
Amara mengerjap-ngerjap bingung mendengar ucapan Bian. "M.. maksud Kak Bian apa? Aku nggak teleponan sama siapa-siapa semalam."
"Jangan belajar berbohong, Mara. Semalam aku juga sudah mencoba menghubungimu, tapi operator bilang kamu dalam panggilan lain."
Amara mengerutkan keningnya bingung. Seingatnya setelah video call dengan Adzra, dia langsung tertidur semalam. "Aku tidur cepat semalam, Kak. Aku sampai tidak menyadari Ameena masuk ke dalam kostan."
Bian berdecak seraya membuang nafasnya dengan kasar. "Udah ketahuan masih aja ngelak." Ucapnya seraya membuang pandangan.
"Dek, kalau mau marahan, di tempat lain aja ya. Jangan membuat keributan di sini. Nanti saya yang kena imbasnya." Pak Satpam yang dari tadi menonton akhirnya angkat bicara. "Aku nggak mau dapar masalah dari Ibu kost gara-gara kalian ribut di sini." Pak Satpam berucap sambil menahan senyum. Mempersilahkan Amara dan Bian meninggalkan tempat itu.
"Maaf, Pak." Bian tersenyum kaku. "Ini cuman masalah sepele aja. Aku nggak akan membuat Bapak dapat masalah. " Mara, ajak Ameena masuk ke dalam mobil."
"T.. tapi aku mau ke rumah Kak Ayra, Kak. Sedangkan Ameena dia mau pulang."
Bian akhirnya kembali berbalik, matanya melirik Amara dengan kesal. "Ini masih terlalu pagi. Kamu mau ngapain ke rumah Kak Ayra sepagi ini?"
"Tapi.."
"Udah, kamu masuk dulu sana. Nanti kita bahas lagi." Bian kembali berbalik untuk menyelesaikan urusannya dengan Pak Satpam. Entah apa yang disampaikan pria itu. Amara dan Ameena sampai menunggu lama di dalam mobil.
Bian masuk sekitar lima belas menit kemudian. "Maaf membuat kalian menunggu lama. Aku harus bekerjasama dengan baik dengan Bapak itu agar kalian tidak banyak tingkah."
"Hah..?!" Kompak Amara dan Ameena tercengang mendengar ucapan Bian.
Bian menarik sebelah bibirnya melihat reaksi dua gadis itu. "Hari ini kalian ikut aku ke Kampus. Aku mau membahas sesuatu dengan kalian berdua."
"Tapi, Kak.. Adzra.." Amara masih berusaha mengingatkan Bian.
"What happen with Adzra?" Bian berbalik menatap Amara.
"Aku udah janji akan mengantarnya ke sekolah pagi ini. Kalau aku nggak datang, bagiamana?"
Ekspresi wajah Bian langsung berubah. Padahal dia sudah berencana untuk membawa Amara dan Ameena ke Kampusnya untuk memberi pelajaran pada Khanza. Gadis itu terlalu berani dan selalu membuatnya kesal akhir-akhir ini. "K.. kapan kamu berjanji padanya?" Tanyanya dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Semalam, Kak. Aku melakukan video call dengan dia. Kak Ayra mengirim pesan kalau Adzra rewel dan minta di antar ke rumah Kak Bian karena mengira aku nginap disana."
"Hah.." Bian tertegun mendengar penjelasan Amara. Kembali membalik tubuhnya menatap lurus ke depan.
"Oh iya, Kak. Itu yang membuat aku lupa membuka pesan dari Kak Bian. Semalam, pesan dari Kak Ayra dan Kak Bian datang bersamaan. Aku membuka pesan dari Kak Ayra terlebih dahulu. Setelah itu aku.. aku langsung melakukan video call dengan Adzra sampai dia tertidur. Masalahnya aku juga langsung tertidur setelah itu." Amara menepuk jidatnya seperti orang bodoh. "Maaf ya, Kak."
Bian menelan ludahnya mendengar penjelasan Amara. Dia jadi merasa malu sendiri karena berprasangka buruk pada gadis itu. Lagian, dia siapa sehingga berani melarang gadis itu berhubungan dengan pria lain. Menggigit bibir bawahnya seraya menahan senyum. "Mm.. aku yang seharusnya minta maaf, Mara. Maaf ya.." hanya melirik dari kaca spion. Ingin berbalik tapi terlalu malu karena ucapannya yang seolah-olah seperti mengintrogasi Amara.
"Apa kamu bisa baca pesan itu sekarang?"
"Mm.." Amara menatap Bian, walaupun hanya punggung pria itu yang bisa dia tatap. "Apa.. apa pesan itu masih berlaku."
Bian membuang nafas dengan kasar. "Pertanyaan kamu terdengar bodoh, Mara. Yang namanya pesan kalau sudah dikirim, pasti tetap berlaku."
"Hehehe.. takutnya Kak Bian sudah menghapus pesan itu karena aku tak kunjung membukanya."
"Hah," Bian kembali membuang nafas dengan kasar. "Terserah kamu aja, mau membuka atau menghapusnya langsung. Aku nggak bisa keberatan lagi. Yang aku membuat aku kesal, yang ada kamu malah teleponan dengan keponakanku."
"Buka aja, Mara. Buruan biar masalahnya cepat kelar. Gue ngantuk nih, mau pulang tidur." Ameena akhirnya angkat bicara. Dari tadi dia hanya diam saja mendengar perdebatan dua manusia di samping dan di depannya. "Ngapain coba memperpanjang masalah." Ucapnya lagi seraya melengos kesal.
Assalamu'alaikum, Cantik. Aku mau minta tolong untuk besok pagi. Kalau kamu nggak berhalangan sih..
Wajah Amara langsung merona merah membaca pesan itu. Hal itu membuat Ameena penasaran. Gadis itu mencondongkan kepalanya lebih dekat pada Amara. Melihat pesan yang dibaca Amara, matanya melotot terkejut. "M.. Mara, g.. gue nggak salah lihat kan." Merebut handphone itu dari pemiliknya. Tangannya langsung sibuk membuka isi handphone Amara.
Aku mau membawa kamu dan Ameena ke Kampusku besok pagi. Sebenarnya aku cuma ada satu mata kuliah besok. Tapi, masalah ini harus segera diselesaikan, biar perasaanku bisa tenang.
Chat me if you not busy. I'm still waiting for you..
Ameena menyebikkan bibirnya. "Ew.. kayaknya dari pesan yang ini.. sudah ada aroma bu.. bunya.." kembali memperhatikan pesan selanjutnya yang dikirim sekitar lima belas menit setelah pesan tadi.
Mara, kamu sedang teleponan dengan siapa? Jika tidak bisa membalasnya sekarang, setidaknya baca biar aku menjemputmu besok pagi.
Amara Andini...
__ADS_1
Amara Andini...
Amara Andini ... aku butuh jawabanmu sekarang. Apa orang yang sedang mengajakmu ngobrol sangat penting, sehingga kamu mengabaikan pesanku..?
Berpuluh-puluh emot marah mengakhiri pesan itu. Ameena langsung tertawa setelah selesai membacanya. "Kak Bian salah sasaran. Yang Kak Bian cemburui itu keponakan Kak Bian sendiri."
"Eh, kok cemburu. Maksud kamu apa mengatakan aku cemburu, Na? Aku kan cuma kesal karena Amara mengabaikan pesanku." Bian menggaruk-garuk kepalanya bingung. Ucapan Ameena yang mengatakan dirinya cemburu membuatnya bingung. "Kalau cemburu itu ... hanya terjadi pada pasangan suami istri ... atau pasangan kekasih. Aku dan Amara kan, cuma sahabatan saja. Itu perjanjian kami sebelumnya.
Ameena tidak merespon lagi. Tapi, ia masih tertawa kecil melihat kepanikan Bian yang gengsi dibilang cemburu.
"Udah ah, Na. Nggak ada hal lucu yang perlu ditertawakan sampai seperti itu." Amara merebut kembali handphonenya dari tangan Ameena. Memasukkan kembali benda benda gepeng ke dalam tasnya. Sebenarnya dia juga penasaran dengan pesan yang dibaca Ameena. Ingin membacanya, tapi ia takut kalau Ameena tertawa lagi. Akhirnya ia hanya melirik Bian yang terlihat konsentrasi menyetir.
"Jadinya kita mau kemana nih?" Ameena membuka percakapan lagi setelah cukup lama mereka diam.
"Ke Kampusku. Aku sudah mengirim pesan pada Kak Ayra agar tidak menunggumu, Mara. Aku udah bilang ke dia, kalau kamu ada acara bersamaku pagi ini. Urusan Adzra Kak Ayra bisa mengatasinya." Bian menjawab tanpa sedikitpun melirik ke arah dua gadis di belakangnya.
"Kalau gue sih, setuju setuju aja. Hmm.. malahan ada rasa berdebar-debar nih. Soalnya kita akan bertemu mantan sahabat kita." Ameena terlihat sangat bersemangat. Terlalu lama tidak bertemu dengan Khanza, membuatnya ingin melihat perubahan temannya itu.
"Na, lho ngomong apa sih?! Kok ucapan kamu itu terdengar sangat menyedihkan." Amara menatap Ameena sendu. Bagaimanapun juga, Khanza selalu menolong mereka saat pulang sekolah dulu. Iya.. walaupun temannya itu melakukannya dengan terpaksa. Tetapi, Khanza selalu mengantar mereka dengan selamat.
Amara beralih menatap Bian. "Kak Bian.."
"Mm..." Hanya itu jawaban Bian. Pria itu terlalu konsentrasi menyetir sehingga enggan melirik ke belakang.
"Apa.. apa aku boleh menghubungi Adzra sebentar? Aku benar-benar kepikiran pada anak itu."
"Nggak perlu. Aku udah mengirim seorang pengasuh baru untuknya. Pagi ini dia akan datang ke rumah Kak Ayra. Aku cuma berdoa, semoga anak itu bisa menerimanya, seperti dia menerima kamu dulu."
"Mara, Kak Bian takut kalau lho terlalu dekat dengan Adzra. Takutnya kamu terlalu sering teleponan dengan anak itu, sampai kamu tidak ada waktu untuk membaca atau membalas pesannya."
"Na..." Amara menggeleng-geleng lemah pada Ameena.
"Ngomong Nggak jelas.." gerutu Bian.
__ADS_1
"Sangat jelas, Bian Putra Arianto. Huh, lho aja yang terlalu gengsi dibilang cemburu. Padahal kenyataannya iya." Ameena melipat tangannya di dada seraya mengalihkan pandangannya.
*******