
Sekretaris Adam memberanikan diri langsung menemui nyonya Retno mengenai kabar berita perjodohan itu untuk memenuhi janjinya kepada Alex, bosnya. Ia menggerutui Alex dengan frustasi sesuai dengan yang direncanakannya. Entah keberanian darimana ia dapatkan untuk menentang wasiat dari ketua.
Seorang pelayan mempersilahkan sekretaris Adam masuk dan mengantarnya ke pada nyonya Retno.
Saat itu, nyonya Retno tengah bersantai di beranda rumahnya sambil ditemani secangkir teh dan biskuit cokelat kesukaanya. Ia disana ditemani oleh seorang pelayan untuk menjaganya merasakan udara segar di siang bolong yang teduh itu.
“Salam, ketua. Maafkan karena aku menganggu dengan kedatanganku secara tiba-tiba,” sapa Sekretaris Adam dengan tampang frustasinya.
nyonya Retno menoleh ke sumber suara. “Oh, kau rupanya sekretaris Adam. Silahkan duduk. Ada apa? Apa ada masalah dengan perusahaan? Bicaralah,” tanya nyonya Retno begitu melihat ekpresi Sekretaris Adam padanya.
Nyonya Retno terlihat santai-santai saja menanggapinya, meski sudah tahu maksud dan tujuan kedatangan sekretaris Adam padanya, tentu saja ini ada sangku pautnya dengan masalah perjodohan Alex. Itu tidak diragukan lagi.
Sekretariams Adam segera duduk di hadapan nyonya Retno. “Terima kasih ketua." Ia memberi senyum.
"Apa yang membuatmu untuk datang kemari jika tidak urusan perusahaan?" tanya ny. Retno pura-pura tidak mengerti tujuan sekretaris cucunya itu.
"Sebenarnya ini menyangkut tuan muda, ketua,” jawab sekretaris Adam berterus terang walaupun jelas sekali suaranya terdengar terbata-bata.
Nyonya Retno tampak tersenyum mengingat tebakannya benar. “Kenapa dengan cucuku? Apa dia buat masalah lagi?” ia bertanya dengan tampang cemas. Ia menatap sekretaria Adam dengan kaca mata minusnya.
“Bukan begitu maksudku, ketua.” Sangkal sekretaris Adam. Ia tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
“Lalu?” kening nyonya Retno berkerut seolah-olah begitu kelihatan penasaran
Alih-alih sekretaris Adam menguatkan diri untuk mengutarakan isi hatinya yang begitu mengkhawatirkan bosnya. “Aku tidak mengerti kenapa ketua melakukan ini pada tuan muda?” kata Sekretaris Adam to the point. Ia sangat tidak menyangka dengan kejadian ini.
Nyonya Retno dengan santainya mengelak. “Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku kan sudah pensiun, kau tahu itu,” katanya berpura-pura tidak mengerti maksud dari sekretaris Adam.
“Kalau begitu tidak bisakah anda mundur tanpa membuat keributan semacam ini? Keluh Sekretaris Adam dengan tenang. “Apa ketua tidak tau betapa buruknya tempramen cucu ketua itu? Aku tidak sampai hati melihatnya.” Keluh sekretaris Adam.
__ADS_1
“Tentu saja aku tahu. Tapi dia pikir mungkin saja kepribadian buruk cucuku itu akan berubah, karena Alex akan punya seorang wanita disisinya. Aku tidak sabar lagi hal itu akan terwujud.” balas Nyonya Retno dengan enteng.
Sekretaris Adam semakin frustasi dibuatnya.
“Aku sangat yakin tuan muda malah akan semakin memburuk jika itu sampai terjadi,” kata Sekretaris Adam dengan mantap, meyakinkan nyonya Retno untuk tidak melakukan hal itu. “Aku pun penasaran ingin tahu siapa wanita yang akan dijodohkan dengan tuan muda itu dan bagaimana ketua bisa mengenalnya?”
“Aku punya hutang pribadi pada keluarga wanita itu,” kata nyonya Retno dengan singkat. Nada bicaranya berubah.
Sekretaris Adam melongo kaget. “Apa gadis itu berasal dari keluarga berada?” terka sekretaris Raka dengan cepat.
Nyonya Retno menyangkalnya. “Tidak. Kau salah besar,” balasnya.
“Kalau begitu apa mungkin dia berhubungan dengan dunia politik?” terka Sekretaris Adam lagi.
Lagi-lagi nyonya Retno menyangkalnya. “Tidak juga,” jawabnya dengan cepat. Ia meneguk minumannya.
Sekretaris Adam mulai terlihat bingung. Kalau bukan karena dua alasan itu, lalu hal apalagi yang biasanya perjodohan itu terjadi pada keluarga pebisnis seperti biasanya.
“Begitukah? Memangnya aku terlihat sedang bercanda?” tanya nyonya Retno.
“Tentu saja, dengan tempramen tuan muda yang seperti itu. Tuan muda pasti sudah memakan wanita itu hidup-hidup sekarang. Aku kasihan pada wanita itu. Sekarang dia pasti dalam situasi menyedihkan seperti aku,” jelas sekretaris Adam
“Itu tidak mungkin. Aku berani taruhan kalau nantinya dia akan menggiling Alex menjadi abu. Aku bisa membayangkannya” nyonya Retno tertawa segar.
Sekretaris Adam terdiam sejenak. Ia tak mengerti jalan pikiran nyonya Retno saat ini.
“Aku sangat cemas dengan perjodohan ini. Mengingat sifat tuan muda dan karena itu aku meminta ketua untuk mempertimbangkan segalanya kembali. Maukah anda menerima permohonanku?” pinta sekretaris Adam.
“Tidak bisa. Keputusanku sudah bulat. Karena ini adalah wasiat dari mendiang suamiku. Aku harus melakukanya sekarang,” bantah nyonya Retno dengan tegas.
__ADS_1
“Apa? Jadi ini benar-benar permintaan dari mendiang ketua?”
Nyonya Retno mengangguk membenarkan. Ia menyeduh tehnya dengan pelan.
"Bagaimana bisa?"
“Keluarga mereka sangat kenal baik dengan keluargaku. Hingga mereka membuat sebuah perjanjian yang erat dan kokoh untuk menyatukan hubungan keluarga. Aku sendiri sangat menyetujuinya. Perjodohan ini sudah di atur semenjak mendiang suamiku masih hidup. Dan tanpa keluarga mereka, mungkin aku tidak seperti ini sekarang. Hidup mewah dari bisnis yang ku mulai dari bawah aku lakukan bersama keluarga mereka. Separuh dari perusahaan ini mungkin bisa dikatakan adalah milik mereka. Aku begitu serakah jika mengambil semuanya. Karena itu aku harus membalas kebaikannya,” jelas nyonya Retno dengan tenang sambil bernostalgia masa lalunya yang begitu bahagia tiada tara.
Sekretaris Adam terhenyak dan membungkam begitu mendengar penjelasan nyonya Retno tentang alasan perjodohan ini. Ia sekarang mengerti dan telah menemukan jawaban dari ketidakmengertianya selama ini.
“Benarkah? Aku benar-benar tidak tau semua itu. Tapi aku sangat kagum pada anda ketua. Karena ketua masih memegang janji selama itu.”
“Begitulah. Sejak pertama hingga sekarang aku masih mengingatnya. Aku tidak mungkin melupakanya. Kini sudah saatnya aku menepati janji itu. Dengan begitu aku bisa tenang sekarang. Seharusnya aku menjodohkan mereka dari sejak dulu. Aku terlalu sibuk dengan urusanku hingga lupa sesuatu yang lebih penting untuk ku urus.”
“Anda benar ketua. Usia Tuan muda telah matang untuk segera menikah,” kata sekretaris Adam sependapat. “Tapi, aku tidak yakin tuan muda akan menerimanya. Tuan muda orang yang cukup teguh dengan pendiriannya”
“Jadi, apa kau sudah berencana membujuk tuan muda untuk menikah dengan pilihanku? Kau bisa berbicara baik padanya, tidak usah terburu-buru. Nanti dia pasti mengerti sendiri”
“Baik ketua. Aku akan melakukannya semampuku jika itu yang terbaik”
nyonya Retno mengangguk. “Baguslah. Itu adalah tugas untukmu. Ku percayakan padamu sekretaris Adam.”
“Ya, ketua. Aku mengerti.”
“Aku akan memberimu bonus jika kau berhasil mengubah keputusan cucuku itu. Kau yang tau segalanya tentang dia selain aku kan?”
“Benarkah? Terimakasih ketua. Aku akan bekerja keras untuk itu. Semoga saja tuan muda menerimanya. Baiklah, kalau begitu, aku permisi.”
“Ya, silahkan. Mungkin Alex sedang menunggumu”
__ADS_1
Dengan perasaan senang sekretaris Adam meninggalkan tempat itu.