Kamulah Takdirku

Kamulah Takdirku
Kenyataan Pahit untuk Bian


__ADS_3

"Aku.. aku..."


Bruk...!


Tubuh Amara langsung ambruk di lantai tanpa bisa dicegah oleh tiga wanita itu.


"Astagfirullah ... Rara.." Chayra segera meraih kepala Amara.


"Ya Allah.." Humaira dan Ameena juga melakukan hal yang sama dengan Chayra. Yang di takuti Humaira sejak semalam akhirnya terjadi juga.


Siapa yang akan kuat, tiga malam tidak merasakan tidur. Rasa pusing itu pasti dirasakan. Apalagi ditambah dengan berbagai macam pikiran buruk yang datang secara tiba-tiba.


"Apa yang terjadi?!" Bian mendahului Pak Arif meraih tubuh Amara. Pria itu sempat merasa segan untuk melakukan itu. Namun, saat dia mengingat kalau dirinya sudah bertanggung jawab penuh atas gadis itu, ia langsung meraih tubuhnya dan menggendongnya keluar dari tempat acara.


Daniel langsung tancap gas membawa Amara ke Rumah Sakit terdekat. Untungnya pria itu selalu siaga untuk kemungkinan yang terjadi. Saat ini, ia benar-benar merasa bersalah karena menyembunyikan apa yang terjadi sebenarnya.


Bian hanya bersyukur, dia sudah menjadi suami resmi wanita itu saat ini. Walaupun buku nikah belum sempat di tanda tangani karena keadaan Amara yang tiba-tiba seperti itu. Namun, setidaknya dia sudah resmi secara agama menjadi suaminya Amara. Ia bingung saat ini. Hanya memperhatikan wajah wanita itu sepanjang perjalanan. Tangannya sedikit gemetar saat mulai mengusap-usap pipi Amara. Tidak biasa kontak langsung dengan lawan jenis membuatnya seperti itu.


"Tuan, alangkah baiknya kalau Tuan melepas sebagian aksesoris di kepala Nona Amara."


Bian tidak menjawab, tetapi ia mulai membuka satu persatu hiasan di kepala Amara dan meletakkannya dengan rapi di sampingnya.


Lima menit kemudian..


Ciiiiittt.....!


Mobil ngerem mendadak di depan IGD Rumah Sakit XYZ. Daniel berlari keluar dari mobil dan bergegas membukakan pintu mobil untuk tuannya. "Biar saya bantu, Tuan. Tangan Tuan pasti sakit karena Nona Amara. Biar sa...."


"Minggir..! Jangan coba-coba menyentuhnya. Aku bisa membawanya sendiri." Bian menepis tangan Daniel dengan kasar. Hal itu membuat Daniel langsung mundur. Takutnya Bian semakin emosi dan Amara tidak bisa lebih cepat di berikan pertolongan. Bian langsung berlari masuk ke dalam IGD tanpa mengindahkan bed yang sudah di dorong transporter Rumah Sakit.


Tiga mobil menyusul di belakang mobil utama. Chayra, Ameena dan Humaira bergegas menuju IGD karena Bian sudah berlari masuk membawa istrinya.

__ADS_1


Tatapan aneh mulai muncul dari pengunjung Rumah Sakit. Bukan karena Amara yang dilarikan dalam keadaan pingsan. Tapi, karena kostum yang digunakan oleh orang-orang yang membawanya.


Bian berdiri cemas di samping istrinya yang sedang di periksa oleh Dokter. "Apa yang terjadi, Dokter? Dia tiba-tiba pingsan saat acara Kami sedang berlangsung." Bian bertanya dengan suara serak. Nafasnya juga tidak beraturan karema sedikit kelelahan menggendong Amara tadi.


"Kita tidak bisa menyimpulkannya langsung. Kita harus melakukan observasi terlebih dahulu. Setelah observasi, baru kita bisa memvonis adek ini sakit apa."


"Berapa waktu yang dihabiskan untuk melakukan observasi?" Bian kembali bertanya karena tidak sabar dengan penjelasan Dokter.


"Kita akan menunggu hasil pemeriksaannya dulu. Nanti saya informasikan lagi." Jawan Dokter itu dengan tenang."


Dokter muda itu beralih menatap tiga wanita yang berdiri di bawah kaki Amara. "Diantara kalian, apa ada yang bisa menjelaskan keadaan pasien sebelum ini?"


Humaira maju mendekati Dokter. "Insya Allah, saya bisa memberikan sedikit penjelasan, Dokter."


Ameena mengusap air matanya yang tidak terbendung. "Kak Mayra, aku ikut.." ucapnya dengan parau. Humaira hanya menganggukkan kepalanya untuk Ameena.


Bian menatap Daniel dengan tajam setelah tidak ada lagi orang lain selain mereka di ruangan itu. Melihat tatapan tuannya, Daniel langsung paham.


"Saya akan menjelaskan di tempat lain, Tuan. Saya khawatir untuk menjelaskannya di sini. Takutnya Pak Arif dan Bu Mutia datang dan mendengarkan percakapan kita." Daniel beralih menatap Chayra. "Nona Ayra, apa Nona bisa menjaga Nona Amara sementara saya menjelaskan sesuatu pada Tuan..."


Bian mengikuti langkah Daniel menuju kafe di sebelah Rumah Sakit. Bian beberapa kali mengibas-ngibas tangannya karena gerah. Cuaca yang panas ditambah dengan baju yang dikenakannya membuat cuaca terasa bertambperhatian. Daniel hanya melirik kelakuan tuannya. Untuk bicara, ia masih segan karena takut dibentak lagi oleh Bian.


Daniel langsung mendekati pelayan kafe yang berdiri di dekat pintu kafe. "Mbak, ruang VIP-nya masih ada tempat yang tersisa atau tidak?" Bertanya sambil mengetuk-ngetuk tangannya di atas meja.


"Sebentar, Pak. Saya akan periksa dulu." Pelayan itu berlalu meninggalkan Daniel.


"Apa ada masalah, Kak?" Bian menepuk pundak Daniel karena pria itu berdiri di dekat pintu masuk. Tadinya Bian duduk di kursi yang terletak bagian luar kafe. Namun, melihat Daniel yang berdiri ditinggalkan pelayan tadi, membuatnya bangkit dan mendekati asistennya itu.


"Eh, t.. tidak, Tuan. Saya hanya menanyakan kesiapan ruang VIP, biar kita bisa ngobrol dengan nyaman."


"Di luar juga tidak apa-apa kok, Kak."

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Tuan tidak akan nyaman. Pakaian yang kita kenakan akan menarik perhatian banyak orang. Belum lagi di luar itu gerah karena tidak ada AC."


Bian mengernyit menatap Daniel. Padahal selama ini dia lebih suka duduk di ruangan biasa daripada di private room. "Tidak kok, Kak. Di tempat itu sangat sejuk." Bian menunjuk ke arah kursi kayu yang di dudukinya tadi. "Tapi... benar kata Kak Daniel, pakaian kita pasti mengundang perhatian banyak orang." Mengalah mungkin bisa menyelesaikan masalah lebih cepat pikir Bian.


Sebenarnya, Bian tidak mau Daniel menunda apa yang akan dia jelaskan. Asistennya itu sudah beberapa kali berhasil melindungi Bu Fatimah. Ingin marah, tapi orang yang dilindungi Daniel adalah neneknya sendiri. "Kita masuk sekarang..!" mendahului langkah Daniel agar pria itu tidak mengulur waktu lagi.


Bian langsung duduk dan meraih segelas jus jambu yang tersedia di atas meja. "Katakan apa yang ingin Kak Daniel katakan. Aku berharap kali ini mengatakan semuanya dengan jujur. Jangan ada yang dilindungi lagi saat ini. Sudah cukup Kak Daniel menjaga nama baik Nenek selama ini." Ucap Bian dengan ekspresi datar. Tatapan matanya lurus tanpa sedikit pun melirik Daniel.


"Maafkan saya, Tuan." Daniel menunduk karena tau kesalahannya. Dia juga tidak akan melindungi Bu Fatimah jika tidak Pak Akmal yang memintanya.


"Katakan, apa yang membuat Rara sampai seperti itu. Rara tidak mungkin tiba-tiba pingsan tanpa adanya campur tangan Nenek." Kali ini Bian menatap tajam Daniel.


Daniel melirik tuannya seraya menarik nafas panjang. "Setiap malam, Nona Amara selalu minum jus yang dibuatkan oleh Bu Myta. Sayangnya, Nyonya Besar meminta Bu Myta untuk mencampurkan obat tidur jenis Diphenhydramine dalam jus itu."


Bian menggenggam erat tangannya menahan kesal. "Sudah berapa lama wanita itu mencampurkan obat itu dalam minuman Rara?" Bertanya dengan mengeratkan giginya kesal.


"H.. hampir satu bulan setengah, Tuan."


Brak...!


Bian menggebrak meja dengan sekuat tenaga. "Kenapa Kak Daniel merahasiakan itu semua dari ku?! Kak Daniel tau sendiri, hal itu... bisa.. membahayakan nyawa Rara." Bian membuang pandangannya. Matanya sedikit memanas setelah mengetahui kenyataan yang membuat Amara sampai seperti ini.


"Saya juga tidak mengetahui hal ini sejak awal, Tuan. Saya baru mengetahuinya saat mengambil handphone Nyonya Besar waktu itu, Tuan."


Bian menelan ludahnya dengan susah payah. Perasaannya benar-benar hancur.


"Nona Amara harus menjalani terapi untuk menghilangkan ketergantungan itu, Tuan. Tuan harus yakin, kalau Nona Amara pasti sembuh." Ucap Daniel dengan penuh keyakinan. Walaupun nyalinya terasa ciut melihat tatapan Bian yang terlihat semakin tidak bersahabat.


"Dimana handphone itu, Kak?"


"A.. ada di rumah saya, Tuan."

__ADS_1


"Bawakan benda itu padaku. Jangan coba-coba menghapus apapun yang ada di dalamnya. Walaupun Kak Daniel menghapusnya. Aku akan membuatnya seperti semula." Bian beranjak bangkit. Meninggalkan Daniel dengan langkah gontai. Dia sudah cukup lama meninggalkan Amara. Dia tidak berani terlalu lama duduk bersama Daniel karena khawatir tidak bisa meredam emosinya. Dia hanya menggenggam tangannya erat. Satu tangannya mengusap wajahnya dengan kasar beberapa kali.


************


__ADS_2