
Deg..!
Amara mengusap dadanya yang tiba-tiba bergemuruh. "K.. K.. Kakek sakit apa, Kak?" Bertanya dengan tergagap karena benar-benar terkejut. Tidak mungkin Bian sampai menghubunginya tengah malam jika Pak Akmal hanya sakit biasa.
"Kakek tidak mau mengatakan penyakitnya padaku. Tapi, aku rasa penyakitnya kali ini terlihat serius, Ra. Aku saja marah pas tau kalau dia sedang sakit. Sementara tidak satu pun orang yang memberi tahuku kalau Kakek sakit."
Amara hanya diam karena tidak tau mau bilang apa. Mendengar Pak Akmal sakit membuat jiwanya sedikit terusik. Bagaimana pun juga, Pak Akmal selalu baik padanya. Laki-laki paruh baya itu bahkan selalu mengirimkan uang padanya selama ini. Namun, ia masih menyimpan baik uang pemberiannya tanpa ia sentuh sedikit pun.
"Ra..." Bian mencoba memanggil Amara karena gadis itu tidak merespon ceritanya.
"Rara..."
"I.. iya, Kak." Amara mengusap wajahnya dengan kasar. Entah mengapa pikirannya melayang tidak jelas. Ia sampai lupa kalau sedang bicara dengan Bian. Bayangan kebaikan Pak Akmal memenuhi pikirannya.
"Kamu kenapa diam, Ra? Aku sedang ngomong loh, sama kamu. Apa kamu sedang ada masalah?"
"Ng.. nggak ada masalah apa-apa, Kak. Aku cuman memikirkan keadaan Kakek."
"Ra..."
"Mm..."
Bian menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Apa perasaanmu masih sama seperti dulu?" Berkata dengan ragu karena takut kalau Amara tersinggung dengan pertanyaannya. Tapi, dia hanya ingin mengetahui jawaban wanita itu.
"M.. maksud Kak Bian?" Amara mengerutkan keningnya.
"Apa perasaanmu padaku masih sama seperti dulu, Ra.."
Amara menghela nafas berat, heran dengan pertanyaan yang di lontarkan pria itu. "Kak Bian kenapa menanyakan hal itu? Jika perasaanku pada Kak Bian sudah berubah, aku pasti menolak pertemuan kita waktu itu. Tapi apa? Aku diam dan menikmati kebersamaan kita. Aku bahkan selalu mengharapkan kebersamaan kita, Kak. Kalau pun bisa, aku bahkan merasa enggan berjauhan dengan Kak Bian." Amara menelan ludahnya di akhir ucapannya.
__ADS_1
Bian menarik sudut bibirnya. Pengakuan ini yang dia tunggu-tunggu dari Amara. Gadis itu jarang sekali mengakui perasaannya. "Aku hanya ingin memastikan saja, Sayang. Jangan marah dong."
Amara mendengus. "Jangan memastikan barang yang sudah pasti."
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Ra." Bian diam beberapa saat. Tapi, kalau kamu mau pergi kerja, aku akan mengatakan itu nanti saja. Aku tidak mau bicara setengah-setengah."
"Aku libur hari ini. Besok baru aku masuk siang." Amara langsung menyahut.
"Kalau begitu aku akan ngomong sekarang."
"Kak Bian ngomong saja. Aku sudah pasang telinga baik-baik."
"Ok.." Bian menarik nafas dalam sebelum mulai bicara. "Ra..."
"Mm.."
"Jika aku meminta sesuatu sama kamu, apakah kamu akan mengabulkan permintaanku itu?"
"Ini adalah permintaan Kakek. Itulah mengapa aku bertanya terlebih dahulu."
Amara terdiam. "Kakek.. Kakek mau apa, Kak?" Bertanya dengan ragu.
"Kakek memintaku untuk menjemputmu, Ra. Kondisi Kakek terlihat sangat memprihatinkan. Tapi, hanya itu permintaan Kakek padaku. Dia meminta ku untuk menjemput mu untuk menemuinya. Aku nggak tau apa yang ingin disampaikan beliau. Tapi, mulutku tidak bisa mengatakan tidak padanya. Aku takut.. aku takut.. dia kecewa kalau aku tidak mengabulkan permintaannya."
Amara mengerjap-ngerjapkan matanya. Ingin bicara tapi tidak tau mau bilang apa.
"Aku akan mengurus surat izinmu, Ra. Satu hari saja. Setelah itu, kamu bisa kembali bekerja lagi. Kita akan melanjutkan rencana pernikahan Kita setelah urusan kamu selesai di sana."
Amara menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Jika memang itu permintaan Kakek. Aku akan mengurus izin cutiku hari ini juga. Tapi, aku hanya minta Kak Bian mengambil pasporku di Mbak Myta. Aku selalu gagal membujuknya untuk mengembalikannya padaku. Mungkin, dia akan mengembalikannya jika Nyonya Besar yang menyuruhnya untuk mengembalikannya padaku."
__ADS_1
"Oh, iya.. iya.. aku mengerti. Aku bisa mengurus itu. Terimakasih, Sayang. Aku akan ke rumah Kakek untuk memberi tahunya kalau kamu mau datang. Aku mencintaimu, Ra. Assalamu'alaikum..."
Amara tersenyum seraya menggeleng-geleng pelan. Mendengar Bian tersenyum bahagia membuat hatinya berbunga-bunga. Kini dia harus memutar otak, bagaimana caranya agar mendapatkan izin. Masa kerjanya yang tinggal beberapa hari menjadikannya ragu untuk minta izin.
Amara POV...
Aku hanya bisa duduk menopang dagu. Usai Kak Bian mematikan sambungan telepon, aku mulai memutar otak. Pulang hanya untuk menemui kakeknya Kak Bian. Hmm.. sebenarnya aku ingin pulang dan tidak kembali lagi ke tempat ini. Aku benar-benar sudah merindukan tanah air. Tapi.. sekali lagi, aku harus menahan semua itu. Ada kewajiban yang sudah menjadi tanggung jawabku.
Hah, Ya Allah.. aku tau kalau ini adalah sekenario hidup yang sudah Engkau gariskan untukku. Aku tau, aku pasti mampu menjalani semua ini. Semua tidak akan melewati batas kuasaku.
Mencintai pria yang tidak biasa, tidak pernah terlintas dalam bayanganku sejak dulu. Dulunya, aku selalu bermimpi hidup bahagia bersama laki-laki yang aku cintai. Hidup sederhana tapi tidak kekurangan. Intinya, aku hanya ingin bahagia.
Namun, rencana Allah siapa yang tau. Allah bahkan memberikan laki-laki yang jauh dari bayanganku selama ini. Pria tampan dan mapan. Hidup bergelimang harta tapi selalu merendah. Pria dengan segudang prestasi. Semua Itu anugerah yang patut aku syukuri.
Aku menghela nafas berat. Aku harus mendapatkan izin itu bagaimanapun caranya. Aku tidak mungkin mengecewakan Kakek. Selama ini dia selalu baik dan mendukungku. Walaupun aku dibuang istrinya, tapi dia tetap memantau keadaanku. Iya.. walaupun aku terasingkan di tempat ini, tetapi ini adalah pengalaman hidup.
Aku menatap ke arah pintu saat melihat pintu itu terbuka. Tidak ada yang bebas keluar masuk ke kamar ini selain Mbak Myta.
"Nona Amara mau kemana? Kenapa aku ditelepon untuk mengembalikan paspor milik Nona? Apakah Nona Amara mau kembali ke Indonesia?"
Aku tersenyum kecil pada Mbak Myta. Wanita ini terkadang mengkhawatirkan ku terlalu berlebihan. "Aku mau pulang dua hari, Mbak. Ada urusan mendadak yang harus segera diselesaikan." Aku menjawab tanpa menatap wajahnya. Pura-pura melipat pakaian yang tergeletak di atas ranjang.
"Tapi, Nona.."
"Aku akan kembali lagi, Mbak. Andaikan ini tidak mendadak, aku juga tidak mau bolak-balik. Buang-buang uang dan tenaga." Akhirnya aku menatap wajahnya. Hmm... dia malah terlihat jengkel.
"Mana pasporku, Mbak. Aku akan memesan tiket pesawat sekarang. Setelah ini, aku akan ke Rumah Sakit untuk mengurus surat izin." Aku menyodorkan tanganku ke hadapannya.
"Nona Amara tidak boleh kemana-mana. Aku tidak akan tinggal diam jika Nona tetap bersikeras untuk pulang."
__ADS_1
Aku langsung melengos. Apa-apaan ini. Kenapa Mbak Myta malah bersikeras melarang ku pulang. Sebenarnya masalahnya apa sih, untuk dia. "Terserah Mbak Myta. Kalau Mbak Myta nggak mau memdapat m masalah, Mbak Myta tinggal menyerahkan pasporku. Tapi, kalau Mbak Myta mau cari gara-gara, tahan saja sampai Kak Bian datang menjemput ku. Biar dia yang mengurusnya." Aku melengos kesal. Berdebat dengan orang keras kepala seperti Mbak Myta ini tidak akan ada ujungnya.
Aku meraih tasku. Aku keluar dari kamar tanpa sedikitpun meliriknya. Huh, benar-benar menguras emosi jiwa. Lebih baik aku mengurus izin ke Rumah Sakit. Malas rasanya kalau harus berdebat dengan Myta.