillah.."


Pembawa acara langsung meminta mempelai wanita untuk keluar dari persembunyiannya. Ratusan pasang mata langsung fokus menatap ke arah pintu di mana pengantin wanitanya sedang menunggu. Jumlah tamu yang tidak main-main membuat taman yang sangat luas itu dipenuhi oleh manusia.


Amara keluar dengan digandeng oleh Chayra dan Humaira. Sementara Ameena berjalan di belakang mereka dengan memegang ujung gaun yang menjuntai panjang.


Pak Arif tidak bisa menahan air matanya saat melihat putrinya keluar. Kini, putrinya itu tidak lagi menjadi miliknya.


Kepala Amara terasa semakin berat dan pandangannya menjadi kabur. Ia mencengkram tangan Chayra dan Humaira yang sedang menggandengnya.


"Ra, ada apa, Dek?" Chayra menatap Amara karena tekanan di tangannya terasa sagat kuat.


"Aku.. aku..."


Bruk...!

__ADS_1


Tubuh Amara ambruk di lantai tanpa bisa ditahan oleh tiga wanita itu.


**********


__ADS_2