
Bian menggaruk-garuk kepalanya. Menghubungi Amara membuatnya lupa segalanya.
"Pertemuannya masih setengah jam lagi, Tuan. Kalau Tuan ingin melanjutkan bicara dengan Nona Amara, saya akan menunggu di luar."
"Tidak, Kak Daniel. Kita berangkat sekarang. Aku bisa melanjutkannya nanti setelah pulang dari pertemuan ini." Bian memasang jasnya kembali.
"Tuan, sepertinya Tuan harus bertemu dengan Nona Amara. Sudah tiga bulan Tuan tidak pulang untuk menjenguk Ibu Tuan dan juga Nona Amara."
Bian tersenyum lebar mendengar saran Daniel. "Ah, sepertinya saran Kak Daniel perlu dipertimbangkan. Aku terlalu fokus bekerja akhir-akhir ini." Setelah pertemuan dengan peternak ulat sutera membuahkan hasil. Kak Daniel atur ulang jadwal minggu depan. Aku ingin pulang dua atau tiga hari."
"Kalau Tuan panas, sebaiknya tidak usah pakai jas. Ini bukan pertemuan dengan orang resmi. Orangnya juga friendly."
"Tidak, Kak Daniel. Aku akan tetap memakai jas. Kita harus tetap menghormati orang lain. Jangan karena dia bukan Bos Perusahaan besar, kita malah meremehkannya. Dia juga Bos di peternakannya."
"Baiklah kalau itu keputusan Tuan. Mobil sudah saya siapkan. Kalau Tuan siap berangkat sekarang, kita akan berangkat sekarang."
"Mm.." Bian mengangguk seraya berjalan mendekati Daniel.
Sepanjang perjalanan, bibir Bian tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Membayangkan rumah membuat perasaannya tiba-tiba sangat bahagia. Bayangan akan bertemu Ibu, kakak, keponakan dan Amara menari-nari d kepalanya.
"Kak Daniel, selesai dari pertemuan ini, antarkan aku ke Pusat perbelanjaan. Aku harus membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang nanti."
"Baik, Tuan."
"Tapi.." Bian terdiam. Daniel sudah bekerja keras dari tadi pagi. Kalau pria itu mengantarnya lagi setelah pertemuan itu, pria itu akan telat pulang. Sedangkan di rumahnya sudah ada istri dan anak yang menunggu kepulangannya.
"Ada apa, Tuan?" Daniel akhirnya bertanya karena Bian tidak melanjutkan ucapannya.
Bian menatap Daniel. "Kak Daniel sudah bekerja keras dari pagi. Kita tidak udah belanja hari ini. Masih ada besok."
"Saya tidak capek, Tuan. Jika saya boleh memberi usul, sebaiknya kita pergi sore ini. Setidaknya, kita sudah di rumah saat waktu isya nanti. Waktu istirahat masih panjang jika Tuan selesai belanja saat Isya. Tapi, kalau Tuan capek, Tuan bisa menuliskan barang yang ingin Tuan beli. Biar saya yang mencarikannya untuk Tuan."
__ADS_1
Bian kembali terdiam. Mempunyai Asisten gercep seperti Daniel memberikan keuntungan luar biasa untuknya. Tapi, untuk meminta bantuan Daniel di luar kewajibannya, membuatnya tidak enak hati. Sudah beberapa kali Daniel selalu turun tangan untuk mengatasi masalah pribadinya. Apalagi itu bersangkutan dengan Amara. Namun, Bian tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri karena jadwal kerja yang menumpuk. "Aku.. aku ikut saja dengan Kak Daniel."
"Terserah Tuan kalau begitu. Sepertinya, Tuan bisa pulang tiga hari setelah rencana ini."
"Iya, terserah Kak Daniel. Yang penting Kak Daniel sudah mengatur semuanya." Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Bian hanya diam berperang dengan pikirannya.
*********
Malam itu... seperti biasa setelah selesai shalat isya, Amara mengajak Ameena untuk berburu cilok. Ameena sempat menolak karena mengantuk. Namun, ancaman akan dilaporkan ke Bian benar-benar ampuh. Mata ngantuknya akan bisa terbuka dengan sangat lebar jika Amara sudah mengeluarkan ancaman itu.
"Mara, kok lama-lama gue jadi nggak berdaya gini sih? Kenapa coba Kak Bian mau mengeluarkan uang banyak untuk menggaji gue menjaga lho. Lama-lama gue merasa lebih banyak jadi Asisten lho."
"Siapa suruh lho mau digaji?" Amara menjawab dengan ekspresi datar.
"Yang penting duit, Mara. Lho sih enak, cuman pegang ATM-nya dia aja tanpa harus bekerja seperti gue. Kenapa coba dulu Kak Bian mau sama lho. Kenapa nggak cinta ke gue aja, biar gue bisa hidup enak kayak lho."
"Apaan sih, kok ngomong gitu?" Amara menatap sekeliling. Malam itu terasa dingin. Untungnya dia keluar menggunakan jaket tebal pemberian Bian dulu. Dia tersentak mendengar ucapan Ameena. Ia segera menepis pikiran buruk yang mengerayapi pikirannya. Dia sendiri tau kalau temannya yang satu ini suka asal ngomong.
"Mm.." Amara menatap sekilas lalu kembali fokus menatap sekeliling.
"Kenapa lho nggak pernah memakai uang Kak Bian walaupun lho memegang ATM-nya? Sejauh ini, lho selalu berhemat. Uang yang dari Papa lho aja kayaknya lebih banyak yang lho simpan daripada yang lho pakai." Ameena menatap Amara dengan serius. "Padahal Kak Bian selalu protes karena uangnya tidak ada yang terdebit."
Amara tersenyum kecil. "Gue bersamanya bukan karena uangnya, Na. Kita ini calon ibu rumah tangga. Kita harus pandai memilah yang mana kebutuhan dan yang mana kemauan. Gue mencintai dia karena... gue memang cinta, Na. Bukan karena dia orang kaya atau apa. Tapi, lho sendiri kan tau, Kak Bian itu orangnya seperti apa."
"Kak Bian itu calon pasangan yang perfect, Mara. Kalau lho menyerah untuk mendapatkannya Gue siap menjadi pengganti lho."
Amara menarik sudut bibirnya. "Jangan mimpi di siang bolong, Na. Gue bukan orang gila yang mau melepaskan laki-laki seperti Kak Bian. Walaupun Neneknya tidak menyukai gue, tapi gue akan tetap berusaha untuk mendapatkan hatinya."
"Hahaha.. selamat berjuang..!" Ameena mengepalkan tangannya ke atas. "Tapi, gue minta traktiran dulu. Malam ini, lho beliin gue cilok sepuluh ribu. Kemarin lho cerita kalau Mama Mutia mengirimkan uang untuk lho."
"Iya.. iya.. gue traktir lho lima hari berturut-turut. Yang penting, jangan pernah lho berniat untuk merebut laki gue. Hah..!" Amara membuang nafas dengan kasar. "Gue udah benar-benar jatuh ke dalam lembah cintanya, Na. Gue akan sulit untuk naik ke permukaan saat ini."
__ADS_1
Ameena langsung melengos. "Laki lho itu mana mau melirik gue. Lho kan pernah cerita sama gue. Neneknya aja membawakan puluhan foto wanita keturunan sultan, dianya nggak tertarik sama sekali. Apalagi sama wanita like me? That is impossible.."
"Baguslah kalau lho sadar." Amara mengibas-ibaskan tangannya sombong.
"Ih, lho ini. Gue juga nggak ada niat seburuk itu. Sahabat macam apa gue kalau sampai berniat seperti itu."
Amara menghentikan langkahnya saat merasakan benda gepeng yang tersimpan di saku jaketnya bergetar. "Wait, Na. I think someone call me now."
"Iya.. Nona Amara tinggal menjawab panggilan itu. Nona Ameena akan menunggu disini dengan senang hati. Yang penting dapat traktiran ciloknya." Ameena menaik turunkan alisnya senang. Duduk di kursi plastik depan Pos Satpam.
"Kak Ayra, Na." Amara menunjukkan layar handphonenya pada Ameena.
"Oh, ya udah lho jawab aja dulu. Gue tunggu lho di sini."
Sepuluh menit menunggu, Amara mendekati Ameena kembali. Gadis itu menguap beberapa kali selama menunggu. "Ngomongin apa sih, Mara ... lama banget deh."
"Kak Ayra meminta gue datang ke rumahnya besok. Dia juga meminta gue untuk membeli banyak sesuatu. Katanya rindu sama gue. Sebenarnya bukan hanya dia yang rindu, tapi satu keluarga merindukan Amara Andini."
"Ew, tuh sik Nenek tua belum memberikan lampu hijau pada lho."
"Ck.. Nenek Fatimah nggak tua-tua banget kok. Nggak usah bilang nenek tua lah, Na. Terdengar nggak sopan banget."
"Huh, kalau gue dihina seperti lho, seumur hidup gue nggak akan pernah mau menghormatinya. Gue ini orangnya simpel, Mara. Kalau dia bisa menghargai gue, gue akan menghormatinya dan berlaku untuk sebaliknya.
"Udah ah, nggak usah bahas yang begituan. Gue takut mood kita rusak dan nggak selera lagi untuk jajan cilok."
Ameena langsung bangkit. Jangan sampai Amara membatalkan niatnya untuk mentraktir makan cilok. "Ngomong-ngomong, Kak Ayra minta lho datang, ada apa?" Mengalihkan pembicaraan menurutnya lebih baik.
Amara mengangkat bahu. "Tadi dia cuman bilang rindu. Dia ingin makan bersama juga. Kak Ayra memintaku membeli banyak bahan makanan. Dia udah transfer lima juta untuk gue belanja."
"Gila..." Ameena langsung melotot. Mata lebarnya terlihat seperti bola karena terlihat bulat sempurna. "Untuk belanja kebutuhan dapur aja, lho mendapat transferan sebanyak itu, Mara?" Menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kagum. "Horang kaya mah bebas. Kalau kita pasti mikir dua tiga jam sebelum memutuskan mau membeli apa." Ameena kembali menatap Amara. "Gue tau, Mara. Kak Ayra seperti ini karena percaya sama lho. Lho pasti akan mengembalikan sisa uangnya kalau tidak terpakai nantinya."
__ADS_1
Amara hanya tersenyum kecil. Dari dulu Chayra memang tidak pernah meragukannya. Ketulusan yang ditunjukkan gadis itu membuat Chayra mendukung penuh hubungan Amara dengan Bian.