
Bian menatap tajam ke arah Rumah Sakit yang berdiri megah. Pria itu mengatur nafas agar detak jantungnya kembali normal. Setelah keluar dari area parkiran, ia melangkah gontai untuk memasuki gedung Rumah Sakit.
"Kira-kira Rara dimana ya, Kak?!" Tanyanya pada Daniel sambil menatap sekeliling tempat.
"Mm.." Daniel maju beberapa langkah mendekati Bian. "Sepertinya Nona Amara ada di ruang IGD. Bukankah dia bertugas di ruangan itu saat Tuan sakit waktu itu."
Bian mengangguk-anggukan kepalanya. Pria itu tidak bisa berfikir fokus karena pikirannya yang campur aduk. Terlalu banyak beban pikiran yang memenuhi kepalanya. "Kak Daniel ikut masuk. Bantu aku mencarinya."
"Baik, Tuan." Daniel menganggukkan kepalanya sopan. Ia hanya bisa menghela nafas berat dengan kelakuan tuannya. Terkadang, Bian terlihat berubah menjadi laki-laki yang paling bodoh jika sudah berurusan dengan Amara.
"Bagaimana kalau Tuan saja yang masuk duluan. Saya tunggu Tuan di sini." Ucap Daniel saat sudah mendekati pintu IGD.
"Kenapa memangnya, Kak?" Bian berbalik sambil menatap heran ke arah Daniel.
"Ada wanita yang bernama Myta di Post Satpam. Aku harus menyelesaikan urusan paspor Nona Amara dengannya terlebih dahulu."
Bian menatap ke arah Post yang dimaksud Daniel. "Oh, iya.. aku mengerti maksud Kak Daniel." Bian beranjak masuk meninggalkan Daniel. Pria itu menarik dalam sebelum masuk ke ruangan itu. Pertama-tama yang dia lihat adalah seorang Dokter yang sedang duduk menulis sesuatu. Bian langsung mendekati Dokter itu untuk menanyakan Amara padanya. Setelah mendapatkan keterangan, Bian mendekati bed perawatan tempat Amara.
"Assalamu'alaikum..."
Wanita sipit yang sedang menjaga Amara langsung menoleh. Gadis itu mengangguk sopan mendengar ucapan salam dari Bian. Melihat hal itu, Bian langsung tersenyum mengerti.
Sementara itu, Amara yang pura-pura memejamkan matanya, perlahan membuka matanya saat mendengar suara Bian. "Kak Bian sudah sampai?" tanyanya dengan pelan.
"Mm.. aku pamit dulu ya. Get well soon, Mara. Bye.. bye.." wanita bermata sipit itu langsung menyela karena tidak enak pada Bian. Ia melambai pelan seraya beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa nggak bilang kalau kamu lagi sakit, Ra?" Bian menatap tajam Amara karena gadis itu tidak pernah bilang apa-apa perihal keadaannya.
"Aku nggak apa-apa kok, Kak. Cuman tadi berasa agak lemes aja, makanya aku diinfus sebentar. Sekalian nunggu Kak Bian datang." Amara mengusap wajahnya dengan tangannya yang tidak diinfus.
"Siapa wanita tadi, Sayang?" Ucap Buan lagi sambil duduk di samping pembaringan Amara.
"Mm.. dia teman kerja aku, Kak."
"Ah, aku harus berterimakasih padanya. Dia baik sekali mau menjaga calon istriku yang sedang sakit."
"Kami sama-sama merantau di tempat Ini. Dia itu orang Malaysia keturunan Cina. Iya, dia itu memang baik orangnya."
Bian hanya menanggapi dengan senyuman. Pria itu beralih menatap mata Amara. Hal itu membuat Amara memperbaiki posisi berbaringnya karena tidak nyaman di tatap seperti itu oleh Bian.
"Sejak kapan wanita itu di luar, Ra?"
Amara kembali menatap Bian. "W.. wanita siapa maksud Kak Bian?" Menatap heran pria itu.
"Itu, wanita yang tinggal bersama kamu di Apartemen itu. Dia duduk di Post Satpam dengan dua orang anak yang duduk di samping kanan dan kirinya."
__ADS_1
Amara tersenyum sinis. "Sudah kuduga, kalau dia akan mengikuti ku. Sepertinya dia tidak bisa masuk kemari karena membawa dua orang anak yang sehat."
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Aku nggak tau lah, Kak. Dia tidak mau melihatku kembali ke tanah air. Dia bilang akan melakukan segala cara, agar aku tidak bisa pulang."
"Kita lihat saja, sejauh mana dia tetap bersikeras menahan barang-barang milik kamu. Kak Daniel sedang mengurusnya sekarang."
"Terimakasih sudah perduli padaku, Kak." Amara menatap Bian dengan haru.
"Hei, kenapa kamu ngomong gitu sih. Ya jelas kamu adalah prioritasku. Kamu adalah calon istriku loh. Laki macam apa aku kalau tidak bisa mempertanggung jawabkan masalah sebesar ini."
Amara tersenyum malu mendengar ucapan Bian. "Terimakasih, Kak. Aku nggak tau bagaimana jadinya kalau Kak Bian nggak datang menjemput ku kemari."
"Nggak usah ngomong gitu, Sayang. Bagaimana pun juga, kamu ada di tempat ini karena aku. Semua ini karena nenek." Bian tersenyum lemah menatap Amara. "Aku datang kemari untuk menjemputmu, Ra. Kita akan menikah setelah ini. Setelah kita menikah, tidak ada lagi yang akan bisa memisahkan kamu dariku." Menarik tangan Amara, menciumnya dengan penuh penghayatan seraya memejamkan matanya.
"Eh," Amara salah tingkah mendapati perlakuan Bian. Dadanya berdebar-debar. Hanya bisa menelan ludahnya karena tidak bisa berkata apa-apa.
Bian melepaskan tangan Amara. "Kapan aku bisa membawa kamu pulang?" Menatap mata Amara sambil tersenyum lembut.
"K.. kapan pun Kak Bian mau. A.. aku sudah resmi berhenti bekerja. Saat aku mau minta izin untuk cuti tadi, mereka bilang aku sudah resmi berhenti. Mereka juga bilang, ada orang yang membuat permohonan akan hal itu."
"Mm.." Bian tersenyum kecil. "Itu aku yang melakukannya."
"Loh, kok gitu sih?!" Amara menepis lengan Bian sambil menahan senyum.
"Kenapa masa kerja ku di pangkas? Ayo, jawab dengan jujur atau aku nggak mau ikut pulang."
"Ngancam nih.." menatap Amara sambil menahan senyum.
"Aku nggak ngancam, cuman mau tau aja." Amara mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.
"Hmm..." Bian kembali menarik tangan Amara.
Amara melirik tangannya yang ditarik Bian. "Perasaan, dulu Kak Bian nggak berani main pegang-pegang kayak gini."
"Hah," Bian membuang nafas nafas dengan kasar. "Itu makanya, aku nggak pernah mau mengenal wanita dari dulu. Aku takut kayak gini jadinya."
Amara melengos mendengar jawaban Bian. "Terus, bagaimana ceritanya sekarang mau dekat dengan aku?"
Bian menatap Amara dengan tatapan aneh. "Kita kan sudah punya niat baik, Ra. Masa iya, aku mau menikah tapi tidak melakukan pendekatan dengan calon istri. Yang ada malah tidak saling kenal lagi nantinya."
Amara hanya diam, tidak bisa menimpali ucapan Bian.
Perhatian Bian teralihkan saat benda gepeng di saku kemejanya bergetar. "Tunggu, Ra. Kak Daniel menghubungiku." Bian membalik tubuhnya membelakangi Amara. Sedikit tidak enak kalau wanita itu mendengar percakapannya dengan Daniel.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" Bian sedikit berbisik.
"Bagaimana dengan Nona Amara, Tuan? Apa Tuan sudah menemukannya?"
"Sudah, Kak. Dia sedang sakit. Tapi, katanya jarum infusnya sudah bisa ia lepas karena keadaannya sudah membaik."
"Oh, syukur lah kalau begitu. Bu Myta mau menyerahkan paspor Nona Amara, tapi syarat dan ketentuan berlaku."
"Maksud Kak Daniel?" Bian melirik ke arah Amara lalu melangkah sedikit menjauh dari gadis itu.
"Bu Myta mau menyerahkan paspor itu, asalkan dia diikutsertakan pulang ke Indonesia."
"Ah, itu hanya masalah kecil, Kak. Tinggal pesankan tiket pesawat aja, selesai urusannya." Bian memotong ucapan Daniel sambil tersenyum meremehkan.
"Bukan hanya itu, Tuan."
"Loh, maksudnya?"
"Tuan juga harus menyipakan tempat tinggal untuknya. Keselamatannya juga harus terjamin. Dia tidak mau ada bayangan Nyonya Besar setelah dia tinggal di Indonesia."
"Banyak sekali maunya, Kak."
"Belum selesai, Tuan."
"Hah?!"
"Dia juga minta dijamin kehidupannya selama satu tahun ke depan. Dia bilang, meminta hal itu karena suaminya sudah meninggal dunia. Dia tidak punya pekerjaan tetap untuk menjamin kehidupan kedua anaknya."
"Oh, Astagfirullahal'adzim.. maaf, Kak." Bian mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak menyangka Kalau selama ini Myta merawat dua anak yatim.
"Bagaimana, Tuan?" Daniel kembali bertanya karena Bian tidak memberikan respon apapun.
"Baik lah, Kak Daniel urus semuanya. Lain kali kita bahas tentang pekerjaan wanita itu. Kak Daniel harus menyelidikinya terlebih dahulu. Aku tidak mau salah dalam mengambil keputusan."
"Baik, Tuan. Tapi, jika wanita ini akan ikut bersama kita, tiket penerbangan malam ini sudah penuh."
Bian terdiam sejenak. Jika dia membiarkan Myta kembali ke Indonesia sandirian, ia belum tau apa yang terjadi sebenarnya. "Kalau begitu Kak Daniel pending saja tiket pesawat malam ini. Kak Daniel ambil penerbangan besok. Untuk waktunya, tidak usah ambil penerbangan pagi, agar wanita itu ada waktu untuk berkemas."
"Baik, Tuan."
Bian kembali mendekati pembaringan Amara setelah sambungan telepon terputus.
"Lama banget, Kak." Amara langsung angkat bicara saat melihat Bian mendekat.
"Aku sedang berjuang untuk cinta kita."
__ADS_1
"Hah..?!"